UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.415 - Petaka Dari Penolong



"Tan!" Tom hendak ikut melompat juga mengikuti Tan tapi tangan Teo tiba-tiba menggenggam tangannya, "Kau sadar?!" Tom heran karena ramuan tidur Tan biasanya sangat manjur dan membuat tidur nyenyak selama 8 jam atau lebih tergantung dosisnya.


"Percayalah pada Tan, kau pikir dia akan dengan mudahnya membuang nyawanya begitu saja?! kau tahu dia bukanlah orang seperti itu. Pasti dia punya alasan kuat kenapa melakukan itu. Percayalah padanya, dia pasti baik-baik saja dibawah sana." kata Teo terus menggenggam tangan Tom dan tidak dilepaskan.


"Saat seperti ini saja kau baru bisa menunjukkan kalau kau yang tertua ...." kata Tom tidak percaya dirinya membuat lelucon disaat seperti itu.


"Kau pikir aku jadi yang tertua itu bukan tanpa alasan?! aku menghirup oksigen lebih banyak daripada dirimu!" kata Teo juga tidak percaya bahwa sempat-senpatnya membanggakan dirinya.


Tom tidak percaya dirinya bisa tertawa saat itu sementara tidak mengetahui bagaimana nasib Tan di bawa sana.


"Kau sudah gila ya?!" kata Demelza tercengang dengan Teo dan Tom.


"Jadi bagaimana?! apa di bawah sana sudah kalian ubah sesuai dengan yang kalian pikirkan ...." kata Tom.


"Entahlah mana yang berhasil ...." kata Demelza.


"Memangnya apa yang kau lakukan?!" tanya Tom karena sudah tahu Osvald memikirkan apa.


"Periksa sendiri saja!" kata Demelza memejamkan matanya dan melepaskan pegangannya pada tangan Osvald.


"Apa yang kau ...." Osvald baru menyadari setelah Demelza sudah terjatuh. Osvald berteriak kencang karena panik tidak tahu kalau Demelza akan melakukan itu tanpa diskusi dulu.


"Teo, aku ...." kata Tom menatap Teo meminta izin untuk melompat juga.


"Pergilah, kalau dia sampai terluka parah atau mati disini ... dia akan koma atau mati otak." kata Teo mengizinkan.


"Apa?!" Osvald mendengar perkataan Teo itu sementara Tom tidak memperdulikan dan mulai melompat, "Tapi, aku selama ini ... selalu terluka dan baik-baik saja saat bangun seperti yang dikatakan Demelza. Lagipula Tom juga mengatakan tadi kalau resiko kalian berbeda denganku dan Demelza ...." Osvald meminta penjelasan pada Teo yang terpaksa bangun melawan ramuan tidur.


"Kalau hanya luka kecil saja tidak akan menjadi masalah. Tapi kalau tubuh kalian terpotong-potong misalnya, pasti tubuh kalian di dunia nyata akan koma atau kalau kalian mati disini akan menyebabkan mati otak. Ada alasan kenapa kami disini melindungimu dan Tom tidak terlalu suka dengan sikap Demelza yang arogan itu tapi tetap dia sembunyikan rahasia ini agar kalian tidak khawatir dan kau lihat sendiri kan dia langsung mengikuti Demelza untuk melompat padahal dia sangat membenci Demelza. Lagipula ... semuanya memang benar kalau kalian mati disini setidaknya tubuh kalian di dunia nyata masih bernapas dan hidup walau tidak sadarkan diri. Tapi kalau aku, Tan dan Tom mati disini tidak ada harapan lagi untuk hidup." kata Teo menjelaskan panjang lebar, entah kenapa dia jadi cerewet saat sedang terluka, "Apa aku akan mati makanya jadi begini?!" Teo menertawai dirinya sendiri tapi punggungnya langsung terasa sangat sakit.


"Ternyata disini bukanlah sekedar lelucon, aku harus lebih berhati-hati lagi!" kata Osvald dalam hati.


"Osvald, melompatlah! bantu Teo juga!" teriak Tom dari bawah.


"Oh, sepertinya di bawah sana sudah aman ...." kata Osvald.


Teo mencoba bangun duduk tapi tidak bisa karena punggungnya sangat sakit, "Kau bisa memotong tali ini?!" pinta Teo.


"Tapi kau akan terjatuh dalam keadaan begini?! apa tidak apa-apa?!" tanya Osvald mencari senjata Teo di dalam tas yang dibawa Teo dari depan. Senjata yang sempat diberikan padanya tapi dikembalikan lagi, "Apa ini bisa memotong tali?!" tanya Osvald lagi.


"Tidak apa-apa, lagipula kau merubahnya menjadi kasur empuk kan di bawah sana. Dan ... sudah kukatakan kalau senjata itu semua bagiannya tajam. Walau kelihatan hanya ujungnya saja yang bisa melukai tapi bagian lainnya juga sangat tajam." kata Teo.


Osvald mencobanya dan memang sangat tajam. Bagian yang terlihat tumpul karena hanya seperti batang sapu lidi atau tongkat besi kecil tapi ternyata semua bagian sangat tajam.


"Kau yakin dengan ini?!" tanya Osvald meyakinkan sekali lagi.


"Lakukan saja cepat!" sahut Teo sudah sebal.


"Aku akan menyusul juga dengan cepat!" kata Osvald mengayunkan senjata itu dengan cepat untuk memotong semua tali dan Teo mulai terjatuh. Sementara Osvald butuh waktu lama untuk melompat bahkan Demelza sudah meneriaki berkali-kali tapi masih saja menunda-nunda untuk melompat karena takut. Setelah ada yang terdengar bergerak dari ruangan atas tempat tali itu terpasang barulah Osvald memberanikan diri melompat. Pada akhirnya ketakutannya bisa dikalahkan karena ketakutan lainnya, "Eh, air?!" kata Osvald saat sampai ke permukaan setelah melompat.


"Aku yang berhasil!" kata Demelza tersenyum bangga memamerkan bahwa pikirannya lah yang berhasil.


Beberapa saat Demelza baru saja melompat dan diikuti oleh Tom. Demelza begitu senang karena melihat air terbentang luas di bawah menandakan dirinya aman untuk mendarat. Tom juga ikut tercebur masuk ke dalam air.


"Disini!" sahut Tan melambaikan tangannya.


"Dasar curang!" kata Tom sebal melihat Tan tidak ikut tercebur ke dalam air tapi menggunakan Telloppernya pada dinding dan dibuat sebagai pijakan.


"Aku terluka! kau mau lukaku kena air?!" kata Tan membela diri dengan bahasa isyarat menunjuk lukanya kemudian menunujuk air.


"Menyebalkan!" kata Tom melihat dirinya basah kuyup sedangkan Tan terlihat sangat kering, "Benar, kalau Tan pasti punya cara untuk bertahan hidup! aku terlalu meremehkannya ...." kata Tom dalam hati lega melihat Tan baik-baik saja setelah melakukan tindakan nekat.


Osvald juga ikut tercebur ke dalam air sementara Tan menyempatkan diri untuk menahan Teo agar tidak ikut masuk ke dalam air. Walau kaki Teo sudah terkena air tapi setidaknya luka di punggungnya belum terkena air. Tan membawa Teo untuk duduk disampingnya di atas Tellopper nya.


"Jadi, saat kau jatuh tadi ... apa sudah ada air?!" tanya Osvald.


"Sudah! makanya aku langsung membentuk senjataku begini ...." kata Tan.


"Oh iya, sebelum melompat aku mendengar sesuatu dari ruangan atas yang akan kita tuju tadi." kata Osvald.


"Itu karena kau terlalu lama, pasti sudah ada yang masuk ke ruangan itu." kata Demelza.


"Seharusnya kita bisa masuk ke ruangan itu tapi malah ruangan ini rusak dan kita jadi terjebak disini ...." kata Osvald.


"Kedatangan tamu tidak diundang akan mengubah sistem yang ada disini ... jangan lupa itu! selalu waspada! apapun bisa terjadi sewaktu-waktu." kata Tom.


"Pasti akan ada jalan keluar darisini ...." kata Osvald mulai berenang mencari.


"Aaaaaa!" teriak Demelza mulai mengepak-ngepakkan tangannya tapi dia terus saja tertarik masuk ke dalam air.


Akhirnya Tom memeriksa dan kembali ke permukaan dengan wajah pucat, "Ada Zewhit Air!" kata Tom membuat Tan dan Teo terpaksa harus bangun.


"Osvald kemarilah! mendekat denganku!" kata Teo.


"Tom ... Demelza!" teriak Tan melihat Demelza sudah tenggelam.


"Ingat, Zewhit Air itu berbahaya!" kata Tan sebelum Tom menyelam.


Tom hanya bisa tersenyum pahit, "Aku juga tahu soal itu ...." keluhnya dalam hati tapi dia satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menolong Demelza saat itu.


"Lucu sekali, dia membanggakan dirinya karena berhasil membuat ini tapi malah ditangkap oleh hantu air padahal dia yang membuat air ini muncul." kata Osvald.


"Ck, dasar! kalau bukan dia, kau bisa sudah mati bahkan sebelum hantu air ini muncul." kata Tan memukul kepala Osvald.


"Aku hanya kesal saja, dia selalu saja merasa dirinya paling hebat." kata Osvald.


"Percayalah, orang yang merasa dirinya paling hebat tidak akan menyombongkan dirinya. Sebaliknya yang merasa rendah diri pasti akan selalu menyombongkan dirinya agar bisa terlihat hebat dengan begitu rasa rendah dirinya bisa tersembunyikan." kata Teo.


"Ow, Yang Mulia Trayvon muncul lagi rupanya ...." kata Tan meledek.


"Ada apa denganmu?!" kata Osvald agak sebal dengan petuah tiba-tiba dari Teo itu.


"Entahlah ... mungkin aku akan mati! biasanya orang-orang berubah kan kalau akan mati ...." kata Teo yang membuat Tan dan Osvald tertawa.


...-BERSAMBUNG-...