
Tan melihat punggung Teo saat ini masih terus mengeluarkan darah segar terlihat dari kaos Teo yang tidak mau kering padahal Tan sendiri kaosnya sudah kering daritadi, "Lukanya terbuka lagi ... dan dia bersikap seakan semuanya baik-baik saja dengan cara seperti ini!" kata Tan dalam hati merasa kasihan pada Teo yang sedang berusaha menyembunyikan keadannya saat ini. Bahkan untuk memakai jaketnya sendiri, Teo terlihat kesulitan.
Memang kelihatannya Teo seperti malas bergerak dan terkesan sok pamer kekuatannya tapi dibalik itu semua, "Rasanya aku akan mati, sakit sekali! hahh ... ayo! bertahan!" kata Teo dalam hati terus menguatkan dirinya dengan cara memasang senyum cerianya seperti biasa.
Lawan dari Felix, Zeki dan Verlin terus berusaha kabur jika ada kesempatan dan ingin menuju tempat Zewhit Badut dan Kurcaci berada tapi dengan keadaan sudah babak belur, mereka terus bertahan. Sangat jelas terlihat kalau mereka bertiga saat ini bertarung tanpa menurunkan pengawasan dan terus menyerang, melawan tanpa jeda sehingga tidak memberikan akses untuk lawan mendekati Zewhit Badut dan Kurcaci.
Felix sudah terlihat sangat kacau dan berantakan tapi masih dengan semangat yang membara melawan. Zeki bukanlah lawan yang sepadan dengan Ditte, sehingga sangat jelas terlihat perbedaan kekuatan mereka. Sedangkan Verlin bisa bertahan sampai saat ini hanya bermodalkan kenekatan saja, tentunya dengan semangat yang sama dengan Felix dan juga bukan lawan yang sepadan seperti yang dialami Zeki tapi Verlin terus berusaha yang terbaik walau sering kecolongan ditinggalkan Juro 2020 tapi tetap bisa mengejar dan menahannya untuk tidak mendekati kedua Zewhit itu.
Melihat hal itu menumbuhkan kembali semangat Tan dan Tom, "Kita juga harus melakukan yang terbaik!" sedangkan Teo masih bergelut dengan rasa sakit di punggungnya tapi dapat tersembunyikan oleh senyuman bodohnya. Kini Teo tahu betul apa yang dirasakan oleh Verlin, bukan bermodalkan semangat lagi tapi kenekatan semata.
Zewhit Badut dan Kurcaci terlihat sedang berbisik-bisik dengan asyiknya sampai lupa waktu. Entah sudah berapa lama mereka melakukan itu. Setelah saling bisik mereka tertawa keras dan berlari kegirangan kemudian berbisik lagi.
"Tidak tahu malu mereka merencanakan sesuatu di depan kita!" kata Demelza sebal.
"Setidaknya kita bisa istirahat, biarkan mereka bersenang-senang saja dulu!" kata Tan.
Tanpa kekhawatiran mereka semua menutup mata karena terlalu lelah tapi indera lainnya masih terus dalam mode waspada. Osvald langsung bangun setelah mendengar sesuatu mendekat begitupun Demelza yang merasakan sesuatu yang dingin tapi bukan air melainkan salju yang datang seperti ombak air laut oleh Zewhit Kurcaci. Tom membangunkan Tan disampingnya kemudian Tan membangunkan Teo.
"Teo!" Tan panik saat mengetahui bahwa Teo bukanlah tertidur melainkan pingsan.
Disaat Tan sibuk mencari sesuatu untuk mengembalikan kesadaran Teo. Tom menjadikan dirinya sebagai perisai di depan Osvald dan Demelza. Bagaimanapun juga Teo harus dibuat sadar dulu. Meskipun Tan agak bimbang, "Apa menyadarkannya adalah yang terbaik?! mengingat jika dia sadar pasti akan merasakan sakit lagi ...." tapi Tan menyadarkan dirinya bahwa bukan saatnya untuk mengkhawatirkan itu, "Teo itu kuat ...." Tan meyakinkan dirinya dan meminumkan ramuan pada Teo.
Teo mengerjapkkan matanya, "Hahh ... aku pingsan, ya?! maaf ...." kata Teo masih dengan senyuman.
"Kau harus dalam keadaan sadar, ingat itu! tidak selamanya kita bisa saling melindungi, jadi kau harus setidaknya melakukan sesuatu untuk melindungi dirimu sendiri bukannya hanya diam jika ada bahaya yang mendekat." kata Tan tegas.
"Iya ... iya! sorry!" kata Teo kembali memaksakan duduk.
Tan berjalan menuju samping Tom berada tapi merasa sangat menyesal mengatakan hal seperti itu pada Teo yang sedang terluka.
"Teo juga tahu tanpa kau harus mengatakannya. Kalaupun kau tidak mengatakannya, akulah yang akan mengatakannya! jadi tidak perlu merasa tidak enak ...." kata Tom tahu dari ekspresi Tan.
Teo memunculkan Moshas nya untuk dijadikan alat untuk bisa bertahan duduk. Bahkan Winn yang biasanya cerewet jadi pendiam karena melihat pemiliknya yang pertama kali adalah manusia yang seharusnya lemah tapi ternyata memiliki tekad baja, "Kalau dia Viviandem, pasti dia akan memiliki kekuatan yang luar biasa lagi, dengan tekad besar itu." kata Winn dalam hati melihat Teo yang merupakan manusia terus bertahan dalam pertarungan disaat sedang terluka, "Bahkan, kebanyakan Viviandem hebat sekalipun jika sudah seperti ini lebih memilih mundur dibanding menyiksa diri." sambung Winn dalam hati lagi.
Ombak salju berhenti datang, kali ini Zewhit Badut yang berteriak kencang dan melompat kemudian muncul kuda komidi putar membawanya maju. Diikuti banyak lagi kuda lainnya terus berlari.
"Seharusnya aku tidak boleh tertawa ...." kata Teo tidak mempercayai dirinya tapi melihat itu tidak bisa untuk menahan diri tidak tertawa. Bagaimana tidak, saat ini Zewhit Badut sedang mengendarai kuda mainan dan diikuti puluhan kuda mainan lainnya dibelakang.
"Sesuatu yang sering muncul di film ...." kata Osvald.
"Apa-apaan?!" kata Demelza tercengang.
"Bagian di film yang biasanya memunculkan jenderal perang maju dengan kudanya menyerang tentunya sangat keren untuk ditonton. Tapi ini, badut dan kuda mainan?! apa dia bercanda?!" kata Tan tidak habis pikir.
Dari visual serangan yang datang itu terlihat sangat lucu tapi saat terkena serangan barulah disadari bahwa itu bukanlah lelucon. Tan sempat ingin menyerang saat Zewhit Badut masih jauh tapi tidak bisa dilakukan karena ternyata kuda mainan itu sangat keras, "Tidak ada yang tidak bisa ditembus oleh Tellopper, biasanya ...." kata Tan heran.
Zewhit Badut bersama puluhan kuda palsu warna-warni mengelilingi Tiga Kembar, Osvald dan Demelza. Zewhit Kurcaci juga seperti merencanakan sesuatu, jadi Osvald terus memperhatikannya. Sementara Demelza sudah menyiapkan rencana didalam pikirannya tapi masih belum selesai-selesai juga.
Serangan Zewhit Badut dimulai, yang daritadi hanya terus berputar kini Tan dan Tom hanya bisa memukul mundur tidak bisa menghancurkan kuda mainan itu. Teo bangun melawan dengan cara membungkuk karena sudah sangat pusing dan tidak bisa meluruskan punggungnya karena sangat sakit.
Osvald tertabrak kemudian terinjak salah satu kuda palsu karena sedang memperhatikan Zewhit Kurcaci, "Bagaimana bisa sesakit ini bahkan mereka juga bukan kuda sungguhan ...." kata Osvald protes.
"Bahkan air pun bisa melukai walau mempunyai massa kecil tapi diberi gaya yang besar ...." kata Tom membantu Osvald berdiri.
Muncullah angin tornado kecil berputar-putar, membuat salju juga ikut berputar-putar. Bukan hanya satu tapi terlihat banyak sekali.
"Atau dimanfaatkan dengan imajinasi yang sangat baik ...." sambung Tom melihat banyak boneka salju barusaja tercipta.
"Oh, jadi mereka prajuritnya ... benar-benar mereka membuat sesuatu seperti scene dalam film ...." kata Tan menggeleng-gelengkan kepala.
"Biar aku ambil alih!" kata Demelza memunculkan komidi putar tanpa kuda satupun. Komidi putar itu menarik kuda dari Zewhit Badut satu per satu untuk dipasang di komidi putar yang dibuat Demelza itu.
"Wah ...." Tan takjub melihat itu.
Disisi lain dimana manusia salju mulai berjalan mendekat tiba-tiba jatuh tercebur ke dalam air tapi ternyata bisa kembali naik ke permukaan walau dengan keadaan sudah mulai meleleh dan perlahan hancur seiring langkah yang diambil.
"Jadi, inikah saatnya pertarungan dengan pikiran?!" teriakan Teo begitu nyaring bahkan dengan kondisi seperti itu.
"Darimana kau mendapatkan kekuatan itu?!" kata Tan heran.
"Selalu ada tenaga cadangan untuk membuat suasana jadi lebih menyenangkan maksudku menegangkan ...." kata Teo menyeringai.
...-BERSAMBUNG-...