
"Jangan khawatir paman Yuwen aku tidak membiarkan mereka mengalahkan pasukanmu," ucap Suro yang baru saja membawa kembali Dewa Obat ke atas benteng tengah, setelah mengalahkan Jendral Batjargal.
"Terima kasih pendekar Suro dan juga Pendekar Dewa Obat, aku tidak menyangka sama sekali, jika pasukanku dapat bertahan sampai sejauh ini. Aku yakin, jika tanpa bantuan kekuatan kalian berdua pasti seluruh pasukanku akan lenyap." Jendral Yuwen Huaji bersusah payah hendak membungkuk memberi hormat kepada Suro.
"Tidak perlu melakukan hal seperti ini paman Yuwen," ucap Suro sambil menahan tubuh Jendral Yuwen Huaji untuk tidak meneruskan tindakannya.
"Benar apa yang dikatakan muridku ini, sebaiknya jangan memaksa melakukannya. Luka yang mengenai dadamu itu belum sembuh sempurna. Sebaiknya kau duduk saja disini. Sambil melihat kami menghabisi mereka," sahut Dewa Obat yang kemudian meminta pasukan Macan Hitam yang tersisa tidak lebih dari selusin itu untuk menjaga Jendral Yuwen Huaji.
Bersama dengan Dewa Obat yang kembali dapat dipulihkan kekuatannya, Suro meneruskan serangan kepada pasukan musuh. Seluruh pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis berhasil dihabisi dengan panah api tahap hitam milik Suro. Sedangkan Dewa Obat ikut menghabisi mereka dengan menggunakan jurus Pedang Nandaka.
Akhirnya sisa pasukan Khan Langit sebagian melarikan diri. Sedangkan sebagian lagi yang tidak sempat melarikan diri akhirnya menyerah dan berakhir menjadi tawanan perang.
Mereka seperti kehilangan arah setelah Khan Langit berhasil dihabisi oleh Geho Sama bersama Dewa Rencong dan Dewi anggini. Begitu juga yang terjadi pada para pendekar aliran hitam yang masih hidup, mereka memilih menyerah atau sebagian melarikan diri.
Suro tidak membiarkan ketua Yin Hua lepas, dia segera mengejar ketika pemimpin Perguruan Seribu Hantu berusaha melarikan diri.
Suro akhirnya berhasil menangkapnya secara hidup-hidup. Dia tidak berniat untuk menghabisinya. Sebab ada sesuatu rencana yang hendak dia lakukan kepadanya.
"Aku tidak membunuhmu sampai saat ini karena aku hendak memintamu untuk memulihkan kesadaran para pendekar yang kalian jadikan boneka." Suro mencoba mengancam.
Tetapi nenek tua itu justru hendak meludahinya. Dewa Obat yang ada disampingnya menjadi begitu murka.
"Kau sepertinya tidak mengerti sedang dikasihani oleh muridku?"
"Kau ingin membunuhku? Silahkan saja!" Ketua Yin Hua menjawab dengan ketus.
"Aku masih memberikan belas kasihan karena keputusan muridku yang hendak menyelamatkan para pendekar itu!"
Dewa Obat berbicara sambil menunjuk ke arah para pendekar yang masih tergeletak di tanah. Mereka dilumpuhkan dengan racun pelumpuh tulang milik Suro.
"Jika tidak, sudah sedari tadi aku rajam dirimu! Jika dirimu tetap bersikeras tidak mau membebaskan para pendekar itu, maka taruhannya adalah mereka!"
Dewa Obat mencoba mengertak Ketua Yin Hua yang bersikukuh tidak mau membebaskan koleksi pasukannya yang terdiri dari para pendekar. Dia kemudian mencoba memaksa dengan menggunakan sisa anggota Perguruan Seribu Hantu dibelakang Ketua Yin Hua.
"Apa yang akan aku dan anggota perguruanku dapatkan, jika aku akan mengabulkan permintaanmu?" Ketua Yin Hua masih menolak untuk mengabulkan permintaan Dewa Obat dan Suro.
"Jika kau menolak, aku masih mampu memulihkan kesadaran mereka. Namun aku akan berlepas tangan atas apa yang akan dilakukan tuan guru kepada pasukanmu." Suro berbicara dengan tenang sambil melirik Dewa Obat yang ada disampingnya.
"Itu artinya tidak akan ada yang menghalangi pedang Nandaka milikku ini menghabisi kalian semua," balas Dewa Obat dengan pelan, tetapi cukup jelas didengar oleh Ketua Yin Hua dan juga para petinggi Perguruan Seribu Hantu.
Mendengar perkataan Suro, dia segera menyadari ucapan Suro memang bukan isapan jempol belaka, anak buahnya yang ada dibelakangnya lalu membisiki.
'Benar apa yang dikatakan pemuda itu, lihatlah mereka yang berdiri dibelakangnya dulu adalah para pendekar boneka milik tetua Yin Wuya. Pemuda itu juga yang telah membunuh adik ketua, yaitu Yin Wuya saat pertempuran di istana kekaisaran.'
Ketua Yin Hua mengank-angukkan kepala mendengar penjelasan anak buahnya itu sambil menatap ke arah Suro dengan tatapan yang lain dibanding sebelumnya. Ketua Perguruan Seribu Hantu itu tidak mengerti bagaimana pemuda itu bisa membebaskan para pendekar dari pengaruh pengendalian mereka yang selama ini ditakuti dunia persilatan Negeri Atap Langit.
Setelah mendengar anak buahnya Ketua Yin Hua akhirnya menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara, "baiklah aku akan melakukannya. Tetapi aku meminta jaminan, jika kami tidak akan dibantai oleh Dewa Obat!"
"Baik aku menyanggupinya. Kau sudah mendengar bukan, tentang reputasiku yang tidak akan melanggar apa yang sudah aku ucapkan?" Dewa Obat langsung menyanggupi syarat yang diajukkan Ketua Yin Hua.
Selama proses yang dilakukan untuk mengembalikan kesadaran dan memulihkan ingatan para pendekar, Suro terus memperhatikannya.
"Ilmu hitam ini terlalu sesat dan sangat tidak berperikemanusiaan." sambung
Dewa Obat.
Setelah semua para pendekar tersadarkan, Suro lalu memberikan pill penawar racun pelumpuh tulang. Selanjutnya dia memberikan pill pemulih kekuatan miliknya. Walaupun yang diberikan hanya pill tujuh bidadari tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk memulihkan kekuatan mereka.
Jumlah para pendekar yang menjadi boneka sekitar tiga ratus orang. Sebagian dari mereka banyak yang telah menemui ajal karena telah tewas dalam pertempuran.
"Terima kasih pendekar, kami tidak menyangka hari ini kami telah kembali seperti manusia seutuhnya, setelah kesadaran kami kembali."
Suro menganggukan kepala sambil tersenyum. Pendekar Zhang dan para pendekar yang selamat dalam pertempuran segera menyambut mereka. Karena sebagian para pendekar yang disadarkan itu adalah anggota perguruan yang mereka kenal.
"Kami akan menuntut balas kepada Perguruan Seribu Hantu!" Pendekar Zhang berbicara ke arah Suro yang berada didepan ketua Yin Hua.
"Aku juga akan menuntut balas atas apa yang mereka lakukan kepadaku sebelumnya." sahut Dewa Rencong.
Dia bersama Dewi Anggini ikut bergabung dengan para pendekar yang dipimpin Pendekar Zhang.
"Itu urusan kalian dengan mereka bukan denganku, maupun dengan muridku," Dewa Obat yang menjawab ucapan Pendekar Zhang. Suro memilih diam sambil menggaruk-garuk wajahnya.
"Bukankah kalian sebelumnya telah menjamin keselamatan kami?" Pandangan mata Ketua Yin Hua nanar ke arah Suro dan Dewa Obat menunggu jawaban dari mereka.
Ketua Yin Hua segera bersiap bersama sisa anggota perguruannya. Para pendekar yang sebelumnya menjadi korban mereka telah bersiap menuntut balas atas perlakuan yang mereka terima selama bertahun-tahun sebagai boneka hidup anggota Perguruan Seribu Hantu.
"Tuan guru hanya menjamin dia tidak menurunkan tangannya kepada kalian, tetapi apa yang telah kalian lakukan kepada paman Maung, paman Zhang dan yang lain, maka itu adalah akibat yang harus kalian terima." Kali ini Suro yang menjawab pertanyaan Ketua Yin Hua.
Ketua Yin Hua mendengus kesal, setelah menjalani ritual untuk menyadarkan seluruh pendekar tenaga dalamnya belum pulih sempurna. Apalagi dia juga baru saja melewati pertempuran melelahkan.
Akhirnya pertempuran para pendekar melawan Perguruan Seribu Hantu tidak terelakkan. Pasukan kekaisaran yang hendak membantu dicegah oleh Dewa Obat.
"Kalian tidak perlu masuk dalam gelanggang, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan urusan mereka."
Pertempuran akhirnya selesai, Perguruan Seribu Hantu tanpa pasukan boneka mereka dapat dikalahkan dengan mudah.
"Mereka menuai apa yang telah mereka tanam. Jika bukan karena yang mulia kaisar, sudah lama aku hendak menghancurkan perguruam mereka." Jendral Yuwen Huaji menatap akhir pertarungan yang akhirnya dimenangkan pasukan yang dipimpin Pendekar Zhang.
**
"Sesuai janjiku aku telah membantu mengalahkan serangan pasukan Kerajaan Goguryeo dan juga Khan Langit. Mengenai hal lain aku tidak ikut campur. Urusanku di negeri ini telah aku anggap selesai."
Semua mata memandang Suro yang berbicara kepada seluruh punggawa Kekaisaran di benteng He Bei. Dia hendak berpamitan untuk kembali ke Yawadwipa. Diantara mereka terlihat Jendral Zhou dari wilayah Shaanxi yang telah pulih dari lukanya.
"Kami harus segera kembali ke Yawadwipa, karena sisa pasukan Elang Langit ternyata telah menuju kesana bersama sebuah pusaka terkutuk. Kami harus mencegahnya sedini mungkin sebelum terjadi malapetaka."
"Aku akan ikut pergi ke Yawadwipa," sela Dewa Obat.
"Dengan senang hati, jika tuan guru mau ikut dalam perjalanan kami," Suro tersenyum lebar mendengar ucapan Dewa Obat barusan.
Setelah berbasa basi Suro dan yang lainnya lalu menghilang masuk ke dalam Gerbang gaib yang dikerahkan Geho Sama.