SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 140 Nagatatmala



"Kenapa dirimu masih bingung bocah bagus?"


"Kaweruh yang sudah aku wedarkan padamu kenapa masih kamu bungkus, ngeer(nak)?"


Suro kebingungan mendengar perkataan sosok resi yang masih tersenyum didepannya itu.


"Kaweruh apa yang Maharesi maksud? Hamba tidak memahami maksud ucapan panjenengan (anda)?"


"Kaweruh yang aku maksud adalah Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu, ngeer!"( e dalam kata ini diucapkan seperti dalam kata pare-pare)


"Benar aku lah yang wedar kaweruh kepadamu kala itu! Aku akan moksa setelah ada yang mampu menyerap dan memahami Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Setelah aku wedar kepadamu aku tidak moksa. Kini aku sadari dirimu belum memahami seluruh isi dari serat itu. Katakan padaku apa yang tidak kamu pahami anakku?"


Kembali resi itu memanggil Suro dengan sebutan anakku membuat Suro kembali bertanya-tanya.


"Siapakah sebenarnya Maharesi yang agung ini? Apakah panjenengan ramanda hamba?"


"Hahaha...bukan ngeer. Sebutan itu hanyalah untuk mewakili kebahagiaanku juga kecintaanku, atas sukmo sejatimu yang telah terpilih untuk meneruskan tugasku mengemban serat ini didunia."


"Namaku adalah resi Wisrawa. Setelah aku selesai wedar kaweruh dan memastikan dirimu benar-benar memahami Sastra Cetho(ilmu yang mengandung kebenaran sejati), maka tugasku didunia telah selesai. Aku akan moksa kembali ke swarga loka. Karena aku yang sekarang ini hanyalah sebentuk sukmo sejati yang menjaga dan memastikan ilmu ini tidak akan jatuh pada jiwa yang salah."


Suro terkejut mendengar perkataan barusan. Dia mulai memandangi tangannya juga tubuhnya. Dia juga menatap ke sekeliling yang tak seperti didunia dimana dia tinggal. Suara Lodra dan Kavacha juga tidak terdengar dalam alam pikirannya.


Kemudian dia segera menyadari apa arti dari perkataan resi Wisrawa barusan. Dia kemudian mulai berbicara terbata-bata.


"A..apakah artinya sa.. saya su..sudah mati Maharesi?" Suro kembali mencubit-cubit tangannya.


"Hahahaha...! Tidak anakku hanya saja dirimu sedang masuk dalam kesadaran tertinggi. Seperti juga diriku, dirimu yang sedang berdiri disini adalah bentuk sukmo sejati."


"Sukur, sukur aku kira aku sudah mati. Lalu apa yang bisa Suro lakukan untuk membantu Maharesi moksa hilang dan kembali ke Swarga loka?"


Resi itu lalu duduk bersila tanpa beralaskan pada apapun. Keadaan mereka berdua seperti mengambang ditempat yang hening tak ada suara apapun. Tetapi dibawah, diatas dan disekitar mereka seluruh galaksi yang tak terhitung jumlahnya bertebaran disekeliling mereka.


"Duduklah disini anakku! Aku akan jabarkan padamu kaweruh(pengetahuan) yang aku jaga ini." Resi Wisrawa menepuk-nepuk tempat hampa yang berada persis didepannya.


Suro kemudian mengikuti perkataan resi Wisrawa dan duduk dihadapannya.


"Aku akan wedar ilmu ini secara perlahan dan akan aku jelaskan seluruh maknanya."


"Ilmu ini sebenarnya merupakan wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan."


"Ilmu ini juga menjelaskan rahasia alam semesta yang tidak diketahui oleh sembarang makhluk baik didaratan, lautan maupun angkasa raya. Karena sesungguhnya ilmu ini berasal dari Sang Hyang Maha Kuasa."


"Secara harfiah arti serat sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah berasal dari kata "Serat" yang berarti ajaran, "Sastra Jendra" yang berarti ilmu mengenai raja. Tetapi pengertian raja disini adalah raja yang ada pada dirimu sendiri yang menguasai seluruh wadak kasar maupun wadak halusmu."


"Lalu pengertian "Hayuningrat" adalah kedamaian, "Pangruwating" yang berarti memuliakan atau merubah menjadi baik. Dan "Diyu" berarti raksasa atau perlambang segala keburukan atau segala keangkara murkaan."


"Jadi inti sari dari Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk mengubah keburukan dan mencapai kemuliaan seluruh alam yang akan dilalui."


"Ngelmu wadining bumi kang sinengker Hyang Jagad Pratingkah. Yang artinya ilmu rahasia dunia atau alam semesta yang dirahasiakan atau berasal dari Sang Hyang Maha Tunggal."


"Pangruwating barang Sakalir yang artinya dapat membebaskan dan menyelamatkan segala sesuatu."


"Kaweruh tan wonten malih(Tiada ilmu pengetahuan lain lagi yang dapat dicapai oleh manusia)."


"Pungkas-pungkasaning kaweruh(Ujung dari segala ilmu pengetahuan atau setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang brahmana)."


Suro mendengarkan semua penjelasan yang dikatakan resi Wisrawa padanya. Beberapa kali Suro bertanya kepada resi yang sebenarnya telah dia ingat. Hanya saja makna terdalam dalam serat itu memerlukan seorang guru yang harus menjelaskan dengan gamblang sejelas seperti melihat terangnya matahari.


"Dengan kaweruh ini anakku, dirimu bakal memahami tentang sejatining urip lan urip kang sejati."


Resi itu mulai menjabarkan tentang sejatining urip(Sejatinya hidup) secara panjang lebar yang harus menjadi sejatining panembah( sejatinya hamba Sang Hyang Maha Pencipta) untuk menuju sampurnaning pati(kesempurnaan dalam kematian).


"Semua itu akan aku rangkum dalam sebuah kalimat ini ngeer, anakku Suro!"


"Aung gangsa adirataksi awigina astahanu yang artinya dari tiada menjadi ada dan kembali tiada, yang sesungguhnya ada."


"Ilmu ini sudah aku wedar semua anakku. Apakah ada yang kurang kamu pahami?"


"Cukup Maharesi Suro sudah memahami dan mengingat seluruh penjelasan yang telah panjenengan wedar."


Suro telah selesai mendengarkan seluruh wedar kaweruh secara terperinci dari resi Wisrawa. Termasuk darinya, penjelasan kiasan-kiasan dalam Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Dengan pemahaman yang baru saja di dapat, kini sebuah senyuman cukup lebar telah menghiasi wajahnya.


'Kini aku yakin, Eyang Sindurogo pasti mampu aku selamatkan.' Suro tersenyum sambil bersimpuh didepan Resi Wisrawa yang lamat-lamat mulai menghilang dari hadapannya. Dia bersimpuh untuk penghormatan terakhir sebelum sukmo sejati resi Wisrawa moksa hilang kembali ke Swarga Loka.


"Sembah pangabekti yang dalam kepada Maharesi yang telah memberi pencerahan dengan wedar kaweruh yang tak ternilai harganya ini." Suro terus bersimpuh sebagai tanda rasa terima kasih yang tak terukur banyaknya.


Setelah benar-benar hilang dari pandangan mata, begitu juga kesadaran Suro telah kembali. Dia mulai membuka kedua matanya mengakhiri samadhinya.


Hal pertama yang telah dia lihat adalah penampakan tumpukan kitab-kitab bertebaran disekeliling tempatnya duduk bersila. Sebagian justru masih menumpuk menutupi tubuhnya.


"Apa yang terjadi mengapa seluruh kitab menimbun tubuhku!" Suro terkejut tidak menyadari apa yang telah terjadi saat kesadarannya telah tenggelam dalam samadhi.


"Terima kasih nakmas telah membantu diriku terbebas dari hukumanku selama beribu-ribu tahun."


Belum selesai terkejutnya dengan hamparan kitab yang bertebaran, kini sesosok manusia telah berdiri dihadapannya.


Wajah, kulit tangan dan tubuhnya memancarkan cahaya kehijauan sama dengan dinding ruangan itu. Wajahnya terlihat tampan dengan sebuah senyum yang menyiratkan kebahagiaan yang tak terukur banyaknya.


Suro tentu saja terkejut melihat ada orang yang telah berhasil memasuki ruang rahasia itu.


"Siapakah gerangan kisanak? Bagaimana bisa memasuki ruangan ini?" Suro masih mengingat jelas, jika dia telah memberikan perintah kepada Maung untuk tidak membiarkan siapapun memasuki padepokan gurunya. Itulah salah satu alasan Suro memerintahkan Maung untuk tetap berjaga didepan padepokan.


'Sudah berapa lamakah aku bersamadhi? Aku yakin Maung tidak akan pergi dari depan padepokan, kecuali aku telah bersamadhi selama berhari-hari. Dia tidak pergi kecuali pergi untuk mencari makan sesuai yang aku perintahkan.'


Tanpa disadari Suro sebenarnya Suro telah bersamadhi selama lebih dari setengah purnama bahkan lebih dari dua puluh hari. Tetapi dalam alam bawah sadarnya seolah dirinya menghabiskan waktu hanya sebentar saja. Bahkan terasa tidak lebih dari dua kali sepertanak nasi(sepertanak nasi kira-kira dua puluh menit).


"Ulun(aku) adalah Nagatatmala. Berkat sira(dirimu) ulun telah terbebaskan dari hukuman yang harus ulun jalani. Sebab dengan moksanya kesadaran sukma sejati dari resi Wisrawa maka selesai sudah tugas ulun untuk menjaganya."


"Apa yang sira inginkan agar budi yang telah sira berikan dapat ulun bayar?"


Suro yang mendengar perkataan dari Nagatatmala terasa aneh dengan cara bertutur katanya. Dia tersenyum-senyum sendiri sambil mengaruk-garuk kepala karena dia juga melakukan itu secara tidak sengaja, niat yang dia lakukan hanyalah untuk menyerap energi dari batu giok Dewa.


Lelaki itu tersenyum dengan ramah masih berdiri memandang Suro yang duduk bersila belum bergeser dari tempatnya bersamadhi.


Suro segera menyadari jika ukiran naga yang sebelumnya berada di dinding yang menurut Hyang Kavacha adalah perwujudan dari Nagatatmala, kini ukiran itu sudah tidak lagi ada.


**


Jika menurut reader novel ini pantas berada di duapuluh besar maka dukunglah. Tetapi jika tidak, maka tidak ada yang memaksanya.