
"Seharusnya kujahit dulu mulutmu tadi malam ...." kata Cain lewat pikiran.
"Bukan mulutku yang berbicara ...." balas Haera.
"Seharusnya pikiranmu yang kujahit dulu!" balas Cain.
Haera menendang pipi Cain dan menarik rambut Cain kemudian mengambil karet ikat rambut dari dalam tasnya untuk dijadikan sebagai senjata.
"Ada apa ini tiba-tiba?" tanya Teo heran melihat Haera begitu marah padahal Cain tidak melakukan apa-apa.
"Mereka pasti berbicara melalui pikiran ...." kata Tom.
Cain menyadari Felix terus menatapnya tapi tetap berusaha bersikap biasa.
"Terimakasih ya tipsnya!" kata Pak Sopir.
"Tunggu saya minta traktir ya pak ...." kata Cain bercanda sambil menuruni tangga turun dari bus.
Bus yang baru saja mereka tumpangi dari panti sudah lewat, saatnya untuk menunggu bus kedua yang benar-benar mengantar sampai ke halte dekat sekolah.
"Kuharap dia tidak lulus ...." kata Felix.
"Siapa? putrinya pak sopir tadi? kenapa memangnya?" tanya Teo.
"Sekolah tidak aman begitu, kenapa juga orang-orang begitu bersemangat untuk mendaftar ...." jawab Felix.
"Gallagher memang sekolah terbaik di Yardley, tidak heran jika banyak yang berminat masuk ... bahkan saat sekolah hanya menerima anak SD sudah sangat populer, apalagi sekarang yang sudah membuka untuk tingkat SMP dan SMA." kata Tan.
"Katanya juga, ada rencana kalau akan dibuka SMK, Diploma dan bahkan Universitas nantinya ...." kata Tom.
"Bisa-bisa nantinya aku tersesat kalau di sekolah ...." kata Teo membayangkan sekolah yang sudah luas akan semakin diperluas lagi.
***
Karena tiba lebih pagi dari biasanya di sekolah, mereka sempatkan untuk mendaftar masuk ke asrama sekolah yang secepat kilat pembangunannya diselesaikan.
"Kalian terlalu terlambat mendaftar ... sekarang hanya tersisa lantai 9 dan 10 yang ada kosong kamarnya untuk asrama laki-laki!" kata Petugas Penjaga Asrama yang pos jaganya berada di lantai dasar dengan dinding kaca jadi semua bisa dengan jelas terlihat. Di dalam terlihat banyak peralatan untuk perlengkapan asrama seperti lampu, jika ada yang lampunya mati dan sebagainya.
"Kalau asrama perempuan memangnya masih banyak yang kosong?" tanya Teo.
"Banyak yang kosong kalau asrama perempuan, lagipula untuk apa kau menanyakan itu ... tidak mungkin juga kalian bisa tinggal di asrama perempuan!" kata Penjaga asrama.
"Lebih bagus lagi, kita bisa olahraga!" kata Tom memikirkan tangga.
"Hahh ... kau dan olahraga!" kata Cain sudah bosan mendengar Tom yang akhir-akhir ini tergila-gila dengan olahraga.
"Kalian kembar tiga? apa perlu ranjang tambahan? karena satu kamar hanya menyediakan dua tempat tidur ...." kata Penjaga asrama.
"Kalau ada ...." kata Teo tidak terlalu berharap.
"Baiklah, setelah pulang sekolah kalian bisa datang melihat kamar kalian!" kata Penjaga asrama.
"Seperti yang diharapkan dari Gallagher, tidak akan pelit mengeluarkan uang ...." kata Teo tersenyum.
"Kalau boleh tahu, nama kakak siapa?" tanya Cain.
"Ini!" menunjukkan tanda nama.
"Siapapun pasti bisa membaca kalau nama kakak ini Darien, matamu sudah buram ya?!" kata Teo.
"Apa aku harus tes mata sekarang ya?!" kata Cain.
"Kau tahu kalau tanda nama dari penjaga asrama tadi bukanlah nama aslinya kan? makanya kau bertanya ... tidak usah akting lagi, aku tahu kau bisa membaca pikiran semua orang sekarang ... sepertiku!" kata Felix saat Tan, Teo dan Tom berjalan jauh di depan mereka, "Kau bisa membaca pikiran mereka juga? karena aku sudah tidak bisa ...." Felix penasaran.
"Aku tidak bisa membaca pikiran mereka, tapi bisa mendengarkan apa yang mereka pikirkan ... sama sepertimu saat berbicara dengan Haera! seperti itu ... tapi untuk anak biasa yang lain aku bisa membaca pikiran bahkan sampai saat mereka baru lahir ...." kata Cain, "Detik-detik sebelum permainan berakhir biasanya terjadi sesuatu yang luar biasa ... jadi Pewaris akan ditingkatkan kekuatannya setinggi-tingginya untuk menyelesaikan masalah begitupun Dicoisvi karena Haera harus mengakhiri permainan dengan baik ... menyeimbangkan buku takdir pemain yang meninggal agar mendapat kehidupan yang baik setelah terlahir kembali!" sambungnya.
"Jadi itulah kenapa Efrain membunuh Franklin sebelum permainan akan berakhir ...." kata Felix.
"Bahkan bagi Efrain, Raja Neraka ... Quiris terkuat akan sulit mengalahkan Pewaris Permainan Tukar Kematian di akhir permainan ... tapi aku hanya Pewaris Sementara jadi hanya mendapat peningkatan kekuatan sekitar setengahnya saja ... tidak mungkin bisa mengalahkan Efrain!" kata Cain.
"Kau pikir aku akan menyuruhmu untuk menyerang Efrain setelah mendengar itu ... walau kau mendapatkan kekuatan penuh pewaris aku tetap akan melarangmu!" kata Felix.
"Aku hanya bilang saja! jangan sampai kau berharap sesuatu dariku ...." kata Cain bercanda.
"Aku tidak mengharapkan kau melakukan sesuatu ...." kata Felix menyeringai, "Apa ada hubungannya juga denganku soal kalian yang mendapat peningkatan kekuatan?" tanya Felix.
Cain menatap Haera untuk memintanya menjelaskan, "Bukan hanya Lix dan Ian saja yang mendapat peningkatan kekuatan, tapi mereka juga!" kata Haera.
"Jadi memang benar kalau aku bisa merasa sehat begini karena permainan akan berakhir?" tanya Felix.
"Tunggu ... mereka juga?" tanya Cain.
"Semua yang terlibat dalam permainan ini akan mendapat peningkatan kekuatan!" jawab Haera.
"Berarti ... Efrain juga?" tanya Felix.
"Itulah alasannya kenapa dia begitu terobsesi terlibat dalam permainan ini ...." kata Cain setelah melihat Haera yang tanpa menjawab sudah ditebak dari ekspresi wajahnya.
"Tapi semua yang terlibat dalam permainan ini kecuali pewaris dan Caelvita, akan mendapatkan kutukan!" kata Haera.
"Apa maksudmu? kenapa baru bilang sekarang?!!" teriak Felix membuat Tan, Teo dan Tom berjalan ke arah mereka berdua untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Kutukan?" Teo sudah ngeri sendiri.
"Pedoman tidak menjadi pedoman saja ... ada alasan lain kenapa memang tidak seharusnya kita terlibat dalam permainan ini!" kata Tom.
"Kutukan seperti apa?" tanya Tan memberanikan diri.
"Kematian yang menyiksa!" kata Felix meneruskan perkataan Haera yang dikatakan lewat pikiran.
"Verlin ... bukankah dia juga terlibat dengan permainan sebelumnya, apa kematiannya ada hubungannya dengan kutukan itu?" tanya Tom.
"Apa dia juga tahu soal ini? Efrain maksudku?" tanya Tan.
"Tidak ada yang tahu katanya!" Felix meneruskan perkataan Haera lagi.
"Kalau kutukan berarti bisa dipatahkan! Verlin jika tahu hal ini pasti masih hidup sebagai Viviandem sekarang ...." kata Cain.
"Bagaimana caranya?" tanya Teo.
"Kematian! untuk terlepas dari kutukan hanyalah dengan mati ...." jawab Haera yang tidak diteruskan lagi oleh Felix.
"Apa katanya?" tanya Teo karena tidak mendengar perkataan Haera.
Felix dan Cain saling menatap, "Apa ini memang sudah ditakdirkan?" tanya Cain.
"Ini tandanya, takdir berpihak pada kita ...." kata Felix tersenyum dan dibalas Cain.
...-BERSAMBUNG-...