
Eyang Sindurogo bersama Dewa Rencong dan juga tetua Dewi Anggini terus bertahan dari serangan musuh. Pasukan Elang Langit yang terus berdatangan telah membuat mereka cukup kewalahan.
Sebenarnya Subutai sebelumnya telah memberi peringatkan kepada mereka. Namun banyaknya pasukan Elang Langit yang menyerang kota Shanxi kali ini tidak mereka sangka sama sekali.
Karena jumlahnya berkali lipat jauh lebih banyak dari pada malam sebelumnya. Sebuah unjuk kekuatan yang cukup menakutkan bagi kota kecil seperti Shanxi.
Dewa Rencong bertempur mati-matian bersama tetua Dewi Anggini dan juga Mahadewi. Kekuatan tingkat surga yang dicapai Dewa Rencong dan Dewi Anggini cukup membantu menahan serangan lawan.
Namun jurus ruang waktu yang dimiliki pasukan Elang Langit tetap saja menjadi momok menakutkan untuk dihadapi. Seperti juga ilmu Langkah Maya, lawan dapat begitu mudah menghindari serangan yang mereka kerahkan.
Padahal kekuatan musuh sebenarnya sebagian besar masih ditingkat shakti ke bawah.
Namun musuh yang mereka hadapi bergerak laksana hantu. Bahkan Dewa Rencong harus menggunakan jurus Amukan Rencong Nirwana yang digabungkan dengan tehnik perubahan petir miliknya.
Petir yang melambari jurusnya itu bergerak dengan kecepatan kilat mengejar musuh. Sebagian yang masih ditingkat tinggi ke bawah tersambar oleh petir.
Tetapi itu hanya sebagian saja yang berhasil dibunuh. Sebab sebagian lagi berhasil lolos dengan menggunakan tubuh palsu mereka. Ilmu rahasia itu menjadi kunci untuk menyelamatkan diri para pasukan Elang Langit.
"Jurus merepotkan, kemana perginya bocah itu? Sejak tadi Suro tidak juga kembali setelah melesat ke atas langit?" Dewa Rencong mendecak kesal, melihat lawan terus mendesak mereka.
Kekesalannya semakin menjadi, sebab serangan petir yang terakhir dia kerahkan tidak berhasil membunuh musuhnya. Walaupun serangan itu sebenarnya berhasil memukul mundur pergerakan musuh.
Kekuatan jurus petir yang dia kerahkan memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu mampu mengejar tubuh lawan. Namun kali ini tidak cukup manjur menghabisi mereka.
"Tidak usah mengharapkan nakmas Suro, seperti ucapan Subutai kemungkinan lawan yang dia hadapi justru lebih merepotkan dibandingkan kita." Mendengar keluhan Dewa Rencong, tetua Dewi Anggini mencoba menjawabnya.
Walaupun sebenarnya ucapan itu tidak membutuhkan jawaban. Dengan melihat serangan yang dilakukan pasukan musuh yang hanya setara dengan pendekar tingkat shakti saja mereka sudah kerepotan.
Tentu mereka sudah bisa membayangkan kesulitan apa yang dihadapi Suro. Apalagi sebelumnya Subutai sudah memberi gambaran singkat kekuatan yang dimiliki pentolan dari pasukan Elang langit.
Tetua Dewi Anggini dan Mahadewi sebenarnya juga tidak tinggal diam. Mereka berdua tetap ikut membantu Dewa Rencong menghadapi musuh.
Tetapi karena musuh bergerak dengan formasi yang sangat rumit dan tidak mudah ditebak. Sehingga mereka bertiga hanya memiliki pilihan bertahan.
Walaupun begitu dengan bantuan jurus pedang terbang milik dua pendekar perempuan itu, telah membantu Dewa Rencong menghadapai hujan serangan musuh.
Bangunan yang berada disekitar mereka sudah hancur luluh lantah akibat pertempuran mereka. Kekuatan yang digunakan untuk melambari setiap serangan yang dikeraahkan Dewa Rencong dan juga Dewi Anggini cukup menakutkan.
"Mereka mengira dapat menguras kekuatan kita!" Dewa Rencong menelan sebutir pill untuk memulihkan kekuatannya.
Serangan yang dia kerahkan sedari tadi cukup menguras tenaga dalamnya. Tetapi berkat pill tujuh bidadari kekuatan mereka dapat dipulihkan dengan cepat.
"Seandainya mereka tidak menggunakan jurus ruang waktu, pasti kita telah membantai mereka, pendekar Salya," tetua Dewi Anggini memahami jika Dewa Rencong sudah begitu kesal.
Jurus sepuluh pedang terbang yang dikerahkan Dewi Anggini dan Mahadewi berseliweran diatas udara. Energi pedang yang melesat disetiap tebasannya sanggup membelah tubuh manusia dengan mudah.
Hal itu juga disadari oleh lawannya, maka tidak ada satupun yang berani menahan lesatan energi pedang itu. Berkat dua puluh bilah pedang milik Mahadewi dan gurunya, semua senjata rahasia yang terus menghujani mereka bertiga dapat ditangkis.
"Tidak salah keputusanmu Mahadewi untuk belajar ilmu pedang kepada nakmas Suro. Ilmu pedangmu meningkat dengan pesat!" Tetua Dewi Anggini yang bertarung berdampingan dengan muridnya baru menyadari, jika ilmu pedang Mahadewi telah jauh tingkat kekuatannya.
"Tentu saja semua ini berkat guru yang selalu membimbingku!" Mahadewi tersenyum bangga mendengar ucapan tetua Dewi Anggini barusan.
Tetapi tidak seperti yang dirasakan gurunya, dia justru sedikit merasa bersalah. Sebab semenjak eyang Sindurogo telah kembali, dia tidak terlalu memperhatikan perkembangan muridnya itu.
Apalagi memang kebanyakan Mahadewi menghabiskan waktunya di tempat kediaman Kolo weling untuk terus berlatih jurus sepuluh pedang terbang.
Berkat bakat dan tekadnya yang kuat, dara itu bahkan melewati Made Pasek ataupun Kolo weling dalam memahami jurus milik Suro itu. Kekuatannya yang sudah mencapai tingkat shakti berkat bantuan pill buatan eyang Sindurogo juga cukup membantu dalam pertempuran itu.
**
Sebenarnya lawan yang mereka bertiga hadapi tidak sebanding dengan yang dihadapi eyang Sindurogo. Mereka cukup beruntung sebab lawan yang dihadapi kekuatannya lebih lemah.
Seandainya para pendekar dari tanah Jawa Dwipa itu tidak menolong, pasti pasukan dari penjaga kota yang dipimpin Jendral Zhou akan tersapu habis. Karena itu, dibuatlah rencana agar musuh hanya berkonsentrasi pada para pendekar dari Jawadwipa.
Salah satunya adalah memancing dengan pengerahan kekuatan tingkat surga dan hawa pembunuh yang dilakukan eyang Sindurogo. Dengan cara itu pasukan musuh akan berkonsentrasi menyerang mereka.
Sehingga penduduk dan juga pasukan penjaga kota akan selamat tidak dibantai oleh pasukan Elang Langit. Seperti yang telah direncanakan, musuh yang berdatangan langsung menuju ke arah eyang Sindurogo.
Sebab dari kejauhan mereka telah merasakan hawa pembunuh yang dikerahkan pendekar itu. Ditambah pengerahan kekuatan tingkat surga miliknya berhasil menjadi magnet bagi lawan.
Eyang Sindurogo berada di bagian selatan agak menjauh dari yang lain. Dia memang sengaja, agar para jagoan terkuat milik pasukan Elang Langit hanya berkonsentrasi menyerang dirinya.
Sebab hanya dia dan Suro yang memiliki jurus ruang dan waktu seperti milik lawan. Semua itu merupakan bagian dari rencana yang telah disusun bersama Subutai.
Sesuai prediksi Subutai, Eyang Sindurogo berhasil memancing para jagoan terkuat milik pasukan Elang Langit. Kini tidak kurang dari dua puluh orang terus berjibaku mencoba menghabisinya.
Tetapi tehnik Tapak Dewa Matahari yang dikerahkan dengan menggabungkan ilmu pedang, justru membuat musuh kelabakan. Apalagi semua serangan itu dihantamkan ke arah musuh dengan menggunakan jurus Langkah Maya.
'Pasukan yang menyerangku ini setara dengan seluruh senopati yang dimiliki sebuah Kerajaan besar. Bagaimana kelompok ini memiliki pendekar dengan kekuatan langit sebanyak ini?' Eyang Sindurogo cukup kagum dengan kekuatan lawan yang mengepungnya.
Meskipun dikepung musuh sebanyak itu, dia masih sesekali mengamati pertarungan yang dihadapi Dewi Anggini. Dia pantas khawatir, sebab diantara mereka bertiga tidak ada satupun yang menguasai jurus ruang waktu seperti musuhnya.
"Jurus ini, bukan kah kau yang bernama Sindurogo?"
Salah satu lawan yang mengepung Eyang Sindurogo mengenali jurus yang digunakan pendekar itu.
"Aku tidak menyangka kalian mengenaliku!" Eyang Sindurogo membalas ucapan lawannya sambil terus mengerahkan kekuatannya untuk menahan serangan lawan.
**
"Pantas saja pasukan yang di pimpin Kenjiro dan Subutai berhasil dibantai, ternyata musuh yang dihadapi mereka adalah Pendekar terkuat dari Benua Timur." Pendekar tingkat langit lapis pertengahan yang mengenali eyang Sindurogo segera mundur.
Dia berbicara dengan Ichiro seseorang yang melarikan diri dari pertarungannya melawan Suro di malam sebelumnya.
"Mengapa kau tidak memberi tahu kami sedari awal Ichiro, jika lawan kita adalah Sindurogo?"
"Bukan dia lawan yang perlu kita takuti Kenichi, ada seorang pemuda yang lebih kuat darinya, tetapi entah dimana pemuda itu, mengapa dia tidak muncul." Ichiro menjawab perkataan lelaki yang bernama Kenichi itu.
"Bodoh, dia adalah lelaki terkuat di Benua Timur, tidak usah banyak berbicara, cepat minta bantuan kepada para panglima angin dan api, lelaki ini bukan lawan kita!"
Ichiro mengangguk kemudian menghilang dari pandangan.
**
Eyang Sindurogo berhasil membantai beberapa lawannya. Salah satunya adalah perbedaan kekuatan dengan lawan yang cukup jauh darinya.
Selain itu juga berkat penjelasan Suro dari pertempuran sebelumnya. Rahasia jurus lipat bumi dan tehnik sihir mengganti tubuh musuh berhasil dia ketahui.
Tetapi kondisi itu tidak berlangsung lama, sebab dari berbagai arah pasukan Elang Langit terus berdatangan semakin banyak. Kekuatan yang diperlihatkan juga semakin bertambah kuat.
'Gawat, jika lawan sebanyak ini kekuatanku tidak sanggup mengatasi lawan sebanyak ini. Mengapa angger Suro tidak juga kembali?' Eyang Sindurogo berubah menjadi khawatir, saat menatap pasukan musuh yang kembali bermunculan.
Saat itulah eyang Sindurogo menyadari sesuatu hal yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ada rasa kekhawatiran yang tersirat di wajahnya.
'Aura kekuatan ini...apa yang telah terjadi pada angger Suro? Bukankah aura kekuatan ini milik sesosok makhluk yang berada diatas langit?'
Kekhawatiran eyang Sindurogo semakin bertambah, setelah merasakan aura kekuatan yang datang diantara pasukan musuh.
Dia merasa pancaran aura kekuatan itu sama dengan sesosok musuh yang hendak dicari tau oleh Suro dibalik awan.
'Aku rasa makhluk itu yang memiliki pancaran aura kekuatan ini,' pandangan eyang Sindurogo tertuju ke arah makhluk yang terlihat berbeda dengan yang lain.
Dia mulai memicingkan matanya karena wujud itu. Sebab dia merasa mengenal bentuk wujud itu.
Sesosok musuh yang berwujud makhluk yang mencolok diantara yang lain itu kekuatannya telah mencapai tingkat surga. Meskipun bentuknya tidak wajar, tetapi eyang Sindurogo merasa cukup akrab dengan bentuk itu.
Eyang Sindurogo merasa ada yang ganjil dengan kedatangan musuh yang bentuknya sedikit menakutkan itu.
"Bukankah itu Geho sama? Tidak, itu bukan dia. Siapa mereka ini?"
Tubuhnya itu menjulang tinggi hampir satu tombak dengan sayap besar dibelakang punggungnya, membuat eyang Sindurogo mengira mereka adalah Geho sama.
Melihat jumlahnya lebih dari satu membuat pendekar itu menyadari jika itu adalah sesuatu yang lain.
'Mungkinkah mereka adalah makhluk yang sebangsa dengan Geho sama?'