
Banyak tersebar foto para pejabat tinggi negara yang tertidur saat rapat. Membuat masyarakat tidak berhenti bercerita betapa tidak bergunanya mereka yang tidak menggunakan uang pajak sebagaimana mestinya. Tapi bisa saja itu adalah ulah Ted lagi yang membuat tidur dan menghasut dalam mimpi. Semenjak kejadian waktu itu, banyak yang melakukan kejahatan dan banyak kejadian besar terus terjadi. Bahkan Daisy yang biasanya sesekali datang ke panti tidak pernah muncul lagi. Tidak pernah pulang juga ke rumahnya saking sibuknya mengejar berita yang tidak ada habisnya. Seakan berita sengaja berjatuhan seperti hujan.
Sejujurnya Tan, Teo dan Tom sangat ingin menanyakan soal berita yang tidak bisa lagi dikatakan normal karena tiada hentinya tv selalu menayangkan kejadian besar bahkan tidak ada lagi tempat untuk berita kecil disiarkan. Tapi mereka takut membuat Felix jadi marah lagi padahal barusaja baikan.
"Aku ingin bicara dengan kalian?!" kata Felix tiba-tiba dengan nada serius membuat suasana menjadi tegang.
"Bi ... cara apa?" tanya Teo.
Felix membuka gelang dipergelangan tangannya yang dipinjamkan oleh Cain dan mengembalikan sekaligus memakaikannya pada Cain kembali, "Pertama! gelang ini ... jangan pernah kalian lepaskan! apapun yang terjadi ... kedua! tetap berada didekatku dan jangan berani-berani mencoba untuk sendirian ... ketiga! usahakan untuk banyak membaca buku Mundebris! Cain akan mengambilkan di perpustakaan Leaure ... keempat! jangan percayai siapapun! nanti akan aku berikan alat untuk mendeteksi aura tiruan atau aura kejahatan ... kelima!" Felix berhenti di angka lima dan tidak bisa melanjutkan.
"Tenang saja semuanya akan kami lakukan!" kata Tom.
"Bahkan yang kelima itu ... yang tidak disebutkan ...." kata Tan tersenyum.
"Hidup kalian akan berubah total setelah ini!" kata Felix yang malah menyesali perkataannya sendiri.
"Hidup yang tidak akan pernah membosankan!" kata Teo ceria.
"Memang banyak hal yang menyenangkan dan hal yang membuat takjub, tapi untuk kalian ketahui ... bahaya akan selalu mengikuti! bukan lagi bahaya kecil seperti tersandung batu dan semacamnya tapi seseorang yang bukan manusia akan mendatangi kalian, yang memiliki kekuatan, memiliki senjata untuk melawan kalian yang hanyalah manusia biasa ...." kata Felix.
"Bisakah kami belajar untuk melindungi diri sendiri juga?" tanya Tan.
"Goldwin tidak bisa melatih seseorang yang bukan Leaure, Duarte tidak tahu cara melatih manusia, Banks sudah mengatur waktunya untukku tidak enak kalau kuminta untuk dirubah lagi tapi aku akan tetap membicarakannya pada Banks, aku akan mencarikan seseorang yang bisa melatih kalian ... seseorang yang benar-benar cocok!" kata Felix.
"Tapi tidak bisa diandalkan!" sahut Cain yang tahu siapa betul itu yang dimaksud Felix.
"Apa ada tiga orang? masing-masing dari kami akan mendapatkan seseorang yang bisa melatih?" tanya Teo.
"Tidak! kalian akan dilatih oleh satu orang yang sama untuk bisa melindungi diri bersama ... bisa bertarung bersama dan saling menjaga!" kata Felix yang mulai terlihat murung.
"Kami akan tetap hidup normal seperti manusia kebanyakan kok!" kata Tom.
"Ya! benar ... ini hanya untuk melindungi diri kami supaya kau tidak perlu menjadikan diri sebagai perisai lagi ... kami berharap bisa membantu untuk meringankan beban kalian berdua dan juga berharap bisa berbuat lebih dari itu dengan melindungi kalian ...." kata Teo.
"Jika ada waktu luang akan aku beritahu Banks untuk mengajari kalian juga!" kata Felix.
"Kau tidak ada misi baru Cain?" tanya Tan.
Felix melirik Cain dengan tatapan tajam, "Bahkan kau sudah memberitahu sampai situ!"
Cain hanya bisa tertawa canggung, "Mereka tidak berhenti menanyaiku ... lagipula mereka bisa tahu banyak hal kan secepatnya!"
"Bukan karena terlalu senang bisa bercerita dan pamer?!" kata Felix sarkastik.
"Minggu ini aku tidak akan mendapatkan misi baru!" kata Cain membalas pertanyaan Felix tadi.
Mata Felix terbuka lebar mendengar itu tapi kemudian memasang wajah datar.
"Kau sudah melakukan misi berapa?" tanya Teo penasaran.
Cain dengan senang hati memperlihatkan cara untuk melihat catatannya. Dengan menepuk bahu kanan dan kirinya, muncullah sebuah catatan emas dan pena, "Ada apa?" tanya kedua pena dikanan dan kiri.
"Tidak! aku hanya ingin melihat catatan saja!" kata Cain.
Bahu kanan menuliskan catatan misi yang berhasil dilakukan sedangkan bahu kiri menuliskan catatan misi yang gagal dilakukan. Pena yang hidup itu akan langsung mencatat dengan secara mendetail seperti laporan. Sementara undangan misi hanya bisa diterima oleh Unimaris Leaure yaitu Goldwin.
***
Merasa tidak adil karena ternyata Mertie sudah tahu lebih awal ... Tan, Teo dan Tom merajuk.
"Dia tidak tahu lebih jelasnya ... hanya mengira kami ini seperti dukun!" kata Cain tertawa.
"Walau begitu kalian tahu lebih banyak dari Mertie!" kata Felix.
"Tidak menghibur sama sekali!" kata Tom.
Teo dan Tom pergi meninggalkan mereka yang masih makan siang dikantin sekolah.
"Kan sudah kubilang! peraturan nomor dua kalian sudah lupa!" teriak Felix tapi tidak dihiraukan.
"Tentang Ted yang memberikan mimpi itu ... apa tidak bisa dihentikan? dan yang sudah bermimpi apa tidak bisa dicegah? bukankah kau bilang Bu Daisy juga tertidur saat itu?" kata Tan sudah mulai ingin terjun dan terlibat dengan masalah tiga dunia.
"Yang bisa mencegah hanya diri mereka sendiri! semuanya juga tergantung pengendalian diri masing-masing. Bahkan jika diberi hasutan tapi ada pengendalian diri yang kuat, hasutan itu tidak ada gunanya dan hanya akan menjadi sekedar mimpi saja ..." kata Felix.
"Tapi buktinya berita yang tidak kunjung henti ... membuktikan banyak yang tidak bisa menahan diri ...." kata Tan cemas.
"Kami hanya berharap Ted bisa mendekati Mertie atau orangtua Viola agar aku dan Felix bisa mendeteksi keberadaannya dengan gelang buatan Felix atau pelindung yang aku buat. Dengan begitu kita bisa datang menangkap Ted!" kata Cain.
"Untuk Bu Daisy ... aku membaca pikirannya saat bermimpi saat itu dan kulihat keinginan terpendam Bu Daisy tidaklah berbahaya ...." sambung Felix.
"Kau yakin?" tanya Tan.
"Tapi kita tetap jaga-jaga saja ... Bu Daisy juga memakai gelang yang aku buat jadi tidak perlu khawatir!" jawab Felix.
***
Felix dan Cain membawa Tan, Teo dan Tom untuk pertama kalinya ke Rumah Verlin. Bukan terkejut karena tanaman Mundebris yang tidak berhenti terus berbicara tapi sosok Nenek Alviani yang pernah memberikan gelang pada mereka yang diketahui sudah meninggal. Bahkan mereka dari pemakaman Nenek Alviani juga.
"Astaga mimpi apa aku semalam?!" kata Verlin terkejut melihat siapa yang datang.
"Perkenalkan Tan, Teo dan Tom!" Felix menunjuk satu-satu.
"Jadi, pakai nama panggilan ya? perkenalkan, Verlin!"
"Dia ini dukun loh!" kata Cain usil.
"Sudah kubilang aku ini Hyacifla!" Verlin dengan cepat mengoreksi.
"Dia yang akan melatih kalian!" kata Felix.
"Melatih?" Verlin tidak mengerti.
"Mohon bantuannya!" Tiga Kembar bersamaan kompak.
Verlin menarik Felix menjauh dari mereka, "Jangan bilang?!"
"Aku mengharapkanmu!" kata Felix datar.
"Aku tidak ahli dalam bertarung!" Verlin akhirnya mengerti keinginan Felix.
"Aku ingin kau mengajarkannya cara melindungi diri sendiri dengan cara bersembunyi ... bukankah dulu kau pintar dalam hal itu? mencari informasi tanpa pernah ketahuan ... dalam hal ini, mereka tidak perlu mendapatkan informasi tapi hanya perlu untuk bersembunyi saja ...." kata Felix.
"Kau sudah lupa ya?! aku memang ahli dalam hal mencari informasi dan tidak pernah ketahuan tapi aku akhirnya melakukan kesalahan dan meninggal saat melakukan misi ... itu adalah kegagalan terbesar dalam hidupku!" kata Verlin.
"Maka dari itu, kau adalah guru terbaik untuk mereka! kau bisa melatih mereka berdasarkan pengalaman gagalmu itu!" kata Felix.
Verlin hanya bisa menghela napas kesal karena tidak bisa menolak permintaan Felix.
...-BERSAMBUNG-...