
Dewa Pedang melesat cepat mencoba mengejar siluman kera yang memang terpental cukup jauh. Dia masih ingin meneruskan serangannya yang belum tuntas itu. Tetapi begitu jarak tinggal satu tombak siluman kera itu segera berubah menjadi asap hitam dan langsung kabur.
"Bagaimana caranya agar bisa melukai para siluman saat mereka telah berubah wujudnya seperti itu?" Dewa Pedang hanya termangu memandang asap yang merupakan perwujudan dari siluman.
"Belum ada yang mengetahuinya ketua! Tebasan pedang milikmu barusan yang begitu dahsyat saja, hanya membuatnya terpental. Walaupun mampu mengusir para siluman, tetapi tidak membuat mereka mati. Buktinya mereka selalu dapat kabur begitu terhantam energi tebasan ketua." Tetua Tunggak semi yang datang belakangan hanya bisa melihat kepulan asap yang membumbung tinggi sebelum hilang dari pandangan."
Saat mereka sedang berbicara dari sebelah barat kembali terjadi serangan siluman yang ditandai teriakan dan sabetan jurus pedang.
"Sudah tiga hari ini siluman menyerang tanpa henti pertanda apa sebenarnya?"
Tetua Tunggak semi yang mendengar ketuanya mengumam pelan seperti sedang bertanya. Tetua Tunggak semi tidak menjawabnya, dia justru berkelebat bergerak cepat meninggalkan ketuanya ke arah barat. Tubuhnya segera menghilang dikegelapan malam.
Agaknya kali ini dia tidak mau didahului orang lain. Terlihat dari jauh siluman kera telah mengamuk mengobrak-abrik dan menghancurkan sisi barat. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik itu tetua Tunggak semi langsung menebaskan energi pedang dari jarak jauh.
Jdaaaar!
Energi pedang itu mengantam keras siluman kera dan membuatnya menabrak sebuah bangunan. Siluman itu segera bangkit dan meloncat ke atas rumah dan berlari cepat.
Tetua Tunggak semi segera mengejar ikut meloncat ke atas rumah. Mereka berkejaran dan berloncatan, sebelum akhirnya Eyang Tunggak semi berhasil menyarangkan energi sabetan itu dan melemparkan tubuh siluman itu terjungkal ke bawah.
Eyang Tunggak semi kembali mengejar ke arah jatuhnya siluman itu. Tetapi begitu dirinya sudah mendekat siluman itu kembali berlari tetapi kembali gerakannya terhenti, sebab sebuah pedang yang wujudnya mirip kawat panjang berhasil melilitnya. Sebuah pedang unik yang bernama pedang Jalasutra milik Eyang Sinar Gading.
Pedang itu seperti pita bergerak memutar dan menjeratnya dengan erat. Seharusnya jika itu dilakukan pada tubuh manusia maka akan membuat tubuhnya terpotong-potong. Tetapi karena tubuh makhluk itu begitu kuat, sehingga hal itu tidak terjadi.
Sebelum siluman kera itu menyadari apa yang sedang terjadi Eyang Sinar Gading menarik keras dan melemparkannya ke hadapan Eyang Tunggak Semi. Lalu dengan cepat menarik kembali pedang jalasutranya. Dia melakukan itu hanya dalam satu tarikan nafas. Sebab jika dia tidak secepatnya melakukan, maka yang terjadi justru dia yang ditarik balik oleh siluman kera yang tenaganya seperti seekor gajah.
Eyang Tunggak semi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, tebasan pedangnya segera menghantam dengan kuat.
Trang!
Saat pedang itu menghantam tubuh siluman seperti mengenai sebuah lapisan baja yang tebal menimbulkan suara berdentang. Tubuh siluman kera itu juga tidak terpotong, tetapi justru dari tebasan sampai keluar percikan api, karena kuatnya tebasan yang dilakukan Eyang Tunggak semi.
Tetua Tunggak semi terkejut melihat pedang pusakanya tidak mampu menembus kulit dari siluman itu. Belum selesai dengan keterkejutnnya sebuah hantaman keras mengenai tubuhnya, sehingga membuatnya terlempar cukup jauh.
Haarrgggghhhh! Waakk! Waak! Buuk! Buuuk!
Siluman kera bangkit sambil memukul-mukul dadanya seakan sedang menunjukan keperkasaanya. Kemudian dia meloncat-loncat ditempat seperti begitu kegirangan, setelah melihat lawannya mampu dia pukul dan melemparkannya cukup jauh. Serangan itu begitu telak mengenai Eyang Tunggak semi.
Ctaaar...! Ctaar...!
Eyang Sinar gading segera menyabetkan pedang Jalasutranya yang memanjang meledak-ledak seakan cemeti. Hentakan pedang itu, jika mengenai tubuh manusia akan membuatnya terbelah hanya dalam satu serangan. Tetapi begitu mengenai tubuh siluman kera, serangan itu hanya membuatnya terlempar. Terlihat dia kesakitan terhantam kerasnya hentakan pedang jalasutra, meskipun tidak meninggalkan luka sedikitpun, siluman itu terlihat ketakutan.
Melihat siluman kera itu telah kabur Eyang Sinar gading segera menuju ke tempat di mana Eyang Tunggak semi masih terduduk sehabis terpukul dadanya begitu keras.
"Bagaimana kakang Tunggak semi apakah dirimu baik-baik saja?" Eyang Sinar gading menatap rekannya yg masih memegangi dadanya bekas pukulan itu terlihat membiru.
"Aku kira aku sudah mati. Dadaku rasanya seperti terhantam sebuah gunung saja. Beruntung tadi aku masih sempat mengerahkan perisai energi pelindung. Jika tidak, pasti sudah jebol dadaku ini." Wajah dari Eyang Tunggak semi terlihat mengrenyit kesakitan.
Para tetua berdatangan, termasuk Dewa Pedang yang juga ikut menanyakan kondisi Eyang Tunggak semi setelah terkena hantaman dari serangan siluman.
"Seranganku barusan benar-benar mengenainya dari jarak dekat, bahkan bilah pedang pusakaku pun menghantam tubuhnya dengan keras. Tetapi itu tidak membuatnya terluka meski hanya goresan kecil." Eyang Tunggak semi masih memegangi dadanya sambil bersandar tiang dibelakangnya.
Kejadian barusan bukan sesuatu hal yang baru. Karena bukan hanya Eyang Tunggak semi saja yang telah sangub menyarangkan bilah pedangnya dengan telak ke tubuh siluman. Sebab sebagian besar para tetua sudah merasakan kekuatan tubuh para siluman yang sangat tidak dimasuk akal itu, sebab serangan dari mereka tidak satu pun yang pernah mampu melukainya. Meskipun berhasil melemparkan tubuh itu, tetapi tidak sanggub menembus perisai energi yang dimiliki para siluman.
"Apakah tidak sebaiknya kekuatan tahap Pedang Dewamu digunakan untuk menghancurkan para siluman itu ketua?" Eyang Sinar gading mencoba mengutarakan pendapatnya.
"Tahap Dewa Pedang daya penghancurnya sangat besar, aku rasa hanya akan menghancurkan Perguruan Pedang Halilintar jika itu aku lakukan disekitar sini."
"Lalu sampai kapan kita akan bertahan seperti ini ketua? Lihatlah kondisi kita justru seperti kambing dalam kandang yang hanya bisa menunggu diserang para serigala." Eyang Kaliki yang ikut datang menghampiri kejadian barusan, terlihat begitu geram.
"Siluman yang menyerang kita selama ini bukanlah para raja siluman. Tetapi kalian sudah bisa merasakan sendiri seperti apa kedahsyata para siluman ini. Contohnya, lihatlah tetua Tunggak semi dia sampai dibuat seperti ini walau hanya dengan satu pukulan mendarat ditubuhnya."
"Dengan keadaan seperti ini saja, kita sudah dibuat kerepotan. Entah seperti apa nanti jika kita akan berhadapan dengan mereka. Tetapi apapun yang akan terjadi, kita sudah sepakat untuk menyerang pasukan Medusa bergabung dengan pasukan Kerajaan Kalingga. Jika mereka sudah sampai disini."
Pandangan Dewa Pedang beralih pada langit malam yang gelap.
"Pertempuran malam ini ternyata belum selesai. Bersiaplah kalian semua! Jaga setiap sisi Perguruan Pedang Halilintar, karena siluman kelelawar kali ini tidak datang sendirian!" Setiap orang mulai ikut melihat keatas sekelompok bayangan dari kejauhan terlihat mirip kelelawar bergerombol menuju ke arah mereka.
Segera setelah itu mereka segera berpencar menjaga setiap sisi perguruan itu. Malam semakin mencekam bagi seluruh anggota perguruan. Malam ini akan menjadi pertempuran yang panjang, sebab kedatangan para siluman tidak juga berhenti, justru seakan silih berganti.
Dewa Pedang masih memandang langit sambil bersiap melancarkan kekuatan terkuatnya.
"Setelah mencapai jarak dalam jangkauan serangan. Kiita secara bersama-sama akan menyerangnya dengan Jurus Tebasan Sejuta Pedang." Dewa pedang berbicara kepada beberapa tetua yang masih ada dibelakangnya. Diantaranya Tetua La Patiganna, Eyang Kaliki. Ada juga Eyang Banyu Langit, guru dari Mahesa Pendekar Tujuh Pedang Terbang dari Perguruan Pedang Suci yang ada di daerah Kadipaten Balambangan.
Begitu jarak yang dimaksud sudah masuk, maka mereka semua kemudian bersiap untuk melancarkan kekuatan penuhnya mengarah ke langit dimana para siluman Wewe Gombel itu mulai mendekat.
Kekuatan tenaga dalamnya Dewa Pedang segera meningkat cepat. Aura energi yang melingkupi tubuhnya langsung meledak, itu adalah sebuah awal sebelum memulai melancarkan kekuatan terdahsyatnya yang jarang ditunjukkan, kekuatan tahap Dewa Pedang.
Dibelakangnya beberapa tetua juga telah bersiap melakukan serangan. Aura kekuatan mereka yang dahsyat segera menerjang ke segala arah. Bahkan para anggota perguruan yang berada dijarak yang agak jauh, mereka merasakan tekanan kekuatan dahsyat. Begitu kuatnya tekanan itu membuat mereka memilih menjauh menjaga jarak aman.