
Tan melakukan kontrak dengan perlahan dan satu per satu sesuai tanaman yang ada di hadapannya, dipilih dari yang paling mudah. Berbeda dengan Tom yang melakukan kontrak dari yang dirasa susah dulu. Mulai dari Pohon Pangeran Tidur yang menjadi target pertama Tom. Jika Verlin menggunakan cara sesuai ciri khasnya yakni menyerang langsung karena tidak suka menunggu, Tom juga ingin melakukan sesuai dengan caranya sendiri. Tom mengganggu dengan cara yang lebih menyebalkan lagi dari yang Verlin lakukan.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Pohon Pangeran Tidur yang terbangun.
Tom mulai dengan menggali tanah, "Agar akar pohonmu bisa lebih kuat!"
"Apa lagi yang kau lakukan?" tanya Pohon Pangeran Tidur.
"Menggemburkan tanah agar pohonmu bisa lebih sehat!" jawab Tom santai.
"Apa yang kau lakukan lagi?" keluh Pohon Pangeran Tidur.
"Memberimu pupuk, untungnya aku meminta Banks dibuatkan pupuk sebelum berangkat ... hebat kan aku!" kata Tom.
"Kau lagi ...." rengek Pohon Pangeran Tidur.
"Aku hanya memberimu air!" kata Tom tanpa rasa bersalah sama sekali. Rencana Tom adalah membuat pohon itu bosan melihat dirinya sehingga tidak ada pilihan lain selain pasrah melakukan kontrak, "Ini baru tanah yang kugunakan alasan ... belum naik ke batang ...." kata Tom dalam hati menyeringai.
Setelah melihat reaksi pertama pohon itu yang hanya berteriak saja bukannya keluar dari tanah dan mengejarnya. Tom akhirnya mengetahui bahwa pohon itu tidaklah terlalu pemarah dibanding pohon yang sebelumnya ditemuinya. Sedangkan Teo masih terus menggali, rumput hanya terus menunjukkan tempat yang salah.
"Hahh ... aku menyerah!" kata Teo melemparkan dirinya ke atas rumput.
"Sudah kubilang ada disana! kau tidak mendengarku ...." kata Rumput.
"Aku sudah kesana!" kata Teo.
"Oh, sudah ya ...." kata Rumput tanpa merasa bersalah.
***
Rindu Felix terobati setelah melihat wajah Cain walau hanya sebentar itu. Tapi hati Felix terasa sakit melihat wajah Cain yang penuh luka bakar. Meski masih dengan senyum yang sama, seperti biasanya Cain tidak ingin memperlihatkan sosok dirinya yang lemah. Tapi luka pada wajah Cain tidak bisa berbohong. Tidak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya yang dirasakan Cain saat terluka.
"Cain!" teriak Felix masih merasakan aura Cain walau samar-samar.
"Aku akan kembali ... sebelum itu terjadi! aku janji!" kata Cain yang berdiri di belakang Felix. Felix berbalik tapi Cain menghilang lagi.
"Itu sudah dekat ya ...." gumam Felix.
"Kau sudah melakukan yang terbaik Felix ... masa depan itu akan datang tapi semuanya akan sesuai rencanamu!" kata Cain.
"Bagaimana kau bisa merawat lukamu sendirian ... biarkan aku membantu!" kata Felix.
"Jangan katakan ini pada Tan, Teo dan Tom ... pertemuan ini harus dirahasiakan, akan lebih baik mereka tidak mengetahui hal ini ...." kata Cain.
"Bukannya lebih baik bagi mereka tapi kau melakukan itu karena keegoisanmu!" kata Felix.
"Kau bisa menyebutnya egois tapi aku menyebutnya harga diri!" kata Cain tertawa kecil.
"Hahh ... kau dan harga dirimu!" Felix memaki.
"Setidaknya harga diriku masih jauh lebih rendah darimu ... kalau kau yang mengalami ini, pasti tidak akan melakukan apa yang aku lakukan saat ini ... setelah mengetahui bahwa kalian sering datang kesini, aku diam-diam sering kesini untuk melihat kalian walau hanya sebentar ... walau kalau tahu kau yang datang aku tidak kesini karena kau pasti bisa merasakan kehadiranku meski sudah menggunakan garis pelindung level 10." kata Cain.
"Lihat, kan! betapa egoisnya dirimu ... kau hanya mementingkan rindumu bisa terobati sedangkan kami tidak punya cara untuk bisa melihatmu ...." kata Felix.
"Biarkan aku membantumu!" kata Felix.
"Alvauden tidak perlu bantuan Caelvita! Alvauden lah yang seharusnya membantu Caelvita!" kata Cain.
"Kalau kau tetap keras kepala aku yang akan menemukanmu sendiri!" Felix mengancam.
"Kau tidak bisa menemukan keberadaanku!" Cain menantang.
"Kukira mustahil tapi sekarang saja aku bisa merasakan kehadiranmu ...." kata Felix.
"Jangan bangga dulu! itu terjadi karena secara tidak sengaja aku gagal menjaga jarak aman untuk pencarianmu ...." kata Cain.
"Jadi ada jarak ... aku sudah cukup mendapat petunjuk banyak!" kata Felix dalam hati, "Mau bertaruh?" tanya Felix.
"Bertaruh?" tanya Cain.
"Aku bisa menemukanmu dalam dua hari!" kata Felix.
"Ohya? kalau begitu coba saja!" kata Cain sudah benar-benar pergi.
Rasanya seperti mimpi bisa melihat Cain lagi meski dengan penampilan yang berbeda. Cain yang selalu menjaga dirinya saat terluka agar tidak meninggalkan bekas kini dipenuhi bekas luka.
Mencari Cain tanpa petunjuk adalah hal yang mustahil. Mencari tanpa tahu harus mencari harus kemana membuat Felix frustasi. Karena petunjuk yang diketahuinya hanyalah Cain akan dibawa kembali ke Istana Leaure untuk dikurung setelah disidang oleh Sang Penghukum. Tapi ternyata diluar dugaan, sepertinya waktu yang dikatakan Iriana itu tidak tepat atau Cain memang mendapatkan pengurangan hari hukuman dan sidangnya juga berjalan cepat.
Tapi kali ini Felix memiliki cukup petunjuk yang bisa membantunya menemukan Cain. Bukan hanya sok menggertak tapi Felix memang akan menemukan Cain seperti perkataannya.
Kenyataan bahwa Cain sering kesini untuk melihat Tan, Teo dan Tom diam-diam menunjukkan bahwa Cain masihlah Cain yang sama dengan yang dulu. Meski dengan gelar yang menyeramkan menyertai namanya itu tapi Cain tetaplah Cain. Walau kini dengan kekuatan yang terkenal dan mulai ditakuti dan diwaspadai menjelang hari peresmian pemerintahan Caelvita 119 dan Alvauden 119.
Felix kembali ke seberang jembatan kali ini dengan lewat jembatan. Tidak seperti Tan, Teo dan Tom yang manusia biasa tidak bisa melangkah di jembatan. Felix bisa leluasa berjalan di atas jembatan meski dengan tubuh manusianya. Bukan hanya manusia biasa tapi selain yang punya darah Ruleorum tidaklah seharusnya berjalan di atas jembatan disaat masih hidup. Cain yang bisa sampai ke seberang jembatan menunjukkan bahwa Cain juga bisa melewati jembatan seperti Felix. Meski mungkin itu didapatkan karena pernah menjadi Pewaris Sementara Permainan Tukar kematian atau memang sejak awal Cain bisa melewati jembatan itu.
"Kukira kau Zewhit yang kembali ...." kata Zeki.
"Mana ada Zewhit yang bisa kembali setelah melangkahkan kaki disini ...." kata Felix.
Zewhit yang melangkahkan kaki di atas Jembatan Ruleorum tidak bisa kembali lagi atau memundurkan langkahnya. Pilihan yang ada hanyalah berjalan perlahan atau secepatnya menuju seberang jembatan. Tidak ada jalan kembali bagi mereka yang sudah terlanjur berjalan di atas jembatan.
"Aku menghargai kau membantuku Zeki ... tapi kau tidak perlu melakukan ini!" kata Felix tidak enak.
"Apa? mengantar roh kelinci ini?" kata Zeki tertawa mengangkat roh kelinci itu naik ke atas jembatan.
Felix segera menyembuhkan tangan Zeki yang terluka karena memasuki pembatas Jembatan Ruleorum. Bagaimanapun juga Zeki adalah Zewhit meski hampir menjadi Amantasia. Amantasia yang memasuki Jembatan Ruleorum walau sedikit mungkin tidak seperti Zewhit yang langsung ditarik paksa masuk tapi bagi Amantasia berbeda lagi akan langsung terluka walau tidak separah Viviandem.
Zeki tersenyum memandangi luka yang baru saja disembuhkan oleh Felix.
"Iriana sering melakukan ini kan?" tanya Felix.
"Ya ... tentu saja!" sahut Zeki.
"Iriana pasti menginginkan kau berisitrahat saja dulu sekarang ... tunggu sampai aku menjadi Caelvita resmi dan aku akan mengubahmu menjadi Amantasia sepenuhnya. Kau tidak lelah masih melakukan pekerjaan yang sama seperti saat masih menjabat menjadi Alvauden?!" kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...