
Satu hal yang harus terus ditanamkan jika berada di dalam dunia pikiran adalah pikiran positif. Begitulah yang diajarkan Tan, sebagai yang pertama melakukan sesuatu di dunia pikiran dengan pikirannya. Berpikiran positif dapat membuat apapun terasa bisa dilakukan. Tan yang selalu berpikiran positif memudahkannya dalam berpikir dan menjadikan dirinya yang pertama bisa menciptakan sesuatu di dalam dunia pikiran.
Hanya saja kali ini Tan tidak bisa melakukan apapun bahkan sebagai seseorang yang telah memberi saran pada Teo dan Tom. Dirinya sendiri pun tidak bisa melakukan apa-apa padahal Tan terkenal akan kepribadiannya yang selalu memandang dari sisi positif. Karena terus gagal pikiran negatif terus muncul, membayangkan bagaimana dirinya akan mati di dalam pikirannya sendiri.
"Aku harap, hanya aku yang begini ... semoga Teo dan Tom baik-baik saja." kata Tan dalam hati.
Bisa dibilang, Teo sangatlah baik-baik saja. Dari mereka bertiga, sepertinya Teo lah yang sangat mahir dalam dunia pikiran seperti yang sudah diperkirakan oleh Felix. Kepribadian Teo yang ceria dan pemikirannya yang out of the box membuatnya seperti bermain game secara langsung di dunia pikiran itu.
"Serasa seperti aku masuk ke dalam game virtual reality ...." Teo merasakan lemparan bebatuan dan debu akibat ledakan bom tadi tapi masih saja memasang senyuman diwajahnya karena menurutnya situasi disana menjadi lebih seru lagi, "Begini dong ... kan lebih menegangkan dan seru. Jangan membosankan seperti tadi ...."
Sedangkan Tom juga melakukan dengan baik. Tapi tidak seperti Teo yang terus memasang senyuman, Tom hanya terus dengan wajah datar seriusnya. Atau seperti biasanya dari wajah mereka yang paling gampang dibandingkan mana yang Teo dan mana yang Tom lewat ekpresi wajah datar itu daripada menggunakan hal detail lainnya.
Keadaan Teo dan Tom lebih baik daripada Tan. Setidaknya Teo dan Tom tidak terlalu menggunakan tenaga dan hanya menggunakan otak. Tidak seperti Tan yang harus berjuang dengan keringat bercucuran dan kini luka disekujur tubuhnya.
Felix tidak lelahnya mencari tempat persembunyian Ditte. Dari masuk sampai sekarang belum ada yang terjadi disana. Tidak ada serangan, yang ada hanya Felix frustasi karena tidak menemukan Ditte dimanapun.
Terlebih lagi karena Felix melihat keadaan Tan bagaimana sekarang, "Tan tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dengan tidak bisa menggunakan pikiran melawan di dunia pikiran adalah berita buruk. Bahkan untuk yang memiliki kekuatan tinggi tidak akan bisa bertahan melawan satu dunia yang siap menyerang dari sisi manapun." kata Felix menghentikan aktivitasnya sejenak.
...****************...
Efrain berhenti melamun dan berjalan ke arah batang kayu yang menjadi tempat duduk dirinya dan sahabatnya dulu itu. Efrain menendang semua kayu disana terbang melambung kemudian jatuh turun ke dalam danau.
"Kau tahu ... Memoriasepirav bukan hal yang bisa kau ubah. Walau kau menghancurkannya akan tetap kembali menjadi bentuk semula seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Begitulah Dunia Zewhit, tidak bisa berubah lagi. Selamanya akan tetap sama karena waktu kehidupan setelah menjadi Zewhit semuanya akan berhenti berjalan." kata Zeki.
"Keluarlah Zeki! tunjukkan dirimu! aku akan membunuhmu dengan cepat tanpa kau perlu merasakan sakit." kata Efrain.
"Begitukah?! tapi ... buktinya kau terus saja membiarkanku hidup dan menderita merasakan sakit. Karena luka dan juga melihatmu tenggelam dalam kegelapan adalah penderitaan lainnya yang kau berikan secara tidak langsung ...." kata Zeki.
"Saat mengambil papan permainan aku memang tidak berniat membunuhmu ...." kata Efrain.
"Tapi tadi kau tetap ragu, bahkan setelah punya niat dan tekad ...." kata Zeki.
"Itu hanya kesalahan, aku berjanji akan melakukannya dengan benar kali ini. Kalau kau tidak bisa ikut bergabung denganku, maka kau harus kubunuh. Agar kau tidak melihat bagaimana diriku yang semakin berubah. Setidaknya itulah yang bisa kulakukan sebagai sahabat." kata Efrain.
"Aku memang akan mati Efrain, tapi setelah membunuhmu dulu." kata Zeki.
Efrain yang tadinya terdengar tenang, kembali dipenuhi emosi mulai membakar habis pepohonan yang ada disana dan berjalan lagi menuju tempat selanjutnya, "Aku tahu kau berada dimana ...." kali ini Efrain terdengar sangat yakin.
"Yang kudengar bukan suara gema dari sumur tapi suara dari atas bukit ...." Efrain mengangkat batu besar dan melemparnya ke arah Zeki yang masih membelakanginya.
Zeki yang terlambat menoleh harus menerima hantaman keras batu besar itu sebelum bisa menghancurkannya, "Hahh ... padahal aku yang hantu tapi kemunculannya lebih menakutkan lagi." Zeki menuruni bukit seperti sedang berselancar diatas air.
Efrain terus melemparkan batu dari atas bukit untuk mengenai Zeki, "Bahkan ini duniaku sekarang ... tapi aku lari?! sangat memalukan!" meski begitu tidak ada batu yang berhasil mengenainya. Semuanya menggelinding ke arah lainnya dikendalikan oleh Zeki, "Setidaknya ... aku tidak boleh mati oleh dunia ini sendiri, kalaupun mati harus dengan pedang Efrain." Zeki memutar dirinya hingga seperti akan jatuh terlentang tapi sebenarnya Zeki sedang berpikir untuk menggunakan batu yang dilemparkan oleh Efrain berbalik kembali ke atas menyerang Efrain.
Batu yang tadinya dilempar Efrain kembali ke atas dengan jalur yang sama saat turun tadi. Zeki memutar kembali tubuhnya saat akan mendarat. Tidak langsung berdiri, tapi berlutut dengan satu kaki dan kedua tangannya menyentuh tanah.
Suara retakan mulai terdengar, Zeki berdiri dan bersamaan dengan itu bukit tadi runtuh seketika. Debu menghalangi penglihatan tapi Zeki masih bisa merasakan keberadaan Efrain. Bagaimanapun juga dunia itu sudah menjadi miliknya. Apa yang ada di dalam dunia pikiran itu tidak bisa bersembunyi dari Zeki.
"Kau tidak perlu menghancurkan gunung untuk membunuhku." kata Efrain datang dari atas langsung menendang Zeki hingga terkubur di tanah.
Kelihatan sangat tidak adil karena Efrain yang bertubuh besar dan tinggi sedangkan Zeki memiliki fisik anak manusia berusia lima tahun. Tapi meski begitu selama ini Zeki tidak pernah dipandang rendah oleh Quiris lain. Terbukti dari kekuatannya yang luar biasa untuk seorang Zewhit Manusia dan usianya yang masih sangat muda.
Kaki Efrain masih berada diatas dada Zeki, bahkan satu kaki Efrain lebih lebar dari tubuh Zeki.
"Kau tahu di Mundclariss menggunakan kekuatan pada orang lemah disebut perundungan ...." kata Zeki kesulitan berbicara.
"Kau? lemah?! katakan itu pada penjahat Mundebris!" kata Efrain kembali mendorong Zeki.
"Kau benar, mereka lebih membenciku daripada kau!" Zeki yang kelihatan kesulitan tadinya berubah menyeringai dan memegang erat kaki Efrain dan menariknya masuk kedalam tanah ikut dengannya. Zeki sudah tidak terlihat lagi dan setengah tubuh Efrain sudah berada di dalam tanah.
Efrain berusaha melepaskan diri tapi tanah disana menjadi melengkung turun sehingga tidak ada tempat untuk Efrain meraih sesuatu. Hingga wajah Efrain perlahan masuk ke dalam tanah juga tapi saat sudah berada di dalam, tanah itu berubah menjadi air. Tanah masih kelihatan menutup diatas tapi disekeliling adalah air. Efrain mencoba menghancurkan tanah diatas untuk naik ke permukaan tapi kesulitan.
"Air adalah kelemahanmu yang memiliki kekuatan dasar api dan di dalam air tidak ada oksigen ataupun Viriaer." kata Zeki kini membalik dunia. Tanah yang berada diatas tadi kini berada dibawah dan kini Efrain berada di dasar air yang sangat dalam.
"Bukankah aku sudah mengajarimu cara berenang ...." kata Zeki.
Efrain yang tidak punya persiapan berenang itu sudah mulai tersiksa di dalam air dan harus berenang naik ke atas permukaan membuatnya frustasi melihat bagaimana jauhnya untuk bisa sampai ke permukaan.
Sementara Zeki sudah bersiap dengan pedangnya diatas permukaan air kalau saja Efrain datang, Zeki akan langsung menyerang juga.
...-BERSAMBUNG-...