
Efrain menngganti targetnya dari Felix menjadi Cairo dalam sekejap. Tapi Felix bisa menahan serangan Efrain itu dan Cairo punya kesempatan untuk menyerang Efrain.
Hanya saja terlalu cepat untuk senang, karena Bates datang menghalau serangan Cairo. Sehingga Efrain berhasil mundur dan Bates bisa membawa Ditte yang sedang terluka.
"Pedang itu ... aku mengenalinya ...." kata Ditte.
"Itu Pedang Aluias, tentu saja sangat berbeda dengan senjata lainnya." kata Bates.
"Lebih dari itu, pedang itu sangat spesial. Bahkan saat itu tubuh yang kurasuki hanya terluka dan belum mati tapi aku kesusahan keluar dan hampir terkurung di dalam tubuh manusia yang kurasuki." kata Ditte.
"Kalau begitu ...." kata Bates tidak selesai.
"Tanganku ini tidak akan bisa diselamatkan. Kekuatan pemulihanku tidak akan berguna." kata Ditte.
"Jangan khawatir, dia manusia. Aku bisa memanipulasi pikirannya dengan mudah dan merebut senjatanya." kata Bates tidak ingin agar Efrain ragu dalam bertarung, "Aku akan mengatur pikiranmu agar tidak merasakan sakit ...." Bates bersiap untuk memotong lengan Ditte. Saat itu dilakukan, Ditte sama sekali tidak berteriak kesakitan atau sekedar ekspresi sedang menahan sakit. Berkat Bates yang mengendalikan pikiran Ditte.
Cairo kaget saat Felix hampir terjatuh kalau tidak ditahan, "Kau tidak apa-apa?!"
Felix kelihatan sangat pucat dan dipenuhi keringat. Bahkan Anaevivindote yang ada diatas kepala Felix, bulunya juga ikut basah oleh rambut dan keringat dingin Felix yang bercucuran terus-menerus.
"Aku tidak yakin apa bisa mengatakan ini ... tapi biar aku ambil alih darisini!" kata Cairo.
"Tidak ... harus aku yang membunuhnya atau setidaknya mataku harus terbuka lebar saat itu terjadi." kata Felix.
"Baiklah, kalau begitu ... bantu dan lindungi aku saja." kata Cairo.
Felix tidak bisa menolak tawaran itu karena saat ini tubuhnya hanya bisa menerima dengan senang hati tawaran yang sangat menggiurkan itu. Ditambah lagi seperti Felix entah bagaimana mempercayai Cairo begitu saja.
"Kendalikan manusia itu!" perintah Efrain pada Bates.
"Tunggu ...." Bates masih ingin mengatakan sesuatu tapi tidak dihiraukan oleh Efrain dan hanya langsung maju saja tanpa mendengarkan secara lengkap.
Cairo menjadikan dirinya perisai untuk melindungi Felix tapi Felix tidak berniat untuk dilindungi seperti itu. Felix maju juga untuk menyerang Efrain. Cairo kelihatan memang lebih dari yang Felix ekspektasikan. Terlihat kalau selama tidak bertemu pasti terus mengasah keahliannya.
"Kau mau kemana?!" tanya Seseorang dengan pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh Cain.
"Membantu Felix." jawab Cain santai.
"Tidak! kau itu Leaure!"
"Hahh ... daritadi Leaure ... Leaure ... memangnya kenapa kalau Leaure?!" Cain sebal karena baru saja dibuat kesal oleh Alex kali ini dengan Viviandem Leaure.
"Kita bukan pembunuh, kalau kau ingin bertarung silahkan. Tapi jangan sampai merenggut kehidupan. Itu melanggar kode etik Leaure."
"Kau tidak lihat tanda ini ... aku harus membantu Caelvitaku." kata Cain menunjuk dahinya yang ada tanda Alvauden.
"Hanya saja matamu tidak menyiratkan kalau tidak sekedar untuk membantu saja ... aku tahu tatapanmu itu lebih dari sekedar itu. Tatapan pembunuh!"
"Minggir!" Cain sudah kehilangan kesabarannya dan menendang jauh Viviandem Leaure yang kelihatannya seumuran dengannya atau setidaknya kelihatan sama tinggi saja dengannya.
Langkah kaki Cain terhenti saat melihat Leaure malah menolong musuh yang sedang terluka, "Apa-apaan?!"
"Sudah kukatakan kan?! kau melihatnya sendiri sekarang, kalau mereka itu menyebalkan!" kata Goldwin menahan serangan musuh sendirian karena Cain akan pergi.
Leaure yang dilihat Cain itu menahan perdarahan seorang Iblis dengan Viviandem Aluias yang kelihatan sedang marah-marah karena dilarang menyerang musuh yang sedang terluka.
Iblis yang ditolong Leaure itu malah menusuk Leaure yang menahan perdarahannya.
"Hahh! Lihat itu! rasakan!" Aluias itu memaki.
Tapi Leaure yang ditusuk itu kelihatan tidak ada dendam sama sekali dan masih menekan area peradarahan iblis yang sudah melukainya.
"Inilah Leaure ... berhati sangat baik dan tidak mempunyai perasaan dendam." kata Goldwin.
"Ck!" Cain menarik jubahnya yang menjuntai dibelakang hingga robek dan membuangnya lalu menginjak jubah yang terlihat ada simbol singa mirip dengan wajah Goldwin.
Goldwin hanya menyipitkan mata karena Cain kelihatannya saja tidak menyukai prinsip dari Leaure. Tapi kepribadian Cain yang dikenal oleh Goldwin memang adalah murni Leaure. Meski setelah membantai Perkumpulan Setengah Sanguiber sekalipun, Goldwin tidak pernah melihat perbedaan dari Cain.
"Aku tahu ... tidak mudah untuk bersikap seperti itu. Karena tuntutan sebagai Alvauden sedangkan dia seorang Leaure. Mau tidak mau Cain harus merelakan salah satunya." kata Goldwin dalam hati.
Cain yang langkahnya semakin dekat menuju Felix dan Cairo terus diperhatikan oleh Raja Leaure, "Untuk pertama kalinya ada Alvauden dari Leaure. Walau dia hanya Setengah Leaure tapi lebih dari itu ada yang spesial darinya." kata Raja Leaure dalam hati, "Mungkinkah dia yang diramalkan itu ...."
"Akan sulit baginya menjadi Alvauden ...." kata Viviandem disamping Raja Leaure.
Raja Leaure tidak merespon, matanya hanya terus mengikuti pergerakan Cain kemanapun itu.
Sementara Dokter Mari terus mengawasi Raja Leaure. Bagaimana Raja memandang Cain, Dokter Mari berusaha untuk menganalisanya.
Cairo sebagai penyerang utama dan Felix hanya membantu sebagai cadangan. Kalau Cairo kesulitan, barulah Felix maju tapi terkadang Cairo lebih memilih agar Felix tidak datang membantunya. Karena dengan tubuh seperti itu, Felix kelihatan sangat mudah untuk diserang balik oleh Efrain.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Efrain pada Bates karena tidak melihat ada perubahan sama sekali dengan Cairo.
"Aku mau bilang tadi ... tapi kau pergi begitu saja, aku sudah memulai mantraku bahkan sebelum kau memerintahkanku. Itu sudah menjadi dasar dari ahli pikiran, menyerang disaat lawan bahkan tidak sadar kalau pertarungan sudah dimulai dari tadi." kata Bates dalam hati tapi Efrain tentunya dapat mendengarkannya karena Bates memberi akses pada Efrain untuk itu, "Tidak bekerja!" teriak Bates membalas Efrain.
"Apa?!" Efrain heran.
"Pikirannya terlindungi oleh sesuatu ...." kata Bates.
"Itu hanya berlaku pada Aluias, bahkan dia bukan Setengah Aluias." kata Efrain dalam hati.
"Biasanya Aluias yang mendapat misi dalam mimpi, pikirannya akan terlindungi dan kekuatan fisiknya akan bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Apa dia akan meninggal?!" kata Raja Aluias.
Cain datang bergabung membantu Felix dan Cairo. Tapi melihat keadaan Felix, Cain lebih memilih untuk membawa Felix pergi darisana.
"Kau ikut aku! Hahh ... kau sangat menganggu!" kata Cain sebal pada Felix, "Kau bisa sendiri sebentar kan?!" tanya Cain memegang bahu Cairo.
"Iy ... iyya ...." Cairo menjawab terbata-bata.
"Ada apa dia?! tiba-tiba saja gugup kah?!" kata Cain dalam hati agak lucu melihat Cairo yang menjawab seperti itu padahal kelihatannya bukanlah seseorang yang mudah terintimidasi, "Kau duduk manis saja disini." kata Cain pada Felix.
Cain berbalik ingin kembali membantu Cairo tapi dibelakang Cairo kelihatan ada api putih bersinar.
Para Aluias kaget, "Sang Penghukum."
"Ternyata menjadi Pahlawan ...." kata Raja Aluias tersenyum.
Api besar itu seperti tersedot masuk kedalam tubuh Cairo.
"Kau tidak melihatnya?!" tanya Felix lewat Jaringan Alvauden.
"Lihat apa?!" tanya Cain memastikan karena tidak tahu kalau Felix menanyakan hal yang sama ataukah berbeda dari yang dipikirkannya.
"Didalam api itu." kata Felix.
"Apa maksudmu?!" Cain heran, "Api ya api ... mana ada seseorang didalamnya. Seperti Sang Penghukum Leaure juga sama seperti itu juga."
"Seperti yang kulihat saat Sang Penghukum datang membawa Cain, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kau sendiri yang kulihat berada di dalam sana membawa dirimu sendiri. Sekarangpun, aku melihat dirimu lagi di Sang Penghukum Aluias." kata Felix dalam hati tidak bisa mengatakannya karena bisa saja ucapannya akan menjadi variabel baru untuk mengubah masa depan. Dengan Felix yang masih menyembunyikan fakta itu dari Cain dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan sampai sekarang pasti keputusan baik untuk terus merahasiakannya saja, begitulah menurut Felix.
...-BERSAMBUNG-...