UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.307 - Rute Cepat



"Apa yang kalian taruh disana?" tanya Felix.


Tan, Teo dan Tom tidak menjawab dan hanya berlari buru-buru karena pelajaran pertama sudah mau dimulai dan mereka masih belum memakai seragam.


"Hahh?! dasar! baru mereka tau rasa, kan!" kata Felix melihat Tiga Kembar yang berlarian seperti punya mesin di kaki mereka karena saking cepatnya.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, selama masa sekolah mereka tidak pernah seterlambat ini. Disaat guru sudah ada di dalam kelas, meski belum memulai pelajaran tapi itu sudah masuk dalam kategori terlambat. Masing-masing guru dari kelas Felix dan Tiga Kembar tidak bisa memaklumi keterlambatan dari mereka yang jelas-jelas tinggal di asrama sekolah.


Tapi karena ini adalah yang pertama kalinya mereka diberi keringanan dan diperbolehkan ikut pelajaran. Biasanya murid yang terlambat tidak bisa masuk kelas, mendapat hukuman dan mendapat tugas dua kali lipat dari yang lainnya.


Gallagher sangat mementingkan yang namanya kedisiplinan, Pak Acton bisa sangat diandalkan untuk itu tapi setelah adanya asrama semuanya berubah. Kali ini Guru diharuskan untuk lebih tegas lagi dalam menindak murid yang terlambat. Terutama yang tinggal di asrama sekolah.


"Hari ini kekurangan dari asrama muncul, sebelum tinggal di asrama kau tidak pernah terlambat tapi setelah tinggal asrama membuatmu jadi terlalu santai." Bu Latoya untuk pertama kalinya menggunakan bahasa Yardley begitu fasih tanpa menggunakan bahasa asing dan tanpa terbata-bata sedikitpun.


Felix antara ingin tertawa dan juga kaget karena Bu Latoya jadi sangat berbeda saat marah. Terdengar dari pikiran anak-anak lain juga mengatakan bahwa seharusnya Bu Latoya dibuat marah terus supaya bisa berbicara menggunakan bahasa Yardley. Felix sebenarnya cepat bergerak dari Tiga Kembar tapi karena rambutnya harus diwarnai hitam maka itu memakan waktu lama lagi. Jika memasuki Mundebris, pewarna rambut Felix langsung hilang dan memunculkan rambut hijaunya.


Felix, Tan, Teo dan Tom diberi hukuman membagi-bagikan formulir rencana belajar pada siswa/siswi kelas 6 kemudian memgumpulkannya kembali. Hal itu biasanya sangat mudah karena para guru yang membagikan dan masing-masing murid mengembalikannya sendiri setelah selesai ditulis.


Tapi jika sesama murid yang membagikan semuanya menjadi berantakan. Ada yang begitu mudah diberikan formulir tapi malah mengembalikannya sendiri. Dikarenakan ini hukuman bagi Felix dan Tiga Kembar setiap ada yang mengembalikan sendiri ke guru itu akan menambah hukuman mereka. Karena kesalahan tidak disiplin dan tidak memberi arahan yang benar.


Ada yang sulit menerima formulir dan merasa tidak perlu dan tidak terlalu terbebani serta merasa tidak memiliki tanggung jawab untuk mengisi karena bukan guru sendiri yang memberikan instruksi. Bahkan mengira jika Felix dan kawan-kawan melakukan itu untuk berniat meniru hasil pekerjaan mereka.


"Aku benci mereka!" kata Tom.


"Aku benci anak-anak!" kata Teo.


"Kau juga anak-anak, om!" Tan meledek.


Karena hukuman itu mereka tidak sempat makan siang dan hanya mondar-mandir seperti pembagi brosur iklan di jalan raya. Muncul berita di tv besar yang ada di lobby sekolah bahwa, "Adanya kemunculan mendadak pohon dan juga bunga di Provinsi Eartha selatan tepatnya di dekat bandara. Tidak ada yang tahu menahu siapa yang menanam hanya ada sebuah catatan yang menjadi kritikan menohok bagi pemerintah yang mengatakan bahwa poster iklan tidaklah memberi kita oksigen." kata Reporter Berita.


Tan, Teo dan Tom langsung menoleh memandang Felix, "Iya itu aku!" kata Felix melihat banyak tanda tanya di mata mereka.


"Wah, dekorasi bunga yang kau gunakan bagus juga ...." kata Teo kembali ke layar tv menonton.


Perbuatan Felix itu kemudian terlihat mulai ditiru dan di jalanan mulai ditanami pohon dan juga bunga melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Felix.


"Haha, bagus sekali! dan yang kau dapatkan adalah hukuman karena terlambat, ck!" Tom awalnya memuji tapi ujung-ujungnya menghina.


"Aku tidak butuh pujian, yang penting itu ... bagaimana hal yang aku lakukan dapat berguna bagi orang banyak dan untuk waktu yang lama ...." kata Felix.


"Tapi kau juga memamerkannya pada kami!" Teo menyipitkan matanya.


"Ya, aku hanya perlu memamerkannya pada kalian. Itu sudah cukup!" kata Felix membuat Tiga Kembar terdiam dan menjatuhkan formulir kemudian memukuli Felix.


"Beraninya kalian melakukan ini pada seorang pahlawan?!" Felix berhasil melarikan diri tapi dikejar lagi.


Parish sudah jelas adalah manusia biasa tapi kenyataan bahwa Felix tidak bisa membaca pikiran Parish, bukan karena segel pikiran melainkan seperti Parish membangun tembok sendiri di dalam pikirannya. Disaat Felix mencoba membaca pikiran Parish yang bisa dilihat Felix tiba-tiba pantai atau gunung. Seperti Parish sudah melatih pikirannya untuk tidak bisa dibaca.


Untuk bisa membaca lebih dalam, Felix harus menatap mata Parish secara langsung tapi Felix tidak ingin mengambil resiko menganggu ketenangan sekolah dan juga Parish kepribadiannya sangat agresif.


Siapapun sebenarnya identitas Parish, dia bukanlah anak yang baik seperti yang dikira Tan. Felix hanya bisa terus mengawasi saja sampai mengetahui siapa Parish yang sebenarnya. Bagaimanapun juga Parish adalah sahabat dekat Tan.


Felix yang dikeroyok oleh Tan, Teo dan Tom terus mengeluh kesakitan tapi pada kenyatannya dia tidak merasa sakit sama sekali, "Akhirnya aku sudah melakukan Ultisidium pada kalian, bukan hanya sebagai Alvauden karena memiliki senjata Alvauden tapi itu tandanya kalian benar-benar adalah orang yang aku perdulikan." kata Felix dalam hati.


Terlalu banyak misteri di sekolah ini yang belum terpecahkan, bukan hanya Felix saja yang terobsesi mengungkapnya tapi murid lainnya pun begitu. Banyak yang main detektif-detektifan saat malam. Diam-diam keluar asrama dan mengelilingi sekolah, terkadang itu membuat Felix dan Tiga Kembar kesusahan saat akan keluar sekolah.


"Mau aku bantu?" tanya seseorang yang datang dari belakang membawa formulir yang mereka jatuhkan tadi.


"Kak Cornelia ..." sapa mereka pada ketua osis SMP Gallagher.


Semua adik kelas Cornelia tentunya akan mengenal Cornelia yang terkenal. Tahun pertama di SMP Cornelia berhasil masuk menjadi anggota osis, unggul berkat sertifikat organisasi saat SD, pengalaman dasar organisasi dan keaktifannya dalam aktivitas sekolah.


Cornelia bahkan memiliki tiket free pas masuk anggota osis tanpa ikut seleksi dan ujian. Tahun kedua, Cornelia berhasil menjadi Koordinator Humas. Tahun ketiga atau saat ini dia menjabat sebagai ketua osis. Biasanya organisasi hanya dilakukan ditahun pertama dan kedua tapi Gallagher menerima semua tingkatan dan tidak membatasi muridnya untuk berorganisasi.


Tan, Teo dan Tom merasa tertarik dengan tawaran Cornelia yang akan membantunya menyelesaikan hukumannya itu.


"Tapi dengan satu syarat!" Cornelia sudah menebak dari ekspresi mereka bahwa menerima untuk dibantu.


"Bujuk Mertie untuk menerima tawaranku!" sambung Cornelia.


"Tawaran?" tanya Teo.


"Menjadi ketua tim pelatihan osis!" jawab Cornelia, "Kulihat kalianlah yang paling dekat dengannya ...."


"Dekat? hahaha ...." Tiga Kembar hanya bisa tertawa kecut karena selama ini selalu bertemu Mertie sembunyi-sembunyi tapi ternyata Cornelia tahu semuanya.


"Beritahu aku kalau kalian setuju, aku ada di ruang osis SMP!" kata Cornelia begitu percaya diri bahwa mereka akan setuju.


"Menyeramkan ... kupikir dia itu keren karena tahu segalanya tentang sekolah tapi rasanya dia seperti stalker saja." kata Tom setelah Cornelia pergi.


"Kita tidak perlu bantuannya, jadi tidak perlu membujuk Mertie ...." kata Felix


Tapi Tiga Kembar memberi semua formulir pada Felix, "Kau saja yang melakukannya ... kami akan membujuk Mertie!" kata Teo dan mereka mulai meninggalkan Felix sendirian.


Dengan Cornelia yang turun tangan sudah pasti hukuman mereka itu akan cepat selesai. Jadi Tan, Teo dan Tom lebih memilih rute itu dibanding rute bersama Felix yang bisa membuat hukuman mereka itu berlarut-larut dan menghambat mereka ke Mundebris.


...-BERSAMBUNG-...