
Setelah debu yang berterbangan mulai menipis terlihat ditengah pusat ledakan, Suro masih dalam keadaan duduk bersila, dengan kedua matanya masih terpejam. Tampilan Suro setelah terjadi ledakan barusan, selain seluruh tubuhnya ditutupi debu, celananya kini terlihat robek disana-sini. Bajunya entah terbang kemana membuat dia bertelanjang dada.
Suro masih terdiam dalam duduknya seakan masih melanjutkan samadhinya. Seharusnya setelah ledakan itu proses samadhinya sudah selesai. Sebelum nanti kembali di teruskan untuk menembus chakra sahasrara yang belum terbuka.
Ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Dia masih saja terdiam tidak segera bangun, padahal dia sudah selesai dari samadhinya. Entah apa yang terjadi pada dirinya setelah ledakan itu.
'Perasaan apa ini? Baru kali ini aku merasakan sensasi kekuatan yang sebesar ini. Luar biasa sesuatu yang mengagumkan. Seakan kekuatan memenuhi setiap nadi dalam tubuhku.'
'Sinar matahari yang mengenai tubuhku juga terasa sangat berbeda, dibandingkan sebelum aku mampu membuka granthi terakhir. Kekuatan matahari yang meresap ke dalam tubuhku seakan air bah. Luar biasa, pantas saja paman guru waktu itu berani menjamin bahwa tehnik ini bisa membuat tenaga dalamku menjadi lebih kuat berkali-kali lipat.'
Suro ternyata sedang meresapi sensasi baru yang menjalar disekujur tubuhnya, setelah granthi terakhir mampu dia buka. Sensasi yang baru dia rasakan itu adalah kekuatan miliknya yang begitu besar. Bahkan sinar Matahari yang menerpa tubuhnya terasa sangat berbeda.
Sensasi itu membuat dia tidak segera beranjak bangun. Tubuhnya seakan bukan miliknya sendiri, karena begitu banyak perbedaan yang dia rasakan.
Setelah terbukanya granthi ketiga, kini tubuhnya telah mampu menyerap hampir sembilan puluh persen kekuatan matahari. Dengan kondisi itu semakin membuat dia merasakan seluruh tubuhnya penuh dengan kekuatan yang begitu berlimpah. Ditambah tenaga dalam yang dia himpun dari tehnik sembilan putaran langit. Membuat dia merasa memiliki tenaga yang tak dia bayangkan sebelumnya, bahkan dia sendiri seakan tidak mempercayainya. Karena begitu besarnya kekuatan yang telah dia rasakan.
Dewa Rencong terpental sejauh tiga tombak dan terhantam tiang rumah yang ikut terlempar dengan keras. Tiang yang lain tidak mau ketinggalan dan menyusul menerjang ke arah Dewa Rencong. Kemudian mendarat dengan indahnya menimpa tubuh Dewa Rencong.
"Kakang Udan Asrep! Tulang tua mu yang tidak kenal takut jika tertimpa rumah itu, apakah dalam kondisi baik-baik saja?" Dewa Rencong segera bangun sambil memanggil Eyang Udan Asrep yang masih berada dibawah reruntuhan atap . Dengan satu tangannya tiang rumah sebesar rangkulan pria dewasa diangkat oleh Dewa Rencong kemudian dilemparkannya. Semua itu dia lakukan hanya menggunakan satu tangannya.
"Tentu saja tulang tua ini tidak akan kalah dengan seseorang yang mengaku Dewa, tetapi masih takut tertimpa rumah!" Eyang Udan Asrep muncul dari tumpukan reruntuhan.
"Hahahahaha...!" Dewa Rencong tertawa lepas mendengar ucapan Eyang Udan Asrep yang menyindir dirinya karena sebelumnya beringsut menjauh menghindari dari kemungkinan runtuhan rumah, jika sewaktu-waktu ledakan energi terjadi.
"Mari kita periksa nakmas Suro apakah kondisinya baik-baik saja." Dewa Rencong lebih dahulu segera mendekati Suro yang terlihat dari jauh belum bangun dari samadhinya.
"Nakmas, nakmas, apakah kamu baik-baik saja?" Dewa Rencong mengoyang-goyang tubuh Suro, setelah memeriksa kondisi nadi dan tubuhnya dalam kondisi tidak kurang sedikitpun. Walau pakaiannya hancur robek di sana-sini.
Mata Suro mulai membuka dengan agak disipitkan karena silau sinar matahari, mengingat hampir dua puluh hari matanya terpejam. Dia segera mencoba bangun dari duduknya sambil mengkucek-kucek matanya.
Dia melihat sekeliling dimana sebelumnya berdiri sebuah rumah. Kini yang tertinggal hanya reruntuhan rumah.
"Apakah tetua baik-baik saja setelah terkena hantaman ledakan barusan?" Dia sedikit linglung melihat alam sekitar yang terlihat berbeda dari sebelum dia memulai samadhinya.
"Bocah gemblung! Seharusnya yang pantas bertanya itu aku!" Dewa Rencong melotot mendengar Suro malah ganti bertanya tentang kondisi dirinya yang terlempar begitu jauh.
Suro mendengar bentakan Dewa Rencong hanya bisa menyengir dan mengaruk-garuk kepalanya.
"Bagaimana kondisimu nakmas? Apa yang kau rasakan biar kami bisa menolongmu segera?" Eyang Udan Asrep segera membantu Suro berdiri, terlihat dia bertanya dengan penuh khawatir. Walaupun saat diperiksa kondisi nadi dan lainnya dalam kondisi baik-baik saja, tatapi melihat raut mukanya mirip mayat hidup, karena begitu pucat membuat tetua itu sedikit khawatir.
"Lapaaaaar tetua!"
"Haaa! Apa?"
"Yang dia rasakan lapar kakang." Dewa Pedang yang berdiri dibelakang Eyang Udan Asrep mengulang apa yang dikatakan Suro.
Plak!
Eyang Udan Asrep menepuk jidatnya mendengar keluhan dari Suro.
"Maksud dari perkataanku apa tubuh nakmas merasa baik-baik saja begitu mendapatkan limpahan energi yang berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan, sebelum membuka granthi terakhir?"
"Tidak ada masalah tetua semuanya mampu Suro tampung. Sekarang Suro merasa teraliri energi yang begitu kuat seakan memenuhi setiap jalur nadi didalam tubuh. Dengan kekuatan sebesar ini, seharusnya Suro sudah bisa menggunakan jurus Tapak Dewa Matahari milik Eyang Guru."
Dewa Rencong kemudian memberi pakaian pengganti untuk Suro. Setelah itu dia segera diberikan makanan berupa sup sarang walet. Kemudian setelah habis lima mangkuk penuh baru dia bisa berhenti makan.
"Bagaimana nakmas apakah sudah kenyang?"
"Sudah tetua."
"Bagus jika nakmas sudah merasa kenyang."
"Apakah latihannya langsung dilanjutkan dengan membuka chakra sahasrara, tetua?"
"Bocah gemblung! Kamu istirahat dulu pulihkan kondisi tubuhmu baru memulai lagi latihannya." Dewa Rencong yang menjawab perkataan Suro, agaknya dia mulai geram dengan ucapannya yang terdengar terlalu memaksakan diri itu.
"Nuwun inggih paman pendekar."
"Ada kabar dari Banyu Kuning yang sebaiknya nakmas mengetahuinya dari sekarang, sebelum memulai kembali latihannya nanti. Kabar ini berasal dari Ketua perguruan."
"Dewa Pedang meminta nakmas segera menyusul ke Banyu Kuning sekaligus membawa obat-obatan yang sebelumnya telah banyak dibeli oleh Dewa Pedang. Tetapi Dewa Pedang mengaris bawahi bahwa perintah itu dilaksanakan setelah nakmas menyelesaikan latihannya."
"Jika paman guru yang meminta tentu Suro akan melaksanakan perintahnya. Mengenai obat-obatan yang diminta sebaiknya akan saya tanyakan dulu kepada paman Kolo Weling. Karena dia yang mengumpulkan bahan-bahannya. Jika memang sudah ada tentu saya bisa membuatnya."
"Memang bagaimana kondisi pertempuran di Banyu Kuning paman tetua? Kenapa sampai sekarang paman guru dan seluruh pasukannya belum balik? Memang hal apa yang membuat mereka tidak segera balik? Apakah terjadi sesutu yang gawat paman?"
Pertanyaan Suro yang dirapel sekaligus membuat Eyang Udan Asrep bingung mau menjawab yang mana dulu.
"Ini mengenai musuh yang mereka hadapi, yaitu para siluman. Ternyata mereka begitu menyusahkan tidak mudah untuk menghadapinya."
Kemudian diceritakanlah semua kepada Suro tentang segala masalah yang sedang dihadapi Dewa Pedang di Banyu Kuning. Temasuk juga permintaannya kepada Suro. Tidak ada yang luput semua dijelaskan dengan gamblang.
"Seharusnya paman Kolo Weling sudah memulai membuat obat, jika menghitung waktu untuknya mengumpulkan bahan yang dibutuhkan tak lebih dari sepuluh hari. Selain itu sebelum Suro memulai latihan telah meminta mereka untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan. Kemudian setelah semua bahan sudah dikumpulkan meminta mereka untuk meracik dan membuat obat tersebut,. Suro juga akan mengunakan waktu yang ada untu memulihkan kondisi badan sebelum kembali memulai latihan. Mungkin besok atau besok lusa Suro akan memulai latihan."
Dewa Rencong hanya menganguk-anguk mendengar penjelasan Suro.
"Sebaiknya nakmas jangan lewat depan. Banyak orang gila yang menunggu nakmas untuk meminta dilatih. Agaknya mereka bukan meminta dilatih, aku curiga mereka berharap mendapatkan obat dari nakmas. Karena kabar yang aku dapat obat itu bisa meningkatkan tenaga dalam satu tahap. Apakah benar mengenai hal itu nakmas?" Dewa Rencong terlihat masih kesal dengan orang-orang yang sampai sekarang masih saja menunggu Suro keluar dari kediaman Dewa Pedang.
"Sepertinya mereka juga mendengar suara ledakan yang menandakan nakmas sudah menyelesikan tahapan membuka granthi di chakra ajna. Mereka pasti sudah mulai berjubelan didepan gerbang menunggu nakmas keluar. Paman rasa mereka berharap bisa bertemu dengan nakmas, sebelum kembali berlatih untuk menyelesaikan tahapan paling akhir yaitu membuka chakra sahasrara."
"Setelah dipikir-pikir agaknya benar perkataan adimas Dewa Rencong mereka pasti hanya menginginkan obat dari nakmas Suro. Pantas saja mereka mau menunggu ternyata demi obat dari nakmas Suro yang sangat langka itu!" Eyang Udan Asrep menambahkan ucapan Dewa Rencong, agaknya dia juga ikut kesal dengan apa yang mereka lakukan.
"Mengenai khasiat obat itu mereka tidak sepenuhnya salah paman, tepatnya obat itu ikut membantu menaikan kekuatan tenaga dalam dan jika diserap secara maksimal memang bisa membantu mempercepat naiknya tahap tenaga dalam. Apakah sebaiknya aku berikan saja obat yang mereka inginkan, paman tetua? Agar mereka segera bubar, sehingga tidak perlu paman tetua kerepotan mengurusi mereka."
"Sudah, tidak usah urusi mereka, nakmas mending pulang lewat jalan belakang. Kabarkan kepada saya jika memang sudah tersedia obat yang diminta Dewa Pedang."
"Sendiko dawuh, tetua!"
Suro segera pulang untuk bertemu Kolo weling mencoba menanyakan obat-obatan yang telah dia minta untuk disiapkan, sebelum dia memulai latihannya.
Seharusnya dalam waktu hampir dua puluh hari Kolo Weling sudah mampu membuat banyak obat yang diminta.
Kali ini Suro tidak mengunakan kuda untuk pulang, dia ingin menjajal kekuatan yang baru saja di dapatkannya. Segera setelah ilmu saifi angin miliknya digunakan, tubuhnya langsung melesat cepat menghilang dari pandangan mata kedua pendekar.
\
Suro sampai di rumahnya tak sampai seperempat seperminuman teh. (satu cangkir teh panas jika diminum dengan santai minimal membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit sampai dua puluh menit. Kecuali jika ingin mulutnya melepuh bisa diteguk semua sekaligus)Sampai didepan halaman rumah Suro tidak segera masuk.
Kepalanya justru terlihat menengok kanan-kiri beberapa kali, sambil berjalan berjinjit-jinjit seperti seorang maling jemuran takut diketahui yang empunya.
Sampai didepan pintu dia masih menoleh kanan-kiri dan sekitaran yang terlihat begitu sepi.
'Kemana paman Kolo weling kenapa sepi sekali?' Suro mengaruk-garuk kepala sambil bertanya-tanya didalam hatinya.
Kemudian dia memulai membuka pintu peeelaaan sekali sampai tidak terdengar. Setelah pintu itu terbuka sedikit segera dia menyelinap ke dalam rumah.
'Sukur tidak ada adinda Mahadewi kelihatannya? Agaknya hari ini aku selamat dari amukannya. Pasti dia akan marah besar. Mengingat selama hampir dua puluh hari, justru aku tinggal bersemadhi selama hampir dua puluh hari.' Suro mengusap-usap dadanya sambil bersyukur kepada Sang Hyang Maha Tunggal karena sudah dijauhkan dari ancaman titisan Batari Durga.
Dia begitu khawatir jika Mahadewi sudah menunggunya datang. Mengingat janjinya kepada Mahadewi yang akan melatihnya menjadi gagal. Karena saat bermeditasi justru dia begitu dalam tenggelam di lautan semesta ketenangan Nirvana.
Sebelumnya Dewa Rencong juga sempat menceritakan kepadanya, bahwa ada seorang dara dan seorang pemuda yang datang mengaku sebelumnya telah dilatih olehnya. Selain itu mereka memperkenalkan diri sebagai mantan peserta seleksi tetua muda.
Segera Suro menyadari siapa dua orang tersebut, pasti tak lain adalah Mahadewi dan Made pasek. Dia langsung teringat janjinya kepada Mahadewi yang akan mengajarinya langkah kilat. Salah satu jurus yang ada dalam tehnik meringankan tubuh ilmu saifi angin.
"Kakang!"
Tiba-tiba suara wanita terdengar dikuping Suro. Bagi orang lain suara itu terdengar pelan dan merdu, seperti suara dewi khayangan. Tetapi bagi Suro suara itu seperti petir yang menyambar pada saat musim kemarau yang panas dan kering kerontang. Intinya seperti sesuatu kejadian yang sangat mengejutkan. Suro begitu terkejut, hampir saja dia meloncat tinggi begitu suara itu terdengar olehnya.
'Mati aku!'
"Kakang!"
Suara itu kembali terdengar dari arah belakang. Dia tidak segera menoleh tetapi justru mulai berdoa didalam hatinya dengan begitu lama. Kemudian tubuhnya berputar secara pelan, pelan dan pelan.
"Eh adinda Mahadewi sudah lama tidak mendengar suara merdu adinda. Aku kira hari ini sudah malam, ternyata masih sore. Karena barusan kakang seperti melihat penampakan terang wulang (cahaya bulan) yang bersinar begitu indah. Ternyata yang bercahaya begitu indah adalah wajah adinda. Sampai kakang tidak menyadari jika barusan adalah adinda yang datang." Dengan tersenyum lebar dan pujian setinggi langit. Kata-kata yang diambil dari kitab seribu cara menaklukan wanita, salah satu kitab koleksi Dewa Pedang yang sempat dia baca.
Wujud Mahadewi yang kepalanya sudah berasap dan sebentar lagi rambutnya berubah menjadi api ditambah mukanya yang telah cemberut, secara yakin sebentar lagi titisan Batari Durga itu akan memperlihatkan wujudnya. Tetapi sangat beruntung begitu mendengar pujian dari Suro kepadanya, seakan tubuhnya disiram air salju satu gentong besar, sehingga membuat segala kemarahannya menjadi padam seketika.
Kini yang terukir di wajahnya adalah benar-benar senyum seorang bidadari yang habis dikadali orang hutan. Mengapa dikatakan orang hutan sebab muka dan badan Suro masih belepotan debu dan tanah sehingga membuat wajahnya coreng-moreng tidak berbentuk lagi.
Dia belum sempat membersihkan tubuhnya selesai ledakan energi yang mengakibatkan satu rumah hancur lebur. Karena di begitu tergesa-gesa ingin bertemu Kolo Weling. Melihat kondisi Suro yang begitu kacau membuat wujudnya menyerupai badut yang habis kecebur got.
Made Pasek yang ada dibelakang Mahadewi hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya melihat wanita secantik itu bisa dirayu dengan mudahnya. Hanya cukup dengan kata-kata rayuan gombal yang sangat tidak bermutu sama sekali.
Mereka berdua keliatan basah dengan keringat setelah sebelumnya mengejar kelebat bayangan yang begitu cepat menuju ke arah kediaman Kolo Weling. Kebetulan rumah Kolo Weling berada dipinggir kademangan. Sehingga arah yang dituju kelebat bayangan yang bergerak dengan begitu cepat pasti mengarah kerumah itu.
Melihat gerakan orang yang mencurigakan seperti itu, mereka segera bergegas mengejarnya. Mahadewi yang memang memiliki tehnik meringankan tubuh ilmu saifi angin yang diturunkan oleh Dewi Anggini. Dia bergerak lebih cepat mengejar didepan, meninggalkan Made Pasek yang tertinggal di belakang.
Mereka begitu khawatir dengan keselamatan Kolo Weling dan juga para penduduk yang ditampung oleh Suro. Walau rumah mereka dibangun agak menjauh dari rumah Kolo Weling tapi bisa dikatakan berdekatan dibanding dengan rumah penduduk yang lain.
Tetapi begitu mengetahui siapa sosok bayangan yang mereka kejar, roman wajah Mahadewi mulai berubah menakutkan. Untung saja Suro telah diselamatkan oleh kata-kata shakti dari kitab yang menjadi andalannya untuk menenangkan Mahadewi, agar tidak triwikrama berubah menjadi makhluk mengerikan lagi.
"Kakang Suro? Mana janjinya?"
\*\*\*
Ditunggu dukungan like, point, koinnya. jika masuk 10 besar autor akan memberikan bonus chapter. Terima kasih yang telah mau menyempatkan waktunya untuk membaca novel ini.