
Sehari sebelum Felix bangun.
"Kau mau kemana?!" teriak Cain melihat Mertie mulai berlari.
Mertie segera menaiki taksi diikuti juga Cain yang tidak tahu menahu tapi Cain juga tidak bisa membiarkan Mertie pergi sendiri.
"Sepertinya disekitar sini! kami turun disini pak!" kata Mertie.
"Memangnya disini apa? tunggu yang bayar taksinya siapa?" Cain meneriaki Mertie yang mulai berlari pergi dan akhirnya ia memakai kartu Daisy lagi, "Bu Sissy akan membunuhku!" Cain memukul kepalanya dan mulai mengikuti Mertie lagi.
Cain mengejar Mertie yang berlari tiada henti bahkan saat menaiki tangga apartemen dan berlari mencari nomor apartemen kemudian akhirnya Mertie berhenti di sebuah pintu.
"Rasanya aku akan mati!" kata Cain kehabisan napas.
Mertie yang tadinya ragu menekan bel kini sudah tidak tahu berapa kali menekan bel, "Kau akan dimarahi sama yang punya rumah!" kata Cain.
"Siapa?!" kata seorang perempuan yang rambutnya sudah beruban membukakan pintu.
Mertie tanpa basa-basi langsung menerobos masuk kedalam membuat Cain panik dan ibu yang membukakan pintu marah-marah. Cain akhirnya ikut masuk ke dalam dan melihat Mertie sedang mengambil sebuah boks es besar, "Anak ini sudah gila ya! mau kau apakan itu?!" teriak suami dari ibu tadi yang langsung melemparkan koran yang ia baca.
Mertie tidak peduli dan hanya langsung membawa keluar boks es itu tapi dihentikan oleh ibu-ibu itu, "Jangan! itu adalah hadiah dari perusahaan Viola bekerja!"
Direbutnya boks es dari tangan Mertie tapi Mertie menariknya kembali hingga daging yang ada di dalamnya berceceran bersama dengan batu es.
"Itu adalah daging dari ...." perkataan Mertie dihentikan oleh Cain.
"Maaf bu, kami mengganggu ... kondisinya sedang tidak baik!" kata Cain membungkam mulut Mertie dan menarik paksa Mertie keluar.
"Lepaskan!" Mertie menghempaskan tangan Cain.
"Daging itu adalah ...."
"Mertie!" teriak Cain berusaha menghentikan.
"Adalah ... daging putri ibu sendiri!"
"Haha ... sepertinya dia memang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja! baiklah ... akan ibu maafkan ... kalian boleh pergi sekarang!"
"Baik, terimakasih!" Cain menarik lengan Mertie.
"Kalau ibu dan bapak tidak percaya, coba bawa ke bagian Forensik dan tes DNA-nya ... atau silahkan kalian nikmati daging putri kalian sendiri!" Mertie dengan nada tinggi.
"Mertie!"
"Anak ini benar-benar sudah gila ya! pergi darisini sebelum saya laporkan ke polisi!" teriak ayah Viola.
Cain kini menggunakan kekuatannya yang tersisa untuk menarik Mertie keluar darisana.
"Mereka berhak tahu yang sebenarnya!" kata Mertie setelah Cain menutup pintu dan berjalan menjauh dari apartemen itu.
"Terkadang mereka tidak tahu yang sebenarnya adalah yang terbaik!"
"Kau itu naif sekali!" perkataan Mertie yang sontak membuat Cain merasa tersinggung.
"Naif katamu? kau pikir setelah dia mengetahui itu adalah daging putrinya sendiri bisa membuatnya lega? tidak! kedua orangtuanya akan menderita ... lebih baik membuat putrinya seperti menghilang daripada harus mengetahui kebenaran yang bisa membuat Viola melihat kedua orangtuanya hancur ...." bentak Cain.
"Memangnya jika menghilang apa baiknya? orangtuanya akan sama menderitanya dan kau mau aku membiarkan mereka memakan daging putrinya sendiri! begitu?!" balas Mertie tidak kalah keras dari suara Cain.
Mertie mulai menuruti Cain walau berat hati melangkah pergi dari rumah Viola, "Kau bisa melihat hantu kan? karena bisa masuk ke dunianya?" tanya Mertie saat duduk di halte bus.
"Em ... iya!" jawab Cain.
"Kau tidak melihat roh Viola?"
"Tidak!" kata Cain tidak ingin menceritakan lebih lanjut soal arwah yang dibawa pergi oleh iblis jika Ted sudah membunuh seseorang.
"Dia sudah pergi ketempat yang baik kan? dia pasti sudah tenang kan sekarang? sudah tidak merasakan sakit lagi?" Mertie yang terus bertanya membuat Cain jadi tidak enak terus berbohong dan kenyataan bahwa Viola sekarang lebih menderita lagi karena dipaksa menjadi Malexpir oleh iblis.
"Itu bus arah rumahmu sudah datang!" kata Cain merasa lega tidak perlu menjawab pertanyaan Mertie lagi.
Cain melihat Mertie naik bus, "Dia akan baik-baik saja kan?"
"Kau sendiri?" tanya Goldwin.
"Kau pikir aku akan baik-baik saja setelah melihat kejadian tadi malam?!" jawab Cain kesal.
"Kau terlihat baik-baik saja! biasanya Leaure murni kalau melihat kejadian semalam akan mengurung diri sendiri dan tidak akan keluar dari istana selama 49 hari."
"Karena merasa bersalah? tidak menjalankan tugas sebagai pelindung dengan baik?" tanya Cain mulai naik bus juga.
"Bukan ... berlatih! melatih diri untuk lebih baik lagi dan belajar lebih banyak lagi untuk tidak gagal lagi dalam misi penyelamatan selanjutnya!" kata Goldwin membuat Cain jadi malu sendiri.
"Kenapa 49 hari?" tanya Cain.
"Waktu para arwah selesai sidang dan akan dibawa ke dunia lain, baik itu Surga atau Neraka ... tapi saat menuju kesana mereka akan melalui jembatan yang akan membuat mereka melihat kehidupan orang yang mereka cintai apakah baik-baik saja atau tidak ... disaat itulah Leaure keluar untuk menyelesaikan masalah arwah yang sedang berjalan di jembatan dan melihat masalahnya telah diselesaikan oleh Leaure atau melihat orang yang mereka kasihi baik-baik saja dan bisa melepas beban hidup untuk masuk ke dunia baru."
"Hebat sekali para Leaure murni!" kata Cain.
"Kau juga bagian dari mereka!" sahut Goldwin.
"Tunggu ... 49 hari waktu Mundebris atau Mundclariss?" tanya Cain heboh.
"Waktu Mundclariss lah ... kau ini tidak bisa berpikir logis saja! hahh ...." Jawab Goldwin malu sendiri dengan Cain.
Cain hanya tertawa kecil, "Jadi hanya 49 jam waktu Mundebris ya? hehe ... kalau dipikir butuh ribuan tahun ya kalau 49 hari waktu Mundebris ...."
"Kau harus banyak belajar lagi sebelum Viviandem dibangkitkan ... jangan buat aku malu sendiri nanti kalau bertemu Leaure lain ...." kata Goldwin menatap tajam.
"Iya ... iya ... tapi hari ini aku ingin istirahat dulu!" Cain mulai menyandarkan punggungnya dan membuka jendela bus.
"Kau mau kemana?" tanya Goldwin.
"Ingin ketempat dimana tidak akan ada yang mengganggu!"
"Bemfapirav lagi? baiklah ... lagipula dunia itu sepertinya membuat kekuatanmu bangkit sedikit demi sedikit ...." kata Goldwin.
"Andaikan saja takdir manusia bisa berubah ... akan aku putar waktu dan menyelamatkan Viola ...." kata Cain mulai menutup matanya.
"Sayangnya hanya Viviandem yang takdirnya bisa diubah, walau kau memutar waktu ... Viola akan tetap meninggal diwaktu yang sama ... mungkin bukan karena dibunuh tapi karena sebab lain tapi akan tetap meninggal juga ...."
Cain kembali ke panti asuhan dan langsung masuk ke Bemfapirav untuk istirahat dan menenangkan diri. Sementara Felix sudah memperlihatkan tanda-tanda tidak lama lagi akan bangun.
...-BERSAMBUNG-...