
"Ah, ternyata aku sempat melamun jadi terlihat deh ...." kata Teo menyadari kalau itu adalah murni kesalahannya, "Padahal aku sempat berpikir, kalau Pak Egan juga salah satu Quiris yang menyamar berasal dari Mundebris sehingga bisa melihatku." Teo menertawakan dirinya sendiri sempat memikirkan hal konyol itu, "Mana mungkin Pak Egan adalah Quiris ...."
Teo diberi borgol mainan dan dibawa ke depan panggung pertunjukan bersama anak-anak lainnya yang sudah tertangkap.
"Pak, bisa tidak kami dilepas?!" tanya Dea, "Setidaknya biarkan kami untuk makan siang!" sambungnya.
"Kalau kalian ke tenda makan sekarang, akan menghalangi pencarian. Membuat kami bingung mana yang belum ditangkap dan mana yang sudah. Jadi sabar saja sebentar lagi! Lagipula kenapa kalian tidak berusaha lebih keras lagi untuk bisa bersembunyi sekaligus makan ... tidak ada yang melarang kalian makan loh, kalian sendiri yang terlalu takut tertangkap." kata Pak Egan membuat anak-anak yang sudah tertangkap menyorakinya.
"Ck ... Ck ... Ck!" Tom menatap Teo dari kejauhan dengan tatapan sangat menyebalkan dimata Teo.
"Aku sudah dapat petunjuk, kontribusiku sudah banyak!" kata Teo membela diri.
"Kau hanya menemukan satu dan sebangga itu?! lucu sekali!" kata Tom.
"Kaupun sama, cuma satu juga." kata Teo.
"Memang! tapi setidaknya aku belum tertangkap. Aku masih punya peluang untuk mendapatkan petunjuk lagi." kata Tom.
"Wah ...." Teo akhirnya tidak bisa berkata-kata lagi.
Anak-anak yang tertangkap kelihatan biasa-biasa saja. Hanya terlihat kebosanan dan terus mengeluh. Tidak ada yang kelihatan mencurigakan atau yang terang-terangan membahas petunjuk.
"Lihat, mereka ... sudah lihai sekali akting!" kata Teo kagum dengan teman-temannya yang pasti sudah banyak diantara mereka menemukan petunjuk tapi bisa disembunyikan dengan baik, "Mustahil mereka mau saling berbagi petunjuk ...."
"Cara yang tepat hanyalah untuk saling bekerjasama dengan satu angkatan agar bisa menebak petunjuk. Tapi bagaimana bisa beasiswa dibagikan pada satu angkatan?!" kata Tan.
"Makanya sudah kubilang kalau ini akan jadi pertumpahan darah. Semuanya sudah lihai karena melakukan perburuan harta karun selama enam tahun berturut-turut. Seluruh siswa Gallagher sudah ahli kalau soal perburuan harta karun." kata Tom.
"Apa disana ada Osvald dan Demelza, Teo?!" tanya Tan.
"Em ... tidak ada." jawab Teo setelah memeriksa dan bertanya pada anak-anak lain.
"Hebat juga mereka berdua belum tertangkap." kata Tom membuat Teo hanya bisa tersenyum pahit.
Teo yang mengira dirinya tidak terlihat, terlalu percaya diri berjalan kesana-kemari dan lupa untuk fokus. Sehingga akhirnya tertangkap juga, padahal belum melakukan hal yang banyak. Seharusnya dengan bisa tidak terlihat begitu, Teo sudah menemukan banyak petunjuk. Dirinya sangat berpeluang karena bisa bebas kesana-kemari tidak seperti anak-anak lain. Tapi semuanya juga berakhir cepat sehingga percuma Teo meminum ramuan.
"Buang-buang ramuan saja." kata Tom.
"Tan yang membuatnya, kenapa kau yang protes." kata Teo yang dalam hati sebenarnya sedang menyalahkan diri sendiri karena makan terlalu banyak makanya mengantuk dan kehilangan fokus.
"Semoga mereka berdua mendapatkan petunjuk. Sebenarnya, petunjuk ... tidak selamanya harus semua kita miliki. Terkadang kalau kita beruntung mendapatkan bagian petunjuk yang penting, walau hanya dengan petunjuk sedikit tapi kita bisa berpeluang menang." kata Tan.
Waktu kembali berlalu, anak-anak yang sudah tertangkap meminta kalau yang belum tertangkap agar menyerahkan diri dengan mudah karena mereka sudah lapar.
"Enak saja!" kata Parish yang sedang mencari di belakang panggung pertunjukan, "Sudah bertahan selama ini ... mana mungkin menyerah hanya karena lapar dan desakan dari yang sudah tertangkap."
Tom walau kelihatan meremehkan Teo tapi juga mengikuti perkataan Teo untuk mencari ditempat yang sering dikunjungi oleh Bu Latoya yakni kalau bukan kafe yang sudah dicari Teo berarti tinggal satu yakni tenda Bu Latoya sendiri.
Pertama-tama Teo mengelilingi tenda Bu Latoya dibagian luar dulu dan memeriksa dengan teliti setiap sudutnya. Di depan tenda ada kursi dan meja yang ada set cangkir mahal Bu Latoya dan juga ada bermacam-macam bungkus teh.
"Apa mungkin ...." Tom memeriksa satu per satu bungkus teh yang ada disana dan menemukan satu bungkus teh yang sudah terbuka. Tom memeriksa satu per satu kantung teh dan menemukan satu yang bukan kantung teh melainkan hanya kertas dan itu adalah kertas petunjuk, "Ow ...." Tom senang karena sudah mendapatkan dua petunjuk.
"Jangan bergerak dan angkat tangan Jerry!" seru Bu Latoya dari belakang Tom.
"Ow, Tom ... diam dan jangan mengacaukan tindakan dari pihak yang berwajib." kata Bu Latoya.
"Ibu pasti sudah melatih bagian itu berulang-ulang makanya bisa disebutkan dengan sangat fasih." kata Tom dalam hati.
Bu Latoya mengeluarkan borgol mainan dan mendekati Tom.
"Maaf bu!" kata Tom merebut borgol mainan dari tangan Bu Latoya. Bukannya Tom yang diborgol tapi Bu Latoya yang kini terjebak di tendanya sendiri tidak bisa bergerak karena diborgol bersama kursinya. Tom cepat berlari darisana tapi terhenti setelah mendengar ucapan Bu Latoya.
"Setidaknya seduhkan ibu teh dulu sebelum kau pergi!" kata Bu Latoya yang membuat Tom tertawa keras mendengar itu, "Membosankan kalau hanya sendirian disini ...." lanjut Bu Latoya.
"Bahasa Yardley ibu sudah meningkat ...." kata Tom dengan senang hati membuatkan teh untuk Bu Latoya.
"Terimakasih pujiannya, Jerry!" kata Bu Latoya.
"Tom, bu!" Tom dengan cepat memperbaiki.
"Oiyya, Thomas."
Tan sendiri di tempat lain merasa bersalah karena belum menemukan satupun petunjuk.
"Hello ...." suara yang bukan berasal dari Zewhit ataupun Musuh tapi membuat Tan merinding ketakutan.
"Pak Egan ... Bu Janet ...." Tan sialnya ditemukan oleh dua guru sekaligus.
"Kau tidak akan mendapatkan pengacara!" kata Pak Egan.
"Kau berhak untuk mengatakan apapun karena tidak akan berpengaruh apapun." Bu Janet ikut dalam permainan Pak Egan.
Tan mundur sambil tertawa melihat kedua gurunya yang biasanya sangat hebat menjelaskan pelajaran tapi sekarang turut serta ikut bermain petak umpet dan sedang menghayati peran, "Sepertinya hanya Gallagher yang bisa merasakan situasi lucu seperti ini ...." kata Tan dalam hati.
"Saya tidak bersalah apa-apa Pak, Bu!" Tan juga ikut dalam sandiwara.
"Itu bisa kau jelaskan di kantor! sekarang ikut kami!" kata Pak Egan membuat Tan tertawa lagi.
"Jangan tertawa!" kata Pak Egan setengah mati menahan tawanya. Bu Janet yang disampingnya akhirnya tertawa juga.
"Saya belum mendapatkan petunjuk satupun pak ...." Tan membujuk meminta untuk dilepaskan.
"Maka dari itu kau bersalah! sudah diberi waktu tapi sampai sekarang belum mendapatkan petunjuk ...." kata Bu Janet kembali dalam mode aktingnya.
"Maaf Bu, Pak!" kata Tan menggunakan keahliannya untuk kabur.
Pak Egan dan Bu Janet sudah berusaha keras tapi tidak bisa menangkap Tan. Akhirnya Tan berhasil kabur darisana. Memang tidak ada peraturan kalau tidak boleh kabur setelah ditangkap yang jelas belum dibawa sampai di penjara atau dalam hal ini lapangan depan panggung.
"Saya akan menyerahkan diri setelah mendapatkan satu petunjuk untuk membersihkan nama baik." teriak Tan begitu bahagia bisa kabur. Keahlian Tan yang bisa kabur dari iblis itu, tentunya kabur dari dua guru adalah hal kecil baginya.
"Tuan Muda ... Tuan Muda ...." suara yang sangat kecil didengarkan oleh Tan saat bersembunyi setelah berhasil lolos dari Pak Egan dan Bu Janet.
"Siapa itu?!" tanya Tan mencari asal suara.
...-BERSAMBUNG-...