
"Pemuda itu akhirnya mengikuti kita, seperti yang telah aku duga dia telah termakan oleh umpanku.
Seperti yang telah kalian katakan, tentang kehadiran bocah itu setiap kali kalian hendak mengambil relik kuno. Memang benar bocah itu menyimpan relik kuno dalam tubuhnya.
Kalian dan yang lainnya tentu tidak akan mampu merasakan keberadaan benda yang didalamnya tersegel para Azura pengawalku.
Mungkin makhluk selain diriku dapat dikelabuhi, namun aku adalah penguasa pancha mahabhuta. Ilmu sihir yang mencoba menyembunyikan keberadaan para Azura dariku tidak akan mempan."
Di hadapan Dewa Kegelapan terlihat Batara Antaga dan Batara Karang duduk bersimpuh, juga para pasukan kegelapan lainnya. Mereka berada di kedalaman tanah, persis seperti yang diduga Suro.
Tidak terlalu jauh dari posisi mereka terlihat bangunan yang sangat megah menjulang tinggi berbentuk piramida raksasa sepenuhnya berwarna hitam kelam. Didalam piramida raksasa itulah tersegel kekuatan sesungguhnya dari dewa kegelapan.
Hal itu dapat dibuktikan dari hawa kegelapan yang selalu keluar dari dalam piramida yang pada beberapa bagian telah terjadi keretakan. Sehingga dari sela-sela keretakan itulah hawa kegelapan terus berusaha menerobos keluar.
Piramida itu adalah segel dewa yang sangat kuat. Meskipun sebagian berhasil menerobos keluar, tetapi itu tidak terjadi dengan begitu mudah. Sebab piramida raksasa itu tetap mampu mengembalikan hawa kegelapan yang telah berhasil menerobos keluar.
Namun batara Antaga dan Batara Karang sejak dahulu telah menggunakan suatu tehnik sihir yang menyelubungi sekujur piramid besar. Dengan sihir itu mereka dapat membantu hawa kegelapan yang berusaha keluar dapat lolos dari permukaan retakan piramid raksasa tersebut. Setelah dapat lolos, maka semua hawa kegelapan itu kini langsung amblas terhisap masuk ke dalam tubuh lelaki yang duduk di singgasana miliknya.
Kondisi itu juga yang menjelaskan, mengapa kini alam itu tidak lagi secara terus menerus diselubungi oleh hawa kegelapan.
"Aku telah memasang sihir jebakan yang akan melumpuhkan siapapun yang berusaha menerobos masuk ketempat ini, bahkan dewa sekalipun. Sebab untuk membuat sihir ini telah menghabiskan seluruh kekuatanku. Seluruh hawa kegelapan yang sebelumnya tersebar di alam telah habis aku gunakan untuk membuat formasi sihir jebakan ini.
Kini aku perlu menyerap kekuatanku lebih banyak agar dapat memulihkan kekuatanku. Jika seandainya aku tidak membuat sihir ini, mungkin aku akan dapat mengalahkan bocah itu. Kemudian merebut setiap relik kuno yang dia sembunyikan.
Tetapi tidak mengapa, memang aku harus membuat segel sihir ini terlebih dahulu. Karena tidak akan aku biarkan para dewa mencoba memperbaiki segel mereka yang sudah terjadi keretakan."
"Sebentar lagi aku akan mendapatkan kekuatan sejatiku. Itu artinya waktunya menuntut balas kepada Batara Guru. Akan aku hancurkan khayangan Jongringsalaka. Setelah itu aku juga akan menuju khayangan Alang-alang Kumitir. Aku harus membebaskan jiwaku yang disegel disana. Sehingga aku dapat kembali kebentukku secara sempurna."
"Kami berdua juga tidak sabar untuk membalas apa yang telah dilakukan Batara Guru dan Sang Hyang Wenang kepada kami. Mereka akan menanggung akibat telah berani mengusir dan melemahkan kekuatan kami dengan menyegelnya," Batara Antaga berbicara dengan sorot mata yang menyiratkan kemarahan yang tidak tertahankan lagi.
"Benar kita harus membalaskan atas apa yang mereka lakukan kepada kita. Tetapi untuk itu, aku membutuhkan kekuatan sejati kalian agar mampu mengalahkan Sang Hyang Wenang. Karena itulah aku harus memastikan terlebih dahulu kekuatan kalian yang setara dengan Batara Guru telah kembali.
Saranku untuk menggunakan air Nirvilkalpa apakah telah kalian berdua lakukan? Sebab dengan menyerap khasiat air Nirvilkalpa yang telah dikumpulkan para manusia yang menyusup kedalam negeri bawah tanah, aku yakin itu akan membantu kalian menghancurkan segel yang ditanam dalam tubuh kalian."
"Sendiko dawuh Kanjeng Junjungan, memang kami telah menyerap air yang berhasil dikumpulkan anak buah kami. Namun kekuatan kami belum juga dapat pulih secara sempurna. Mungkin memerlukan air itu lebih banyak lagi," ucap Batara Antaga sambil menundukkan kepalanya.
"Tetapi sayang, sepertinya kesempatan itu tidak bisa dilakukan. Kecuali dengan menyerap air yang tersebar disekitar negeri bawah tanah itu.
Sebab ada kekuatan baru yang melindungi tempat itu. Kemungkinan besar pelakunya adalah Geho sama. Sihir yang dia gunakan masih dapat kami kenali," imbuh Batara Karang.
"Nama besar Geho sama sebagai tuan penyihir memang bukan omong kosong. Dia mengetahui banyak sihir kuno yang kekuatannya cukup diperhitungkan. Tetapi justru hal itu menjadi pertanda, bahwa relik kuno yang ribuan kali gagal kita ambil telah diambil bocah itu." Dewa kegelapan tersenyum lebar. Dia merasa sangat puas, sebab segala sesuatu berjalan seperti yang telah dia duga.
"Mata nujumku terasah semakin tajam, sejalan dengan kekuatanku yang telah kembali ke tubuhku. Bocah itu sebentar lagi akan mendatangi tempat ini. Demi mencegah dia mampu menghancurkan segel sihir untuk melumpuhkannya, sebaiknya kalian mulai kirim para makhluk yang telah berubah semakin kuat dengan menyerap air Nirvilkalpa."
"Sendiko dawuh..." Batara Karang langsung menjura kearah Dewa Kegelapan yang duduk disinggasananya sambil menyerap seluruh hawa kegelapan yang berduyun-duyun masuk ke dalam tubuhnya.
"Tunggu, aku memiliki tugas lain untukmu. Biarkan tugas itu yang mengerjakkan Batara Antaga."
"Sendiko dawuh, kanjeng junjungan," Batara Antaga segera menyahut sambil menjura, sebelum bergegas meninggalkan tempat itu.
Selain Batara Karang dan Batara Antaga, dibelakang mereka berdua pasukan dari Perguruan Sembilan Selaksa Racun juga terlihat.
Bahkan dua tetua ular yang dulunya adalah bagian dari Perguruan Ular Hitam yang dipimpin oleh Medusa, juga terlihat duduk bersimpuh dengan hormat.
"Tugas yang akan aku berikan ini tidak kalah pentingnya dengan apa yang dilakukan Batara Antaga. Aku memerintahkanmu untuk menggabungkan kekuatan milik Iblis Kalipurusha menjadi bagian dari pasukan kita.
Katakan kepadanya jika dia bergabung, maka akan aku jadikan dirinya menjadi penguasa bumi, aku rasa dia akan tertarik."
"Bawa serta pasukanmu, karena bukan hal yang mudah mengajak makhluk seperti dia. Jika dia tetap melawan, tugasmu adalah menghabisinya. Karena tidak akan ada dalam satu alam dua penguasa," imbuh Dewa Kegelapan sambil mengelus-elus dagunya.
"Sendiko dawuh, kanjeng junjungan. Aku mengenal makhluk ini, dia adalah penguasa dasar lautan yang berada di samudera dibagian benua barat."
"Kalian akan bergerak bersama keempat pengawalku para Ashura yang telah terbebaskan dari relik kuno. Manah, Galih, Driya, Praya...kalian akan ikut dengan Batara Karang menaklukan Iblis Kalipurusha."
"Sendiko Dawuh..grrrrrrrhhhhh!!"
Secara serempak para Azura yang merasa dipanggil langsung menganggukan kepala dengan suara menyeramkan seperti harimau menggerung. Apalagi ditambah wajah mereka yang tidak kalah menyeramkannya. Keempat nama itu memiliki makna yang sama, yaitu hati.
Dikanan dan kiri Dewa Kegelapan, lima Azura yang telah terbebaskan dari relik kuno terlihat berdiri berjaga. Wajah mereka mirip Dwarapala atau patung penjaga gerbang.
Tubuh mereka dalam ukuran manusia, walaupun lebih besar hampir satu tombak. Jika Geho sama beridiri berdampingan, maka tubuh mereka hampir setara.
"Pergilah kalian ke bumi aku harus terus menyerap kembali hawa kegelapan yang merembes keluar dari segel piramid kekekalan ini. Selain itu aku melakukan ini untuk mempersiapkan pertarungan selanjutnya. Bocah itu memiliki kejutan yang tidak disangka. Aku harus mencegahnya, agar dia tidak mampu melawan formasi sihirku."
"Salah satu kelebihan yang dimiliki bocah itu dengan melihat dari pertarunganku sebelumnya, dia mampu menyerap hawa kegelapan dari semesta hitamku dengan jumlah yang luar biasa besar. Namun hal itu tidak mempengaruhi tubuh dan jiwanya. Bahkan hantaman jurus Batara Surya miliknya telah membuat luka dalamku juga tidak ringan. Aku tidak ingin berjudi dengan kondisi raga sejatiku."
"Tubuh ini telah di segel oleh keempat dewa. Setiap serangan dari salah satu kekuatan dewa itu membuat tubuhku sakit luar biasa. Sampai aku belum menyerap kekuatan sejatiku kurang dari lima puluh persennya, maka jurus Batara Surya itu tidak dapat aku tanggung."
"Aku baru mengetahui ternyata para dewa telah menanamkan segel dewa yang sangat samar dan tidak dapat aku raba maupun aku rasakan sebelumnya. Aku menyadarinya setelah bocah sialan itu berhasil menghantamkan jurus Batara Surya.
Segel dewa ini mirip dengan segel yang ditanam dalam tubuhmu Batara Karang. Akibat serangan dari bocah itu yang menyerangku dengan telak, telah memicu bangkitnya segel dewa yang disembunyikan dalam tubuhku."
Pandangan Dewa Kegelapan menatap ke arah sebuah piramid hitam yang menjulang tinggi seperti gunung itu.
"Kalian pergi sekarang dan cari Iblis Kali purusha. Pergi bersama empat Ashura pengawalku. Jika dia tetap menolak, dengan tawaran yang aku berikan, maka jangan membuang waktu langsung habisi saja."
"Sendiko dawuh kanjeng junjungan, hamba undur diri." Secara serempak Batara Karang dan pasukannya menjawab dan menyembah beberapa kali ke arah dewa kegelapan sebelum meninggalkan tempat itu.