
"Aku memerintahkanmu untuk membunuh mereka semua, mengapa kau tidak melakukan apa yang aku perintahkan?" Dewa Obat menatap tajam ke arah Suro.
"Mohon maaf tuan pertapa, ini hanyalah kesalah pahaman belaka. Untuk apa aku harus membunuh mereka semua?
Aku juga tidak ada urusan dengan mereka sebelumnya, jadi aku pastikan semua ini hanyalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi."
Suro mencoba menjelaskan kepada Dewa Obat yang memaksa melakukan sesuai dengan perintah yang telah dia ucapkan. Mereka berdebat cukup sengit, sebelum akhirnya perdebatan mereka terhenti karena suara dari arah lain.
"Dewa Obat aku tidak akan melupakan atas apa yang kau lakukan kepada saudara kami dari Perguruan Lembah Beracun yang telah kau bantai!" Hong Dong yang dalam kondisi lumpuh berteriak penuh kemarahan.
Dewa Obat menatap ke arah Hong Dong dan juga kepada seluruh pendekar yang terduduk dalam kondisi tanpa tenaga. Sebelum membalas ucapan Hong Dong, kembali suara dari arah lain telah menyahut.
"Aku tidak mengira ternyata kau memiliki ikatan dengan kelompok pembunuh Mawar Merah, Dewa Obat!" Pendekar Pedang Giok yang berada diantara pendekar yang lumpuh ikut menggeram penuh murka.
Posisi bias Dewa Obat dalam dunia persilatan membuat para pendekar dari aliran putih tidak berdiri dipihaknya. Karena itu sikap Pendekar Pedang Giok yang menunjukkan sikap permusuhan kepada Dewa Obat bukan sesuatu yang aneh.
"Pemuda ini kalian duga dari bagian kelompok Mawar Merah? Otak kalian sepertinya ada yang salah. Apakah kalian tidak pernah mendengar kabar yang telah tersebar dalam dunia persilatan, tentang hancurnya markas dari kelompok Mawar Merah?" Dewa Obat yang berbicara dengan Suro langsung berpaling ke arah Pendekar Pedang Giok.
Dewa Obat sedikit tersinggung dirinya dikaitkan dengan kelompok Pembunuh Mawar Merah. Kekuatan kelompok itu sebelum dihancurkan Suro menjadi salah satu yang diperhitungkan dalam dunia persilatan.
"Apakah kepalamu sudah jernih Heng Thian? Apakah kau tidak mengingat jurus pedang yang digunakan pemuda ini?"
Mendengar penjelasan Dewa Obat, kali ini bukan hanya Pendekar Pedang Giok yang bernama asli Heng Thian, tetapi seluruh pendekar yang ada ditempat itu seperti tercekat tenggorokannya.
Sebab mereka menyadari satu hal terkait kabar yang menyebutkan hancurnya markas Mawar Merah oleh seorang pemuda. Walaupun kabar itu sesuatu yang sangat mustahil terjadi, tetapi kabar itu tidak dipungkiri kebenarannya.
Sebab sudah banyak anggota Mawar Merah banyak yang membentuk kelompok-kelompok sendiri. Itu artinya kemungkinan besar kabar tersebut terbukti kebenarannya.
Dalam kabar tersebut disebutkan, jika pemuda itu menggunakan jurus pedang yang dahsyat. Jurus pedang terbang yang mampu menyerang setiap orang seakan memiliki pikiran sendiri.
Heng Thian yang dikenal luas sebagai seorang ahli pedang sekalipun tidak sanggup menembus jurus yang dikerahkan Suro barusan. Kengerian segera membayangi wajah para pendekar itu saat menatap Suro.
Mereka segera menyadari, jika pemuda itulah yang telah mengegerkan dunia persilatan karena telah menghancurkan kelompok Mawar Merah seorang diri. Kini mereka telah mengusik pemuda itu.
Dewa Obat sebenarnya baru mengetahui hal tersebut, sesaat setelah semua pendekar yang mengepung Suro berjatuhan terkena racun pelumpuh tulang. Pada awalnya dia juga mengira Suro bagian kelompok Mawar merah.
Namun saat mengaitkannya dengan tehnik pedang pedang terbang yang dikerahkan, dia segera menyadari hal lain tentang pemuda yang sesumbar dapat membunuhnya.
"Suasana hatiku sedang senang karena menemukan calon pewaris ilmu meracik obatku yang tepat. Jika tidak, maka aku tidak akan membiarkan kalian hidup!" Tatapan mata Dewa Obat menyapu ke arah para pendekar yang berada didepannya.
Tatapannya itu berhenti tepat saat sorot matanya bertemu dengan Hong Dong.
"Terutama kau Hong Dong! Kau jangan bersilat lidah dengan menyalahkanku atas kematian anak buahmu! Kau pikir aku tidak mengetahui tindakan mereka yang hendak membantai penduduk dilereng gunung Taihang Shan!
Kau masih tidak mau membuka mulut aku tau semua penduduk itu hendak kalian jadikan tumbal bagi ilmu racun terkutuk milik perguruanmu!"
"Cuiiih...kau mengatakan ilmu racun kami sebagai ilmu terkutuk?" Mata Hong Dong sudah begitu murka, sehingga dia tidak peduli dengan kondisinya yang sudah lumpuh tidak berdaya.
"Kau terlalu naif Dewa Obat! Apakah kau tidak melihat atas apa yang dilakukan rekanmu kepada kami ini? Ilmu racun rekanmu lebih sesat dari pada apa yang telah aku kuasai."
"Lancang...kau berani memfitnah calon muridku dengan tuduhan tidak berdasar! Apakah kau tidak merasa nyawamu telah diampuni oleh pendekar itu?
Apakah kupingmu tidak tuli, bagaimana dia tidak membiarkan diriku membantai kalin semua?"
Craaasss!
Tanpa memberi peringatan sebelumnya satu jari yang di gerakkan telah melesat bersama energi pedang angin. Al hasil kepala Hong Dong langsung terpisah.
Suro tidak menduga hal itu terjadi. Dia juga tidak memiliki kesempatan untuk mencegahnya. Karena itu dia hanya bisa tertegun menyaksikan tindakan Dewa Obat didepan matanya.
"Dia tidak pantas kau selamatkan anak muda. Kejahatan yang telah dia lakukan harus aku hentikan. Apalagi berani menyebut dirimu dengan tanpa hormat!"
Suro hanya menggaruk-garuk sambil menyengir, dia kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Dewa Obat.
"Lelaki itu tidak aku ampuni, sebagai gantinya aku mengampuni mereka semua. Tetapi kau tidak tau apa yang akan mereka lakukan kepadamu kedepannya.
Jika terjadi apa-apa atas tindakanmu ini, jangan salahkan diriku yang sudah memperingatkanmu!" Mata Dewa Obat yang menatap tajam dibalas Suro dengan anggukan.
"Aku akan memulihkan mereka. Tetapi karena jumlah mereka terlalu banyak, aku tidak memberikan mereka penawarnya satu persatu."
Suro lalu berjalan ke arah sebuah wadah air yang terbuat dari batu. Ukurannya lumayan besar.
Namun wadah air itu berada didekat tempat untuk menambatkan kuda didepan rumah makan bernama Pavillium Angin Utara. Wadah air itu kemungkinan besar adalah tempat untuk meminum kuda.
Dia lalu menaburkan sebuah lipatan bungkusan kertas yang didalamnya berisi ramuan bubuk penawar bagi racun pelumpuh tulang. Dia lalu mengaduk dengan bilah pedang yang ada dipinggangnya.
Lodra yang telah kembali kesadarannya dan telah mengenali Suro mulai memaki-maki ke arah pemuda itu, sebab bilah pedang yang dia diami diperlakukan seperti barang rongsokan.
Suro tertawa dan menyahut melalui suara batinnya,' ini adalah hukuman karena dirimu berani menganggab diriku bukan pemilik pedang ini.'
'Tetapi...aku juga tidak menginginkan kejadian itu! Semua itu diluar kemampuanku. Sebab aku sendiri dalam pengaruh mantra pertapa itu.'
Lodra kembali memaki-maki ke arah Suro, tetapi pemuda itu mendiamkannya, seperti yang dilakukan Lodra saat berada dalam kekuasaan Dewa Obat.
Suro kemudian memandang ke arah para pendekar yang masih terduduk dan masih tidak mampu menegakkan tubuhnya, apalagi untuk berdiri akan mustahil mereka lakukan.
"Kalian bisa meminum air ini jika ingin pulih dari racun yang telah memasuki tubuh kalian. Jika kalian tidak menginginkannya, aku tidak memaksa
Tetapi percayalah, kalian tidak akan menemukan penawar racun itu. Meskipun kalian mencarinya di markas Mawar Merah yang telah aku bumi hanguskan rata dengan tanah."
Dia lalu berjalan kembali ke arah Dewa Obat yang menggaruk-garuk kepala melihat tindakan Suro yang menuangkan penawar racun kedalam tempat minum bagi kuda.
Melihat Dewa Obat menatap dengan pandangan aneh, Suro juga mulai mengernyitkan dahinya menatap balik ke arah Dewa Obat," apakah ada yang salah dengan tindakanku tuan pertapa?"
"Ah..tidak aku hanya sedikit terkejut dirimu memiliki penawarnya. Seberapa banyak penawar yang kau ambil dari markas Mawar Merah?"
"Penawar ini aku buat sendiri tuan pertapa," ujar Suro sambil menatap ke arah para pendekar dihadapannya.
Mereka untuk menuju ke tempat minum kuda, terpaksa dilakukan dengan cara ngesot.
Suro memang tidak menemukan tempat air yang lebih besar disekitar mereka. Selain itu dia menjadikan hukuman bagi mereka yang menyerang dirinya dan juga Geho sama tanpa alasan jelas.
Saat Suro sibuk menatap ke arah para pendekar, Dewa Obat masih melotot mendengar perkataan Suro yang menyebut bahwa dirinya sendiri yang telah meramu penawar racun pelumpuh tulang.
"Tidak salah lagi, kau memang Pangruwatdewa cucu dari Dewa segala racun. Aku yakin sekarang, hanya kau lah yang mampu membantuku menuju nirwana." Suro hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Dewa Obat.
Suro sebenarnya tidak mengerti ucapan Dewa Obat, tetapi cara berpikir pertapa itu sedikit susah ditebak. Karena itu dia mengiyakan saja apa yang dia ucapkan.
Geho sama sejak tadi terdiam karena dia kembali mencoba mencari aura kekuatan yang sempat dia rasakan.
"Apakah kau telah menemukannya Geho sama?"
Geho sama yang selesai mengerahkan ilmunya, segera membuka matanya. Dia hanya memberikan anggukan kepala menjawab pertanyaan suro.
"Ingat, kau masih punya hutang ayam goreng padaku Geho sama. Setelah semua ini selesai, kau harus membayarnya."
"Dasar bocah gendeng, dalam kondisi seperti ini masih saja ingat ayam goreng!"
Setelah memastikan para pendekar pulih dari racun yang mengenai mereka, maka mereka kembali meneruskan perjalanan. Dewa Obat sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat khasiat penawar yang dimiliki Suro.
Dia sudah beberapa kali mencoba membuat penawar untuk racun pelumpuh tulang. Namun bahan yang dia ramu tidak cukup kuat untuk mampu menawarkan racun yang sangat unik itu.
Beberapa aliran putih mengucapkan terima kasih kepada Suro. Tetapi tidak bagi para pendekar aliran hitam.
Terutama mereka yang berasal dari Perguruan Lembah Beracun. Tetapi Suro tidak memperdulikan hal tersebut. Dia memahami, jika semua akibat yang dilakukan Dewa Obat kepada Hong Dong.
Kali ini Suro menggunakan Langkah Maya dan menghilang dari pandangan para pendekar. Setelah tiga orang itu menghilang, para pendekar akhirnya dapat bernafas lega.
Mereka kini mempercayai tentang kabar hancurnya markas kelompok Mawar Merah. Sebab mereka yang sebanyak itu dilumpukan dengan begitu mudahnya.
Suro memilih menggunakan Langkah Maya, sebab dia tidak ingin membuat kehebohan lagi di kota itu. Mereka langsung menuju ke tempat dimana aura siluman elang berada. Sebab Geho sama telah mengunci lokasi dimana aura itu dia rasakan.
Silahkan tinggalkan like comentnya. kalau ingin crazy up hingga 20 chapter silahkan vote masuk pemenang dua mingguan 20 besar ke atas