UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.121 - Mimpi Buatan



Penyerahan piagam penghargaan diberikan di sebuah aula besar yang di dalamnya sedang banyak tokoh politik yang hanya biasa dilihat di televisi atau di artikel oleh Felix dan Cain.


Bukan hanya piagam tapi juga medali emas ikut disematkan di leher Felix dan cain dengan tepuk tangan dan banyak flash kamera yang tidak berhenti memotret. Salah satu wartawan naik ke atas panggung dengan dua bingkisan bunga besar.


"Ada maksud apa ya wartawan memberi bunga? Memangnya kita saling kenal?" kata Cain usil.


"Jangan geer ya! ini semua untuk Felix!" kata Daisy.


Tapi Felix malah memberikan dua bunga itu kepada Cain membuat Cain puas mengejek Daisy.


Daisy tidak melewatkan untuk berfoto bersama dengan mereka berdua, "Diluar juga sudah ada yang menunggu!"


"Siapa?" tanya Cain dengan suasana hati yang tiba-tiba berubah.


"Bu Corliss!" kata Felix membuat Cain lega mengira yang datang adalah Dokter Mari.


"Iya ... eh, bagaimana kau tahu Felix?" tanya Daisy.


"Ah ... itu ... hanya menebak saja!" kata Felix agak terbata-bata karena sebenarnya ia mendengar suara Bu Corliss yang ada diluar barusan.


Setelah penyerahan penghargaan Felix meminta sesuatu pada Pak Egan, "Pak, apa kami tidak bisa ikut menyimak jalannya acara ini?"


"Memangnya kalian mau? padahal biasanya seumuran kalian tidak suka mengikuti acara yang hanya membuat mengantuk begini ...." kata Pak Egan.


Cain tidak berhenti mengode Felix untuk tidak ikut, "Kau yakin? pembahasannya akan sangat membosankan!" kata Cain lewat pikiran sudah terlihat malas mengikuti acara seperti itu.


"Kau pikir aku mau karena suka?!" Felix menatap tajam membuat Cain menyerah.


"Baiklah, kalian tunggu diluar dulu sebentar ... biar bapak bicara dulu dengan panitia acara apa bisa mengikutkan seumuran kalian sebagai pendengar ...." kata Pak Egan terlihat senang melihat muridnya menyukai hal seperti itu.


Felix, Cain dan Daisy keluar ruangan langsung disambut oleh Bu Corliss yang juga membawa bingkisan bunga.


"Berapa banyak bunga yang harus dicabut untuk menyelamati kami? lain kali tidak usah pakai bunga!" kata Felix ketus.


"Bukan dicabut tapi dipotong kok, bunganya tidak mati tapi cuma bagiannya yang diambil ...." kata Bu Corliss.


"Sama saja dengan menyerahkan anggota tubuh. Coba Ibu bayangkan jika tangan dan kaki dipotong untuk dijadikan bingkisan. Walau tidak membunuh tapi hanya bagian ... tapi bagian itu merupakan hal penting bagi bunga yang juga makhluk hidup. Apa Ibu tidak kasihan dengan bunga yang pasti juga merasakan sakit saat dipotong ...." Felix berhenti bicara setelah menyadari Bu Corliss dan Daisy melongo mendengar penjelasannya.


Cain hanya tertawa keras untuk mencairkan suasana. Jika lama tinggal di Mundebris memang berat rasanya untuk melakukan hal buruk pada tanaman.


Setelah foto bersama berempat dengan Bu Corliss, Pak Egan datang memberi kabar gembira bahwa mereka diizinkan untuk ikut mendengarkan acara. Daisy ikut duduk bersama mereka mendengarkan dan saling berkenalan dengan Pak Egan.


Cain terlihat dalam mode waspada, karena semua yang dilakukan Felix tidak ada yang tidak memiliki arti dibaliknya. Bisa saja memang hanya ingin mendengarkan pembahasan atau ada hal berbahaya yang dideteksi Felix yang tidak dirasakan oleh Cain.


"Cain! Cain! Cain!" teriak Felix terus menggoyang-goyangkan badan Cain yang tertidur. Bukan hanya Cain tapi sebagian orang yang ada di ruangan itu juga tertidur.


"Tidak apa-apa, biarkan saja!" kata Pak Egan.


Felix kemudian melihat Daisy yang juga tertidur, "Gawat! apa yang harus kulakukan?!" Felix melihat roh Ted yang sedang tersenyum dengan melayang diatas panggung dengan asap hitam keluar terus menerus dari tangannya dan masuk ke dalam tubuh orang yang dibuat tertidur.


Tidak semua orang dibuat tertidur jadi Felix tidak bisa berbuat seenaknya dan langsung menyerang Ted. Felix yang tidak sengaja mendengar sebuah pikiran orang yang tertidur. Mimpi yang diberikan oleh Ted adalah sebuah hasutan untuk melakukan kejahatan. Felix tidak bisa diam saja dan mulai berencana melakukan sesuatu, "Pak saya izin dulu ke kamar mandi!"


Akan mudah jika Cain bangun karena bisa menggunakan garis pelindungnya tapi akhirnya Felix menggunakan Idibalte secepatnya dan langsung masuk ke dalam ruangan lagi dengan pedang sudah siap sedia.


Hasutan demi hasutan dari Ted, mimpi dibuat sangat realistis dengan menggunakan kejadian nyata dan menggunakan keinginan buruk yang terpendam pada seseorang. Felix mengambil tongkat dan langsung membenturkannya untuk memberi peringatan memunculkan angin diruangan tertutup itu. Semua yang merasakan heran tapi langsung mengabaikan.


Padahal benturan tongkat seorang Caelvita sebelum bertarung adalah sebuah tanda untuk membuat lawan menyerah jika tidak itu akan menjadi peringatan kematian. Bahwa tidak akan diberi ampun dan langsung dihukum mati. Saat melawan Iblis Biawak tidak dilakukan karena memang Felix berniat langsung membunuh tanpa peringatan tapi Ted adalah manusia, bagaimanapun jahatnya Ted ... itu semua karena kehidupannya yang tidak beruntung membuat ia tumbuh menjadi pembunuh seperti itu. Mau tidak mau Felix merasa perlu memberi kesempatan tapi Ted tidak menghiraukan dan hanya terus terlihat santai melayang-layang diatas Gubernur yang sedang berpidato.


"Aku sudah memberimu peringatan!" kata Felix kini sudah menaiki tangga menuju panggung.


Ted turun ke panggung dengan berdiri menantang Felix, "Awalnya aku bingung dengan anak itu yang tiba-tiba saja menghilang tapi sekarang aku mengerti ... memang ada yang terlahir istimewa dan mempunyai kekuatan khusus hidup diantara manusia biasa yang lemah ...." asap hitam tetap terus keluar dari tangan Ted.


"Manusia biasa ya? kau sedang membicarakan dirimu sendiri?!" Cain dengan rantai emas besar yang langsung keluar dari telapak tangannya mengikat Ted dari belakang.


"Cain kau sudah bangun? bagaimana ...." Felix akhirnya menyadari setelah melihat Goldwin muncul dari belakang Cain.


"Maaf Tuan Muda lama menunggu!" kata Goldwin langsung berubah bentuk menjadi singa dan menyerang Ted.


Ted yang masih terikat rantai Cain hanya tersenyum saat Goldwin mendekat akan menerkamnya. Rantai putus oleh tebasan pedang Iblis Buaya yang tiba-tiba muncul dan Ted yang sudah lepas langsung menyerang Goldwin tapi Cain menghadang dengan pedang Orogla.


Felix hendak membantu tapi dihadang oleh Iblis Buaya, "Yang Mulia ...." menunduk dengan memegang pedangnya dengan kedua tangan.


"Jangan bercanda!" Felix kesal dengan sapaan hormat tidak tulus itu dan langsung berlari hendak menyerang saat Iblis itu masih menunduk. Tapi dengan mudahnya serangan Felix dihindari.


Panggung itu menjadi seperti tempat pertunjukan adu pedang dengan Gubernur Jagger yang terus berbicara tanpa tahu apa yang terjadi. Dengan para petarung yang terus menerus menembus tubuh Pak Gubernur yang berpidato.


Iblis Buaya dan Ted terlihat mundur dan saling melindungi punggung masing-masing di tengah panggung. Felix mengira berhasil menyudutkan mereka ternyata itu hanyalah tipuan. Iblis Buaya dan Ted menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Felix ingin mengejar tapi Cain melarangnya, "Lihat! yang tertidur sudah bangun semua!" kata Cain menunjuk Daisy yang juga panik bangun.


"Apa aku tertidur? mana mungkin?" kata Daisy.


"Saya juga bingung, orang yang sedang bekerja tapi malah tidur! bukan contoh yang baik bu!" kata Pak Egan.


"Walau aku sangat lelah sekalipun tapi tidak pernah sekalipun tertidur saat sedang bekerja ... bagaimana bisa?" kata Daisy dalam hati.


...-BERSAMBUNG-...