
"Maha Naga Taksaka!"
Buuuuuum!
Ledakan keras menerjang bagaikan badai menghantam pasukan raksasa milik Prabu Godakumara.
"Sekarang hitung sendiri, berapa ratus raksasa yang sudah aku habisi?" ucap Suro sambil terkikik.
Geho Sama meruntuk melihat serangan Suro, dia kembali membabat setiap makhluk yang tingginya sama persis dengan Geho Sama yang memang sejenis dengan raksasa.
"Jangan senang dulu bocah aku pasti tidak akan kalah denganmu!" ucap Geho Sama dengan muka di tekuk.
Pasukan Prabu Gondakumara tentu saja terkejut dengan serangan yang mereka lakukan. Mereka menatap dengan penuh kengerian menyaksikan kedahsyatan api hitam.
Dewa Rencong dan Dewa Pedang memilih tetap berada jauh di belakang bersama para tetua lain mengikuti jalur serangan yang di lalui Suro dan Geho Sama.
"Geho sama apakah kau melihat lelaki yang berjuluk Prabu Godakumara itu?"
"Mana aku tau, wajah mereka sama buruknya, tidaka ada yang berbeda!" seru Geho Sama dengan kesal, sebab musuh yang dia habisi masih kalah jumlahnya dengan Suro.
"Jangan bersiasat kau bocah sialan! Aku tau kau hendak memecahkan konsentrasiku!" degus kesal Geho Sama.
"Tidak usah terlalu memaksa Geho Sama, tulang tuamu itu tidak akan sanggup mengalahkanku!" teriak Suro yang kembali menyerbu ke arah musuh.
Geho Sama meruntuk melihat tindakan Suro yang kembali menyerang mendahului dirinya. Dua orang itu berpindah tempat dengan sangat cepat, bahkan para raksasa itu tidak sanggup membaca arah gerakan mereka.
Setiap kelebat gerakan mereka bersama dengan musuh yang terus berjatuhan. Ketajaman Pedang Kristal Dewa tidak mampu ditahan oleh gada mereka yang penuh duri.
"Lawan kalian adalah aku! Tidak akan kubiarkan klaian membantai pasukan ku lebih dari ini!"
Namun gerakan mereka tertahan oleh sesosok yang baru saja muncul. Tekanan kekuatan makhluk itu menghentikan langkah mereka berdua.
"Kekuatan ini, bukankah ini kekuatan setara para dewa?" tanya Suro dengan heran.
Dia pernah beberapa kali bertemu para dewa, sehingga Suro masih dapat mengingat jelas seberapa kuat tekanan kekuatan mereka. Dan kini perasan itu kembali dia alami.
"Siapa kalian sebenarnya? Bagaimana kalian mampu menghancurkan pasukan terkuat tiga dunia, dengan begitu mudahnya?"
"Mengapa kita harus memperkenalkan diri?" ucap Suro sambil berpaling ke arah Geho Sama.
"Tidak perlu, yang aku perlu tau, sebanding dengan berapa ribu pasukan, jika aku berhasil menghabisinya?" tanya Geho Sama kepada Suro sambil mendengus kesal.
"Seribu pasukan," balas Suro sambil menghitung dengan menggunakan sepuluh jari tangannya.
"Bagus, aku bertambah semangat mendengarnya, demi ayam Mbah Wiro aku pasti akan memenggal kepalanya itu," ucap Geho Sama.
Makhluk itu langsung melesat menghilang dan muncul di samping Prabu Gondakumara.
Trang!
Trang!
Dengan kecepatannya yang bagaikan kilat tebasan pedang kristal Dewa dengan mengejutkan mampu di tangkis oleh lawannya.
"Bagaimana kau mampu menangkis seranganku!"
"Tcih! Makhluk siluman sepertimu berani menganggap remeh diriku! Aku adalah raja tiga dunia!"
Geho Sama memicingkan matanya mendengar ucapan prabu Godakumara.
"Naga Taksaka!"
"Tidak mungkin," Suro terkejut, ketika serangan api miliknya justru di serap masuk kedalam mulut lawan.
"Sebelum kalian lahir aku sudah mengalahkan para dewa! Bagaimana kalian menganggap remeh diriku aku adalah Dasamuka!"
Suro langsung mengerahkan serangan susulan , kedua telapak tangannya menempel ke tanah.
"Maha Naga Bumi!"
Bldaaaar!
Suara bergemuruh bersama dengan terangkatnya tanah tempatnya berpijak. Setelah itu nampak sewujud ular raksasa sebesar bukit.
"Siapa sebenarnya kau bocah? Apa hubunganmu dengan Anantaboga" ucap Parabu Gondakumara dengan terperanjat.
Suro tidak menjawab tatapannya berpindah ke arah Geho Sama.
"Enak saja, Lodra yang Agung bersama diriku, hitungannya setengah-setengah!" Geho Sama meruntuk saat Pedang Kristal Dewa meledakkan kekuatannya membentuk jurus Maha Naga Taksaka.
Api hitam itu bergabung dengan Maha Naga bumi, sehingga terbentuklah Maha Naga Geni yang sangat mengerikan.
Goooaaarrr!
Naga itu langsung melahap pasukan musuh yang ada di sekitar, kemudian mengejar keberadaan Prabu Godakumara.
"Buat dia sibuk Lodra!" teriak Suro.
Pandangannya lalu menoleh ke arah Geho Sama yang menatap pertunjukan jurus yang begitu mengerikan dengan berdecak ngeri. Begitu juga Dewa Pedang dan pasukan gabungan yang ikut datang.
Mereka memilih menjauh, setelah pertarungan berkekuatan mengerikan itu di mulai.
"Geho Sama panggil semua sembilan tubuh kembaranmu, aku pun akan memanggil empat penjaga gaibku!" ucap Suro dengan wajah begitu tegang.
Naga Geni saat bersamaan telah menghajar lawannya dengan begitu ganas. Tetapi musuhnya itu dengan kekuatan mengerikan mampu menghancurkan naga raksasa dengan kekuatan pedangnya yang jauh lebih mengerikan.
"Bagaimana mungkin ada makhluk sekuat ini?" Geho Sama akhirnya mengerti, mengapa kini Suro berubah menjadi begitu tegang.
Karena selain memiliki kekuatan setara dewa, lawan mereka memiliki tubuh yang sangat sulit di lukai. Kemampuan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Bahkan dia tidak terpengaruh oleh panasnya naga Geni. Melihat hal itu Geho Sama segera mengerahkan sembilan kembarannya.
Mereka berdua lalu menelan Bahavana Sahasra Nirwana. Pill pemulih kekuatan itu segera memulihkan kekuatan mereka berdua dengan sangat cepat.
"Kita gempur bersamaan!"
Kali ini Prabu Godakumara dikepung dari berbagai arah dengan menggunakan teknik perubahan yang berbeda-beda.
"Aku adalah Dasamuka penguasa ketiga dunia! Kalian jentik-jentik nyamuk berani menantangku!" teriak Prabu Godakumara menggelegar seakan memenuhi langit dan bumi.
Buuuuuum!
Belum juga suara Prabu Godakumara selesai, mendadak dua telapak tangan raksasa dari teknik perubahan tanah muncul dan langsung menepuk tubuhnya.
"Kurang ajar! Kau samakan diriku dengan seekor nyamuk!"
Kepala Prabu Godakumara walaupun tidak hancur berkeping-keping, tetapi tetap saja kepalanya terasa pusing tujuh keliling.
Suro dan Geho Sama tertawa keras melihat wajah Prabu Godakumara seperti kesemek tertimpa Godam.
"Tebasan penghancur!"
Buuuuuum!
Tebasan yang mirip sejuta tebasan pedang menghajar Suro dan juga Geho Sama. Dua orang itu langsung menghindar.
"Tendangan Penghancur Langit!"
Mendadak Suro muncul di belakang Prabu Godakumara, tendangan dengan kekuatan penuh menghajar kepala Prabu Godakumara.
Buuuuum!
"Kurang ajar bocah sialan!" gerung Prabu Godakumara dengan kemarahan memuncak.
Sebelum Prabu Godakumara memberikan serangan balasan, pemuda itu telah menghilang kembali. Secara bertubi-tubi tubuh gaib miliknya dan juga milik Geho Sama menghajar musuhnya.
Tetapi Pedang Candrahasa bergerak secepat kilat terus menghalau seluruh serangan yang menghajarnya seperti hujan badai.
"Kalian lawan yang kuat, baiklah akan aku perlihatkan wujud dan kekuatanku yang sebenarnya!"
Mendadak dari tubuh lelaki itu muncul sepuluh pasang tangan dan juga sepuluh kepala. Penampakan itu membuat penampilannya semakin mengerikan.
"Sejuta tebasan pedang!"
Namun satu kedipan mata berselang Suro memberikan serangan kuat dengan dilambari api hitam.
Buuuuuuuum!
Ketajaman pedang Kristal Dewa kali ini berhasil melukai tubuh Prabu Godakumara. Wajah Suro dan lainnya batal tersenyum, karena, kepala, tangan dan kaki yang hancur telah pulih kembali utuh dengan cepat.
"Hahahaha...! Aku lah yang maha sakti kalian tidak akan sanggup mengalahkan ku!"
Segala bagian dari Prabu Godakumara yang jatuh terputus dengan sendirinya kembali menyatu. Bukan hanya Suro dan Geho Sama yang terkejut melihat kejadian barusan, semua ikut terkejut dan tentu sama semakin khawatir melihat begitu kuatnya lawan yang mereka hadapi.