
“Vayuvyastra!”
Melihat Suro tidak juga mampu mengalahkan Prabu GodaKumara, akhirnya Dewa Obat ikut serta campur dalam pertempuran.
Badai angin yang dipenuhi energi pedang menghantam Prabu Godakumara. Tetapi serangan itu tidak membuat Parbu Godakumara tumbang.
Meskipun serangan itu mampu membuat sekujur tubuh Prabu Godakumara dipenuhi luka merajam sekujur tubuhnya, tetapi itu hanya terlihat sekejap. Setelah itu lukanya menghilang seperti debu ditiup angin kencang.
Belum juga selesai badai angin dengan disertai ribuan energi pedang yang hendak mencacah seluruh tubuh Godakumara, seberkas cahaya benerang muncul dilangit yang mendadak dipenuhi guntur dan awan hitam.
“Ini aura kekuatan milik eyang guru,” gumam Suro sambil mengedarkan pandangannya ke atas langit.
“Aku juga tidak mau kalah. Jurus keenam Tapak Dewa Matahari/ Sepuluh Matahari Meminta Jawaban!”
Buuum!
Buuuuum!
Buuuuuuum!
Buuuuuuuuuuum!
Ledakan berturut-turut menghajar ke arah Prabu iup. Setiap ledakan demi ledakan bertambah semakin kuat. Sepuluh ledakan itu membuat mereka yang ada di dekat pertarungan itu menjauh.
Tidak ada yang ada di sekitar tempat itu kecuali merasakan betapa menakutkan dan dahsyatnya jurus keenam dari Ilmu Tapak Dewa Matahari yang baru pertama kali di kerahkan itu.
Sebuah kawah besar dan dalam tebentuk oleh serangan barusan.
“Sialan makhluk itu tidak juga bisa mati!” runtuk Eyang Sindurogo setelah api dan kepulan asap telah berkurang.
Dari tengah kawah mata mereka segera menangkap sebuah penampakan yang janggal. Sesuatu cairan mulai terbentuk, lalu daging berserakan yang ada disekitar yang berupa potongan bara dan arang mulai menyatu.
“Apakah eyang guru tidak merasa jika lelaki ini memiliki regenerasi seperti naga raksasa yang pernah membuat geger tanah Jawadwipa dulu?” ucap Suro kepada Eyang Sindurogo yang mendekat kearahnya.
“Benar apa yang kau katakan ngger,” ucap Eyang Sindurogo dengan pandangannya tertuju ke arah pusat kawah.
Kini Prabu Godakumara telah kembali pulih seperti semula. Tidak ada yang kurang sedikitpun. Lelaki itu kini tetap berdiri dengan kokohnya di tengah bekas ledakan.
“Kita serang bersamaan!” teriak Dewa Obat memberi perintah.
Eyang Sindurogo hanya menganggukan kepala. Begitu juga Suro dan Geho sama menganggukan kepala. Mereka bersama wujud kembarannya menyerang secara bersamaan.
Purbangkara mengerahkan jurus dewa apinya, “Brahmastra!”
Tirtanata dengan jurus perubahan air, “Varunastra!”
Begitu juga yang lainnya juga mengerahkan teknik perubahan sesuai dengan yang mereka kuasai.
Suro mengerahkan teknik serangan terkuat miliknya Kemarahan Sang Hyang Garuda, Lodra kemudian yang mengambil alih kendali pada jurus itu.
Dia kemudian mengerahkan Maha Naga Bumi. Lingkar tubuh Maha Naga Bumi itu begitu besar seperti Jung kapal.
Setelah serangan yang dikerahkan sebelumnya Eyang Sindurogo hanya bisa mengerahkan jurus Ledakan Matahari Kembar.
Sedangkan Dewa Obat mengerahkan jurus milik Batara Wisnu, yaitu Narayanastra. Serangan jurus itu wujudnya adalah ribuan hujan anak panah dan chakram. Semakin kuat musuhnya melawan, maka serangannya juga bertambah kuat.
Serangan mereka menghajar secara bersamaan.
Buuuum!
Buuuuuum!
Ledakan berturut-turut menerjang ke arah Prabu Godakumara.
Namun sesaat sebelum serangan mereka menerjang, sepuluh mulut dari sepuluh kepala milik Prabu Godakumara merapalkan ajian yang tak kalah mengerikan dibandingkan dengan serangan yang menghajar ke arah dirinya.
Sepuluh mulut itu memanggil para senjata milik para dewa. Salah satunya adalah Indrastra atau senjata milik Batara Indra.
Senjata inilah yang telah membunuh Gatot kaca, meskipun ksatria itu telah memiliki zirah milik Batara Surya.
Saat mereka sibuk menghindari dari segala serangan yang menyerang, secara bersamaan tubuh penjaga gaib milik Suro juga menghilang. Begitu juga dengan tubuh ilusi milik Geho Sama.
“Sialan bocah apa yang terjadi padamu?” Gebho Sama yang memiliki keterikatan batin pertama kali yang menyadari kejanggalan.
“Sialan kurang ajar! Goaaaaarrrr!”
Lodra yang mengendalikan jurus api hitam nan besar menyerupai seekor burung garuda raksasa segera menyelimuti tubuh Maha Naga Bumi yang menggulung dan mengurung tubuh Prabu Godakumara dalam gunung yang terbentuk dari besarnya ukuran Maha Naga Bumi yang dibentuk oleh Suro.
“Angger!” teriak terkejut Eyang Sindurogo penuh rasa khawatir.
“Ini tidak mungkin si sialan mengapa bisa dia dapat terkena?” Dewa Obat langsun melesat mendekat ke arah Suro yang kini tergeletak di tanah.
Pemuda itu tidak bergeming ketika orang-orang mulai berteriak ke arahnya dengan teriakan penuh kekhawatiran dan tidak percaya.
“Aku tidak mempercayai ini, bangun ngger!” teriak Eyang Sindurogo mulai melelehkan air matanya.
Prabu Godakumara untuk sementara waktu telah terkurung dalam gunung batu utnuh yang tercipta dari serangan milik Suro yang menggunakan Maha Naga Bumi dan Kemarahan Sang Hyang Garuda.
Panasnya api hitam telah menjadikan Maha Naga Bumi yang menggulung Prabu Godakumara menjadi gunung batu yang menjulang tinggi.
Tetapi saat ini para pendekar sudah tidak memperdulikan dengan lawan yang terkurung dalam gunung batu. Kekhawatiran mereka hanya tertuju pada tubuh seorang pemuda yang terbujur di tanah tanpa ada denyut nadi di tubuhnya.
“Kakang suro! Kakang Suro jangan hanya diam berbicaralahkakang, aku yakin kakang hanya bercanda!” teriakan histeris Mahadewi tidak mampu mewakili rasa ketidak percayaannya dan rasa kehilangannya.
“Sial bocah sinting, tidak mungkin kau mati,” ucap Geho sama yang memegang dadanya.
Tubuh manusia setengah siluman itu akhirnya ambruk. Tubuh hitam besar dengan sayapnya yang membentang mendadak luruh menjadi asap dan dalam waktu yang tak lebih dari seperempat pertanakan nasi sepenuhnya menghilang.
Mereka yang menatap kejadian itu tidak habis pikir. Mereka belum mampu mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
Mahadewi terus memeluk tubuh Suro yang tidak juga memberikan respon atas apa yang terjadi. Eyang Sindurgo berkali-kali memeriksa tubuh Suro yang tidak juga memberikan sinyal kehidupannya.
“Sial, panah ini adalah Indrastra yang dalam wujudnya yang sebenarnya bukan hanya seperti ilmu yang aku kerahkan,” ucap Dewa Obat segera mengenalinya.
Sedari awal saat tubuh Suro tersungkur ke tanah di dadanya sebelah kiri memang menancap sebuah anak panah yang bercahaya begitu terang seakan purnama sedang berpindah pada anak panah yang menancap di dada Suro.
“Peristiwa peperangan ribuan tahun lalu di Kuru Setra akhirnya terulang kembali,” Dewa Obat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan begitu terpukul.
Dewa Rencong dan Dewa Pedang yang berada di dekat Dewa Obat segera mendesak lelaki itu untuk menyembuhkan, atau minimal memberikan pengobatan, atau menyelamatkan nyawa Suro.
Lelaki itu hanya menggeleng-geleng kan kepala dengan wajahnya yang sayu dan dipenuhi perasaan begitu terpukul.
Disaat mereka mencoba menyelamatkan Suro mendadak dentuman berturut-turut berasal dari dalam gunung bekas Maha Naga Bumi yang mencoba menyegel tubuh Prabu Godakumar. Tetapi kekuatan segel itu belum cukup kuat.
Sebelum mereka beritndak pemilik jurus itu keburu kehilangan kesadarannya dan disusul Lodra yang kehilangan kekuatannya, sehingga jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda ikut lenyap sebelum berhasil membentuk gunung batu yang sempurna.
Duuuuuuuum!
Duuuuum!
Duuuum!
Braaaak!
“Sialan, kalian pikir gunung batu sekecil ini mampu menahanku!” ucap Prabu Godakumara yang berhasil keluar dari penjara gunung batu.
Pandanganya menyapu ke segala arah seakan mencari sesuatu yang sangat penting bagi hidupnya. Bahkan dia tidak memperdulikan nafsu membunuh orang-orang yang ditujukan kepadanya.
“Dewi Widawati, akhirnya aku bisa memilikimu dalam kehidupanku kini,”ucap Prabu Godakumara atau yang berjuluk bekepala sepuluh atau Dasamuka.
Pandangan lelaki itu tertuju pada Mahadewi yang meratapi nasib Suro yang tidak juga bergeming setelah ratapannya yan begitu keras.
“Mari ikut aku kekasihku yang tercinta,” ucap sang Prabu Godakumara yang muncul disamping Mahadewi.
Sebelum mereka hendak menyerang Prabu Godakumara, mendadak lelaki itu telah mencekal tangan Mahadewi dan membawanya pergi menghilang dengan cepat. Kejadian barusan tidak di antisipasi sama sekali.