UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.437 - Perkemahan Tingkat SD Kelas 1 Dimulai



Tiba hari untuk perkemahan sekolah dimulai. Tingkat SD kelas 1 terlihat sibuk bolak-balik asrama menyiapkan perlengkapan atau mengambil barang yang ketinggalan. Ada juga yang sudah naik bus sekolah. Ada juga yang sedang bersama keluarga. Sementara Tiga Kembar sudah ada di depan bus telah meminum ramuan tidak terlihat. Masing-masing dari mereka membagi diri untuk tidak menaiki bus yang sama. Sedangkan Felix sudah ada di lokasi perkemahan sekarang menunggu.


Banyak orangtua atau keluarga lainnya yang datang mengantar tingkat SD kelas 1 untuk pergi ke perkemahan sekolah. Tapi ada juga yang hanya sendirian tanpa orangtua maupun keluarga lain, tidak diantar dari rumah melainkan tinggal di asrama dan hanya langsung menaiki bus.


"Bahkan kita yang anak panti asuhan ada yang terus mengantar kalau akan ke perkemahan atau kegiatan keluar sekolah ...." kata Teo lewat Jaringan Alvauden di depan bus lain.


"Sepertinya kita lebih baik dari mereka ...." kata Tom.


"Ada apa dengan suasana sentimental pagi-pagi begini?!" protes Felix dari jauh.


"Bisa tidak, kau pura-pura tidak dengar?!" kata Teo kesal tapi tetap tersenyum.


"Lucu sekali kau mengatakan itu, akulah pusat dari Jaringan Alvauden ini tahu!" kata Felix yang kedinginan di depan gerbang masuk area perkemahan.


"Kan biasanya kau mendengar tapi tidak perduli juga." kata Teo.


"Itu kalau aku sibuk ...." kata Felix.


"Jadi, saat ini kau tidak sibuk?! padahal selama ini kau terus saja sok sibuk." kata Tom sewot.


"Aku hanya menunggu kedatangan kalian, cepatlah datang!" kata Felix tetap santai.


"Semoga, kali ini tidak ada yang terjadi. Aku tidak bisa membayangkan kalau ada yang terjadi dengan teman sekolah kita. Apalagi mereka adik kelas kita, masih sangat muda." kata Tan.


"Kau juga masih muda, dasar orangtua!" kata Teo.


"Tidak akan ada yang terjadi." kata Felix menekankan.


"Semoga ...." Tan, Teo dan Tom bersamaan menyahut.


***


Semua bus berangkat ke area perkemahan. Tan hanya bisa berdiri di bagian belakang bus, Teo beruntung karena ada kursi kosong jadi bisa duduk sedangkan Tom berdiri di belakang kursi sopir mengawasi karena sopir bus itu terlihat sangat kelelahan dan mengantuk. Daritadi bolak-balik ke vending machine membeli kopi sebelum bus berangkat.


Tiga Kembar juga sudah menaruh batu permata emerald di masing-masing bus lainnya yang tidak mereka naiki agar Felix bisa tetap awasi dari jauh.


"Bahkan anak kelas 1 sekarang sudah setinggi kita ...." kata Teo.


"Anak sekarang memang pertumbuhannya lebih cepat." kata Tan.


"Kau selalu berbicara seakan kau bukan anak kecil juga ... Sadarlah kita tidak berbeda jauh ...." kata Tom.


"Kita sudah kelas 6 SD." kata Tan.


"Kau pikir sudah dewasa kalau sudah kelas itu?!" kata Teo.


"Aku hanya bilang saja ...." kata Tan mengelak dengan santai.


Felix yang kedinginan karena hanya terus diam, kini berjalan berkeliling area perkemahan untuk menghangatkan diri. Tapi sepertinya itu adalah ide buruk karena jalanan dipenuhi kabut dan bukannya Felix bertambah hangat malah semakin dingin.


"Sepertinya di Mundebris tidak pernah tidur ...." kata Felix melihat situasi di Mundebris saat ini.


"Memang baru lewat 1 jam, apa yang kau harapkan?!" kata Iriana.


"Di Mundclariss waktu begitu cepat berlalu ...." kata Felix masuk ke dalam salah satu tenda yang ada perapian di dalamnya untuk menghangatkan diri, "Ini tenda guru ya?!" tanya Felix melihat tenda yang dimasukinya itu begitu lengkap.


"Entahlah, semuanya terlihat sama bagiku." kata Teo.


"Yang membedakan mungkin hanyalah jumlah yang menempati. Kalau guru satu tenda satu guru kalau murid bisa ditempati tiga sampai lima orang." kata Tom.


***


Semua bus sampai di area perkemahan setelah empat jam perjalanan. Tan terpaksa harus duduk melantai karena kakinya kram dan sakit terus berdiri, Teo yang paling nyaman bisa tertidur nyenyak di dalam bus, sementara Tom terus bersandar di belakang kursi sopir tapi ternyata sopir bus itu lebih hebat dari yang Tom pikirkan, "Walau sedang mengantuk tapi tetap bisa mengendarai bus dengan aman." kata Tom dalam hati, "Ternyata, seseorang yang berdedikasi dan sudah lama menekuni pekerjaannya tidak bisa dianggap remeh ...."


Gerbang masuk dengan papan tanda 'Incia' menyambut semua anak tingkat SD kelas 1 beserta guru.


"Incia?! apa artinya?!" tanya Salah satu anak yang membaca papan tanda sambil mendongak penasaran dengan nama perkemahan itu.


"Entahlah, dari yang kudengar kalau nama itu sudah ada dari sejak dulu, pemilik pertama perkemahan ini. Mirip sekali dengan nama kota yang ada di Mundebris, apa hanya kebetulan saja atau bagaimana ...." kata Felix menjawab pertanyaan anak tadi tapi hanya berbicara sendiri tentunya.


"Terkadang, ada yang dari Mundebris suka ke Mundclariss dan iseng memberikan nama pada sebuah area." kata Iriana.


"Tidak mengherankan karena disini adalah kota untuk keturunan Setengah Quiris. Pasti banyak yang keluar masuk darisini. Bahkan tidak aneh jika ada Setengah Quiris juga bekerja disini sebagai pengelola tapi nyatanya tidak ada yang kutemukan. Tapi memang ada pekerja yang belum datang ...." kata Felix.


Bus berangkat dari jam 6 pagi dan tiba jam 10 pagi lewat. Sudah hampir siang tapi kabut masih memenuhi dan suhu masih sangat dingin.


Tan memasukkan hot pack ke dalam saku jaket Felix, "Kau sudah sarapan?" tanya Tan yang barusaja sampai.


"Sudah." sahut Felix.


"Hai!" sapa Teo yang kelihatan sangat segar sudah tidur di dalam bus selama perjalanan.


"Kau tidak membeku kan?!" sapa Tom.


"Bus terkahir sudah dekat ...." kata Felix mengabaikan semua sapaan.


Beberapa menit kemudian bus terkahir datang dan ikut berjejer dengan bus lainnya yang sudah datang duluan. Felix akhirnya bisa bernapas lega karena semuanya aman-aman saja setidaknya sampai saat ini. Tapi semuanya baru permulaan, anak kelas 1 terlihat sudah memenuhi area perkemahan dan membongkar barang di dalam tenda langsung memakai jaket tambahan karena cuaca lebih dingin dari yang diperkirakan.


Pengumuman untuk absen di area kosong dari atas panggung sudah daritadi disiarkan. Tapi kebanyakan malas untuk keluar tenda karena dingin. Hingga guru terpaksa harus memasuki tenda satu per satu.


Absen dimulai untuk setiap kelas, semuanya hadir kecuali yang memang berhalangan hadir atau memang tidak ingin ikut perkemahan sekolah. Perkemahan sekolah adalah kegiatan yang bukan wajib untuk diikuti. Tapi lebih banyak yang hadir daripada tidak. Karena perkemahan sekolah adalah acara yang sudah menjadi tradisi.


Jam 1 siang barulah kabut mulai perlahan menghilang dan aktivitas baru mulai akan dilakukan. Semuanya menjadi tertunda tidak seperti jadwal yang telah direncanakan.


"Area perkemahan seperti ini harusnya untuk keluarga saja, dipakai untuk bersantai. Bukan untuk anak sekolahan yang punya aktivitas serta jadwal yang aktif dan padat." kata Bu Janet.


"Jangan salahkan Mertie bu, salahkan Felix! dialah yang memilih tempat ini ...." kata Teo yang sedang berada diantara para guru.


"Aku bisa mendengarmu!" kata Felix.


"Em, aku tahu." kata Teo santai.


"Ow, kau ...." kata Tom melihat sesuatu.


"Ada apa?!" tanya Felix.


"Ada tanaman Mundebris disini!" jawab Tom.


"Bukan Setengah Quiris?" tanya Tan.


"Bukan!" sahut Tom.


"Bagaimana dia bisa masuk kesini?! tanaman tidak bisa membuka gerbang karena memang tidak memiliki gerbang." kata Teo.


...-BERSAMBUNG-...