SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 218 Jalan Arhat



"Batara Antaga persiapkan upacara ritual untuk membebaskan keempat penjagaku." Eyang Sindurogo hitam memerintahkan Batara Antaga dan Batara Karang untuk segera memulai ritual yang sebelumnya tertunda.


Mereka semua telah sampai di hutan Gondo Mayit. Eyang Sindurogo menatap ke dasar jurang neraka yang begitu gelap. Para Bhuta kala dan makhluk kegelapan yang ada di hutan itu terlihat tertunduk penuh hormat ke arah Eyang Sindurogo.


Pujangga gila memimpin pasukan Bhuta kala yang menjaga jurang itu. Alasan mengapa mereka tidak pernah keluar dari kawasan hutan itu adalah karena tugas mereka menjaga jurang itu.


Pasukan manusia kelelawar dan para naga yang ikut serta keluar dari alam kegelapan memenuhi sepanjang pinggir jurang itu. Mereka semua hendak menyambut hadirnya raga dari Dewa Kegelapan yang terkubur di dasar bumi.


Hawa kegelapan dari dasar jurang juga membumbung tinggi tidak seperti biasanya. Agaknya Hawa kegelapan telah mengendus pecahan jiwa dari tuannya yang telah hadir disana.


Batara Karang dan Batara Antaga telah memulai ritual pembebasan pengawal Dewa Kegelapan.


Relik kuno diletakkan saling berhadapan berjarak satu Depa dan mulai berputar mengambang terus naik semakin tinggi. Putaran itu semakin naik dan bertambah tinggi, jarak antar relik ikut semakin bertambah melebar seperti saling menjauh. Kira-kira setinggi tiga pohon kelapa seberkas sinar melesat dari keempat relik itu.


Duum! Duuum! Duuum! Duuuum!


Empat dentuman itu mengiringi lesatan sinar menghantam kebumi. Bersama sinar itu muncul sesosok wujud yang telah berdiri dibekas lesatan sinar barusan.


Mereka berempat adalah sejenis ashura atau bangsa raksasa. Wujud mereka ternyata telah digambarkan dalam archa yang menjadi penjara mereka.


"Sembah pangabekti Kanjeng junjungan Dewa kegelapan!" Serentak tiga raksasa setinggi pohon kelapa itu menunduk ke arah Eyang Sindurogo yang memandang ke arah mereka.


"Saatnya kalian membebaskan ragaku!"


"Sendiko dawuh kanjeng jujungan!" Tiga raksasa itu menyembah ke arah eyang Sindurogo.


Eyang Sindurogo langsung terjun ke dalam jurang neraka diikuti keempat raksasa yang tubuhnya mengecil seukuran manusia. Batara Karang dan Batara Antaga ikut menyusul terjun ke dalam jurang neraka.


Setelah meluncur dengan begitu cepat, akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang sangat panas. Api berkobar dimana-mana. Tetapi awan hitam yang memenuhi tempat itu sampai keluar dari mulut jurang, seakan menghalangi api dasar bumi untuk menyentuh mereka.


Didalam ruangan yang sangat panas itu ada sesosok tubuh yang terikat rantai yang begitu kokoh. Rantai itu memiliki guratan-guratan yang memenuhi badan rantai besar yang mengikat begitu erat tubuh sosok tersebut.


Seluruh hawa kegelapan yang keluar dari jurang neraka bersumber dari sosok yang sedang terikat dan terpasung di sebuah meja dari batu berwarna kehijauan. Api terus berusaha membakar habis sosok tersebut, tetapi hawa kegelapan menghalangi, bahkan terus berusaha mengusir api yang hendak memenuhi seluruh ruangan itu. Posisi meja batu itu berada ditengah ruangan.


Meskipun tubuhnya telah terikat oleh rantai yang membelit sekujur tubuhnya, sebenarnya kedua tangan, leher, kedua pergelangan kaki, dan kedua paha telah terpasung oleh sesuatu mungkin semacam batu yang berwarna hijau transparan.


Batu itu juga bergurat tulisan-tulisan yang kemungkinan sebuah mantra segel penguat agar tubuh makhluk yang terikat tersebut tidak dapat lolos.


"Akhirnya aku akan dapat menggunakan ragaku yang abadi. Dengan raga milikku sendiri, aku sudah tidak sabar hendak menghancurkan wajah para dewa! Akan aku habisi mereka semua dengan tanganku yang perkasa! Hahahahahaha...!" Eyang Sindurogo hitam tertawa keras setelah mereka sampai di ruangan itu.


**


Geho sama terkejut melihat tubuh Suro yang mendadak diselimuti seberkas energi yang mengalir keluar dalam tubuhnya dan mulai membentuk pembatas menyerupai perisai energi.


"Apa yang terjadi dengan tubuh tuan Suro? Mengapa kini diselimuti energi murni yang sangat padat?"


Geho sama mulai menjauhi tubuh Suro yang melayang di udara. Mereka telah sampai di alam manusia, tetapi entah tiba disebelah mana atau di negeri mana yang jelas mereka sedang berada di sebuah tempat seperti Padang rumput luas.


"Bagaimana kesadarannya apakah dia sudah hadir dalam ruang kesadarannya?"


"Aku tidak dapat terhubung dengan kesadarannya!"


"Benar jika tuan Suro mati, maka aku juga tidak lagi berdiri disini! Seperti yang telah aku katakan, jika keadaannya seperti orang yang mati suri."


Energi murni yang menyelimuti Suro semakin tebal. Sekarang sebuah bola energi murni telah sepenuhnya menyelimuti tubuh Suro. Tubuh Suro terangkat naik semakin tinggi. Pedang yang sebelumnya selalu menempel ditelapak tangannya, kini telah jatuh dan menghuncam ke bumi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Dewa Rencong menatap tubuh Suro yang seperti orang tertidur terangkat semakin tinggi.


Dewa Rencong kemudian ikut terbang naik disekitar tubuh Suro dengan menjaga jarak. Dia menyadari akan sangat berbahaya jika energi murni yang menyelimuti Suro meledak. Karena itu dia hanya mengawasi sedikit menjauh.


Dia hanya berjaga-jaga saat Suro telah kembali sadar dia langsung dapat menangkap tubuhnya. Sebab selama ini Suro terbang dengan menggunakan bilah pedang, tetapi kini pedangnya telah terpisah dan masih menancap di tanah cukup dalam.


Geho sama segera mencabut pedang itu dan membawanya terbang mendekati tubuh Suro. Seperti juga Dewa Rencong, demi menghindari akan bahaya yang mungkin saja terjadi dia juga menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.


"Apakah bilah pedang itu tidak menyerap kekuatanmu Gagak setan?" Dewa Rencong sejak awal membiarkan pedang itu tetap menancap di tanah, sebab menurut perkataan Suro, ancaman bahaya bagi yang memegang bilah pedang itu chakranya akan dihisap. Bahkan jika jiwa pedang itu tidak menyukai orang yang memegang bilah pedangnya, maka dia akan menyerap habis kekuatan tenaga dalamnya hingga manusia itu mati.


Tentu dia tidak mau mati dengan begitu konyol. Karena itulah dia cukup kaget melihat Geho sama atau si Gagak setan itu dapat menggenggam pedang dengan tanpa beban.


"Tidak, sebab Kanjeng Lodra sudah cukup kenyang sehabis menyerap energi dari tuan Suro."


Pandangan mata mereka berdua beralih ke arah Suro sebab energi murni yang melindungi Suro dan membawanya terbang cukup tinggi itu mulai bersinar cukup terang.


**


"Dimana ini? Apakah kali ini aku benar-benar mati? Mengapa tiba-tiba seperti ada seseorang yang berbicara padaku sebelum aku masuk di tempat ini?"


"Mengapa aku tidak melihat ada senyuman di wajahmu, setelah berhasil masuk ke tempat ini?" Mendadak sebuah suara terdengar, tetapi tidak terlihat siapa yang sedang berbicara.


Tempat dimana Suro sedang berada, seluruhnya berwarna putih. Karena semua berwarna putih, permukaan alam itu juga seputih langitnya. Sehingga seolah alam itu tidak memiliki ujungnya. Warna putih yang ada itu sama sekali tidak ada noda warna lain sedikitpun. Mungkin itu yang disebut sebagai kondisi warna putih yang sempurna.


"Aku sudah menunggumu cukup lama! Akhirnya hari dimana kamu datang ke tempat ini telah tiba! Inilah jalan kesucian yang sejak lama kamu cari!"


"Siapa dirimu? Tunjukan wajahmu? Aku tidak mencari kesucian, aku mencari ayam goreng! Perutku sudah sangat lapar semenjak dari perguruan Pedang Bayangan! Jadi bisakah kau tunjukan siapakah sebenarnya dirimu? Kamu ada disebelah mana aku tidak dapat menemukannya?" Suro berteriak ke berbagai arah sambil mencari asal suara yang mengajaknya berbicara.


Dia merasa jika asal suara yang berbicara tidak jauh darinya, begitu dekat seakan sedang berbisik di kedua daun telinganya. Pandangannya berputar ke segala arah, tetapi apa yang dia lihat hanya warna putih.


Karena alam dimana Suro sedang berada, seluruhnya berwarna putih yang sempurna, sehingga jika berjalan ke arah manapun, seolah berjalan ditempat. Tidak ada yang membedakan tempat didepan maupun yang ada dibelakang kecuali sepenuhnya putih.


"Aku hanyalah penjaga! Tugasku hanya menunggu orang sepertimu yang berhasil masuk ke alam ini!"


Mendadak muncul dihadapan Suro seorang kakek-kakek, atau tepatnya terlihat seperti kakek-kakek. Karena rambutnya begitu putih melebihi putihnya pakaian yang dia gunakan.


Seluruh permukaan kulitnya mengeluarkan cahaya yang sedikit menyilaukan. Apalagi bagian wajah lebih terang dibandingkan bagian yang lain. Sehingga membuat siapapun akan kesulitan untuk menatap wajahnya. Cahaya yang berasal dari wajahnya akan cukup menyakitkan mata bagi yang menatapnya, seakan seperti menatap matahari yang sedang bersinar.


Sehingga Suro hanya dapat menundukkan wajah atau hanya menatap ke arah bagian kakinya yang duduk bersila. Tetapi dia duduk juga tidak menyentuh permukaan tanah atau apa, karena juga terlihat begitu putih. Kondisi itu membuat Suro dalam beberapa saat kesulitan menyadari jika tubuh lelaki itu sedang melayang.


"Siapakah pekulun ini? Mengapa aku ada di alam ini? Apakah ini artinya aku sudah mati? Sangat disayangkan..padahal aku belum makan ayam goreng untuk terakhir kali!" Ekspresi wajah Suro terlihat lesu, setelah menyelesaikan kalimatnya.


Entah ekspresi apa yang diperlihatkan sosok yang bersinar itu, setelah mendengar ucapan dari Suro barusan.


"Selain penjaga jalan yang akan kau tempuh! Aku juga disebut guru sejati! Aku lah yang juga disebut keakuanmu yang sejati! Aku juga disebut penjaga gerbang penempuh jalan kesucian!"