
"Hutan ini hutan lindung, menurut kalian pohon pinus itu tidak ada yang punya?" kata Teo menyeringai.
"Kalaupun tidak ada yang punya tapi pasti ada yang ingin memilikinya ...." kata Felix mulai mengerti apa yang dimaksud Teo.
Tiga Kembar masih ada di pinggir sungai melihat Felix yang sudah ada di atas tebing dekat pohon pinus yang dimaksud oleh Teo tadi. Padahal baru saja Felix masih ada disamping mereka.
"Pohon pinus tumbuh di atas tebing berangin seperti ini akan menghasilkan bentuk pohon pinus yang bagus dan bernilai mahal. Tidak seperti pohon pinus yang bentuknya bukan dibentuk oleh alam. Entah apa ada yang sengaja menanamnya disini, tapi jika memang iya ... pasti akan membuatnya marah kalau pohon ini tumbang dan mengenai bebatuan yang ada dibawah sana." kata Felix dengan pelan mendorong batang pohon itu dan perlahan sudah mulai miring dan akarnya tercabut. Felix naik ke atas pohon itu untuk mendapatkan transportasi gratis sampai ke bawah.
Sebelum pohon itu mencapai bebatuan, Felix melompat untuk menjauh begitupun dengan Tiga Kembar. Pohon mahal itu terlihat hancur terbelah-belah mengenai bebatuan yang ada disana.
"Jika ada yang memiliki pohon ini, pasti akan mulai menyingkirkan bebatuan ini. Supaya jika terjadi longsor yang bisa membuat pohon yang ada di tebing tumbang dan terjatuh kesini tidak akan separah ini. Karena hanya mengenai tanah saja bukan batu." kata Felix.
"Dan jika hanya ada tanah pasti air akan dengan cepat memunculkan korban itu ...." kata Tan.
"Kerja bagus Teo!" kata Tom.
Felix dan Tiga Kembar kembali ke desa. Sepertinya kerja bakti sudah selesai tapi pesta makan-makan masih belum selesai juga. Bahkan ada karaoke juga yang membuat para warga menyanyi dan menari malam itu.
"Bagaimana dengan kepala desa itu?" tanya Teo.
"Sepertinya Felix memilih kasus itu tetap terkubur." jawab Tan sambil berbisik.
"Buktinya setelah mendengar dan membaca pikiran warga tadi, bukannya tinggal malah langsung ke tempat korban lainnya." kata Tom.
"Kepala desa yang terkenal pelit dan kasar itu meninggal dengan meninggalkan kesan baik karena menjadi target pengorbanan iblis. Apa kita harus mengatakan ini miris?!" kata Teo.
"Jadi kita simpulkan empat korban di desa ini, kepala desa yang berusia 56 tahun laki-laki, perempuan berusia 25 tahun, remaja laki-laki berusia 15 tahun, kemudian perempuan berusia 45 tahun. Apa hanya aku yang sadar kalau banyak angka 5 disini?!" kata Felix.
"Jadi, yang menjadi target adalah yang memiliki umur dengan angka 5?!" kata Tom.
"Sepertinya begitu ...." kata Felix.
"Berarti kita harus memeriksa catatan warga disini, kita ke kantor desa untuk memeriksa ...." kata Tan.
"Tidak perlu!" Felix menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jarinya dan memunculkan Mahkota Ruleorum. Seketika Felix berubah menjadi berpakaian dengan serba warna biru sapphire, "Menjadi malaikat kematian dengan mudah bisa melihat umur seseorang ...." Felix mulai melihat sekeliling, "Anak yang di dekat Cairo itu 5 tahun, Laki-laki yang memakai jaket kuning itu 55 tahun, Nenek yang memakai topi merah muda itu 65 tahun ...." Felix mulai menunjuk satu per satu dan Tiga Kembar mulai membagi dirinya untuk mengingat wajah mereka satu per satu. Ada juga yang tinggal di rumah tapi Felix bisa melihat dari jauh usia yang tinggal di rumah itu melayang-layang diatas atap rumah.
"Ada 27 orang yang memiliki angka 5 ... kini kita hanya perlu fokus pada mereka untuk dilindungi." kata Tom.
"Beritahu Cairo juga! dia pasti lebih tahu warga disini dibanding kalian ...." kata Felix.
"Aku masih tidak menyangka saja kau membawa seseorang ikut terlibat ...." kata Tan.
"Aku tidak suka tapi sepertinya ada seseorang yang sengaja mengirimnya untuk membantuku. Entahlah apa dia benar bisa membantu, tapi kita lihat saja ...." kata Felix.
"Kalau dipikir-pikir yang memberi misi pada pemburu iblis itu harusnya membawa Cairo kesini, tapi malah ke Desa Parama yang kita pasangi kamera dan misi disana sudah selesai. Tidak membutuhkan pemburu iblis lagi, kalau dipikir-pikir kan?!" kata Tan.
"Kau juga merasakannya kan?! Cairo dikirim kesana untuk bertemu kita." kata Felix.
"Maksudmu kita mempunyai seseorang yang membantu kita secara diam-diam?" tanya Tom.
"Mendengarnya saja sudah membuat senang. Kalau ada saja satu tambahan orang yang berpihak pada kita, sangat ... sangat lega rasanya ...." kata Teo.
"Berpikir bahwa bukan hanya kita berlima saja melawan jutaan iblis, setidaknya memang terdengar lebih baik." kata Tom.
"Besok terakhir kita bisa cepat datang kesini. Lusa, kita hanya bisa kesini saat sudah pukul 9 malam. Setelah makan malam di asrama dan setelah absen malam." kata Tan.
"Apapun itu, aku berharap malam ini dia datang." kata Teo.
"Walaupun tidak bisa dikatakan siap tapi aku juga ingin dia datang malam ini. Haha ... lagipula kapan kita bisa dikatakan benar siap? selama ini kita hanya terus diserang dadakan ...." kata Tom.
"Sudah aku jelaskan dan bagi secara rata. Kami berempat akan mengikuti lima orang masing-masing dan kau tujuh orang." kata Tom.
"Secara rata?" Felix heran.
"Kau bahkan bisa melakukan ini semua sendirian, kalau segitu saja kan bagimu sangat mudah ...." kata Tom.
"Hahh?!" Felix hanya bisa memasang wajah tidak habis pikir dengan pembagian secara rata menurut Tom itu, "Baiklah ...." tapi dengan cepat Felix juga menyetujui.
Semua warga mulai pulang satu per satu, begitupun para target mulai diikuti sampai ke rumah masing-masing untuk diberi perlindungan garam Ruleorum di sekitar rumah dan juga diberi sedikit garam di atas kepala target. Felix dengan mudah menyelesaikan misinya karena telah membaca pikiran yang akan menjadi target jadi bisa ke rumah target itu sebelum pulang dan tinggal melemparkan garam Ruleorum.
Memang benar yang dikatakan Tom, bahwa pembagian itu sebenarnya sudah rata. Bahkan sebenarnya bisa menambah jumlah lagi untuk Felix dan mengurangi untuk dirinya, Tan, Teo dan Cairo.
Sambil menunggu Tiga Kembar dan Cairo selesai, Felix duduk di depan pintu masuk desa dengan tongkat Caelvitanya. Sudah pukul 2.30 malam, begitulah yang dilihat Tan saat mulai datang ke tempat Felix bersama dengan yang lainnya.
"Perasaan ini ...." Tan merinding.
Putaran angin yang muncul tepat dihadapan Felix membuat debu menjadi berputar-putar seperti tornado kecil. Saat putaran angin itu hilang muncullah iblis yang terlihat sangat mirip dengan Efrain, hanya saja lebih pendek dan lebih kurus. Tapi dengan mata jingga itu membuat tulang-tulang rasanya menggigil tidak berdaya.
"Kekuatannya ini ... kita tidak akan bisa mengalahkannya!" kata Tom.
"Yang Mulia ...."
"Jadi kau adik Efrain?" tanya Felix masih dalam keadaan duduk. Merasa tidak terintimidasi sama sekali dengan hawa kehadiran yang sangat kuat dari iblis itu.
"Lucy, Yang Mulia."
"Jadi, Lucy ... apa kau sudah mau menyelesaikan misimu malam ini?!" tanya Felix membenturkan tongkatnya.
"Sepertinya malam ini saya hanya akan sekedar datang menyapa saja ...." kata Lucy mulai menunduk dan perlahan mulai menghilang.
"Apa?! dia pergi?" Cairo berlari menuju Felix berada.
"Besok malam dia akan datang." jawab Felix.
"Sudah kuduga, bukan hanya cerdas tapi dia juga menjaga sopan santun ...." kata Tan, "Aw!" Tan ditendang tumitnya oleh Teo.
"Besok, siapkan buket bunga untuk idolamu itu!" kata Teo sebal karena Tan terus memuji Lucy, adik Efrain itu.
...-BERSAMBUNG-...
Kukira tahun 2021 ku berlalu begitu saja ternyata bermanfaat begini🤭. Bisa dinobatkan menjadi Penulis Teladan 2021 adalah kehormatan besar untuk saya yang selalu mengeluh pusing mau menulis apa lagi untuk episode terbaru😅
Terimakasih untuk para pembaca setia terutama untuk Silver Fans UNLUCKY yang selalu memberi semangat untuk saya selalu update tiap harinya. Saya memang tidak bisa seperti penulis lain yang bisa crazy update dengan episode bertubi-tubi😂 tapi saya selalu update tiap hari tanpa absen😎
Terimakasih juga untuk para pembaca baru yang membuat saya yang melihat ada like baru di chapter pertama selalu berdebar-debar entah bagaimana respon setelah membaca☺️
Ohiya, Selamat hari natal bagi yang menjalankan🥳🎉
^^^Salam pengingat bawa payung dan jas hujan^^^
^^^dari penulis,^^^
^^^-ittiiiy^^^