UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.463 - Hiburan Kecil



Dipikiran Felix saat ini hanya dipenuhi oleh rasa penasaran akan amplop surat yang ditemukannya tadi. Walau sudah tahu kalau itu bukanlah sebuah pertukaran surat antar musuhnya. Karena Felix tahu betul siapa pemilik aura yang membawa amplop surat. Hanya saja kepada siapa, tidak diketahui siapa dan itu yang membuat Felix penasaran setengah mati.


Pemilik Perkemahan yang asli begitu lihai dalam menyembunyikan jati dirinya. Kali ini fakta baru bahwa seseorang yang dikenal Felix itu saling bekerjasama dengan Pemilik Perkemahan membuat Felix sedikit lega juga. Karena tidaklah berjuang sendiri, ada yang terus membantunya dari belakang tanpa diketahui. Sehingga membuat Felix semakin yakin kalau perkemahan ini sangatlah aman. Karena punya hubungan dengan seseorang yang dikenal oleh Felix.


"Apakah salah untuk mengetahui siapa Pemilik Perkemahan yang jelas-jelas berada dipihakku?! aku hanya ingin tahu siapa saja yang ada dipihakku ... sudah sewajarnya untuk saling mengetahui siapa yang berpihak pada kita, siapa yang menjadi sekutu kita." kata Felix dalam hati mengomel sendiri.


"Ataukah aku begitu terobsesi begini karena ingin meminta bantuan ...." Felix kemudian mengintrospeksi dirinya sendiri.


"Entah kau mau bilang bagaimana kalau dia itu tidaklah mencurigakan, tapi bagiku dia itu patut dicurigai." kata Teo.


"Bicara apa kau?! tidak jelas begitu ...." kata Tom.


"Dia ... itu disana! yang memiliki tanda nama Ed itu. Rasanya ada yang aneh dengan dia, firasatku mengatakan begitu." kata Teo.


"Kalau begitu, aku bisa yakin kalau dia tidak ada hubungannya dengan yang kita cari." kata Tan sengaja membuat Teo kesal.


"Perasaanku mengatakan begitu, mau bagaimana lagi ... jangan salahkan aku kalau dia benar orang yang kita cari! aku sudah mengatakannya tapi kalian tidak percaya ...." kata Teo.


"Jangan bawa perasaan mencari seseorang, harus dengan logika." kata Tom.


"Kau tidak sadar bagaimana dia selalu berusaha mendekati kita seakan sengaja untuk ikut mendengarkan apa yang kita bahas?!" kata Teo.


"Jangan kepedean! itu karena kau memang terlalu sensitif saja ... kau sudah lihat kan tadi pagi bagaimana ... aku juga sudah mencari tahu, dia katanya memang sangat baik kepada semua orang dan juga sangat rajin." kata Tan.


Teo masih ingin mengajukan pembelaan tapi tidak tahu lagi harus membicarakan apa. Mulutnya siap untuk berbicara tapi otaknya tidak bekerja mencari kata yang cocok.


"Kenapa kau diam?! mana tadi yang kau maksud soal perasaan itu ... dia menghilang atau bagaimana?!" Tom meledek.


"Logika tidak ada apa-apanya dibanding perasaan. Lihat saja nanti ...." kata Teo tidak mau mengaku sudah kalah.


***


Acara malam telah dimulai, masing-masing kelompok menggelar tikar di depan panggung pertunjukan. Dengan barang perlengkapan sudah siap untuk diatur di belakang panggung sesuai nomor antrian untuk naik ke panggung nantinya.


"Aku mau naik nomor satu." kata Tom.


"Hahh?! tidak boleh! kau tidak tahu ya kalau penampilan nomor satu itu akan cepat dilupakan karena nanti penampilan selanjutnya pasti banyak belajar dari kegagalan kita dan penampilan setelah kita pasti akan lebih bagus lagi dari kita yang tampil pertama." kata Demelza.


"Aku juga mau nomor urut satu." kata Osvald.


"Kalian ini tidak tahu betul ya soal seni dari pertunjukan, kalian begini karena gugup atau apa ...." Demelza menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Menurutku kalau tampil pertama itu bisa meninggalkan kesan yang tak terlupakan. Bagiku, yang gugup disini adalah kau Demelza! yang tidak mau jadi naik pertama yang menampilkan adalah yang merasa kurang percaya diri ...." kata Tan.


"Enak saja! aku hanya mencoba membuat tim kita menang, tahu!." kata Demelza.


"Kalau kau Teo, kenapa mau jadi yang pertama?!" tanya Osvald yang sebenarnya gugup jadi lebih memilih untuk naik pertama karena lama menunggu akan membuatnya semakin gugup lagi.


"Aku mau nomor urut satu karena mau cepat selesai kemudian bisa menonton yang lainnya sepuasnya tanpa terpikirkan giliran kita yang bisa membuat tidak fokus menonton." kata Teo.


Tan, Tom dan Osvald tertawa karena pemikiran mereka sangatlah berbeda dengan pemikiran Teo yang polos. Hanya sekedar ingin bersenang-senang menikmati pertunjukan.


"Padahal kau tadi latihan terus, bukannya karena mau menang?!" tanya Demelza heran karena dibanding yang lainnya, Teo lah yang terlihat sangat memfokuskan diri dengan pertunjukan ini tadinya.


"Itu untuk bisa tampil sempurna di urutan pertama makanya harus siap untuk itu." kata Teo diluar dugaan.


"Okey!" sahut Tiga Kembar dan Osvald yang setuju untuk naik paling pertama. Hanya Demelza lah yang tidak ingin nomor urut satu.


"Felix dimana?!" tanya Demelza.


"Tidak usah hiraukan dia! lagipula mau nomor urutan berapapun dia tidak akan peduli." kata Tom.


"4 lawan 1!" kata Tan sudah siap dengan tangannya dibelakang.


Demelza juga sudah siap dengan mempersiapkan tangannya dibelakang untuk melawan Tan. Demelza mengeluarkan gunting sedangkan Tan batu.


"Yes!" seru Tan dan lainnya begitu senang bisa menang.


"Jangan senang dulu! baru juga menang pertama ...." kata Demelza.


Kali ini Tan memilih Osvald untuk maju sebagai lawan kandidat kedua. Sayangnya Osvald kalah karena mengeluarkan kertas dan Demelza mengeluarkan gunting. Demelza hanya bisa merayakan kemenangannya sendirian.


"Tidak apa-apa, baru 1 sama." kata Tom menepuk bahu Osvald dan kali ini gilirannya maju.


"Kau siap?!" kata Demelza terlihat begitu percaya diri karena sudah menang satu kali.


Tom disambut yang lainnya dengan berpesta setelah menang melawan Demelza. Tom mengeluarkan gunting sedangkan Demelza kertas.


"Baru 2 - 1 ... jangan senang dulu!" Demelza kembali lesuh setelah kekalahan keduanya tapi disembunyikan agar tidak terlihat terintimidasi.


Giliran Teo yang maju melawan Demelza, "Aku tahu apa yang mau kau keluarkan, batu kan?!" kata Teo menyeringai.


"Hahh?!" Demelza tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tidak ketahuan kalau Teo benar mengetahui pilihannya.


"Kau ini! mau terlihat keren atau apa?! sok menebak dia akan mengeluarkan apa ... padahal aku juga yang memberitahumu." kata Felix yang sebenarnya daritadi bersama mereka tapi tidak terlihat karena memakai Idibalte.


"Iya, lakukan saja! jangan melakukan hal aneh yang mencurigakan ...." kata Tom lewat Jaringan Alavuden.


"Tapi yang kita lakukan ini apa sebenarnya?! hanya untuk mengalahkan seseorang batu gunting kertas harus memakai kekuatan segala ...." kata Tan agak merasa bersalah tapi menikmati juga.


Felix memberitahu Teo kalau Demelza akan mengeluarkan batu. Tapi bukannya mengeluarkan kertas, Teo juga mengeluarkan batu.


"Apa-apaan kau Teo?!" kata Tom.


"Aku hanya menebak kalau kau pasti akan mengeluarkan batu." kata Teo dengan sombongnya.


"Jangan bercanda! ini hanya kebetulan saja tahu." kata Demelza.


"Lakukan yang benar kali ini atau aku akan pergi!" kata Felix mengancam.


"Ck, dasar tukang ngambek!" kata Teo menyipitkan matanya.


"Kertas!" kata Felix.


Teo mengeluarkan gunting dan memenangkan permainan dengan cara curang. Tapi bagi mereka itu adalah sedikit hiburan kecil. Felix juga ikut bergabung karena melihat bagaimana ketiga sahabatnya itu begitu bersemangat ingin naik pertama tampil.


"Dasar anak itu! dia sangat tidak mirip denganku!" kata Seseorang yang tersenyum melihat dari jauh bagaimana kelakuan curang mereka.


...-BERSAMBUNG-...