UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.360 - Gangguan Tahap Awal



Karena hujan, malam pun datang tanpa disadari. Tan dan Tom sudah bersiap untuk melaksanakan tugasnya untuk menjaga kedua Zewhit itu. Sementara Teo terlihat begitu menikmati tidur di hari istirahatnya.


Tan dan Tom berjalan keluar dari asrama setelah meminum ramuan agar tidak terlihat. Liontin kalungnya memunculkan asap warna putih abu-abu menandakan kedua hantu itu sudah dekat. Tan dan Tom menarik napas bersamaan menyiapkan diri untuk melihat bagaimana tingkah kedua hantu itu.


"Kau siap, Tom?!" tanya Tan.


"Kau siap, Tan?!" Tom balik bertanya.


"Sangat siap!" sahut Tan.


"Lebih siap darimu!" balas Tom.


Felix mengawasi dari jauh dengan bersembunyi, "Sepertinya ada baiknya memang kedua hantu itu muncul. Bisa membuat latihan mereka lebih ekstrem supaya bisa terbiasa dan tidak takut lagi dengan hantu. Selama ini mereka selalu saja menghindar, jadi saat seperti ini yang tidak terhindarkan adalah cara yang tepat ...." Felix yang sebenarnya malam ini jadwalnya untuk bersitirahat tidak dipatuhi. Bagaimanapun juga ada Iriana yang seperti alarm yang terus siap sedia membangunkannya, "Lagipula kau sudah tidur siang lama!" begitulah kata Iriana.


"Kau membuat kepalaku jadi sakit!" Felix mengeluh.


"Bukan waktunya untukmu tidur!" kata Iriana.


"Suatu saat aku akan meninju wajahmu kalau wujudmu bisa kulihat!" kata Felix bersungguh-sungguh.


"Aku tunggu ...." kata Iriana menanggapi dengan bercanda.


"Kau enak, bisa menjadi Caelvita resmi begitu cepat." kata Felix.


"Itu terjadi karena aku kehilangan orang yang aku sayangi ...." kata Iriana.


"Aku yang tidak punya siapa-siapa apa harus bersyukur atau bersedih ...." kata Felix.


"Kau punya kedua orangtua yang terus mengawasi dan membantumu tanpa kau ketahui ...." kata Iriana.


"Aku bahkan tidak mengenal mereka ...." kata Felix.


"Itu untuk kebaikanmu dan kebaikannya juga ... apa yang terjadi dimasaku tidak boleh terulang kembali." kata Iriana.


Felix keluar dari sekolah untuk menuju desa yang dekat dari Desa Quinlan yang dimaksud oleh Tan bahwa misi iblis disana sudah selesai. Sekali lagi Felix menoleh kembali ke arah sekolah, "Apa benar tidak apa-apa meninggalkan mereka ...."


"Kalau memang mereka ketakutan dan berada diperingkat atas paling takut di list kedua Zewhit itu. Kau bisa dengan mudah memutus kutukannya ... jadi tidak perlu khawatir! Caelvita punya akses penuh pada Zewhit. Jadi, anggap saja mereka sedang adu nyali." kata Iriana.


Felix tidak tahu apa harus mempercayai perkataan Iriana itu, dia berjalan menjauh dari sekolah tapi hatinya ingin sekali kembali ke sekolah.


Tan mengawasi Zewhit Badut yang terus mengikuti Demelza. Kali ini Demelza sedang berbisik-bisik bergosip dengan anak perempuan di perpustakaan. Zewhit Badut itu dengan sengaja menjatuhkan satu buku yang ada di rak belakang mengenai kepala Demelza, "Aw! bagaimana ini bisa jatuh?!"


"Sssssst! jangan berisik!" kata Petugas Perpustakaan.


Zewhit Badut itu menatap Tan untuk membanggakan dirinya yang berhasil. Tan jadi tertawa sendiri, "Dasar!" sepertinya Zewhit Badut itu sudah tidak menganggap Tan sebagai target lagi.


Sementara itu Tom ikut bermain sepak bola malam bersama Osvald sekalian untuk mengawasi Zewhit Kurcaci.


"Aku tidak mengira kau mau bermain lagi ... padahal sudah kami ajak berulang kali, kenapa baru sekarang?!" kata Osvald mendekati Tom yang sedang menggiring bola.


"Kita tidak setim tahu!" Tom mendorong Osvald yang memeluknya.


"Oh iya, ya!" Osvald juga bingung.


"Hahh ... kenapa harus kau yang dijadikan target sih ...." Tom merasa kasihan dengan Osvald yang selalu baik dengannya itu.


Jam 11 malam Demelza meninggalkan perpustakaan dan menuju asrama perempuan. Zewhit Badut beraksi dengan membuat tawanya menggema di sepanjang lorong sekolah yang gelap.


"Siapa itu?!" tanya Demelza dengan suara yang gemetaran. Demelza kemudian berlari dengan cepat karena merasa takut tapi saat berlari semua pintu yang ada di dekatnya terbuka dengan cara kasar kemudian tertutup lagi. Kali ini Demelza berteriak histeris dan berlari dengan menutup telinga dan matanya bahkan beberapa kali tersandung jatuh tidak membuat Zewhit Badut itu merasa kasihan untuk menghentikan aksinya. Tan hanya bisa menyaksikan itu, tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Demelza.


Osvald juga selesai bermain sepak bola langsung menuju asrama bersama Tom. Zewhit Kurcaci menepuk-nepuk bahu Tom, untungnya Tom sudah tahu bahwa Zewhit Kurcaci ada didekatnya jadi tidak kaget. Zewhit Kurcaci itu mengisyaratkan pada Tom agar membuat dirinya tidak kelihatan lagi. Setelah meminum ramuan tidak terlihat bisa diatur kapan untuk bisa terlihat dan tidak terlihat jika sudah ahli. Jadi saat bermain bersama Osvald, Tom membuat dirinya terlihat.


Tom dengan terpaksa mengangguk setuju, "Aku akan ke kantin dulu! kau duluan saja!"


"Biar aku temani kalau begitu! supaya bisa kembali sama-sama ke asrama." kata Osvald.


"Tidak, kau duluan saja ...." kata Tom yang mengerti bahwa jika mengganggu Osvald saat ada yang menemani pasti tidak akan membuat Osvald begitu takut. Jadi Tom berbohong bahwa akan ke kantin tapi sebenarnya membuat dirinya tidak terlihat dengan menjaga jarak dari Osvald dan Zewhit Kurcaci di depannya.


Osvald yang memang sangat terkenal penakut berjalan cepat di lorong sekolah saat mulai berpisah dengan Tom, "Hahh?!" Osvald kaget melihat ada bola bisbol sebesar bola basket, "ini mainan siapa?!" Osvald antara takut dan penasaran dengan itu jadi mulai ingin mendekatinya tapi bola itu menggelinding duluan mengenai sepatunya membuat Osvald berlari ketakutan.


Keahlian Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci berbeda. Zewhit Badut menakut-nakuti dengan menggunakan properti lingkungan yang ada. Sedangkan Zewhit Kurcaci suka mengubah bentuknya menjadi besar atau kecil atau mengubah bentuknya menjadi benda yang membuat targetnya mendekatinya.


Osvald menelepon Tom berkali-kali saat menaiki tangga menuju asrama. Bahkan handphone nya beberapa kali terjatuh dan dia juga beberapa kali tersandung tangga tidak dihiraukan.


Tom merasa bersalah hanya bisa melihat layar handphone nya, tidak bisa mengangkat panggilan Osvald yang sedang ketakutan itu.


Osvald akhirnya masuk ke dalam kamarnya sehingga Tom bisa menerima panggilan Osvald.


"Ada apa?!" kata Tom pura-pura tidak tahu.


"Kau dimana? ad ... ada hantu! ada hantu Tom! kalau mau ke asrama kau harus bersama dengan anak lainnya." kata Osvald.


Tom semakin tidak tega rasanya, disaat Osvald sedang takut tapi juga mengkhawatirkan dirinya.


"Aku sendirian berjalan ke asrama tapi tidak ada hantu sama sekali!" kata Tom memaksakan dirinya tertawa pura-pura.


"Kau tidak melihat ada bola bisbol sebesar bola basket?!" tanya Osvald.


"Mana ada bola bisbol sebesar itu! kau sedang mengerjaiku ya?!" kata Tom.


"Serius, Tom! ada!" kata Osvald merasa tidak adil.


"Kau tahu Val, mungkin itu hanya ilusinasimu saja. Jangan tertipu karena rasa takutmu! asal kau tahu ya, katanya hantu itu bisa dengan jelas melihat kita kalau kita merasa takut. Jadi kalau tidak takut, kau juga tidak akan diganggu!" kata Tom yang ingin membuat Osvald menjadi berani, "Harusnya perkataan itu untuk diriku sendiri!" Tom menertawai dirinya sendiri sedang menasehati orang lain sedangkan dirinya juga masih agak takut.


...-BERSAMBUNG-...