SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
PERTARUNGAN TAHAP FINAL part3



Setelah meninggalnya guru dari Azura yaitu tetua Giling Wojo, maka otomatis dia sampai saat ini tidak memiliki guru. Tetapi dari gurunya Tetua Giling Wojo dia telah mendapatkan banyak ilmu. Termasuk kekuatan jiwa yang telah dia miliki. Mungkin dari sekian peserta hanya dirinya yang telah belajar kekuatan jiwa sampai tingkat yang sebegitu tinggi. Hal itu diperlihatkan dalam pertarungan dirinya melawan Narashoma.


Dengan ilmu panglimunan itu secara jelas dirinya telah belajar kekuatan jiwa di tingkatan yang belum mampu diraih para peserta lain. Karena dasar dari ilmu itu bersumber pada kekuatan jiwa yang sudah begitu kuat. Entah seberapa tinggi tingkat yang telah dia capai, yang jelas dengan penguasaan ilmu panglimunan sudah memperlihatkan kekuatan jiwanya yang tinggi. Tetapi sejauh apa dia telah mencapainya, sampai saat ini belum ada yang mengetahui. Karena dia tidak memperlihatkan kekuatan jiwanya lebih dari itu.


Mungkin dari itu juga Tetua La Patiganna tertarik ingin mengangkat Azura menjadi muridnya. Tetapi jangan mengira dengan ketertarikannya itu akan mengendorkan serangan yang dia buat. Justru serangannya semakin mengerikan.


Kilasan bayangan wujud Azura yang bertambah banyak, serentak menerjang seluruhnya ke arah Tetua La Patiganna. Tanpa mengerakkan satu langkahpun, tetua itu sudah mampu mematahkan seluruh serangan Azura. Dengan hanya menebaskan bilah pedangnya diiringi pedang angin yang ikut menerjang ke arah seluruh kilasan bayangan Azura.


Sepertinya ada rasa kesal tergambar diwajah tetua La Patigana. Dia menatap ke arah Azura yang sebelumnya terlempar, hampir satu tombak saat menahan terjangan pedang angin miliknya.


"Bagaimana dirimu akan menjadi pendekar pedang anak muda, kalau yang kau andalkan hanya kekuatan jiwa itu! Apakah gurumu Tetua Giling Wojo hanya mewariskan ilmu mainan ini?"


"Tempatkan segala sesuatu pada tempatnya, kekuatan jiwa itu hanya sebagai pendukung ilmu pedang! Ingat sebagai pendukung bukan yang utama!"


"Baik tetua!" Azura kembali berdiri, dia masih bisa merasakan bekas hentakan keras dari tebasan pedang angin tetua yang terpaksa dia tahan.


"Aku tidak tau gurumu atau dirimu sendiri yang salah memprioritaskan dalam mempelajari ilmu kanuragan. Kalau memang kekuatan jiwa yang menentukan kekuatan seorang pendekar, tentu Dewa Rencong yang akan menempati posisi Pendekar terkuat, bukan Eyang Sindurogo. Karena diantara kami disini, dialah yang telah mencapai tingkat kekuatan jiwa tertinggi, melewati yang lain."


"Kalau tidak, gurumu juga tidak akan bakal meminta bantuan Dewa Pedang untuk menghadapi pasukan elit golongan hitam. Karena kekuatan jiwanya juga lebih kuat dari pada diriku."


"Karena itu jangan perlihatkan ilmu itu untuk menghadapiku, anak muda!"


"Baik tetua!"


"Hemmmm!" Seiring hembusan panjang nafasnya, kekesalan yang sempat muncul mulai berkurang.


"Hadapi diriku dengan ilmu pedangmu. Tunjukan tehnik ilmu pedang bayangan yang melegenda itu!"


"Baik Tetua!"


"Silahkan nakmas mulai menyerang!"


Mendengar siraman rohani dari tetua yang berbicara dengan mata melotot membuat Azura hanya bisa menganguk dan mengiyakan semua perkataannya. Tetapi dia menyadari apa yang dikatakan lawannya adalah bentuk nasehat yang baik untuk perkembangan ilmu pedang miliknya.


Setelah mendapatkan perintah untuk memulai serangan lagi, Azura mengangguk sebelum kembali mulai menyerang. Tetapi kali ini dia melakukan serangan sesuai dengan apa yang telah tetua La Patiganna perintahkan. Karena kini serangan yang dia lancarkan merupakan murni tehnik ilmu pedang bayangan tanpa menggunakan tehnik sihir yang diperlihatkan sejak babak awal.


Pedang bayangan adalah tehnik ilmu pedang yang mengandalkan kecepatan dalam setiap tebasan pedangnya. Sebegitu cepatnya tebasan pedangnya sehingga membuat jurus ini disebut pedang bayangan. Hanya saja ada kekurangan dalam tehnik ini, yaitu diperlukannya asupan tenaga dalam yang begitu besar. Sehingga tidak bisa digunakan secara terus menerus kecuali tenaga dalamnya seperti air bah yang tak mudah terkuras.


Itulah mengapa dari babak awal Azura yang sempat mengunakannya terlihat seperti kehabisan tenaga. Makanya dia kebanyakan memilih mengunakan kekuatan jiwa dan tehnik sihir miliknya untuk melakukan serangannya . Hal itu dia lakukan agar tidak terlalu menguras tenaga dalamnya. Seperti yang dia lakukan pada babak kedua, tehnik itu hanya terlihat sekilas digunakan. Di saat akhir-akhir pertarungannya dengan Narashoma. Dengan tehnik itu akhirnya dia mampu melumpuhkan musuhnya yang bersikeras tidak mau menyerah.


"Jurus pertama melepas bayangan iblis!"


Lesatan tubuh Azura menandai digelarnya jurus pedang bayangan yang melegenda itu. Para pesilat sangat penasaran dengan jurus pedang bayangan yang murni tanpa tehnik sihir. Hampir mereka semua pernah mendengar jurus ini. Ilmu pedang yang pernah mengetarkan dunia persilatan. Hal itu tak lepas dari cerita yang telah menyebar, karena jurus itu begitu ditakuti para perampok, penyamun dan juga pihak dari golongan hitam. Meski tak sehebat jurus Dewa Pedang tetapi keunikan dan kecepatan jurus itu bisa disetarakan dengan ilmu pedang kelas wahid.


Segera dua bilah pedang Azura mengempur kearah tetua yang justru terlihat tersenyum.


Trang! Trang!


Gerakan yang dilakukan Azura begitu cepat seperti kilat. Kedua bilah pedangnya menebas bergantian seperti gempuran berpuluh-puluh orang.


"Aku menyukai semangatmu anak muda!" Tetua La Patiganna tersenyum puas melihat serangan yang dilancarkan Azura.


Jurus pertama melepas bayangan iblis memiliki keunikan tersendiri selain kecepatan gerakan pedang yang menerjang ke arah tetua dengan ganas itu. Gerakan langkah yang dilakukan Azura bergerak seperti siluman, menyusup dengan cepat dari sudut-sudut yang tak biasa. Variasi serangan dan perubahan geraknya terlalu susah ditebak. Hal ini yang bagi lawannya akan terasa begitu menakutkan.


Jurus yang dikerahkan Azura kali ini tidak bisa dipatahkan dengan hanya menggunakan serangan sederhana seperti dua serangan sebelumnya. Pertukaran serangan semakin menghebat berjalan seiring terdengarnya suara dentingan pedang yang terus beradu dengan cepat. Serangan tehnik pedang bayangan itu lebih mengerikan dibandingkan dengan serangan bayangan untuk mengecoh lawan. Karena kecepatannya dalam bergerak dan tenaga yang menyertai setiap tebasan itu bahkan mampu menahan tebasan pedang angin milik tetua tanpa membuat tubuhnya terlempar seperti sebelumnya.


Para penonton yang menyaksikan pertarungan mereka seakan tidak diberikan kesempatan untuk bernafas. Walaupun sebagian penonton sudah tak mampu lagi mengikuti gerakan mereka. Karena begitu cepatnya gerakan mereka berdua.


"Aku menyukai anakmuda ini sejak awal!" Tetua Tunggak semi berbicara sambil menoleh kepada tetua Eyang Kaliki.


"Benar sekali kemampuan yang dia miliki luar biasa. Meski tenaga dalam yang dia kuasai masih ditingkat tinggi tahap keempat, belum sepenuhnya mampu menopang tehnik pedang itu."


"Meskipun begitu, tehnik pedang bayangan yang sudah melegenda itu sudah dia kuasai dengan baik." Tetua Tunggak Semi kembali menegaskan keunggulan yang dimiliki Azura.


"Benar sekali tetua Tunggak Semi, aku pernah bertemu dengan tetua Giling Wojo. Dan saat melihat anak muda itu mengunakan jurus pedang bayangan, mengingatkan diriku pada kehebatan tetua yang belum lama meninggal itu."


Di tengah arena Azura menyerang tetua La Patiganna seakan tidak memberi kesempatan lawannya itu untuk bernafas. Sabetan dua bilah pedangnya silih berganti menghajarnya dengan gerakan secepat kilat.


'Sialan! Aku tidak mengira tingkatan para tetua ternyata begitu mengerikan. Pantas saja mereka bisa menjadi perwakilan Dewa Pedang dan menjadi pelindung bagi perguruan cabang. Aku yang sudah berusaha mati-matian sepertinya dihadapan para tetua ini tak lebih dari ujung kukunya.' Azura meruntuk mendengar tawa tetua yang menjadi lawannya, meski hal itu dilakukan hanya dalam hati.


Azura bergerak berputar, langkah kakinya bergerak cepat dengan kondisi badannya sedikit direbahkan menghindari tebasan pedang angin dari tetua. Pola serangannya yang berubah-ubah dengan cepat tidak menjadikan Tetua La Patiganna kesulitan. Bahkan disela-sela serangan yang bergerak seperti kilat itu senyumnya tidak lepas dari wajahnya.


"Kakang bagaimana caranya aku bisa menembus kekuatan para tetua yang begitu mengerikan? Bahkan pedang bayangan yang sudah melegenda itu bisa dihadapi dengan begitu mudahnya."


"Jangan khawatir adinda! Tehnik pedang Dewi tangan seribu milikmu lebih hebat dan tak kalah dengan pedang bayangan itu. Karena jurus itu diciptakan berdasarkan pada inti sari kitab Dewa Pedang. Keunikan jurus yang dimiliki adinda bukan hanya terletak pada kecepatanya. Tetapi terletak pada kesempurnaan penggabungan ilmu tapak tangan seribu dengan intisari ilmu pedang dari tehnik pedang dewa."


"Benarkah kakang bahwa jurusku diciptakan dari dua sumber ilmu yang berbeda? Bagaimana kakang bisa mengetahui rahasia ilmu yang aku sendiri bahkan tidak tahu?"


"Hehehe...! Sebenarnya aku hanya mengulang apa yang telah dijelaskan guruku mengenai jurus yang adinda Mahadewi kuasai itu!"


Mahadewi menganguk-anguk mendengar perkataan Suro. Dia tidak mengetahui bahwa guru yang dimaksud adalah Eyang Sindurogo yang telah menciptakan jurus tersebut. Panjang lebar Suro mencoba membagikan pengetahuannya mengenai jurus yang dimiliki Mahadewi.


"Entah mengapa setiap penjelasan yang kakang ucapkan terasa mudah dipahami sehingga dapat membuat praktek ilmu pedangku maju pesat. Seperti dalam pertarungan babak sebelumnya. Semua berkat penjelasan kakang sehingga Mahadewi mampu lolos sampai tahap ini."


"Ucapan adinda Mahadewi terlalu dibesar-besarkan mengenai diriku. Semua itu bukan berkat diriku yang hanya memberikan masukan. Tetapi semua itu berkat adinda sendiri yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata manusia pada umumnya. Sehingga dapat begitu cepat memahami dan bisa langsung mempraktekkannya dengan baik."


"Hanya saja adinda sepertinya terlalu dikuasai kemarahan sehingga menghambat perkembangan ilmu pedang adinda."


"Seperti yang telah aku katakan pencapaian tahap ilmu pedang mampu diraih tergantung dari seberapa jernih hati seseorang. Karena kekuatan yang menjadi pijakan ilmu pedang berdasarkan dari kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual berbeda dari kekuatan tenaga dalam yang bersumber dari kanda yang menjadi sumber chakra. Kekuatan spiritual bersumber dari kedalaman hati dan kejernihan yang dicapai."


Mahadewi memandang Suro dengan begitu kagum terhadap kedalaman pengetahuan yang dimiliki pemuda itu. Di awal dia tidak mengira sedikitpun, bahwa pemuda yang terlihat biasa ini memiliki keistimewaan yang sangat sukar dicari tandingannya. Baik dari segi kedalaman jiwanya, kebaikan hatinya dan kekuatannya yang begitu mengerikan, juga tentang pengetahuannya yang seakan lautan itu.


Dia justru pernah mencurigai apakah pemuda yang wajahnya terlihat lebih muda darinya itu asli atau hanya penyamaran saja. Sebab dengan kedalaman pengetahuan dan cara dia menjelaskan dengan begitu gambalang dan mudah dicerna seakan dia itu adalah pendekar yang sudah melalang buana dan telah banyak makan asam garam dunia persilatan. Seperti penjelmaan pendekar sepuh saja karena telah memiliki tingkat kebijaksanaan yang tinggi.


"Adinda apakah paham dengan apa yang telah aku jelaskan secara panjang lebar agar bisa membuka potensi terkuat dari jurus Dewi tangan seribu yang telah adinda kuasai?"


"E.. e.. iya kakang, adinda akan berusaha mencerna semua penjelasan kakang."


Mendengar jawaban Mahadewi dia tersenyum dan mengangguk pelan. Pandangan matanya kemudian diarahkan pada tengah lapangan dimana Azura sedang berusaha keras menjebol pertahanan tetua La Patiganna yang begitu kokoh. Serangannya yang begitu hebat dilayani tetua dengan menampakkan wajah yang selalu tersenyum-senyum sendiri seakan merendahkan jurusnya. Segera dia melancarkan jurus yang lebih hebat dari pada jurus pertama.


"Jurus kedua bayangan iblis membelah waktu!"


Mendengar jurus yang akan digunakan Azura untuk menyerang dirinya semakin membuat senyum Tetua La Patiganna bertambah lebar.


"Bagus nakmas aku ingin melihat jurus ini sedari dulu. Aku mendengar jurus ini begitu hebat seakan mampu menghentikan waktu! Tunjukan segera nakmas aku sudah tak sabar ingin merasakan kedahsyatan jurusmu!"


Seiring dengan kata-kata yang dilontarkan tetua La Patiganna tubuh Azura melesat cepat menerjang ke arah lawannya. Serangan kali ini berbeda dari tehnik sebelumnya. Kecepatan Azura meningkat tiga kali lipat. Karena begitu cepatnya serangan yang dilakukannya, seolah tubuhnya mampu menghilang dan muncul disisi lain.


Serangan yang begitu mengerikan itu dilayani tetua La Patiganna dengan tawanya yang keras. Tetua itu justru terlihat begitu bahagia melayani setiap serangan Azura.


Tidak ada yang banyak mengetahui tentang apa yang dirasakan dalam hati tetua itu, kecuali orang-orang yang mengetahui latar belakang diantara tetua La Patiganna dan Eyang Giling Wojo. Dia begitu terlihat begitu bahagia karena dia bisa merasakan kembali perasaannya seakan sedang melawan Eyang Giling Wojo.


Ada cerita diantara mereka berdua yang tidak banyak yang mengetahui bahwa sejak dahulu antara tetua La Patiganna dan Eyang Giling Wojo adalah rival abadi dalam artian yang positif. Itu terjadi sejak bergabungnya Perguruan Pedang Bayangan dalam Sekte Pedang Surga. Apapun yang telah dicapai Eyang Giling Wojo adalah hal yang begitu penting bagi tetua La Patiganna untuk bisa mencapainya juga. Mereka saat itu masih berumur sekitar tiga puluhan tahun. Tetapi dengan kehebatannya Eyang Giling Wojo sudah memegang jabatan seorang ketua Perguruan cabang.


Saat serangan dua bilah pedang dari arah depan menerjang dengan begitu hebat mampu di halau, sekejap itu juga tubuh Azura menghilang dan berpindah ke sisi belakang tetua.


Saat tetua sedang menangkis serangan yang datang, dalam satu waktu yang sama entah bagaimana satu serangan kembali menerjang dari arah atas. Eyang La Patiganna terkejut sebab Azura yang sedang dia tangkis masih berada didepannya. Dia menjadi ragu-ragu wujud Azura yang menyerang dari atas hanyalah trik tipuan atau bukan.


Kelengahan yang hanya sekejap itu telah membuat serangan Azura akhirnya mampu menerobos pertahanan sang tetua. Walaupun serangan itu tidak mengakibatkan luka apapun tetapi itu sudah menjadi bukti pertahanannya sudah dijebol. Satu peluang waktu itu dibuat dari kemampuan unik jurus itu yang memang memiliki kekuatan sangat misterius.


"Hahahah....! Bocah licik! Ternyata tidak jauh berbeda dari gurumu yang selalu saja punya cara untuk mengakali lawan yang lebih kuat. Selamat nakmas kamu sudah menang! Semoga nakmas mendapatkan jabatan tetua muda."


"Terima kasih tetua berkat wejangan(nasehat) tetua saya mendapatkn pencerahan baru." Kemudian dia menjura ke arah tetua itu dan ke arah Dewa Rencong yang juga terlihat tersenyum lebar seperti wajah Tetua La Patiganna, sebelum akhirnya Azura berbalik dan berjalan ke arah podium.


"Nakmas! Sesuai dengan janjiku sebelumnya, aku akan melatih nakmas agar pencapaian tahap pedang nakmas meningkat pesat!"


Azura yang baru melangkahkan kakinya buru-buru membalikkan badan dan dalam waktu seseruputan teh wajahnya menjadi kaku dan menganga lebar mulutnya. Dia begitu kaget dengan perkataan tetua La Patiganna yang seakan mimpi yang menjadi kenyataan.


"Benarkah tetua?"


"Tentu saja! Itu jika nakmas bersedia menjadi muridku!"


"Tentu saja saya bersedia tetua..tentu saja saya bersedia menjadi murid tetua! Terima kasih tetua.. terima kasih tetua!" Berkali-kali badannya menjura ke arah tetua itu.