SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
207. Perguruan Pedang Bayangan part 2



"Sebuah rahasia? Aku baru mendengarnya mengenai hal ini." Dewa Pedang mengrenyitkan dahinya.


"Mungkin ketua Dewa Pedang bisa bertanya langsung kepada ketua cabang langsung disana, diatas bukit itu, tempat dia sekarang sedang bertahan bersama para tetua!" Petinggi perguruan berbicara sambil menunjuk ke atas bukit.


"Cari taunya nanti saja kita hancurkan mereka saja terlebih dahulu! Baru kita cari tau keburu para makhluk itu menghancurkan bangunan diatas bukit itu!" Dewa Rencong mulai mengoceh karena mereka tidak segera menghabisi para makhluk kegelapan dan justru sibuk berbicara.


"Untuk sementara bangunan itu tidak mampu dimasuki para makhluk mengerikan itu. Karena ada segel pelindung yang sudah ada sejak jaman dahulu kala."


"Segel apa yang kamu maksud kisanak?" Dewa Pedang kali ini sedikit terkejut dengan ucapan lelaki itu.


"Saya kurang mengetahuinya dengan pasti, tetapi ketua Dewa Pedang mungkin mampu melihat dari tempat ini. Penampakan kabut putih yang menyelimuti seluruh bangunan. Mungkin dari sini terlihat samar karena tertutup oleh asap dari bangunan yang terbakar disekitar puncak bukit yang telah luluh lantah disembur api."


"Segel itu juga saya baru lihat penampakannya, sesaat setelah para makhluk itu keluar dari lubang yang berada di langit. Jika dari sini lubang yang ada di langit tidak kelihatan, karena memang berada dibalik bukit didekat puncak bukit. Bentuknya seperti sebuah gerbang atau lubang atau entahlah. Namun bentuknya seperti sebuah pusaran asap hitam yang besar."


"Segel yang menyelimuti bangunan diatas bukit itu dapat dimasuki manusia. Tetapi para makhluk mengerikan itu tidak mampu memasukinya. Itulah alasan mereka hanya berseliweran disekitar bangunan dan meyemburkan apinya berkali-kali. Karena mereka belum mampu menembus segel gaib itu."


"Saya tidak mampu mengetahui seberapa lama segel yang menutup bangunan utama itu tetap dapat bertahan? Tetua juga menyadari bukan, mengapa para naga-naga raksasa terus menyemburkan apinya ke arah bangunan diatas bukit itu! Mereka melakukan itu sejak tadi. Dan makhluk lain yang memiliki satu pasang sayap seperti kelelawar itu juga tidak berhenti mengeluarkan asap hitam dari mulutnya. Asap hitam itu mengikis sedikit demi sedikit segel yang melindungi kediaman ketua perguruan cabang."


Suara teriakan manusia terdengar dari kejauhan. Meski suara para wanita dan anak-anak yang berlarian terdengar riuh rendah. Suara kepakan dan suara lengkingan dan suara raungan naga juga terdengar begitu keras.


"Lanjutkan nanti saja berbicaranya kita serang sekarang mereka!" Dewa Rencong segera melesat cepat meninggalkan mereka. Dia terbang langsung menuju puncak bukit.


"Maju semua!" Melihat hal itu akhirnya Dewa Pedang memberi komando sambil melesat terbang diiringi Suro dan juga Dewi anggini. Enam tetua lainnya mengikuti lesatan kepala perguruan dengan berlari cepat menggunakan meringankan tubuh mereka yang mampu mengejar dibelakang mereka berempat.


Dari ketinggian mereka segera menyadari seberapa parah sebenarnya kehancuran yang ditimbulkan oleh para makhluk kegelapan.


Mayat anggota perguruan sudah bertebaran diseluruh area didekat puncak bukit. Seluruh bangunan didekat puncak bukit sudah terbakar. Kebanyakan mayat yang berterbaran dalam kondisi hangus seperti arang. Entah sudah berapa banyak yang telah menjadi korban. Mungkin sudah ratusan anggota perguruan yang telah menjadi mayat.


"Setelah aku berhasil menghancurkannya, nakmas Suro segera bereskan para makhluk itu!" Dewa Pedang berteriak melesat cepat menyusul Dewa Rencong.


"Sejuta tebasan Pedang!"


"Rencong Penguasa Nirvana!"


Dewa Pedang dan Dewa Rencong segera memulai serangannya. Kekuatan dua pendekar tingkat langit langsung menerjang ke arah para makhluk yang terbang diatas Perguruan Pedang Bayangan.


Sesaat setelah serangan dua pendekar tingkat langit itu menerjang, maka para naga dan manusia kelelawar itu langsung terlempar jauh dengan kondisi hancur.


"Naga Taksaka hancurkan mereka!"


Sebelum para makhluk kegelapan itu kembali pulih, sebuah penampakan lain segera melesat dengan kecepatan tinggi. Kobaran api hitam yang keluar bersama tebasan pedang Suro langsung menggulung seluruh tubuh makhluk yang sudah dihancurkan oleh dua pendekar bergelar dewa itu.


Sebab sebelumnya kekuatan energi tebasan pedang milik para tetua perguruan cabang tidak mampu menghentikan para naga itu. Sehancur apapun tubuh para makhluk itu akan kembali lagi seperti semula. Demi menghemat kekuatan mereka akhirnya mereka sejenak berhenti. Itulah mengapa sejak tadi tidak terlihat serangan jurus pedang. Karena itu memang intruksi dari wakil ketua cabang untuk meminta mereka mundur.


"Ketua perguruan Dewa Pedang telah datang!" Teriakan pasukan yang berada diatas bukit sahut bersahutan seperti membakar semangat mereka. Apalagi naga Taksaka milik Suro berhasil menggulung seluruh makhluk kegelapan yang sebelumnya terbang diatas puncak bukit.


"Berhasil! Mereka akhirnya mampu dibinasakan!" Teriakan dari satu sudut terdengar lalu diikuti suara lainnya.


Manusia kelelawar yang berada dibawah meneriakan suara lengkingan keras. Setelah itu dari balik bukit melesat segerombolan naga lain yang langsung mengamuk. Mereka keluar dari gerbang gaib yang berada dibalik bukit.


"Aku akan ke bawah bertanya tentang segel gaib yang melindungi bangunan itu dan mengenai rahasia yang sempat dikatakan lelaki tadi. Nakmas hadapi para makhluk itu bersama kakang Dewa Rencong dan juga tetua lainnya. Aku rasa kalian berdua saja sudah cukup. Apalagi ditambah para tetua dan juga tetua cabang, aku yakin api hitam milik nakmas akan mampu menghabisi semua makhluk itu!" Dewa Pedang berbicara ke arah Suro sebelum melesat turun.


"Baik paman guru serahkan sisanya kepadaku." Suro mengangguk mendengar ucapan Dewa Pedang barusan. Dia kemudian kembali sibuk mengendalikan Naga Taksaka untuk membakar habis setiap makhluk yang telah hancur terkena jurus pedang milik para tetua dan juga amukan jurus rencong yang menerjang cepat menyapu habis setiap makhluk yang muncul dari gerbang gaib dibelakang bukit.


**


Dewa Pedang melesat cepat melewati kabut putih yang merupakan segel pelindung tempat itu. Seperti perkataan petinggi perguruan Pedang Bayangan yang sebelumnya. Jika segel gaib itu mampu dimasuki manusia, tetapi tidak dapat dimasuki makhluk kegelapan.


"Dewa Pedang? Benar kah itu Ketua Dewa Pedang? Terimakasih ketua, terima kasih ketua sudah datang dengan cepat." Suara teriakan itu berasal dari Azura kepala perguruan cabang Pedang Bayangan.


"Benar ini aku. Kalian tidak perlu khawatir para makhluk itu sudah dihabisi oleh nakmas Suro dengan dibantu para tetua. Aku kira mereka sudah bukan ancaman lagi yang perlu kalian khawatirkan." Dewa Pedang melayang turun mendekati ke arah Azura dan tetua cabang yang terlihat berdiri diatas diatap bangunan.


Azura segera menjura diikuti tetua lainnya setelah Dewa Pedang yang melayang turun mendekati mereka.


"Aku tadi sempat bertemu dengan petinggi perguruan ini." Dewa Pedang langsung berbicara ke arah Azura dan menceritakan mengenai segel gaib dan sesuatu rahasia yang dijaga para ketua Perguruan Pedang Bayangan.


Azura pada awalnya terkejut dan berat untuk menceritakan. Tetapi akhirnya dia memilih bercerita. Karena menurut dia rahasia itu juga tidak dapat dia lindungi sendiri maupun oleh perguruan cabang yang dia pimpin.


"Sebenarnya para makhluk ini mengincar sesuatu yang telah kami jaga ditempat ini secara turun temurun!" Azura mulai bercerita kepada Dewa Pedang dengan tetap masih berdiri di atas atap sambil menyaksikan para makhluk dibantai oleh Naga Taksaka.


"Beruntungnya mereka belum berhasil menembus formasi sihir pelindung tempat ini. Formasi sihir ini sudah ada sejak awal sebelum Perguruan Pedang Bayangan didirikan. Fungsi kekuatan formasi sihir akan langsung aktif dan akan memblokade segala kekuatan kegelapan yang akan masuk ke area ini."


"Menurut cerita dari eyang guru, formasi sihir ini dibuat oleh salah satu penyihir bagian dari dua belas penyihir putih. Cerita ini didapat eyang guru juga didapat dari gurunya."


"Dua belas penyihir putih ini dikenal sebagai pelindung relik atau pusaka kuno. Benda itu adalah kunci untuk membuka segel para Dewa. Formasi sihir ini sudah bertahan sejak ribuan tahun dan terus melemah, sehingga makhluk kegelapan itu akhirnya mampu mendeteksi keberadaan relik kuno yang disimpan disini." Azura akhirnya selesai menceritakan semua kepada Dewa Pedang.


"Jadi begitu, aku tahu sekarang, pasti semua penyerangan makhluk kegelapan agaknya ada hubungannya dengan relik kuno ini." Dewa Pedang terlihat mengangguk-anggukkan kepala menanggapi cerita Azura.


Dewa Pedang kemudian mulai bercerita mengenai perjalanannya ke alam kegelapan dan menjelaskan adanya ancaman dari Dewa kegelapan. Dia juga bercerita tentang penyerbuan ke daerah yang dilaporkan para perguruan cabang.


"Jadi begitu, pantas saja dulu eyang guru Giling wojo mewanti-wanti untuk menjaga relik kuno agar tidak dapat diambil oleh siapapun dan juga menjaga kerahasiannya. Ternyata benda ini mampu menjadi pemicu hancurnya alam raya ini." Azura berbicara sambil terus mengawasi situasi pertempuran yang terjadi disekeliling tempat mereka berdiri.