
"Itu tandanya, tidak ada yang akan melindunginya lagi ... walau sebenarnya aku tidak terlalu menyukai Zewhit itu yang membuat Kak Luna jadi kesusahan mendapatkan pekerjaan tapi setidaknya dia tahu balas budi dengan terus melindungi Kak Luna ...." kata Teo.
Felix menarik Teo ke pinggir jalan karena Teo masih berada di tengah jalan sedangkan bus terlihat sudah datang.
"Bagaimana menurutmu Felix?!" tanya Teo.
"Mmm? apanya?" tanya Felix.
"Hantu Pelindung Kak Luna itu, kita akan melawannya juga kan nanti?! apa yang harus kita lakukan?!" tanya Teo.
Felix tidak menjawab dan hanya membuka jendela bus membuat angin seperti menerbangkan pertanyaan Teo.
"Jangan bilang, kau masih belum tahu apa yang harus dilakukan nantinya?!" Teo dengan hebohnya.
"Fokus saja melatih kemampuanmu! tidak usah mengkhawatirkan strategi dan perintah dariku." kata Felix.
"Hanya saja ...." kata Teo tidak selesai.
"Hanya saja apa?! kau tidak mempercayaiku?! kau pikir yang akan terjadi nanti itu hanyalah permainan?! kita akan berperang Teo! dalam skala besar dimana kita kalah jumlah. Kau pikir aku tidak memikirkannya sejauh itu?!" kata Felix langsung masuk kedalam pikiran Teo sekeika membuat sakit kepala.
Felix menghela napas menahan emosinya dan pergi ke kursi lainnya untuk menghindari Teo dulu untuk sementara.
Selama ini mereka selalu saja bertarung hanya dengan bermodalkan semangat saja. Selalu siap diserang dadakan tapi entah bagaimana berhasil selamat, mereka tidak percaya kalau itu adalah keberuntungan karena keberuntungan tidak pernah berpihak pada mereka. Perang saat akhir permainan tukar kematian memang dengan pasukan yang besar, tapi itu belum semuanya pasukan Efrain yang turun tangan. Walau begitu, mereka sangat dekat dengan garis kematian saat itu. Kali ini skalanya jauh lebih besar dari itu, bahkan membuat Felix juga gugup apalagi Teo.
Felix yang hampir tidak pernah beristirahat dengan benar karena hari yang ditakutkannya akan segera tiba jadi tersinggung karena diragukan oleh Teo. Selama ini, tiap harinya bagi Felix hanyalah memikirkan bagaiamana menyelamatkan mereka saat masa depan itu datang. Sekaligus juga harus memikirkan bagaimana melawan pasukan besar Efrain nanti. Terlebih lagi Zewhit yang tidak punya pilihan lain karena ditangkap oleh anak buah Efrain.
Sementara itu sebenarnya Teo hanya ingin tahu apakah Felix akan berbelas kasihan pada Zewhit itu atau bagaimana. Hanya itu sebenarnya yang membuat Teo penasaran, "Berbelas kasihan saat perang memang lebih banyak buruknya daripada baiknya ... tapi apa Felix akan memberikan perintah untuk membunuh mereka semua?! walau memang aku tidak peduli jika dia memerintahkan itu karena aku bisa menolak untuk tidak melaksanakan perintahnya. Tapi aku tidak bertarung sendirian ...." kata Teo bersandar disamping jendela tempat duduk Felix tadi.
Felix dan Teo sampai di halte bus dekat sekolah dengan Tan dan Tom yang menyambut mereka dengan roti isi dan susu hangat.
"Ada apa ini?! kenapa suasananya terasa dingin begini?!" kata Tom menyadari Felix dan Teo memberi jarak satu sama lain.
"Aku duluan!" kata Felix meraih roti isi dan susu dari tangan Tan.
"Kalian bertengkar?!" tanya Tan yang masih dengan posisi memegang roti isi dan susu yang sudah tidak ada di tangannya.
"Memangnya kami anak kecil?!" kata Teo membela dirinya.
"Kau baru 13 tahun, bodoh!" kata Tom.
"Itu tandanya sudah remaja!" kata Teo.
"Untukmu dengann umur segitu ... setidaknya baru memasuki TK." kata Tom jahil.
"Aku hanya menyinggung bagaimana soal perang yang akan datang ...." kata Teo perlahan menjelaskan, "Kita sudah pernah membunuh iblis sebelumnya tapi belum pernah membunuh Zewhit manusia. Walaupun itu Zewhit tapi bagaimanapun juga dulunya adalah manusia sama seperti kita ...." sambungnya.
"Saat pertarungan akhir permainan tukar kematian ... aku sadar bahwa, pertarungan itu bukan sesuatu yang bisa dipikirkan dan direncanakan bagaiamana akan berjalan. Tapi soal pengalaman dan latihan ... karena ... jujur saja, saat itu terjadi ... semua yang kurencanakan tidak ada yang kulakukan dengan benar karena terlalu gugup. Setidaknya latihan bisa sangat membantu, tapi pengalaman ... kita kurang disitu. Saat terjadi perang semua kemungkinan akan terbuka lebar dan yang tahu betul bagaimana menggunakan itu adalah yang sudah berpengalaman. Kita hanya bermodalkan latihan saja ...." kata Tan.
"Maksudku ... Felix saat ini, sedang pusing memikirkan bagaiamana caranya menang tanpa adanya pengalaman dan terlebih lagi kita yang kalah jumlah. Menurutmu, apa kita harus membebaninya lagi dengan harus memikirkan bagaimana kita melawan Zewhit nanti?! sepertinya tidak perlu ... Felix sudah memiliki beban yang banyak. Untuk itu, biar kita serahkan pada situasi nanti. Ritme perang bisa berubah secepat kilat, kadang kita dalam kondisi akan kalah kadang juga kita bisa seperti akan menang. Jadi ... ikuti ritmenya saja!" kata Tan menjelaskan ulang.
"Kalau terlihat kita akan kalah ... lakukan apapun untuk bisa bertahan hidup. Kalau terlihat kita akan menang, selamatkan yang ingin kau selamatkan." kata Tom.
Teo hanya terdiam sambil berjalan memakan roti isinya, "Apa hanya aku yang tertinggal sendirian?! kenapa mereka berdua begitu cepatnya berubah?! apa hanya aku sekarang yang masih belum bisa mengikuti mereka yang sudah siap melepas hati nurani demi bertahan hidup. Apakah aku ini polos atau munafik?!" Teo yang berjalan dibelakang Tan dan Tom terdiam mematung seperti ditinggal sendirian disaat kedua saudaranya sudah jauh melangkah kedepan. Sedangkan dirinya masih berada ditempat yang sama.
"Menarik juga ...." kata Suara yang tidak tahu darimana asalnya.
Teo menengok kesana kemari tapi tidak menemukan siapa-siapa yang memperhatikannya.
"Pewaris baru kali ini ... sepertinya sangat cocok untukku!" Suara itu terdengar lagi, kali ini Teo sadar bahwa suara itu terdengar langsung di depan telinganya. Mustahil jika itu adalah orang yang ada di Mundcalriss terlebih lagi mengatakan dirinya pewaris.
Teo pun menyadari siapa yang berbicara dengannya saat itu, "Kau ... Moshas, kan?!" tanya Teo yang mulai melihat Moshas muncul ditangannya.
"Jangan pikir kau bisa mengajakku berbicara jika memanggilku begitu?!" jawab Moshas dengan nada dingin.
"Lalu aku harus memanggilmu dengan apa?!" tanya Teo.
"Tebak siapa namaku ... kalau kau sudah tahu, aku akan kembali." jawab Moshas untuk terakhir kalinya, Teo mencoba mengajak bicara lagi tapi sudah tidak ada jawaban.
"Hahh?! apa-apaan?! bagaiamana aku bisa tahu?!" Teo ingin melempar Moshas nya tapi langsung menghilang sebelum dilempar, "Ah, menyebalkan ...." kekesalan Teo jadi tidak bisa terlampiaskan, "Moshas bisa berbicara ... apa semua senjata Alvauden lainnya juga begitu?! tapi kenapa Tan dan Tom tidak pernah membicarakannya?!"
"Mau sampai kapan kau disini?! mau bapak rekomendasikan jadi Air Dancer penjaga gerbang?!" kata Pak Acton yang menyeret Teo masuk ke dalam sekolah.
"Pak?!" kata Teo membuat Pak Acton berhenti seketika.
"Em?!" tanya Pak Acton heran melihat wajah serius Teo.
"Kalau bapak misalkan disuruh seseorang menebak nama orang yang baru pertama kali ditemui, bagaimana bapak menjawabnya?! dengan catatan, bapak tidak punya pilihan lain atau dengan kata lain bapak tidak bisa menolak." kata Teo mencoba mencari solusi dari orang pertama yang ditemuinya.
"Bagaimana rupanya?!" tanya Pak Acton.
"Kelihatan keras, hebat, kuat, hijau hahaha ... seperti itu." jawab Teo hanya menjelaskan apa yang dilihatnya dari Moshas.
"Coba saja sebutkan nama sesuai penampilannya. Karena nama adalah gambaran secara langsung dari pemilik nama itu sendiri. Menurutmu kenapa kau diberi nama Trayvon?" tanya Pak Acton.
"Arti namaku kalau tidak salah adalah adil ...." jawab Teo.
"Tidak salah lagi, karena kau memang begitu. Kau selalu adil! begitulah namamu, begitu juga dirimu!" kata Pak Acton yang sebenarnya hanya menjawab asal karena mengira Teo hanya sedang kebingungan dengan tugas essai atau semacamnya.
"Jadi, aku hanya perlu menyebutkan semua nama yang seperti dirinya ya?!" Teo terlihat bertekad, bahkan Pak Acton merasa akan timbul masalah dari perkataannya barusan.
Pak Acton merasa sudah mengatakan hal asal yang membuat Teo jadi terbakar api semangat, "Kau tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kan?!" Pak Acton gelisah sendiri melihat Teo yang begitu bertekad setelah mendengar perkataannya itu.
...-BERSAMBUNG-...