UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.386 - Usaha Yang Seperti Setengah-setengah Saja



Sebelum kembali masuk ke dalam sekolah, Felix menoleh ke arah depan gerbang sekolah. Pos jaga yang ada setelah melewati gerbang sekolah.


"Aneh, tadi malam mereka tertidur begitu nyenyak ... bahkan dengan suara guntur dan kilatan petir yang terjadi di lapangan sekolah." kata Felix dalam hati, "Seharusnya itu membangunkan mereka ...."


Felix mencoba membaca pikiran yang berjaga di pos dekat gerbang masuk. Tapi hanya melihat bagaimana mereka tertidur nyenyak dan bangun keesokan paginya tanpa melihat kejadian aneh tadi malam yang disana-sini muncul petir menyambar di lapangan.


Kamera cctv juga tidak merekam apa-apa sama sekali karena semua kamera mati. Listrik sekolah saat ini juga masih dalam tahap perbaikan.


"Apa Thunderbird ... Harvard yang melakukan sesuatu?!" Felix merasa aneh tidak ada yang melihat kejadian luar biasa tadi malam. Walau dirinya, Zeki, Verlin bahkan Harvard tidak kelihatan tapi sambaran petir pasti dapat terlihat.


***


Felix dan Tiga Kembar sepakat untuk mencabut batu permata yang jauh dari Kota Olubayo untuk menghindari resiko besar. Bahkan berempat sekalipun tidak yakin bisa menang jika ada Bates bersama iblis yang menyelesaikan misi disana.


Baru saja memasuki tanda selamat datang di desa, mereka sudah disambut oleh banyaknya bunga dan foto mengenang lima orang siswa-siswi SMA yang meninggal saat melakukan trip wisata sekolah.


"Lucu sekali, bagaimana bisa mereka tidak curiga?!" kata Tom singgah memandangi artikel yang terpasang mengenai yang menimpa lima murid itu.


"Pastinya mereka sudah meninggal disini sebelum berangkat ke trip wisata itu ... karena sudah keharusan kalau mereka harus meninggal di desa atau titik ini. Bagaimana caranya coba?!" kata Teo.


"Tidak ada yang mustahil di Mundebris. Ada ramuan yang bisa membuat mayat berjalan ... membuat lima korban itu seakan meninggal di perjalanan wisata sekolah adalah hal yang mudah." kata Tan.


"Tapi ... desa ini kelihatannya bukan desa. Terlalu mewah untuk disebut sebagai desa." kata Teo.


"Memangnya kau tahu apa pengertian desa?!" Tom tersenyum miring, "Desa itu bukan hanya diartikan dengan penampilan yang terikat dengan hutan dan pertanian. Kenapa disebut desa karena lebih besar dari dusun dan lebih kecil dari kota. Bukan karena kelihatan kampungan atau bagaimana seperti yang kau pikirkan!" sambung Tom membuat Teo sebal.


"Enak ya?! tahu segala hal yang bahkan tidak penting!" kata Teo.


"Tidak penting?! itu kita pelajari di geografi, tahu?! kau saja tidak mendengarkan dengan baik." kata Tom


"Dasar tukang pamer! sombong!" Teo mengomel sendirian dan berjalan duluan memasuki desa.


"Dari caranya membunuh sepertinya iblis yang ada disini adalah Daemonimed ...." kata Tan.


"Belum tentu ... bisa juga hanya membeli ramuan dari Daemonimed lain." kata Felix mengerti kekhawatiran Tan.


Teo dan Tom yang tadinya beradu mulut terus kini terlihat pendiam. Mereka berdua berdiri di tengah-tengah tempat pemakaman yang ada di desa Velma yang sangat bersih dan terawat sama seperti pemakaman yang ada di kota.


Felix dan Tan menyusul dan mendapati mereka berdiri di depan lima kuburan yang ada nama lima korban yang baru meninggal.


"Ini terjadi saat aku dan Felix ada di Kota Olubayo ... sebenarnya mungkin bisa saja kita menyelamatkannya." Teo merasa bersalah karena melihat tanggal kematian mereka yang sama saat dirinya ada di Kota Olubayo.


"Itu saat mereka ditemukan di perjalanan wisata sekolah ... tanggal kematian mereka bisa saja sudah lama dari itu. Ramuan yang bisa memanipulasi waktu kematian sehingga tidak dapat dideteksi kapan dan membuat korban seakan terkena serangan jantung padahal sebenarnya sudah lama meninggal dan hanya dipaksa untuk seakan terlihat hidup saja. Kau tidak perlu merasa bersalah atau menyesal tidak bisa melakukan apa-apa." kata Tan.


"Kita terlalu lambat bergerak ...." kata Teo.


"Bukannya terlambat bergerak tapi karena kekurangan orang. Kita bukan robot Teo yang bisa kesana-kemari tanpa makan dan tidur." kata Tom.


"Ayo, kita ke Mundebris!" kata Felix menghentikan pertengkaran dengan pembahasan yang sudah mulai serius. Bukan lagi pertengkaran kekanak-kanakan seperti tadi.


"Apa?! dia tinggal menjaga?! berarti itu tandanya ... dia tipe yang keras kepala harus mempertahankan batu permata yang ada disini bagaimanapun caranya." kata Tom.


"Sepertinya begitu ... mungkin kalian tidak bisa masuk ke Dunia Zewhit malam ini." kata Felix.


"Aku akan membunuh kedua Zewhit itu kalau ternyata malam ini membuat cerita lain saat kita tidak ada." kata Teo.


"Bagaimana caranya kita tahu dia mengubahnya atau tidak?! kau itu berpikir dulu sebelum berbicara!" kata Tom.


Sementara Teo dan Tom beradu mulut, Tan berjalan disamping Felix, "Mereka akan aman kan karena ada Verlin dan Zeki?!" tanya Teo berbasa-basi karena sudah jelas pertanyaan itu sudah ada jawabannya.


"Tentu saja! mereka bisa diandalkan. Kita tidak boleh juga terus menghindari ini ... bisa saja semua titik akan sempurna kalau kita tinggal terus." jawab Felix.


"Bagaimana rupa iblis yang ada di depan?!" tanya Tan masuk ke inti pertanyaan yang daritadi ingin ditanyakannya sementara masih bersiap di dalam lorong gerbang Felix padahal sudah ada di depan gerbang untuk pintu keluar.


"Memangnya kau kenal dengan Daemonimed?!" tanya Felix.


"Tidak semuanya sih, hanya yang tercatat terkuat yang aku perhatikan baik-baik. Setidaknya aku ingin memastikan, bukan dari kalangan Daemonimed tingkat tinggi ...." jawab Tan.


"Wajahnya ... singa kah?! ah ... bukan ... babi liar yang sering ada di hutan." kata Felix karena melihat dari belakang yang postur tubuhnya yang besar dan bulu yang panjang dan lebat seperti singa dengan warna bulu kuning. Tapi saat berbalik ada gigi melengkung keluar dari mulutnya.


Setelah mendengar penjelasan Felix yang daritadi mencoba memperhatikan dengan seksama iblis itu dengan kelakuan seperti sedang mengintip seseorang.


"Kau yakin?! babi?!" tanya Tan mulai meragukan Felix.


"Lalu apa kalau bukan?!" kata Felix, "Ow ... dia punya hidung yang panjang ... gajah kah?!" lanjutnya lagi.


"Apa besar sekali?!" tanya Teo ikut bergabung setelah selesai berdebat dengan Tom.


"Emm ...." Felix tidak tahu bagaimana memperkirakannya karena penglihatan antar dunia tidaklah sama saat melihat secara langsung.


"Hahh ... lebih baik langsung masuk saja!" kata Tom mendorong mereka semua keluar.


"Uwwwwaaah!" Teo menganga kemudian bersorak, "Manny!"


"Heh?! siapa?! Kau kenal?!" tanya Felix.


"Itu karakter dari animasi!" Tom yang menjawab.


"Jadi ... apa dia benar Daemonimed yang pernah kau baca?" tanya Felix pada Tan yang hanya diam saja daritadi padahal Teo berisik sekali seperti bertemu artis saja, "Tan?!" Felix memegang bahu Tan tapi Tan hanya langsung tertawa saja, "Eh?!"


"Kita dalam masalah!" kata Tan tersenyum pahit.


"Dia Daemonimed tingkat tinggi ya?!" tanya Felix yang hanya dijawab anggukan oleh Tan.


...-BERSAMBUNG-...