SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 266 Wajah Yang Merepotkan



Suro yang mendapatkan hadiah emas akhirnya diberikan kepada Perguruan Pedang Bayangan yang hancur lebur. Dengan hadiah itu, maka perguruan Pedang Bayangan tidak akan kebingungan untuk membangun kembali perguruannya lebih megah dari pada sebelumnya.


Suro setelah menyerahkan emas kepada Dewa Pedang dia kemudian mengikuti eyang Sindurogo pergi ke rumah tetua Dewi Anggini. Di sana Suro berupaya ramah menyapa Mahadewi terlebih dahulu, namun dara itu justru melengos meninggalkan dirinya yang akhirnya hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.


Suro kemudian bersama gurunya sendiri mencoba membedah kitab Ajian Nyalin Cangkang. Suro dibiarkan oleh gurunya membaca sampai selesai isi kitab tersebut.


"Eyang setelah membaca kitab ini, Suro baru mengetahui mengapa pasukan kegelapan banyak menangkap manusia hidup. Ternyata itu ada kaitannya dengan tumbal yang diperlukan untuk upacara penyempurnaan ilmu hitam, salah satunya ilmu ini. Tentunya mereka selain dijadikan tumbal mereka juga dirubah menjadi bagian dari pasukan kegelapan.


"Benar mengenai hal itu. Karena itulah eyang membumi hanguskan dan memusnahkan kitab-kitab untuk praktik sesat Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan."


"Bagaimana apakah angger menemukan sesuatu kelemahan dari Ajian Nyalin Cangkang?"


"Seperti halnya eyang, Suro juga tidak menemukan kelemahannya. Tetapi jika kita mampu menemukan dimana tubuh cadangannya, maka kita akan berhasil membunuh dua makhluk itu. Sebab jiwanya tidak dapat memasuki tubuh cadangannya kembali."


"Benar juga apa yang kamu katakan le. Tapi yang menjadi pertanyaan dimana dua makhluk itu menyimpan tubuh cadangan?"


"Mungkin di dunia kegelapan kita dapat menemukannya eyang?"


"Berarti kita akan memasuki alam kegelapan itu lagi?"


Eyang Sindurogo terlihat sedikit terganggu mendengar rencana Suro hendak masuk ke dalam alam kegelapan. Kejadian dirinya terjebak agaknya membekas dalam dirinya.


"Benar eyang."


"Kecuali eyang punya cara lain."


"Pilihan untuk menuju tempat itu, agaknya akan menjadi pilihan terakhir. Karena kita juga tidak mengetahui dimana tubuh cadangannya disimpan. Alam itu terlalu luas, bukan?"


"Benar eyang, seperti juga bumi ini. Keberadaan makhluk kegelapan di alam itu juga tak terhitung jumlahnya. Memang sangat beresiko jika kita memasuki alam itu."


"Suro akan mencoba menelaah kembali ajian Nyalin Cangkang ini, eyang. Tetapi Suro akui jika tidak bisa menjanjikan apapun, jika Suro akan menemukan kelemahan dari ilmu ini, apalagi ilmu ini sangatlah sesat. Entah berapa ribu manusia yang telah menjadi tumbal untuk menyempurnakan ilmu sesat ini?"


"Benar ilmu ini telah disempurnakan oleh Batara Karang dalam kurun waktu yang memerlukan ratusan tahun. Kemungkinan dia melakukannya setelah kabur dari Yawadwipa."


"Suro sebelumnya sempat mengusulkan kepada paman guru, yaitu Dewa Pedang, mengenai penyatuan kekuatan aliran putih di ketiga benua agar mampu mencegah kebangkitan Dewa Kegelapan. Bukankah wilayah mereka mendapatkan serangan dari pasukan kegelapan juga, eyang?"


"Benar, namun tidak semudah itu ngger. Didalam tubuh aliran putih sekalipun banyak orang yang rakus. Mereka bergerak dengan hanya melihat untung dan rugi bagi pribadi maupun kelompok mereka. Jadi tidak semudah itu menyatukan seluruh aliran putih."


"Namun usul itu memang bagus. Sebab itulah eyang juga mengusulkan hal itu kepada adimas Dewa Pedang. Apalagi aliansi terbesar aliran putih di Benua Timur ini dipegang atas nama perguruannya. Jadi seharusnya nama perguruannya dapat menarik seluruh aliansi miliknya untuk mendorong, agar aliansi aliran putih di ketiga benua dapat dibentuk."


Murid dan guru itu terus mendiskusikan mengenai cara mengalahkan pasukan kegelapan, setelah tidak berhasil menemukan titik kelemahan dari Ajian Nyalin Cangkang. Meskipun begitu mereka tidak menyerah untuk terus mencari cara lain yang memungkinkan mereka dapat membunuh Batara Antaga dan juga Batara Karang.


"Bagaimana dengan manusia bertanduk yang sering kita temukan diantara pasukan kegelapan, eyang? Siapakah sebenarnya mereka semua itu eyang? Aku masih merasakan jika mereka masih manusia."


"Dengan melihat kejadian saat pertempuran kita di puncak putih tiga saudara spiritual, eyang mengenali sebagian dari mereka merupakan anggota perguruan aliran hitam di benua barat, yaitu Perguruan Pemuja Dewa kegelapan. Jadi eyang menyimpulkan kemungkinan mereka adalah orang-orang dari aliran hitam yang sengaja mengabdikan dirinya kepada Dewa Kegelapan, demi sebuah kekuatan yang akan mereka dapat dengan cepat."


"Dan itu memang terbukti dalam pertempuran eyang ditemani Geho sama di Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan. Karena waktu itu eyang memang menyaksikan sendiri, jika sebagian dari mereka memang telah berubah menjadi bagian dari pasukan kegelapan. Hal itu mudah dipastikan dengan mengenali keberadaan mereka yang telah memiliki tanduk didahinya."


"Pertempuran di Perguruan Pedang Bayangan yang belum lama terjadi, tiga manusia bertanduk yang dihadapi Dewa Pedang dan juga Dewa Rencong, menurut eyang salah satunya berasal dari Perguruan Sembilan Selaksa Racun yang berada di negeri Champa."


Mendengar negeri Champa Suro langsung tersenyum. Agaknya dia punya solusi atas nawala yang harus dia tulis untuk memberi balasan atas nawala putri Dwarawati.


"Bagaimana kekuatan perguruan aliran hitam itu eyang?"


"Apa yang akan kau rencanakan ngger?"


"Suro ingin bertandang ke perguruan aliran hitam itu. Sebab Suro curiga jika perguruan itu memiliki andil dalam penyerangan pasukan kegelapan di Kerajaan Champa. Apakah eyang setuju dengan usul Suro barusan?"


"Apa kau tau resiko yang harus di hadapi, jika berhadapan dengan perguruan racun terkuat di Benua Timur ini le?"


"Kita hadapi ilmu racun mereka dengan racun yang berasal dari kitab dewa racun, eyang. Selain itu Tapak Selaksa Dewa Racun yang telah aku kuasai, seharusnya dapat mengimbangi ilmu racun mereka."


"Dirimu sepertinya belum memahami mengapa perguruan itu begitu ditakuti. Perguruan itu memiliki nama sembilan selaksa racun, karena mereka terdiri dari sembilan faksi racun yang sangat kuat."


"Bisa kamu bayangkan jika satu faksi itu dipimpin oleh orang-orang yang setingkat dengan Dukun Sesat dari Daha, sekuat apa perguruan itu? Apalagi setiap faksi dibelakangnya ada makhluk mengerikan yang akan susah dibinasakan."


"Sekuat apapun itu, buktinya perguruan milik Batara karang saja telah eyang jadikan rata dengan tanah. Jadi mengapa ragu eyang?"


Eyang Sindurogo terkekeh mendengar ucapan Suro.


"Ternyata dirimu sudah lebih dewasa, kuat dan tidak lagi mengenal takut. Jika itu kemauanmu eyang akan mendukungmu. Apalagi pesan pak tua, eyang harus membantumu. Hahaha...!"


Setelah pertemuannya dengan gurunya dia bergegas pergi untuk bertemu dengan utusan kerajaan Champa. Entah apa yang dia tulis dalam nawala yang diberikan Suro kepada utusan kerajaan Champa untuk putri Dawarawati. Satu nawala juga dituliskan oleh Suro untuk diberikan kepada raja kerajaan Champa.


Rencana penyerangan Perguruan Sembilan Selaksa Racun disusun dengan matang. Demi menghindari nama Perguruan Pedang Surga maka Dewa Pedang tidak ikut, tetapi hanya akan diikuti oleh Dewa Rencong, Geho sama, eyang Sindurogo dan juga Suro. Mereka akan mendatangi perguruan itu dalam jumlah kecil demi menghindari korban yang tidak diperlukan.


Namun sebelum mereka melakukan itu mereka mempersiapkan banyak hal. Salah satunya adalah meminta pendapat kepada ketua Perguruan Racun Neraka yang baru, yaitu Tohjaya.


Suro kemudian pergi ke daerah Daha untuk meminta pendapat tentang ilmu racun yang dimiliki Perguruan Sembilan Selaksa Racun.


Sekejap dirinya telah muncul digerbang Perguruan Racun Neraka yang sekarang terlihat berbeda. Salah satunya adalah adanya bendera Aliansi besar perguruan Pedang Surga.


Penjaga gerbang menahan Suro dan mulai menanyakan identitas Suro. Mereka tidak lagi mengenali Suro dengan wajahnya yang sekarang.


"Maaf kisanak ada urusan apa datang ke perguruan kami?"


"Aku ingin bertemu paman Tohjaya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannnya."


"Paman Tohjaya? Apa yang kau katakan kisanak. Nama yang kisanak sebutkan adalah nama ketua perguruan kami."


Mendengar ucapan Suro para penjaga gerbang perguruan segera waspada sebab gerak-gerik Suro, bagi mereka sangat mencurigakan.


"Memang benar mengenai hal itu. Aku memang ingin bertemu ketua perguruan kalian. Jika kalian tidak mengenaliku, semoga saja kalian mengenali sesosok ini."


"Maung! Maung!"


Suro berteriak beberapa kali untuk memanggil harimau bertaring pedang yang sengaja diajak pergi oleh Suro. Dia sudah mengantisipasi kejadian seperti sekarang ini. Semua itu disebabkan oleh perbedaan wajahnya yang jauh berbeda dari sebelumnya yang berkulit hitam kini menjadi putih bersih.


Goooarrrrgggh! Grrrrrrhhhhhh!


Maung semakin mendekat ke arah gerbang yang membuat para penjaga menggigil ketakutan.


"Mungkin kalian baru diperguruan ini. Karena itu sampaikan saja salamku kepada paman Tohjaya, jika Suro datang hendak bertemu dengannya. Aku akan tetap menunggu diluar pintu gerbang. Jangan khawatir aku tidak ada niat buruk."


Melihat Suro tidak bergerak dari tempatnya, salah satu dari penjaga segera berlari masuk ke dalam perguruan.


Tidak beberapa lama kemudian penjaga itu datang kembali. Kali ini dia tidak datang sendiri, tetapi dia telah bersama beberapa tetua ikut berjalan beriringan dengannya.


"Nakmas apa ada yang bisa kami bantu?"


Para tetua itu mulai menatap Suro dengan tatapan menyelidiki. Tatapan mereka bergerak dari atas kebawah lalu ke atas kembali mencoba mencari tau sesuatu yang sedang mereka pastikan.


"Suro hendak bertemu dengan paman Tohjaya. Karena ada hal penting yang ingin Suro bicarakan dengannya. Sudikah para tetua memberitahukan hal ini kepada paman Tohjaya?"


"Kami melihat harimau taring pedang yang sangat langka ini memang mirip dengan harimau peliharaan nakmas Suro, tetapi..?"


Mendengar perkataan para tetua Suro segera mengetahui jika mereka tidak mempercayai ucapannya jika dirinya adalah Suro.


"Mengenai wajahku ini, bukan? Memang terjadi sesuatu hal yang membuat diriku semakin tampan, namun percayalah jika ini diriku yang tetap sama yaitu Suro yang sebelumnya menghancurkan perguruan kalian, karena hal sepele seperti ini."


"Jadi, Suro mohon agar kalian tidak mencoba menyerangku. Jika kalian ingin bukti, baiklah aku memperlihatkan kepada kalian Kitab Dewa Racun yang sebelumnya menjadi milik perguruan kalian."


Suro kemudian memperlihatkan sebuah kitab dari balik pakaiannya.


"Apakah kalian mengenali ini?"


Mereka semua terlihat ragu meskipun para tetua itu ada yang sebagian mengenali kitab tersebut terlihat seperti yang mereka ingat.


"Maafkan kami nakmas, tetapi sebagian dari kami tidak pernah melihat ataupun tidak memegang kitab yang sebelumnya menjadi milik Dukun Sesat dari Daha itu. Karena hanya dia yang diperkenankan memegang kitab tersebut. Kecuali hanya dirinya."


"Baiklah lalu apakah aku perlihatkan kepada kalian jurus Selaksa Dewa Racun yang menjadi kebanggaan perguruan kalian?"


Mendengar ucapan Suro barusan mereka segera meloncat mundur menjauh dari Suro.


"Ayolah, aku hanya ingin bertemu dengan paman Tohjaya? Mengapa kalian itu susah sekali diajak berbicara?"


"Katakan kepada paman Tohjaya, jika Suro dari Perguruan Pedang Surga datang untuk bertemu dengannya."


Akhirnya Suro memilih duduk bersila didepan gerbang, membuat mereka berpandangan mata. Dia justru mulai bersamadhi tangannya segera membentuk sebuah mudra.


Para tetua itu mulai menggaruk-garukkan kepala melihat Suro bersemadhi ditemani seekor harimau bertaring pedang disampingnya. Akhirnya mereka menuruti permintaan Suro memanggil ketua mereka, yaitu Tohjaya