
Geho sama dan Eyang Sindurogo kemudian melesat mengikuti para naga yang terbang ke arah timur. Mereka berdua mengikuti dengan tetap menjaga jarak dan berusaha agar tidak diketahui dengan terbang lebih tinggi. Naga yang digunakan oleh mereka jenis naga yang pernah digunakan Lembu Jahanam dan pasukannya terbang ke tanah Yawadwipa.
Cerita sebenarnya yang terjadi mereka datang ke tanah Yawadwipa tidak menggunakan para naga. Tetapi sesungguhnya mereka menggunakan gerbang gaib. Karena itulah mengapa mereka bisa berbarengan kedatangannya dengan para tokoh dunia persilatan di tanah Yawadwipa yang sedang berkumpul di hutan gunung Mahameru.
Begitu juga setiap serangan naga raksasa dan para makhluk kegelapan yang datang menggunakan gerbang gaib, maka dibelakangnya ada Batara karang yang membukanya. Karena sesungguhnya semua kekacauan telah diatur dan direncanakan dengan matang oleh Batara Karang.
Para naga yang berjumlah kurang dari selusin setiap punggungnya duduk seseorang yang mengendalikan makhluk itu. Jika diperhatikan mereka memiliki pakaian yang sama. Pakaian itulah yang membuat eyang Sindurogo bersikukuh mendatangi perguruan yang didirikan Batara Karang itu.
Karena apa yang mereka gunakan memiliki kesamaan dengan manusia bertanduk saat pertarungan di puncak gunung Gangkhar Peunsum atau juga dikenal dengan nama Puncak Putih Tiga Saudara Spiritual. Posisi gunung tersebut berada di perbatasan antara Bhutan dan Tibet.
"Mengapa kita harus pergi ke tempat sejauh ini tuan guru?"
Eyang Sindurogo menatap makhluk raksasa disampingnya dengan sedikit mengernyitkan dahi.
"Karena aku yakin semua hal tentang alam kegelapan, termasuk juga naga raksasa yang pernah meneror tanah Javadwipa berasal dari perguruan yang akan kita datangi. Bahkan manusia-manusia bertanduk yang kita temui dalam pertempuran sebelumnya berasal dari bagian perguruan Penyembah Dewa kegelapan."
"Karena itulah aku yakin jika Dewa Kegelapan yang katanya telah merasukiku pasti ada didalam perguruan itu. Aku hendak menagih hutang kepada makhluk sialan yang berani menjadikanku boneka tanpa meminta ijin kepadaku terlebih dahulu!"
"Memang jika makhluk itu meminta ijin kepada tuan guru akan diberikan?"
"Tentu saja tidak, memang tubuhku ini barang sewaan?" Eyang Sindurogo menjawab dengan mendengus kesal.
Geho sama hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya mendengar jawaban dari lelaki yang terbang disebelahnya.
Seperti yang telah mereka duga jika kedatangan mereka telah ditunggu oleh pasukan yang berasal dari Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan. Mendadak seseorang telah melesat menghadang gerakan mereka berdua.
"Jadi ini Sindurogo pendekar Tapak Dewa Matahari yang melegenda itu!" Seseorang itu tersenyum sinis sambil berdiri melayang didepan mereka berdua.
"Segoro Geni!"
Tanpa basa-basi lelaki itu langsung memberikan serangan ledakan api merah yang menerjang ke arah mereka berdua.
Serangan mendadak yang dilakukan pengendali api tingkat tinggi itu langsung di hadapi oleh eyang Sindurogo dengan jurus keempat dari Tapak Dewa Matahari. Meski jurusnya itu mampu mematahkan serangan lawan, namun lawan lain memberikan bantuan. Sebuah serangan dari musuh yang lain membuat jurus yang baru saja dikerahkan oleh eyang Sindurogo segera lenyap dari pandangan.
Tehnik yang dikerahkan itu mirip sekali dengan jurus yang pernah digunakan oleh Batara Karang. Jurus yang berupa pusaran hitam itulah yang menelan jurus eyang Sindurogo hingga tidak berbekas.
"Jurus ini lagi sialan, tenaga dalamku akhirnya terbuang secara percuma!" Eyang Sindurogo meruntuk kesal.
Mereka berdua segera menyadari musuh yang datang bertambah banyak. Lawan yang mereka hadapi ini rata-rata hampir setara dengan kekuatan Geho sama. Demi melihat musuh sebanyak dan sekuat itu, akhirnya eyang Sindurogo memilih untuk menghemat tenaganya.
"Kalian hanya mendengar namaku dengan jurus tapak dewa matahari, tetapi kalian tidak pernah mendengar jurus pedangku, bukan?"
Seberkas sinar dari jari telunjuknya mengawali serangan yang akan dia lakukan. Kali ini eyang Sindurogo menyerang lawannya dengan serangan jarak dekat.
Permainan pedang cahaya yang dimainkan oleh eyang Sindurogo sangat rumit. Sebab pedang yang dia gunakan bukan hanya muncul dari jari telunjuk kanannya tetapi kadang dari jari lainnya. Karena memang seluruh jari tangannya dapat mengeluarkan seberkas sinar yang memancarkan pedang cahaya.
Selain itu tangan satunya akan memastikan lawannya binasa dengan tehnik empat Sage. Dia kerahkan setiap kali musuhnya berhasil ditebas dengan menggunakan pedang cahaya api biru miliknya.
Penguasaan ilmu meringankan tumbuh tingkat tinggi semakin menambah kesulitan musuh untuk menghadapi jurus pedang yang dikerahkan eyang Sindurogo.
Serangan musuh yang hanya dua orang tidak mereka sangka dapat sedahsyat itu. Akhirnya salah satu tetua yang pertama kali menghadang gerakan mereka berteriak dengan lantang.
"Munduuur semuaaaa!"
"Bentuk formasi serangan Agni-Prasana!"
Serangan yang hendak dilakukan mereka lakukan disebut juga dengan"napas api". Mereka akan menyemburkan api dalam skala besar oleh banyak orang dengan tujuan hendak memperangkap mereka dalam lautan api.
Serangan yang dikerahkan itu dapat menjangkau bidang yang sangat luas dan bahkan mampu melelehkan batang besi sekalipun. Karena memang tingkat suhunya yang begitu panas. Namun lawan yang mereka hadapi tidaklah semudah itu dapat dihabisi.
Sebab Geho sama dan Eyang Sindurogo dapat dengan mudah lolos dari perangkap itu. Tentu saja semua itu berkat adanya Geho sama. Dia yang memiliki jurus ruang dan waktu dengan mudah menghilang dalam sekejap.
Dengan jurus itulah dulu dia dapat menguasai dunia persilatan selama waktu yang sangat panjang, sebelum menjadi tempat bagi jiwa dewa kegelapan.
Sekejap setelah jurus itu menghajar ke arah mereka, maka Geho sama langsung membawa serta eyang Sinduroho lenyap dari tempat itu. Kemudian muncul dibelakang lawannya.
Kemunculan mereka berdua tidak disadari oleh lawannya. Eyang Sindurogo segera memanfaatkan peluang itu untuk menghabisi musuhnya dengan sangat cepat.
"Setan alas bagaimana Sindurogo memiliki ilmu sihir ruang waktu sedahsyat itu?" Lelaki yang sebelumnya menghadang mereka pertama kali berteriak penuh amarah.
"Bukan dirinya yang memiliki sihir itu tetua Arkados, tetapi rekannya yang memiliki tubuh seperti burung." Seorang lelaki mengoreksi ucapan dari seseorang yang disebut tetua Arkados itu.
"Perintahkan para tetua lain untuk datang kesini!" Lelaki yang disebut tetua Arkados memberi perintah yang langsung dilaksanakan oleh lelaki barusan.
Geho sama ingin menangkap lelaki itu tetapi justru ditahan oleh eyang Sindurogo.
'Biarkan saja mereka berkumpul disini, semakin banyak mereka berkumpul, semakin memudahkan bagi kita untuk menghabisi mereka semua.' Ucapan eyang Sindurogo yang terdengar pelan itu menghentikan langkah Geho sama.
Sebagian dari mereka masih berusaha mematahkan jurus pedang eyang Sindurogo. Tetapi sayang jurus yang dikerahkan eyang Sindurogo bergerak dengan sangat cepat dan rumit, sehingga tidak ada yang selamat dari jurus itu.
Meskipun sebagian pedang musuh dapat menahan serangan pedang itu, tetapi ilmu pedang yang dikerahkan eyang Sindurogo penuh dengan kejutan. Sehingga tidak ada yang bertahan lebih dari dua jurus langsung tumbang.
Tehnik pedang cahaya yang dia gunakan tidaklah sama seperti orang lain. Karena itu adalah bagian dari tehnik tapak Dewa Matahari jurus sepuluh jari dewa mengguncang bumi. Sehingga dapat bergerak dengan leluasa dan susah untuk ditebak arah serangannya.
Sebenarnya wujud pedang cahaya di jari telunjuknya itu hanyalah jebakan semata. Sebab, begitu pedang itu dapat ditahan oleh pedang lawan, maka ujung jari lain akan memancarkan pedang cahaya yang serupa.
Hasilnya adalah anggota tubuh lawan terputus oleh pengerahan pedang dari ujung jari lainnya. Serangan jarak dekat yang dilakukan eyang Sindurogo begitu cepat menghabisi mereka. Kondisi itu membuat lawannya akhirnya kembali memutuskan untuk mundur lebih jauh kebelakang.
Tempat mereka dihadang masih masuk wilayah hutan yang menjadi bagian dari lembah petir. Artinya mereka masih setengah jalan, jika hendak menuju wilayah Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan.
Seandainya lawan yang mereka hadapi bukan Geho sama dan eyang Sindurogo, tentu kekuatan mereka tidak akan terkalahkan. Sebab mereka tidak akan dapat dibunuh meski telah terpotong oleh serangan yang dilakukan eyang Sindurogo. Namun ilmu empat Sage tidak membiarkan hal itu terjadi.
"Formasi serangan Agni-Prasana!"
Ketakutan akan kematian membuat mereka menjadi frustasi. Serangan nafas api beberapa kali menerjang ke arah mereka berdua, tetapi semua itu bukan masalah. Sebab dengan langkah semu justru membuat mereka kalang kabut.
Beberapa saat kemudian bala bantuan datang dan mulai mengepung mereka berdua dari berbagai arah.