UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.240 - Dipaksa Mundur



Felix begitu lega melihat mereka berhasil selamat berkat Tan. Padahal beberapa detik yang lalu, jantungnya serasa akan keluar saking paniknya.


"Kalian baik-baik saja? bisa berdiri kan?" tanya Felix.


Teo dan Tom memaksa dirinya berdiri dengan sisa-sisa kekuatan yang tersisa.


"Kerja bagus, Tan!" kata Felix menepuk bahu Tan.


"Seharusnya perjalananku masih panjang untuk bisa melakukan hal ini ...." kata Tan heran dengan kemampuannya sendiri.


"Bukan saatnya untuk terkejut soal itu ...." kata Felix.


Dokter Mari juga berhasil diselamatkan oleh Banks dengan menggunakan pedangnya yang dipanjangkan seperti Tan barusan karena Zeki dan Verlin yang berlari tidak akan sampai tepat waktu.


Felix melirik Banks, "Berarti Cain sudah merencanakan hal ini dengan Banks ... berani-beraninya merencanakan semua ini tanpa sepengetahuanku ... sudah mengetahui bahwa jiwaku akan ditarik oleh Efrain. Cain sudah merencanakan hal ini semua ... jadi dimana dia sekarang?!"


Tidak ada waktu untuk tenggelam dengan rasa penasaran karena musuh masih tidak berkurang bahkan setelah mengalahkan puluhan iblis yang sudah tergeletak di atas tanah. Dari jejeran iblis, datang seseorang dengan aura besar yang sangat dikenal.


"Efrain!" kata Felix melihat Efrain dengan mata siap membunuh.


Efrain berlari kencang dan sekejap langsung tiba di depan Tan tapi untungnya Felix cekatan menangkis senjata Efrain. Tan panik bukan main dengan serangan super cepat itu, "Mundur!" kata Felix.


"Ah, baiklah ...." kata Tan menelan ludah dengan keringat dingin bercucuran.


"Berani-beraninya kalian menipuku!" teriak Efrain menghujami Felix dengan serangan.


Setengah mati, Felix menahan serangan itu. Zeki datang membantu saat melihat Felix kewalahan.


"Hentikan Efrain!" kata Zeki.


"Minggir atau akan kubunuh kau juga!" kata Efrain tidak main-main.


"Akulah yang akan membunuhmu, kemudian aku akan menyusulmu ...." kata Zeki memukul balik Efrain dengan serangan yang cepat.


"Kau tidak tahu saja ... Iriana hampir saja bisa kembali hidup!" kata Efrain.


"Sampai kapan kau akan terus begini?! relakan Iriana! dia sudah tidak bersama kita lagi ...." kata Zeki.


"Tidak! dia masih bisa hidup kembali! kalau di permainan ini gagal, masih ada permainan selanjutnya ...." kata Efrain.


"Orang-orang yang mendengar akan berpikir hanya kau sahabatnya ... memangnya kau pikir aku tidak ingin Iriana kembali hidup? aku juga berharap itu bisa terjadi ... tapi ini salah! saat ini bukanlah masa pemerintahan Iriana lagi, meski begitu ... seharusnya kau tidak menjadi pengkhianat seperti Alvauden sebelumnya yang kita benci itu!" kata Zeki.


"Diam kau!" teriak Efrain.


"Sadarlah, Efrain! masa kita sudah berkahir ...." kata Zeki.


"Aku tidak akan pernah menyerah! jika Iriana tidak bisa kembali hidup maka tidak ada Caelvita yang akan terlahir kembali! akan aku habisi semua Caelvita, dimulai dari kau!" kata Efrain mulai mengincar Felix kembali.


Banks datang menghalau serangan Efrain itu, "Hentikan, Yang Mulia Efrain!"


"Pergi kau pengkhianat! aku tidak punya Daemin sepertimu!" kata Efrain menyerang Banks tapi Banks bisa dengan mudah menghindari serangan Efrain.


"Saya sudah bersumpah setia melindungi Yang Mulia Caelvita 119 tapi saya juga masih Daemin, salah satu rakyat kerajaan Yang Mulia ... saya tidak bisa membunuh raja saya sendiri tapi jika Yang Mulia Felix memerintahkan, saya tidak punya pilihan lain selain membunuh Yang Mulia Efrain sesuai ketentuan Mundebris untuk mematuhi perintah dari Raja Tertinggi Mundebris, Caelvita." kata Banks.


"Bunuh saja kalau kau bisa! tapi sebelum itu akulah yang akan membunuhmu!" kata Efrain.


Zeki juga tidak tinggal diam dan ikut menyerang sahabatnya itu. Tidak pernah terbayangkan hal ini terjadi saat masih pemerintahan Iriana. Walau memang sering bertengkar tapi Efrain dan Zeki tidak pernah saling mengancam nyawa begini.


Verlin menyayangkan pemandangan dihadapannya itu. Meski sudah pernah melihat bagaimana Efrain tidak segan melukai Zeki tapi masih saja seperti hal baru bagi Verlin melihat itu, "Dulunya mereka saling berdampingan melawan musuh, kini mereka saling berhadapan sebagai musuh ...." kata Verlin dalam hati.


"Efrain, masih belum terlambat bagimu untuk berhenti melakukan ini ...." kata Zeki.


"Kau juga masih belum terlambat untuk bergabung denganku ...." kata Efrain.


"Aku menghormati kematian Iriana yang menjadi pahlawan dalam perang 11 tahun yang lalu ... Iriana tidak mati sia-sia, dia mati sebagai pahlawan seperti Caelvita lainnya!" kata Zeki.


"Iriana akan menjadi Caelvita terakhir!" kata Efrain keras kepala.


Dokter Mari dan Verlin masih semangat melawan iblis yang datang menyerang sedangkan Tan tidak berhenti takjub melihat keahlian Telloppernya yang meningkat pesat.


Felix yang sibuk membantu Teo dan Tom yang sudah sangat kelelahan tiba-tiba mendengar begitu banyak suara minta tolong, "Ampuni kami ... Alvauden Cain!" terdengar suara yang sangat putus asa.


"Cain? kenapa ada yang meminta ampunan dengan Cain?" tanya Felix mencoba mengatur pendengarannya, "Suara ini ... dari sekolah! hahh?! tidak mungkin ... jangan-jangan yang dilakukan Cain adalah ...." Felix melihat sekitar yang masih penuh dengan musuh. Padahal dirinya harus pergi darisana, menukar kematian dua pasangan pemain dan juga pergi ke tempat Cain berada, "Apa yang harus kulakukan?"


"Hahh ...." Felix merasakan rasa sakit di dadanya, "Perasaan ini ... terjadi kematian dalam jumlah yang besar. Apa benar Cain yang melakukannya? apa dia sudah merencanakan ini sejak awal?"


"Tidak mungkin Cain melakukan ini ... tapi bukan mustahil juga ... Cain tidak bisa ditebak jalan pikirannya ...." Felix masih belum menerima kemungkinan yang sudah terjadi.


Sebuah panah biru melesat dengan cepat menargetkan Efrain. Bahkan Efrain hampir tidak bisa menghindar dan berakhir menggores kulit yang berada di atas jantungnya, "Lagi-lagi panah ini!" kata Efrain kesal.


"Semuanya mundur!" teriak Efrain.


"Hahh?!" Tan, Teo dan Tom heran mendengar perkataan Efrain itu dan melihat iblis mulai mundur mengikuti perintah Efrain.


"Selanjutnya aku harus membunuhnya dulu saat mendapat kekuatan maksimal." kata Efrain mematahkan panah biru itu. Tapi tidak terlihat dimana keberadaan sang pemilik panah itu.


"Panah itu ...." kata Verlin takjub.


"Milik siapa? siapa yang membantu kita?" tanya Teo.


Efrain mundur beserta pasukannya setelah mendapat serangan dari panah biru itu.


"Dari laki-laki itu lagi! yang melindungiku dan Haera waktu itu ...." kata Felix.


"Itu milik seorang Viviandem terhebat!" kata Verlin.


"Viviandem? seharusnya kan tidak ada Viviandem yang hidup sekarang ...." kata Tom.


"Memang ... tapi baginya tidak ada yang mustahil!" kata Verlin.


Masih menjadi misteri siapa pemilik panah biru itu yang bisa membuat Efrain mundur. Tapi bisa dipastikan saat melindungi Felix dan Haera waktu itu, laki-laki itu menang dengan mudahnya. Dilihat dari bagaimana reaksi Efrain yang tahu betul bahwa tidak bisa menang melawan laki-laki itu.


"Tidak ada waktu untuk istirahat ... kita harus ke sekolah sekarang!" kata Felix melarang mereka untuk istirahat setelah musuh mundur.


"Ada apa lagi memangnya?" tanya Teo malas.


"Cain membantai Perkumpulan Setengah Sanguiber!" jawab Felix.


...-BERSAMBUNG-...