
"Pusatkan serangan kepada pemuda itu, jika kita berhasil membunuhnya, aku yakin Dewa Obat dan satu rekannya yang memiliki sayap itu bukan masalah lagi bagi kita!" Ketua Lam Thian menjelaskan rencana yang dia buat sambil melesat turun bersama yang lain.
"Gunakan serangan racun terkuat kalian, jangan biarkan mereka mati menyisahkan jasad!" Kembali ketua Lam Thian melanjutkan ucapannya.
Wakil ketua Hong Shan dan beberapa tetua menganggukkan kepala mendengar perintah ketua perguruannya.
"Aku akan menghadapi makhluk bersayap itu, agar pasukan yang lain memiliki peluang menyerang Dewa Obat," Yon Suzaku ikut berbicara.
Perkataan Yon Suzaku dibalas anggukan oleh ketua Lam Thian.
"Biarkan aku yang membunuh Dewa Obat, karena adikku Hong Dong telah dibunuh olehnya!" Wakil ketua Hong Shan mengutarakan niatnya setelah mendengar penjelasan ketua Lam Thian.
Dia merasa mendapatkan peluang untuk menghabisi Dewa Obat, setelah mendengar keinginan Yon Suzaku. Meskipun ucapan Dewa Obat belum terbukti kebenarannya, tetapi itu sudah membuat dirinya murka mendengar adiknya Hong Dong disebut telah dihabisi.
Pertarungan yang terjadi di tengah kota He Bei cukup jauh. Sehingga tidak mungkin kabar itu bisa sampai ke telinga mereka secepatnya.
Mereka melesat sambil terus menghindar dan menangkis anak panah chakra yang dilesatkan oleh Dewa Obat. Mereka menyadari anak panah chakra yang melesat ke arah mereka berkurang kekuatannya.
Mereka segera membuat kesimpulan, jika Dewa Obat mulai kehabisan tenaga dalam. Mengingat sejak awal pertarungan hujan anak panah chakra tidak berhenti. Melihat kondisi itu mereka semakin bersemangat untuk menghabisi lawan.
**
"Hong Dong itu memiliki jurus katak beracun yang mematikan hati-hati!" Dewa Obat mencoba memperingatkan Suro yang kini bergerak menghadang musuh kuat yang mulai mendekat.
"Beruntung ada kalian berdua, memang tidak salah aku tidak jadi menghabisimu Geho sama, kali ini aku berhutang budi padamu," ujar Dewa Obat sambil meraih sebotol kaca yang dia simpan dibalik bajunya.
Geho sama hanya mendengus sedikit kesal mengingat dia dihajar habis-habisan oleh Dewa Obat. Tetapi kini dia justru melindungi lelaki tua itu sekuat yang mampu dia lakukan.
Semua itu dia lakukan atas perintah Suro, agar Dewa Obat jangan sampai celaka. Sebab dia tertarik ingin mendapatkan astra atau senjata gaib dari Dewa Obat.
Dia mengetahui, jika senjata gaib itu merupakan tiruan dari senjata para dewa yang asli. Kekuatannya juga hanya beberapa persen dari kekuatan senjata dewa yang asli.
Sebab untuk mengeluarkan kekuatan puncak para Astra itu harus memiliki kekuatan setara para dewa. Tetapi Astra yang diperlihatkan oleh Dewa Obat adalah sesuatu yang sangat menarik hatinya.
Karena demi itu Geho Sama melupakan kekesalannya kepada Dewa Obat atas kejadian sebelumnya. Walaupun dalam sikapnya Geho Sama selalu memaki-maki sesuka mulutnya, tetapi makhluk itu selalu mematuhi ucapan Suro dengan caranya sendiri.
Seperti yang dia lakukan saat ini,Geho Sama tidak mengeluh sama sekali saat diberikan tugas melindungi Dewa Obat dan terus berusaha membuat musuh tidak bisa mendekatinya. Kali ini untuk mengusir musuh dia menggunakan Pusaka Taru Braja yang berupa kipas besar.
Pengerahan pusaka itu tidak ubahnya seperti penggunaan Gandewa Sang Barghawa. Sebab memerlukan penyaluran chakra besar untuk membuat setiap serangannya.
Kondisi itu membuat Geho sama semakin lama semakin terkuras tenaga dalamnya. Tetapi wajahnya berubah ceria begitu mendengar perkataan Dewa Obat.
"Kau tau Geho sama, mengapa aku begitu ditakuti dalam dunia persilatan selain para astra senjata gaib milikku? Semua itu berkat pill ini. Aku namakan pill ini tujuh nirwana." Dewa Obat lalu menelan pill yang ada ditangannya.
"Pill ini membuat tubuhku terus penuh bertenaga, seperti tidak pernah ada habisnya." Dewa Obat lalu menghembuskan nafas panjang menandai semua khasiat pill itu telah berhasil terserap dengan baik.
Seperti juga pill tujuh bidadari, khasiat pill itu dapat memulihkan kekuatan penggunanya. Kekuatannya dua tingkat dibawah Sharkara Deva.
Namun sepuluh kali lipat lebih kuat dibandingkan pill tujuh bidadari. Selain itu keunggulan yang dimiliki pill tersebut mudah diserap, sehingga tidak membutuhkan waktu lama tubuh akan kembali bertenaga seperti dalam kondisi puncak.
Dewa Obat menunjukkan kepada Geho Sama yang hanya melihat sekilas sebelum kembali berjibaku menyerang lawan yang kembali mencoba mendekat.
Mendengar ucapan Dewa Obat yang memiliki pill pemulih tenaga yang luar biasa, wajah Geho sama kembali bersemangat. Sejak pertarungannya melawan Dewa Obat dia lupa meminta persediaan pill kepada Suro.
Dewa Obat segera memahami jika Geho Sama tertarik ingin mencobanya. Tanpa diminta dia kemudian melemparkan satu butir pill ke arah Geho sama.
"Gunakan itu, pertempuran yang sebenarnya baru saja akan dimulai." Dewa Obat tersenyum lebar ke arah Geho sama.
Dia lalu kembali merentangkan gandewa Wijaya miliknya. Sesaat kemudian setelah terlepas dari busurnya, anak panah itu menggandakan diri menjadi sedemikian banyak jumlahnya.
"Kalian akan aku lenyapkan dengan Brahmastraku!" Teriakan Dewa Obat membuat geger pasukan yang mengepung mereka.
Sebab senjata Astra itu pernah menghancurkan Perguruan mereka saat Dewa Obat menyerang diwaktu lampau. Mereka bergerak mundur ketakutan menyadari bahaya yang dapat diakibatkan senjata Brahmastra.
**
"Gawat, setan tua itu kembali hendak menghancurkan perguruan kita!" Ketua Lam Thian mempercepat lesatan tubuhnya.
"Wakil ketua Hong Shan serang setan tua itu, biar aku bersama para tetua menyerang pemuda belia itu!" Ketua Lam Thian bergerak bersama para tetua menuju ke arah Suro.
Wakil ketua Hong Shan menganggukkan kepala mendengar perintah ketuanya.
"Tapak Katak Neraka!"
Bersama teriakan wakil ketua Hong Shan dia segera memulai serangannya ke arah Dewa Obat yang sedang menarik busurnya. Tapak Katak Neraka yang dikerahkan wakil ketua Hong Shan bergulung-gulung menghantam ke arah musuh.
Asap beracun yang membentuk telapak tangan itu begitu mematikan, bahkan anggota perguruan yang tersambar tubuhnya langsung ambruk terkena racun yang terkandung.
Wakil ketua Hong Shan cukup percaya diri mampu membunuh Dewa Obat, sebab kini tidak ada lagi yang melindungi pertapa tua itu.
Geho Sama yang sebelumnya selalu melindungi Dewa Obat harus berjibaku dengan lawan kuat yang baru datang, yaitu Yon Suzaku. Tetapi demi melihat serangan yang akan mengancam jiwa Dewa Obat, maka Geho Sama tidak membiarkan hal itu terjadi.
Senyum wakil ketua Hong Shan yang mulai mengembang segera lenyap seketika, saat Geho Sama memanggil salah satu dari sembilan tubuh ilusinya.
Tubuh ilusi yang dia panggil merupakan penguasa unsur racun, sehingga saat muncul dia langsung menghadang tapak katak neraka tanpa ada rasa takut.
Tubuh ilusi milik Geho sama itu lalu mulai mengerahkan tehnik empat Sage.
Semua asap hitam yang bergulung-gulung hendak menghantam Dewa Obat terhenti. Sebab asap itu berbelok dan berputar mengikuti pusaran angin yang berada disekitar tubuh ilusi milik Geho Sama.
Setelah itu semua asap amblas dihisap olehnya. Wakil ketua Hong Shan terkejut melihat kejadian itu. Sepanjang hidupnya baru kali ini ada orang yang waras menghadang dan menyerap serangan miliknya secara langsung.
Sebab bagi orang dengan kekuatan yang berada tingkat shakti kebawah terkena jurusnya akan mati seketika. Seorang dengan kekuatan tingkat surga sekalipun seperti Dewa Obat tidak akan berani menghadapinya secara langsung.
Tetapi kini tubuh ilusi Geho Sama tanpa rasa takut dan berpikir panjang langsung menyerap jurusnya lenyap tanpa sisa.
Tentu saja Hong Shan tidak akan mengetahui sihir kuno itu. Tetapi Yon Suzaku terkejut melihatnya, sebab sepanjang yang dia ketahui tehnik rahasia itu milik kepala suku mereka, yaitu Karuru.
Yon Suzaku sebenarnya sempat ragu meneruskan pertarungannya dengan Geho Sama, tetapi dia harus membuka peluang bagi wakil ketua Hong Shan agar dapat membunuh Dewa Obat. Jika tidak, maka kehancuran Perguruan Lembah Beracun tinggal menunggu waktu saja.
Disaat bersamaan Suro telah berhadapan dengan ketua Lam Thian dan juga beberapa tetua.
"Enam Belas Pukulan Neraka!"
Teriakan Lam Thian ketua perguruan Lembah Beracun memulai serangan ganasnya.
Ledakan tenaga dalam milik ketua Lam Thian itu juga dilambari racun kuat. Terlihat dengan jelas jurus mematikan itu menerjang ke arah Suro secara berturut-turut.
Sebab wujud dari jurus Enam Belas Pukulan Neraka adalah lontaran bola api yang berbentuk gengaman tangan raksasa.
**
Kapan Crazy Up 20 chapter? Jika SB masuk menjadi pemenang peringat di MT dua mingguan.
Sudah cukup itu saja ditunggu dukungannya.