SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 217 Kejadian Tak Terduga



Mata eyang Sindurogo hitam menatap tajam ke arah Batara Karang yang berani menyela ucapannya barusan. Dia kemudian kembali menatap ke arah Suro dan yang lainnya.


"kau akan ku pastikan menjadi anak buahku yang setia. Kemudian menjadi panglima seluruh pasukanku untuk memimpin peperangan yang akan menguasai seluruh alam!"


"Kekuatan vetala milikku akan mewujudkan hal itu!" Bersama ucapan Eyang Sindurogo hitam dari seluruh bagian tubuhnya merembes keluar sebuah bentuk yang menyerupai jelaga atau mungkin lebih pekat. Sesuatu yang menggeliat seperti cairan hitam kental yang begitu gelap dan bergerak melayang seperti gerakan sebuah asap, itulah yang disebut vetala.


Vetala itu langsung melesat ke arah Suro melewati tubuh Gagak setan.


'Jangan khawatir bocah itu bukan masalah, kekuatan itu memang terlalu gelap, sesuatu yang sangat mengerikan. Namun aku yakin masih mampu menanganinya.' Suro sedikit tenang mendengar ucapan Lodra.


"Kerahkan tehnik empat Sage tuan Suro aku akan membantumu!" Geho sama yang berada didepan Suro sempat menoleh ketika lesatan vetala melewati tubuhnya.


"Paman Maung cepat menjauh!" Setelah mendengar ucapan Lodra dan Geho sama Suro segera memerintahkan Dewa Rencong untuk menjauh sejauh mungkin. Sebab dia akan melakukan sesuatu yang sangat mengerikan.


Mendengar teriakan Suro, maka Dewa Rencong langsung melesat ke atas terbang menjauhi mereka. Batara Karang, Batara Antaga masih belum memahami apa yang terjadi kemudian sesuatu membuat mereka semua terkejut.


Sebab bukan alih-alih menghindar serangan vetala dari eyang Sindurogi hitam mereka berdua justru menyerapnya. Tepatnya Suro bersama ke empat kembarannya dan Geho sama bersama sembilan kembarannya melakukan sesuatu yang tidak mereka perkirakan sebelumnya. Mereka berlima belas mengerahkan tehnik empat Sage secara bersamaan.


Hal yang terjadi kemudian jika lima belas orang berada dalam satu kesadaran yang bermuara pada diri Suro mengerahkan empat Sage secara bersamaan, adalah suatu kejadian yang mengerikan. Pusaran kekuatan segera terbentuk melebar dengan cepat. Dewa Rencong mengetahui akan bahaya yang terjadi. Dia segera melesat semakin menjauh, sejauh yang dapat dia lakukan.


Semua vetala dan juga segala makhluk kegelapan yang ada disekitar tempat itu tersedot dalam tornado yang bahkan menyerap semua hal bentuk energi.


"Gawat bocah itu ternyata bukan manusia biasa kita tinggalkan tempat ini!" Batara Karang terkejut melihat sesuatu yang terjadi didepan matanya dengan begitu cepat.


Mereka bertiga segera melesat menjauhi pusaran yang terbentuk. Para makhluk kegelapan juga melesat menjauh mengikuti mereka. Begitu juga dua tetua ular dan Tongkat iblis mereka segera menjauhi tempat itu secepat mungkin.


"Tidak ada gunanya kita melayani mereka Sang Hyang Junjungan sebaiknya kita selesaikan ritual kita yang telah tertunda! Akan sangat berbahaya jika kita tidak segera meneruskannya ritual itu! Selain itu dengan apa yang mereka lakukan justru mempercepat mereka menjadi bagian pasukan kita!" Batara Antaga segera membentuk gerbang gaib.


"keempat relik kuno telah berhasil aku kumpulkan kembali. Sebaiknya kita secepatnya menuju Jurang Neraka." Batara Antaga memperlihatkan archa kecil kepada Eyang Sindurogo hitam.


"Benar sekali sepertinya tanpa kita bersusah payah mereka justru ingin menjadi anak buahku dengan menyerap kekuatan kegelapan ku yang tersebar di alam ini! Kita pergi sekarang!" Eyang Sindurogo hitam membenarkan ucapan Batara Antaga.


Mereka bertiga segera melesat masuk ke dalam gerbang gaib yang dibentuk Batara Antaga. Dua tetua ular dan Tongkat iblis langsung ikut masuk ke dalam gerbang gaib itu. Begitu juga para manusia kelelawar dan juga para naga berebut masuk ke dalam gerbang gaib tersebut.


Pusaran yang terbentuk oleh kekuatan yang dikerahkan Suro, tepatnya kelima belas sosok, bertambah semakin membesar menelan semua makhluk kegelapan yang belum sempat menghindar.


Dewa Rencong melesat semakin menjauh karena jangkauan pengerahan tehnik yang dikerahkan Suro menjangkau begitu jauh.


'Bocah edan apa kau ingin mati dengan cara meledakkan tubuhmu, menghisap kekuatan sebegitu banyaknya?' Dewa Rencong ketar-ketir melihat Suro tidak segera menghentikan pengerahan jurusnya segera dia mengirim ke batin Suro yang telah berjarak sangat jauh.


'Bukan aku paman tetapi sedulur papatku membuat Suro tidak mampu menghentikan jurusku! Begitu juga Gagak setan sembilan kembarannya telah terasuki kekuatan kegelapan!'


Dewa Rencong terbang semakin menjauh dari tempatnya berada, hingga dia tidak dapat melihat Suro.


"Bacakan kidung Sri Khrisna!' Dewa Rencong teringat jika kidung itu mampu mengembalikan ingatan para manusia yang dirubah menjadi makhluk kegelapan.


Bahkan tanpa menggunakan tehnik gendam sekalipun mampu mempengaruhi binatang liar, sehingga tertarik untuk mendengar alunan kidung itu. Kemungkinan dalam beberapa saat para binatang liar itu telah termurnikan dari sifat buasnya.


'Gunakan tehnik gendammu!' Dewa Rencong berbicara dengan tehnik memindah suara batin.


Lodra ikut mendengar apa yang diucapkan Dewa Rencong. Dia juga menyadari bahaya yang terjadi akibat tehnik empat Sage yang lepas kontrol karena diikuti sedulur papat dan juga tubuh ilusi dari Geho sama.


'Benar sekali gunakan tehnik gendam tuan Suro ditambah ilmu raungan Naga Taksaka. Akan aku ajarkan ilmu itu kepada tuan Suro.'


Lodra hanya mampu menyerap kekuatan yang dilakukan Suro. Tetapi tidak mampu menyerap kekuatan yang diserap sedulur papat. Sedulur papar adalah perwakilan penguasa catur mahabhuta pembentuk alam yang ada didalam diri manusia.


Itulah mengapa saat Suro mulai mengaktifkan ilmu empat sage dengan dibantu sedulur papat, maka empat makhluk gaib yang dipanggil Suro memperlihatkan kekuatannya sebagai penguasa empat unsur pembentuk alam. Seluruh kekuatan hendak di telan semua oleh mereka.


Begitu juga yang terjadi pada pecahan tubuh Geho sama. Dia kini memiliki wadak atau raga yang bukan lagi murni dari ras bangsa siluman. Tetapi campuran berbagai ras diantaranya raksasa, manusia dan juga siluman.


Perubahan susunan tubuhnya yang baru itu mempengaruhi kekuatan sembilan pecahan tubuhnya. Kekuatan sembilan pecahan tubuhnya naik tiga kali lipat.


Geho sama seperti juga Suro, dia baru pertama kali mengerahkan tehnik empat Sage bersama sembilan pecahan dirinya. Sehingga tidak menyadari bahaya yang mengancam.


Segera setelah Lodra selesai mengajari Suro tehnik raungan Naga Taksaka, maka Suro segera meledakkan kekuatan yang dia miliki untuk mengerahkan kidung Sri Khrisna.


Suara itu seakan memenuhi langit dan bumi membuat sebagian besar yang berada didekat Suro bergetar hebat. Setelah itu semua berhenti dan menjadi tenang. Tornado yang menghisap segala kekuatan telah berhenti.


Sedulur papar juga sudah dapat dikendalikan oleh Suro, dia segera menghentikan tehnik empat Sage. Begitu juga sembilan tubuh ilusi Geho sama. Mereka juga telah dapat dikuasai kembali. Mereka tubuh kembaran itu telah lenyap dari pandangan tinggal tubuh Geho sama dan juga Suro yang berdiri melayang di atas langit.


Dewa Rencong telah melesat kembali mendekati Suro.


"Terima kasih paman, berkat paman akhirnya semua dapat dikendalikan." Suro menjura ke arah Dewa Rencong.


Setelah mengucapkan kata-kata barusan Suro mendadak kehilangan kesadarannya. Geho sama segera menahan tubuh Suro.


"Kita sebaiknya meninggalkan tempat ini!" Geho sama berbicara ke arah Dewa Rencong.


"Mengapa kau memandangi diriku? Memang kau kira aku yang memegang kunci untuk keluar dari alam ini?"


"Hahahaha...! Sifatmu mengingatkanku kepada Kanjeng Lodra yang Agung!" Geho sama tertawa melihat Dewa Rencong yang melotot kepada dirinya.


"Aku yang menguasai ilmu ruang dan waktu lebih dahulu dibanding tuan Suro, tentu saja aku mampu mengeluarkan kita semua dari alam ini!"


"Bagaimana kondisi bocah gemblung itu?" Dewa Rencong menatap ke arah Geho sama yang sedang membopong dengan kedua tangannya didepan dadanya. Geho sama yang memiliki tinggi satu tombak atau setinggi lebih dari dua kali tubuh Dewa Rencong, membuat Suro terlihat begitu mungil.


"Tuan Suro dalam keadaan baik-baik saja. Aku kurang memahami mengapa dia justru kehilangan kesadarannya. Tetapi dia dalam kondisi baik-baik saja."


"Semua tenaga yang diserap empat kembaran dirinya dan juga tubuh pecahanku yang bersatu dalam kesadarannya masuk ke dalam tubuhnya. Itu menurut perkataan Kanjeng Lodra yang memberitahukan kepadaku. Dia juga kebingungan sebab kali ini dia tidak mampu mengambil alih tubuh tuan Suro. Ada sesuatu yang menghalangi Kanjeng Lodra untuk mengambil alih."


"Ruang kesadaran tempat kami berbagi alam pikiran juga ditinggalkan oleh tuan Suro. Tetapi dia tidak mati. Dengan kata lain dia sedang mati Suri. Entah sebab apa dia menjadi seperti ini. Selain itu aku juga tidak mampu memahami bagaimana seluruh kekuatan yang diserap empat kembaran dirinya dan juga kembaran diriku dapat tertampung semua dalam tubuhnya?"


"Kita pikirkan nanti saja aku khawatir hawa kegelapan akan merasuki diriku. Apalagi bocah itu sedang tidak sadarkan diri."


"Hawa kegelapan apa? Lihatlah semua Laghima dan juga awan kegelapan yang berada di sekitar kita telah lenyap." Geho sama menatap ke sekeliling yang sekarang terlihat bersih dari hawa kegelapan.


Matahari pagi yang mulai muncul akhirnya berhasil menyinari daratan dibawah tempat mereka melayang.


"Tetap saja aku tidak nyaman jika berlama-lama, jika berada di alam ini."


Seluruh makhluk kegelapan yang sebagian tidak ikut pergi bersama Batara Karang telah lenyap ikut terhisap oleh kekuatan yang dikerahkan Suro.


Mereka kemudian lenyap setelah ditelan gerbang gaib yang dikerahkan Geho sama.