
Saat Felix sedang dirawat lukanya oleh Banks dan dibantu oleh Goldwin, jiwa Felix terbangun di Istana Emerald dimana tempat yang dipenuhi banyak pintu itu.
Felix langsung menghantamkan kepalanya di dinding karena seceroboh itu dan malah membuat dirinya sendiri terluka. Prinsip Felix dalam melindungi adalah tidak terluka sedikitpun agar bisa tetap melindungi. Bukannya mengorbankan diri dan malah membahayakan orang lain yang seharusnya dilindungi. Melindungi bukan cuma habis satu kali pakai tapi harus bisa untuk jangka panjang. Bukan cuma menjadikan diri sebagai perisai tapi maju menyerang untuk melindungi yang berada dibelakang kita.
"Tidak apa-apa! lagipula tidak lama lagi lukamu akan sembuh ...." kata Iriana.
"Kau pikir aku mengkhawatirkan itu?!" Felix ingin rasanya menonjok Iriana, sayangnya tidak bisa melihat sosok Iriana, "Sekarang ... aku tidak bisa memutar waktu dan Teo, Tan, Tom ... hahh ... akhirnya aku juga yang membukakan jalan untuk masa depan itu terjadi!" Felix menyalahkan dirinya sendiri.
"Masa depan belum terjadi, kau tidak perlu sekhawatir itu!" kata Iriana mencoba menghibur.
"Masa depan adalah cerminan masa kini! apa yang kita lakukan sekarang akan mempengaruhi masa depan ... hari ini aku dengan bodohnya membiarkan diriku terluka dan tak sadarkan diri menjadikan masa depan yang kulihat itu tidak bisa terhindarkan lagi!" kata Felix.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri Felix! menjadi Caelvita saja sudah membuat kepala pusing dan ditambah lagi kau terus mengkhawatirkan Alvaudenmu!" kata Iriana.
"Jangan menceramahiku! kau tidak berhak ... setelah bertemu Alvaudenmu, aku jadi tahu kau itu lebih parah dariku!" kata Felix.
"Harusnya kau belajar darisitu! jadikan kesalahanku sebagai pelajaran ...." kata Iriana.
"Memangnya mengkhawatirkan seseorang yang berharga bagi kita adalah kesalahan? jawab aku Iriana?!" Felix dipenuhi amarah.
"Sekarang bukan! tapi suatu saat nanti akan menjadi kesalahan juga ...." kata Iriana lama baru menjawab.
"Kau juga melihatnya kan?" Felix mulai duduk dan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, "Tidak bisa dihentikan kan?" suara Felix mulai serak.
"Jika tidak bisa dihentikan atau tidak bisa diubah ... kau hanya perlu mencari solusi untuk memperbaikinya!" kata Iriana yang tidak berguna bagi Felix sama sekali, "Apanya yang bisa diubah kalau mereka sudah meninggal?"
"Kau bisa melihat masa depan ... menurutmu itu bukanlah sebuah pertanda? bahwa kau bisa melakukan sesuatu untuk itu. Tidak mungkin kau melihat masa depan begitu saja ... tidak mungkin kau melihat itu hanya untuk menderita karenanya ... coba pikirkan baik-baik!" kata Iriana.
***
Felix yang mulai terbangun dengan luka sudah sembuh total tapi keadaan tubuh masih belum kembali normal dan terasa lemas. Perasaan Felix masih sangat lemah rasanya dan semua anggota tubuhnya terasa sakit.
Berharap, ketika Felix membuka mata ada Teo, Tan dan Tom disana. Tapi yang dilihat Felix pertama adalah sosok yang tidak disangka-sangka dan sosok yang sangat tidak ingin dilihatnya yaitu Dea.
Didengarnya Cain yang tidak berhenti berbicara tidak jelas tapi Felix pura-pura tidak mendengar, "Itu mereka! empat orang terdekatku yang akan mati ... karenaku!" Felix membenci dirinya sendiri, "Maafkan aku! seandainya kalian tidak mengenalku ... seharusnya orang sepertiku selalu sendiri saja dan tidak memiliki seseorang yang berharga seperti kalian ... dulu aku tidak punya siapa-siapa dan hidupku tidak seburuk itu ... tidak ... aku sangat bahagia bisa bertemu kalian!" Felix yang berusaha menentang perasaanya tapi tidak bisa dan malah jadi jujur bahwa hidupnya kini begitu berwarna karena ada mereka.
Dokter Mari yang mendengar perkataan Felix lewat pikiran bahwa luka Felix sudah sembuh dan tidak perlu khawatir. Makanya Dokter Mari tidak terlalu berusaha menghentikan Bu Corliss.
Sejujurnya Felix ingin sekali memeluk mereka dan meminta maaf tapi malah sebaliknya Felix mengekspresikan perasaannya dengan cara kasar. Cain yang mencoba mengajaknya berbicara dimobil ia abaikan. Bukan karena marah pada Cain tapi marah pada dirinya sendiri. Felix hanya tidak tahu bagaimana mengatakan yang sesungguhnya. Walaupun tahu, ia juga tidak akan mengatakannya.
***
Saat Cain, Tiga Kembar dan Dokter Mari mencari keberadaan Felix dikamar yang tiba-tiba menghilang. Felix memasuki Mundebris, langsung disambut oleh Duarte yang sedang tidur di depan kantor Aluias.
"Tuan Muda ternyata benar sudah sembuh! pantas saja banyak yang bunga bermekaran ...." sapa Duarte yang berusaha mengalihkan karena takut dimarahi.
"Duarte ...." Felix yang mulai berbicara membuat Duarte panik karena dikira Felix akan memarahinya.
"I ... ya ... Tuan Muda!" Duarte tergagap.
"Apa aku menghilang saja ya?!" kata Felix.
"Eh?! maksud Tuan Muda?" Duarte tidak menyangka malah hal lain yang dibahas Felix.
"Jika aku mati pasti akan terlahir kembali Caelvita baru kan? dan Alvauden baru ... masa depan baru ...." kata Felix.
"Kau!" Felix melihat burung hantu putih yang pernah membawa roh Magdalene dan menyelamatkan pengendara mobil yang dibuat tersesat oleh Penyihir Salju.
"Maaf, Tuan Muda ... perlu waktu lama saya bisa menyapa dan memperkenalkan diri ... nama saya Warden!" kata Burung hantu putih.
"Kukira kau sudah mati!" kata Duarte.
"Kukira kau sudah berubah menjadi monster!" balas Warden.
"Kalian saling kenal?" tanya Felix yang bisa tahu jika mereka berdua ini sangat dekat.
"Hampir separuh hidupku terbuang karena terus bersamanya!" kata Duarte.
"Siapapun yang mendengar pasti tahu kalau kalian ini dekat!" kata Felix.
"Kami sudah kenal sejak dari masih kecil, Tuan Muda!" kata Warden.
"Sudah kuduga!" kata Felix.
"Tapi saya termasuk beruntung karena saya adalah Unimaris level rendah tapi Duarte menerima saya sebagai teman. Padahal Duarte adalah calon Unimaris nomor satu saat itu!" kata Warden.
"Bagi Unimaris level rendah, kau itu sangat sibuk!" kata Felix menyeringai.
"Dia selalu saja begitu! baru kali ini aku bertemu dengan Unimaris yang terus saja merendahkan dirinya sendiri ... level Unimaris hanyalah simbolis rupa. Hanya karena kau tidak lahir sebagai Unimaris Elang yang merupakan simbol kerajaan Ruleorum, tidak menjadikan kau itu adalah Unimaris terlemah. Semua Unimaris itu istimewa!" kata Duarte.
"Kau sudah bertemu Verlin?" tanya Felix.
"Tuan Muda sudah tahu?" Warden balik bertanya.
"Hanya menebak saja!" jawab Felix.
"Bertemu dengannya membuat saya kembali mengingat kesalahan terbesar saya!" kata Warden.
"Temui dia sekali saja! saat kalian berdua sudah menjadi Zhewit ... pasti tidak pernah bertemu lagi kan?!" kata Duarte.
"Saya sudah gagal sebagai Unimaris untuk melindunginya dan setelah meninggal dengan cara tersiksa seperti itu lalu berubah menjadi Zhewit ... dan menyapanya adalah hal yang paling memalukan!" kata Warden.
"Setidaknya kalian masih punya sisa hidup lagi kan! jangan sia-siakan dan bantu dia agar bisa menjadi Amantasia secepatnya ... bukankah kau merindukannya, dia juga merindukanmu ... apa yang kalian tunggu!" kata Duarte.
Saat Warden hanya diam, Felix tiba-tiba berdiri dan mulai memanggil gerbangnya, "Sudah mau kembali Tuan Muda?" tanya Duarte.
"Ya ... terimakasih, berkat kalian aku akhirnya sadar!" kata Felix tersenyum.
Felix tiba di kamarnya dan terlihat ada Cain dan Tiga Kembar yang tidur melantai.
"Felix?" Tom sambil mengucek-ngucek matanya dan membuat yang lain yang masih tertidur langsung bangun.
Cain dan Tiga Kembar yang terlihat takut-takut tapi kemudian Felix merentangkan kedua tangannya disambut senyum bahagia oleh Cain, Tan, Teo dan Tom yang langsung memeluk Felix.
"Benar apa yang dikatakan Duarte, aku merindukan mereka dan mereka juga merindukanku ... tidak perlu dipikirkan lagi dan temui saja! Hal alamiah yang tidak bisa dihentikan adalah Rindu ...." kata Felix dalam hati.
...-BERSAMBUNG-...