UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.542 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 25



Kembali muncul pasukan kerangka tengkorak berbagai macam bentuk dan rupa memaksa naik dari dalam es. Bersamaan dengan Cain dan Goldwin yang kembali ke area pertarungan, pasukan neraka juga ikut membantu menyerang kaki para iblis raksasa disana. Kali ini terlihat lebih banyak dari sebelumnya yang dipanggil oleh Felix dan Verlin.


Pasukan neraka tidak hanya menyerang kaki tapi juga mulai memanjat kaki raksasa iblis dan terus menyerang menggunakan tulang mereka sendiri. Dengan mencabuti tulang yang ada pada tubuh sendiri kemudian menusuk kaki iblis raksasa.


Karena permukaan tanah yang kini dibaluti es membuat debu tidak lagi menghalangi pandangan. Sehingga semuanya bisa jelas terlihat tanpa tertutupi apapun.


"Em?!" Teo melihat sesuatu ada yang tergantung pada salah satu kerangka, "Itu kan ...." Teo mengenali gelang yang kelihatan putus entah karena putus karena pertarungan atau karena panas dari kerangka tulang pasukan neraka. Teo terbang mendekat dan mengambil gelang itu dengan cepat. Gelang itu adalah hadiah ulang tahun untuk Cain yang pernah disimpan di Bemfapirav disisi lain sekolah, "Kukira, tidak akan diambil ...." Teo tersenyum mengetahui bahwa Cain mengambil hadiah ulang tahun yang memang sengaja ditaruh disisi lain sekolah yang ada di Bemfapirav. Tidak disangka kalau Cain benar-benar datang mengambilnya dan memakainya sampai sekarang, "Kau pasti sangat kesepian selama ini Cain ...." tapi melihat Cain dan Goldiwn yang saling berdampingan, "Sebenarnya tidak juga sih ...." kata Teo tertawa kecil langsung merubah pendapatnya sendiri.


Felix melirik Ratu Sanguiber yang hanya tinggal diam saja daritadi tidak membantu lagi, "Pasti dia sedang kelelahan juga sekarang, hanya berusaha untuk terus memasang wajah datar seperti itu." kata Felix dalam hati.


Buktinya Tan, Teo dan Tom sudah membuat cidera banyak iblis tapi Ratu Sanguiber hanya diam saja. Baik itu Tan, Teo maupun Tom tidak ada yang berani untuk mengatakan hal itu langsung pada Ratu Sanguiber. Hanya terus memberi tanda tapi Ratu Sanguiber seakan pura-pura tidak melihat, "Atau memang sengaja ... karena saat ini sedang tidak bisa melakukannya." kata Felix.


"Apa?!" tanya Ratu Sanguiber menyadari Felix terus melirik kearahnya.


"Bagaimana caranya mengendalikan darah?!" tanya Felix.


"Kurasa kau masih belum bisa melakukan itu." jawab Ratu Sanguiber dingin.


"Katakan saja! bisa atau tidaknya, nanti hasilnya dilihat sendiri." kata Felix.


"Coba tutup matamu!" perintah Ratu Sanguiber.


Felix menurut dan menutup matanya sesuai yang dikatakan Ratu Sanguiber.


"Apa kau mencium bau darah?! bau darah yang bukan hanya satu tapi darah iblis dan yang lainnya ...." tanya Ratu Sanguiber.


"Entahlah ...." sahut Felix tidak yakin apa mencium bau darah lawan atau darahnya sendiri. Akhirnya Felix membuka matanya karena menyerah.


"Sudah kukatakan, masih belum waktunya." kata Ratu Sanguiber.


Kemudian Felix tak sengaja melihat nadinya sendiri karena Veneormi yang baru saja lewat disana, "Aku bisa merasakannya ... darahku yang mengalir."


"Apa kau bilang?!" Ratu Sanguiber menunduk karena suara Felix terlalu kecil seperti hanya berbisik.


Felix memegang pergelangan tangannya menunjukkan nadinya, "Aku bisa merasakan darahku yang mengalir ... atau lebih tepatnya seperti aku bisa melihatnya."


Ratu Sanguiber berlutut disamping Felix tidak percaya apa yang baru saja didengarnya, "Coba ini!" Ratu Sanguiber menyodorkan pergelangan tangannya sendiri dihadapan Felix, "Kau bisa merasakan dan melihatnya juga?!"


"Entahlah ...." Felix merasa ragu.


"Coba lakukan ini!" Ratu Sanguiber menunjukkan pergerakan tangan yang satunya dengan menggunakan jari telunjuk seperti menarik paksa nadi keluar dari dalam kulit hanya dengan gerakan jari diudara tanpa menyentuh kulit sama sekali.


Felix agak kaget dengan pemandangan yang tidak diduganya itu. Tanpa disadari Felix langsung menahan perdarahan pada pergelangan tangan Ratu Sanguiber.


Tapi Ratu Sanguiber menyingkirkan tangan Felix, membiarkan darahnya keluar bercucuran, "Coba kau cabut nadi yang lain! rasakan darah yang mengalir kemudian gunakan darah itu untuk bergerak memotong nadi dan kemudian paksa dorong keluar."


Felix yang biasanya tidaklah bergidik dengan kejadian mengerikan merasa ngeri sendiri dengan penjelasan Ratu Sanguiber beserta pemandangan yang berada dihadapannya saat ini.


"Apa tidak sakit?!" tanya Felix.


"Kau mengkhawatirkanku sekarang?!" kata Ratu Sanguiber berdecak kesal, "Cepat lakukan saja!"


Ratu Sanguiber mendengus tertawa, "Kusuruh untuk mencabutnya, kau malah menyembuhkannya ...."


Felix juga terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Sangat terasa darah yang mengalir itu seperti menuruti perintahnya. Darah yang keluar menarik kembali nadi yang terpotong tadi dan dimasukkan ke dalam kemudian luka ditutup dengan sempurna bersamaan dengan Felix mengusap luka Ratu Sanguiber dari atas kebawah.


"Aku tidak pernah punya putra sebelumnya, jadi tidak tahu bagaimana rasanya dan bagaimana memperlakukanmu dengan benar. Tapi ternyata, beginilah rasanya ... aku seperti ingin menyombongkanmu sekarang." kata Ratu Sanguiber untuk pertama kalinya Felix melihat melihat senyuman di wajah Ratu Sanguiber, "Kau berbakat!" pujinya kemudian.


"Jadi, begitu rasanya ... coba kita praktekkan pada seseorang yang lebih besar dan lebih jauh." kata Felix mulai berdiri dan mencari target.


Felix menggerakkan tangannya dengan perlahan tapi masih belum ada yang terjadi.


"Gerakkan perlahan, fokus pada darah yang tergenang itu dan coba untuk bawa kembali masuk kedalam tubuh iblis yang sedang terbaring itu." kata Ratu Sanguiber membimbing.


Iblis yang diciderai oleh serangan gabungan Tan, Teo dan Tom itu kelihatan ada satu yang bergerak bangun.


"Eh, sudah sembuh?!" kata Teo kesal.


"Tidak, sepertinya bukan begitu ...." kata Tan agak ngeri sekarang dengan apa yang dilihatnya.


Iblis itu kelihatan dipaksa berdiri kemudian setiap sendi di kaki iblis itu kelihatan bengkok hingga yang paling parahnya tulang lutut iblis itu keluar dari dalam membuat iblis itu jatuh terduduk dengan paksa karena tidak ada tumpuan lagi untuk berdiri. Iblis itu juga berteriak histeris kesakitan sementara Felix tersenyum menyeringai menikmati setiap teriakan lawannya itu.


Tan menutup mulutnya menahan teriakannya yang antara kasihan dan juga ngeri. Tidak hanya sampai situ, kali ini tangan iblis itu diputar kearah kebelakang dengan paksa hingga patah kemudian lengan yang lainnya seperti dirobek dari dalam hingga darah muncrat keluar seperti pancuran air.


Tan tidak terbiasa dengan cara membunuh seperti itu. Baginya membunuh secara cepat tanpa menyiksa adalah yang terbaik. Sampai saat ini, Tan tidaklah membenarkan pembunuhan, baginya tidak ada cara dan alasan apapun itu untuk membenarkan tindakan itu. Bahkan untuk yang dilakukannya sendiri tidak pernah dianggap sebagai sebuah pencapaian melainkan sebuah kesalahan yang terpaksa harus dilakukan saja. Karena sistem Mundebris, kalau tidak mau dibunuh maka harus membunuh.


"Apa ini Ratu Sanguiber lagi?! kutarik ucapanku soal kreatif, ini namanya kejam." kata Teo.


"Itu ... Felix!" kata Tom.


Tan dan Teo mengarahkan pandangan pada Felix yang terlihat terus menggerakkan tangannya dengan wajah yang sangat bahagia.


"Anak ini ... sepertinya ... kalau berada dijalan yang salah akan menjadi sangat menakutkan." kata Ratu Sanguiber melihat Felix bukan hanya mengendalikan darah tapi seperti merasakan sensasi dari pengendalian darah itu sendiri.


"Aku seperti berada di dalam tubuh iblis itu, mengendalikan seluruh darah yang ada di dalam tubuhnya." kata Felix dengan nada ceria.


"Bukan menggunakan darah yang keluar tapi menggunakan darah yang masih berada di dalam tubuh seseorang." kata Ratu Sanguiber dalam hati mulai kelihatan gelisah mengajarkan hal itu pada Felix.


"Untuk kau ketahui saja, mengendalikan darah yang tidak keluar dari dalam tubuh musuh adalah hal yang salah. Itu melanggar aturan Sanguiber. Kita hanya bisa mengendalikan darah yang keluar saja, bukan yang masih berada di dalam tubuh. Menggunakan darah yang baru saja dipompa di jantung adalah hal yang keji." kata Ratu Sanguiber buru-buru.


"Peraturan macam apa itu?!" kata Felix kini memutar leher iblis itu dan mematahkannya. Felix kemudian tertawa nyaring saat iblis itu terkapar dan tidak lama kemudian Zewhit Iblis itu juga keluar.


"Felix ...." Tan dan Teo bergidik mendengar suara tawa Felix yang menyeramkan itu.


"Menahan kekuatan sebesar ini hanya untuk sebuah kode etik?!" Felix menyeringai dan mulai berlari kencang. Bahkan Ratu Sanguiber tidak sempat menahannya.


Felix terus tertawa seperti dikuasai kekuatan baru yang sangat besar, "Kekuatan ini luar biasa ...."


"Dia mengingatkanku dengan seseorang ... harus kuhentikan sebelum terlambat." kata Ratu Sanguiber mulai mengejar Felix yang seperti kehilangan kewarasannya atau lebih tepatnya seperti menjadi orang lain.


...-BERSAMBUNG-...