UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.317 - Kuil Pemburu Iblis



"Dia pergi? begitu saja ...." Teo melongo, "Ada apa? kau mengenalnya Felix?"


"Aku hanya mengetahuinya." kata Felix.


"Mengetahui?" Tan heran dengan pemakaian kata Felix.


"Aku hanya tahu siapa dia dari buku yang kubaca." kata Felix.


"Memangnya siapa dia?" tanya Teo.


"Tidak penting, yang jelas desa ini akan aman dulu untuk sementara ... setidaknya untuk saat ini ...." kata Felix menaruh kembali tongkatnya membuat Cairo takjub.


"Kita sudah tahu desa inilah yang dijadikan target, sepertinya kita mendapat kesempatan emas ...." kata Tom.


"Kita tidak tahu ... apa benar emas atau kitanya yang salah itu hanyalah batu. Kita hanya bisa berusaha yang terbaik." kata Tan.


"Yang jelas kita saat ini diuntungkan, berpikir positif saja!" kata Teo.


"Ambil kamera di desa lain dan bawa kemari semuanya untuk dipasang!" kata Felix.


"Kau sendiri?" tanya Tom melihat Felix hanya memerintah, tidak terlihat akan ikut membantu.


"Apa kau perlu mengantarku kesana atau aku pergi sendiri saja?!" kata Felix pada Cairo.


"Kemana?" tanya Cairo.


"Ke kuil tempat pemburu iblis." jawab Felix.


"Perbaiki dulu kata-katamu dik. Lagipula memangnya tanpa aku antar kau akan tahu dimana tempatnya jika pergi sendiri?" kata Cairo.


"Gunung Arlo yang berada di Provinsi Eartha Utara, Kota Collis, dekat dari Desa Berenice." kata Felix membuat Cairo terdiam.


"Bagaimana kau bisa tahu?!" Cairo kaget karena tidak ada satupun orang yang tahu soal tempat itu selain hanya pemburu iblis saja.


"Jadi bagaimana?" tanya Felix.


"Baiklah ... tapi perbaiki kata-katamu itu! akan lebih baik jika kau mengubahnya menjadi memintaku pergi bersamamu." kata Cairo.


"Anggap saja aku begitu ...." Felix heran dengan Cairo yang mempermasalahkan soal pengunaan kalimatnya, "Kalian dengar kan?! setelah selesai, jika kalian mau ... bisa menyusul." kata Felix.


"Dengar apa?!" tanya Teo.


"Alamat." Tom berbicara dengan mengatupkan giginya karena malu dengan Teo yang terlalu lamban berpikir.


"Kalau cepat selesai, kami akan menyusul." kata Tan.


***


Felix dan Cairo tidak ada yang berbicara selama di perjalanan hingga mereka tiba di bandara menggunakan taksi.


"Bandara? tapi aku membawa senjata ...." kata Cairo.


"Akan terlalu lama jika memakai kereta dan harus transit beberapa kali. Kalau memakai pesawat hanya butuh satu jam untuk sampai. Dan seperti yang kau ketahui aku ini anak SD, besok harus masuk sekolah." kata Felix..


"Dia mendengar semuanya tadi?" tanya Cairo dalam hati.


Felix meminta pedang Cairo tapi Cairo tidak mau melepas pedangnya karena tidak mempercayai Felix.


"Aku tidak akan membunuhmu dan yang jelas aku tidak tertarik dengan pedang lemahmu itu." kata Felix.


Cairo hanya bisa tersenyum kecut sambil menyerahkan pedangnya pada Felix.


"Kau lebih berhak memiliki pedang Antonia karena kau memiliki darah Aluias." kata Felix.


"Dia dari keluarga utama, aku tidak berhak memiliki pedang itu." kata Cairo membuat Felix memutar bola matanya mendengar itu.


Felix menyimpan pedang Cairo di punggungnya sehingga tidak terdeteksi saat pemeriksaan di bandara. Mereka berdua naik pesawat dengan canggung tanpa ada obrolan sama sekali. Hingga sampai Provinsi Eartha Utara, Felix hanya langsung menyerahkan pedang Cairo dan langsung menaiki kereta yang terhubung dengan bandara menuju kota Collis kemudian menaiki bus menuju Desa Berenice dan mendaki gunung Arlo. Perjalanan tiada henti tapi tanpa ada percakapan sama sekali.


"Ada pelindung ...." kata Felix.


"Iblis dengan mudah membaca pikiran kami dan mengetahui tempat ini seperti dirimu tapi tidak ada yang bisa masuk kesini. Makanya kuil ini tidak pernah diserang oleh iblis ...." kata Cairo, "Aku tidak peduli jika kau jahat karena bagaimapun juga kau tidak akan bisa mas ...." belum selesai perkataan Cairo tapi Felix sudah masuk melewati batas pelindung, "Hahh?!" Cairo heran.


"Tempat ini ...." Felix memutar dirinya melihat sekeliling, "Ini tempat gunung api yang Cain datangi itu ...." Felix melihat sisi lain yang ada di Mundebris dan mulai menaiki anak tangga menuju kuil.


Felix pikir kuil itu hanya kuil yang sunyi dengan hanya beberapa penghuni saja tapi di halaman terlihat dipenuhi banyak orang yang sedang berlatih bela diri menghentikan aktivitasnya saat melihat kedatangan Felix.


Semuanya menjadi waspada dengan kedatangan orang asing yang tidak dikenal. Walau Felix terlihat hanya anak kecil tapi bagi mereka Felix tetaplah ancaman karena berani masuk ke kuil yang bukan sembarang orang masuki itu.


"Turunkan senjata kalian ... yang bisa masuk kesini menunjukkan bahwa dia bukanlah seseorang yang berniat jahat." kata seorang Kakek yang mulai muncul membelah barisan yang ingin menyerang Felix itu.


Cairo baru muncul beberapa saat kemudian, sepertinya dia beristirahat sebentar saat menaiki anak tangga mematikan yang ada ratusan itu.


"Kau yang membawanya Cairo? bukankah kau sedang dalam menjalankan misi pertamamu?!" tanya orang-orang yang masih menatap Felix dengan curiga.


"Kau sudah tumbuh besar ...." kata Kakek itu dalam hati yang tadi menghentikan mereka menyerang Felix.


"Dia mengenalku ...." Felix mendengar suara pikirannya tapi tidak bisa membacanya.


"Dia salah satu anak yang memiliki kekuatan spesial seperti yang dikatakan Trevon." kata Cairo.


"Kau dari keturunan kaum mana? apa benar tujuanmu sama dengan kami?" tanya Seseorang.


"Aku bukan dari keturunan kaum manapun tapi tujuanku sama dengan kalian." jawab Felix.


"Apa yang kau lakukan disini? mau mengajak bekerjasama atau apa?" tanya Orang lain lagi.


"Bukankah kalian terlalu kasar pada anak usia 13 tahun ...." kata Felix menyeringai.


"Anak usia 3 tahun dirasuki oleh Iblis membunuh 8 orang. Kami tidak menilai dari usia dan penampilan." kata Seseorang lainnya.


"Aku datang kemari ... hahh ...." tidak selesai kalimat Felix itu karena langsung merasakan Aura Aluias yang besar sedang mendekat.


"Mau kemana kau?!" teriak barisan Pemburu iblis.


Felix langsung berlari masuk ke dalam kuil bahkan saat diteriaki dan ditahan bagaiamanapun tidak ada yang mempan menahan Felix.


"Hilang?" Felix memasuki setiap ruangan yang asing dan baru saja didatanginya itu.


Felix melihat ke Mundebris tidak dilihat siapapun bahkan Cain pun juga tidak ada disana. Akhirnya Felix melihat ke Bemfapirav, "Disana ...." Felix melihat laki-laki berambut putih itu sedang berlari menjauh.


Baru saja Felix akan memasuki Bemfapirav tapi tangannya diraih oleh Kakek tadi, "Menemuinya hanya akan membuatnya dalam bahaya."


"Siapa kau?" tanya Felix, "Kau bukanlah Viviandem, bukan Setengah Viviandem juga tapi kenapa aku tidak bisa membaca pikiranmu ...."


"Membaca pikiran? kau bisa melakukan itu?" tanya Cairo yang baru saja datang.


"Manusia terkenal akan kemampuan bertahan hidup yang tinggi, punya sifat keras kepala dan kegigihan dalam melakukan sesuatu. Selama terus berlatih bahkan manusia sekalipun bisa melakukan sesuatu yang mustahil, bisa menjadi manusia luar biasa, bisa menjadi pahlawan atau sebaliknya." kata Kakek.


"Itu ...." Felix hanya memandang kakek itu.


"Kau kenal seseorang yang memiliki pemikiran yang sama seperti itu kan?" tanya Kakek dengan tersenyum.


"Manusia bisa menjadi kawan atau musuh. Selamatkan yang menjadi kawan dan bunuh yang berpotensi menjadi musuh." kata Felix saling menyambung dengan Cairo.


"Itu adalah motto kami ... bagaimana kau bisa tahu soal itu?!" tanya Cairo.


"Apa Ayahku sering kemari?" tanya Felix.


"Ayah?" tanya Cairo.


...-BERSAMBUNG-...