SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 477 Bantuan Dari Wilayah Shaaxi



Jendral Xiao Long terlihat semakin kalut, disebelahnya Jendral Yuwen Shiji tak kalah kusutnya. Mereka berdua mengawasi pasukan musuh yang telah kembali mundur.


"Saat ini kita berhasil mempertahankan benteng ini. Tetapi apakah kita mampu menahan serangan musuh pada pertempuran berikutnya?" Jendral Yuwen Shiji masih tidak percaya pasukan kekaisaran berhasil mempertahankan benteng kota He Bei tempat mereka berlindung.


Dari menara pengawas tempat tertinggi yang mampu menjangkau pandangan lebih luas, mereka menyaksikan ribuan mayat pasukan kekaisaran tersebar disisi timur dan utara benteng.


Sebenarnya pasukan kekaisaran itu baru saja melewati pertempuran hebat. Sekuruh pasukan musuh juga baru bergerak mundur.


Malam sudah beranjak, tetapi para pasukan kekaisaran yang sudah dalam keadaan letih, luka masih harus menguburkan rekan-rekan mereka yang telah tewas.


Mereka tidak menunggu sampai besok, karena kemungkinan pertempuran akan kembali pecah besok pagi. Kondisi gelapnya malam tidak menghentikan kegiatan mereka. Sebab semakin lama mayat itu terbengkalai tidak dikubur hanya akan menyebarkan penyakit di seluruh penjuru benteng.


Seluruh pasukan musuh sudah mundur jauh kembali ke perkemahan mereka.


Pertempuran besar yang baru saja dilewati pasukan kekaisaran bukan hanya menghadapi serangan satu musuh.


Mereka menghadapi serangan dua kelompok musuh sekaligus, yaitu pasukan Goguryeo dan pasukan Khan Langit. Mereka juga menyerang dari dua sisi yang berbeda.


Jika pasukan Khan Langit menyerang dari sisi utara, tepatnya mereka menyerang gerbang utara. Sedangkan pasukan Kerajaan Goguryeo menyerang sisi timur, tepatnya gerbang timur.


Satu alasan kebetulan yang membuat dua pasukan itu memilih melakukan serangan dari dua arah yang berbeda. Terutama karena pasukan Goguryeo muncul dari sebelah timur He Bei. Sedangkan Khan Langit memang bergerak dari sisi utara.


Beruntung serangan yang dilakukan dua pasukan yang berbeda itu berhasil ditahan, sehingga benteng tidak jatuh ke tangan musuh. Jika itu terjadi, artinya benteng kota He Bei telah jatuh ke tangan musuh.


Meskipun gerbang benteng dapat dipertahankan, tidak berhasil dijebol musuh, namun perlu pengorbanan besar untuk melakukan itu. Sebab ribuan pasukan kekaisaran akhirnya tewas untuk mempertahankan benteng.


Kematian mereka kebanyakan karena harus berhadapan dengan musuh yang sudah berada ditingkat langit. Perbedaan tingkat kekuatan yang menjadi penyebab tewasnya prajurit kekaisaran sebegitu banyaknya.


Musuh yang sudah mencapai tingkat langit tentu rintangan berupa tembok menjulang tinggi seperti benteng kota He Bei, dapat dengan mudah mereka loncati. Dengan cara seperti itulah pasukan musuh dapat menerobos masuk ke dalam benteng.


Pada pertempuran itu Pasukan Macan Hitam berperan penting. Sebab selain para punggawa, hanya kekuatan mereka yang mampu mengimbangi pasukan musuh yang mampu melewati tingginya Benteng kota He Bei.


Berkat perlawanan mereka akhirnya sampai malam mulai muncul benteng He Bei tidak dapat direbut musuh. Meskipun dengan perlawanan yang dilakukan pasukan Macan Hitam telah menewaskan begitu banyak anggotanya.


Selain pasukan Macan Hitam maka korban kedua yang paling banyak gugur dalam pertempuran barusan adalah pasukan pemanah. Sebab pasukan itu yang banyak menjadi sasaran musuh, terutama musuh yang sudah sampai pada tingkat langit.


Setiap kali pasukan musuh berhasil meloncati tembok menjulang tinggi, maka sasaran pertama mereka adalah pasukan pemanah yang berjejer sepanjang benteng.


Tetapi memang disengaja pasukan pemanah menjadi sasaran pembantaian musuh. Sebab dengan membunuh mereka, musuh merasa telah menyelamatkan pasukan pihak mereka yang terus dihujani dengan anak panah.


Pasukan musuh yang sudah mencapai tingkat langit sebagian besar adalah mereka yang telah diperkuat dengan benih iblis.


Sebenarnya terjadinya pembantaian yang di alami para pasukan pemanah telah diantisipasi oleh Jendral Xiao Long. Dia sudah memerintahkan kolonel Xian Hua untuk menempatkan pasukan Macan Hitam ikut berjaga diatas tembok benteng.


Jendral itu berpikir, pasukan Macan Hitam mampu mencegah pembantaian para pasukan pemanah oleh serangan brutal musuh. Tetapi nyatanya banyaknya musuh yang terus berloncatan ke atas benteng tidak mampu dihadapi semua oleh pasukan Macan Hitam.


Di sebelah utara tepatnya dimana pasukan Khan Langit sedang berusaha mendobrak pintu gerbang di jaga sedemikian ketat. Bukan saja para pasukan Macan Hitam, disana juga ada beberapa punggawa ikut memastikan gerbang itu tidak akan dapat dijebol pasukan musuh.


Sebab dibagian itulah Jendral Ulagan bersama pasukannya berusaha menjebol gerbang. Segala upaya dilakukan Jendral Tian Bai untuk menggagalkan serangan musuh. Tentu mereka tidak ingin sampai gerbang benteng berhasil dijebol, sebab itu sama saja akhir dari riwayat seluruh pasukan kekaisaran yang berjuang bertahan di benteng tersebut.


Perlu kerja ekstra keras untuk membuat gerbang bagian Utara mampu bertahan. Apalagi lawan yang dihadapi salah satunya adalah pasukan yang berada dibawah kepimpinan Jendral Ulagan.


Sebab seluruh pasukan yang berada dibawah perintah jendral andalan Khan Langit itulah yang serangannya paling merepotkan. Sebab seluruh pasukan itu telah diperkuat dengan benih iblis.


Serangan anak panah biasa tidak mampu melukai mereka. Tetapi Kepala pasukan Macan Hitam kolonel Xian Hua memiliki akal cerdik, agar serangan mereka mampu membunuh pasukan musuh yang kebal dari serangan senjata tajam.


Serangan itu mengambil pengetahuan yang dimiliki kelompok Mawar Merah. Serangan yang hampir sama saat mereka berhasil menghabisi pasukan Khan Langit di Tebing Besar Yangu, yaitu serangan dengan menggunakan bahan peledak.


Tetapi alih-alih menggunakan drum-drum minyak mereka justru menggantikannya dengan sebuah bola-bola dengan ukuran bervariasi. Mulai dari ukuran sebesar kepalan tangan sampai bola berdiameter hampir satu depa.


Di dalam bola itu dicampur merata antara bubuk hitam dan bahan tertentu lainnya. Sehingga setiap bola itu akan mampu menghasilkan ledakan api yang cukup besar. Semakin besar ukuran bola yang digunakan, maka kekuatan ledakan yang dihasilkan juga semakin dahsyat.


Bahkan ledakan besar membentuk gumpalan awan api yang mencakup radius cukup luas. Dengan serangan itu dalam cakupan beberapa tombak musuh tidak ada yang mampu selamat, termasuk itu adalah pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis.


Selain itu para prajurit kekaisaran yang berjaga di atas gerbang terus menghalangi siapapun untuk tidak berani mendekat. Sebab lumpur minyak panas dari atas gerbang mereka siramkan kepada siapapun yang berani mendekat.


Serangan itu tentu begitu mengerikan. Apalagi para pemanah akan segera menghujani mereka dengan menggunakan anak panah yang ujungnya dipenuhi kobaran api.


Mereka yang tersiram lumpur minyak panas itu akan berlarian dan terbakar hidup-hidup.


Belum lagi serangan anak panah yang ujungnya bola peledak. Serangan itu juga menjadi salah satu momok menakutkan. Sebab pelaledak yang berada diujung anak panah akan membuat ledakan radius sekitar satu tombak.


Semua yang berada disekitarnya minimal terbakar oleh ledakan api. Hal mengerikan yang terjadi adalah hujan anak panah peledak. Sehingga ledakan yang terjadi akan menciptakan lautan api.


Meskipun begitu, semua serangan mengerikan itu tidak sepenuhnya mampu menghentikan pasukan yang dipimpin jendral Ulagan. Amukan Jendral Ulangan diatas tembok seperti banteng yang sedang terluka.


Meskipun dia dikepung oleh tiga orang sekaligus, amukannya tetap membuat lawan kewalahan. Karena itulah pasukan Macan Hitam yang lain ikut mengepung jagoan dari Khan Langit itu.


Meskipun segala senjata tidak mampu melukai kulit Jendral Ulagan, tetapi serangan yang berasal dari pasukan Macan Hutam berhasil melukainya.


Karena serangan itulah yang menjadi alasan pasukan musuh memilih menarik seluruh pasukannya dan mundur terlebih dahulu.


Serangan yang dilakukan pasukan Macan Hitam kepada Jendral Ulagan, adalah berupa bola-bola peledak. Karena serangan itu tubuh Jendral Ulagan beberapa kali diselimuti api akibat ledakan hebat dari bola peledak yang menghantamnya.


Tentu saja kobaran api dari ledakan yang timbul berhasil membakar tubuhnya. Meskipun begitu amukan Jendral Ulagan tidak juga berhenti. Dia semakin beringas.


Jendral Ulagan tetap berdiri dengan gagahnya tidak berhasil dirobohkan. Walaupun akhirnya dia kemudian memilih mundur bersama seluruh pasukan yang mengikutinya.


Berkat kegigihan pasukan Macan Hitam benteng itu akhirnya dapat dipertahankan. Walaupun untuk serangan berikutnya pasukan kekaisaran tidak yakin dapat mempertahankan benteng kota He Bei.


Banyaknya anggota pasukan Macan Hitam yang tewas, menjadi pukulan terberat bagi pasukan kekaisaran untuk menghadapi pertempuran berikutnya.


Banyaknya pasukan pemanah yang tewas juga menjadi pukulan terberat bagi pasukan kekaisaran. Kondisi itu semakin memperberat mereka untuk tetap mempertahankan benteng kota He Bei.


Apalagi dalam serangan itu baik pasukan Khan Langit maupun pasukan Kerajaan Goguryeo mengerahkan pasukan tambahan dari para penduduk dan tentara penjaga kota yang berhasil mereka tangkap.


Pasukan Kekaisaran tidak memiliki pilihan lain harus menghentikan gerakan mereka, sebab mereka telah kehilangan ingatan dan dikendalikan musuh.


Walaupun para anggota Perguruan Seribu Hantu tidak muncul secara terang-terangan, para punggawa kerajaan sudah mampu menebak pelaku dibalik semua itu. Sebab Jendral Xiao Long sudah mengenal ilmu sesat milik perguruan itu dengan baik.


Hubungan mereka selama satu dasawarsa lebih membuat mereka sangat akrab. Walaupun tidak mengetahui cara yang mereka gunakan dan cara menanganinya, namun mereka mampu melihat hanya dengan mata telanjang orang yang dikendalikan oleh ilmu sesat milik Perguruan Seribu Hantu.


**


"Lapor Jendral Xiao Long, disebelah selatan pasukan bantuan telah datang!" Kolonel Xian Hua memberi laporan kepada Jendral Xiao Long yang sedang berada di menara pengawas.


Laporan barusan membuat Jendral Yuwen Huaji yang berada di samping Jendral Xiao Long cukup kaget. Dia lalu berbalik arah dan mulai mengedarkan pandangannya ke arah selatan.


Sejak tadi pandangan mereka hanya tertuju ke arah Utara dan ke arah timur dimana sebelumnya serangan pasukan musuh berasal.


"Mana pasukan bantuan musuh yang kau katakan?" Jendral Yuwen Shiji menyipitkan matanya mencoba menyisir area bagian selatan yang berupa hutan dan pegunungan.


Prajurit itu menunjuk berduyun-duyun pasukan yang datang dikejauhan yang sedikit tertutup rimbun pepohonan.


"Kau yakin itu bukan pasukan musuh yang hendak menyusup?" tanya Jendral Xiao Long.


Matanya juga menatap bayangan-bayangan yang berada pada tempat yang jauh, apalagi keadaan malam mulai merayap.


"Mereka pasukan dari penjaga kota Shaanxi dan merupakan pasukan yang datang untuk membantu kita menghadapi pasukan musuh!" ucap Xian Hua meyakinkan Jendral Xiao Long.


"Bantuan yang tidak terduga, bersyukurlah kita ada harapan mampu bertahan lebih lama."


Sebenarnya Jendral Xiao Long berharap banyak kaisar Yang Guang mau mengirimkan bantuan kepada mereka setelah serangan yang berkali-kali menghantam mereka.


Pembawa pesan sudah dia kirim beberapa hari yang lalu meminta bantuan pasukan. Bahkan surat yang dikirim kepada para jendral yang melakukan ekspedisi ke daerah Cenla dan Champa tidak juga segera kembali.


Tanpa diketahui oleh kekaisaran kondisi mereka yang sedang berada di daerah Champa gagal menguasai daerah itu, justru mereka juga harus menghadapi musuh yang lain salah satunya kekuatan alam, yaitu timbulnya berbagai penyakit yang menyerang pasukan mereka. Kebanyakan mereka mati karena terserang penyakit dari gigitan nyamuk malaria.


Berbeda dengan keputusan Kaisar Yang Guang, dia sedang menghadapi dilema. Jika dia meluluskan permintaan Jendral Xiao Long, maka itu juga bukan keputusan tepat.


Louyang jika ditinggalkan pasukan dengan sebegitu banyaknya, maka tidak akan ada lagi yang menjaga kota kekaisaran. Sehingga dengan sangat terpaksa Kaisar Yang Guang menahan sisa pasukannya untuk melindungi kota kerajaan, terutama melindungi dirinya sendiri.


Pasukan Goguryeo dan pasukan Khan Langit setelah gagal menembus pertahanan pasukan kekisaran di benteng kota He Bei mereka kemudian mundur untuk menyusun rencana penyerangan berikutnya.


Apalagi memang kondisi malam sudah datang, sehingga mau tidak mau peperangan dihentikan. Tetapi kali ini Jendral Xiao Long tidak ingin kecolongan seperti kejadian di Tebing Besar Yangu.


Sudah tiga hari seluruh pasukan hampir tidak memiliki kesempatan istirahat. Mereka semua dalam kondisi kecapean karena diharuskan terus berjaga.


Karena itulah begitu mendengar musuh mendapatkan pasukan tambahan, membuat mereka seperti dipompa lagi semangatnya. Beruntung pada saat mereka sudah hampir tidak memiliki harapan mampu menahan serangan musuh esok hari, kini mereka mendapatkan kabar bagus yang membawa sedikit angin segar.


Dari kabar pasukan telik sandi memberi kabar, jika pasukan bantuan itu adalah pasukan penjaga kota Shaanxi yang dipimpin langsung Jendral Zhao.


Setelah kepulangan mereka dari Louyang, mereka terus memantau perkembangan peperangan yang dihadapi pasukan kekaisaran.


Mendengar kabar pasukan kekaisaran harus mundur jauh hingga ke kota He Bei mereka segera menyiapkan hampir seluruh pasukan penjaga kota Shaanxi. Apalagi memang kota He Bei sangat dekat dengan kota mereka, walau dipisahkan oleh pegunungan Taihang Shan.


Melalui jalan khusus disebelah selatan mereka masuk ke dalam benteng kota He Bei. Kedatangan pasukan itu membuat semangat pasukan kekaisaran yang terus bertahan kembali terbakar.