
"Kakek apakah masih ada lagi siluman lain yang menyerang?" Suro bertanya kepada seorang kakek yang mau mencium tangannya, tetapi Suro segera mencegahnya untuk tidak melanjutkan tindakannya. Kakek itu merasa sangat berterima kasih sekali kepada Suro yang telah menyelamatkannya dari siluman barusan. Sebab sesaat sebelum sinar milik Suro menghantam, hampir saja kakek-kakek itu menjadi santapan makan malam siluman kera yang kini telah menjadi bangkai.
"Kakek tidak perlu melakukan itu. Silahkan berdiri lagi." Suro kemudian mengangkat tubuh kakek tua yang masih mengigil ketakutan akibat dari kejadian barusan.
"Tidak perlu lagi merasa ketakutan kakek. Para siluman telah kami kalahkan, dua diantaranya justru sudah kami habisi. Untuk sementara, saya yakin mereka tidak akan berani menyerang kembali dalam waktu dekat."
"Terima kasih banyak tuan pendekar budimu tidak mampu hamba balas. Karena berkat pertolongan tuan pendekar nyawa hamba masih ada sampai sekarang."
"Kakek tidak perlu menyebut saya dengan sebutan tuan. Cukup dengan memangil saya Suro, itu nama asli saya kakek."
"Kalau kakek boleh tau, apa nama gelar tuan pendekar? Hamba tidak berani jika memangil tuan pendekar hanya dengan nama tuan saja tanpa mengikutkan gelar pendekar tuan dibelakangnya."
"Kakek panggil saja dirinya dengan panggilan pendekar gemblung!"
Suro langsung menoleh ke arah suara yang barusan berbicara. Dia hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya sambil tertawa kecil. Karena barusan yang berbicara adalah Dewa Rencong yang memotong pembicaraan mereka.
"Paman bisa tunjukan arah kediaman Demang Gelagah Wangi? Karena kami membutuhkan tempat menginap untuk malam ini." Sambil bertanya kepada kakek itu Dewa Rencong masih mencoba menahan tertawanya melihat Suro menjadi salah tingkah setelah disebut dengan panggilan pendekar gemblung.
Dewa Rencong segera memerintahkan Suro menjemput Mahadewi dan Made Pasek yang sebelumnya disuruh menunggu dibelakang. Dewa Rencong sendiri langsung melesat menuju kediaman demang sesuai arahan dari kakek-kakek tersebut.
**
"Ki Demang apakah selain serangan dari para siluman, apakah ada pergerakan dari aliran hitam yang ikut menyerang dan membuat kekacauan di kademangan ini?"
Ki Demang Sariyoso yang mendapat pertanyaan Dewa Rencong sedikit gugup. Apalagi menurut bawahannya para siluman dapat diusir dari kademangan, bahkan ada dua siluman yang mampu dibunuh berkat para pendekar dari Perguruan Pedang Surga ini. Mendengar penjelasan bawahannya mengenai para tamunya itu, membuat Ki Demang menaruh begitu hormat kepada rombongan Dewa Rencong.
Dia tidak menyangka sama sekali jika siluman yang telah berkali-kali menyerang kademangannya akhirnya mati juga. Padahal sebelumnya banyak sudah prajurit kademangan yang menjadi santapan para siluman saat mencoba menghentikannya. Dia sudah merasa sangat putus asa untuk bisa menghentikan serangan para siluman itu.
"Untungnya tidak ada yang mengambil kesempatan dengan kekisruhan yang telah ditimbulkan oleh serangan siluman yang sangat merepotkan ini tuan pendekar."
"Tetapi kekisruhan dari serangan siluman dan dari pasukan golongan hitam sudah melanda daerah sekitaran Ujung para, Tajug dan Juwana yang berdekatan dengan Kadipaten Banyu Kuning. Mereka para aliran hitam agaknya telah memulai memperluas daerah kekuasaannya, setelah Medusa Hitam berhasil menguasai Kadipaten Banyu Kuning."
"Tetapi ada satu laporan dari bawahan saya yang melihat gelagat beberapa orang yang mencurigakan. Mereka sempat terlihat disekitaran kademangan ini beberapa hari yang lalu sebelum siluman mulai menyerang seperti kejadian barusan."
"Bisakah Ki Demang menceritakan ciri-ciri orang-orang yang mencurigakan itu?"
"Mereka berpakaian serba hitam dengan gambar tengkorak berwarna merah."
"Perguruan Tengkorak Merah!" Dewa Rencong segera mengenali orang-orang yang disebutkan Ki Demang.
"Kemungkinan mereka mata-mata dari Medusa Hitam." Demang Sariyoso menambahkan.
"Perguruan Tengkorak Merah dimana itu paman?" Suro merasa janggal dengan nama perguruan yang baru dia dengar itu.
"Perguruan Tengkorak Merah ini berasal dari daerah disekitaran kota Watan yang masih masuk daerah Medang kakang." Mahadewi yang menyahut pertanyaan Suro karena dia berasal dari Medang, sehingga mengetahui tentang perguruan itu.
"Saya dapat kabar dari Kadipaten Banyu Kuning, bahwa pasukan Kalingga mampu dipukul mundur oleh Medusa Hitam. Salah satu faktor yang membuat Medusa Hitam mampu melakukan itu, adalah karena dukungan para siluman yang mampu menambah kekuatan pasukannya berkali-kali lipat."
"Jika beberapa siluman saja sudah mampu menghancurkan satu kademangan, maka bisa dibayangkan jika Medusa Hitam memiliki ribuan pasukan siluman."
"Beruntung para tuan pendekar datang dan menyelamatkan kademangan kami ini. Jika tidak, tentu akan banyak korban jiwa yang berjatuhan."
"Lalu bagaimana kalian menghadapi serangan siluman yang datang sebelumnya?" Dewa Rencong kembali bertanya kepada Demang yang menjadi gugup setiap kali pendekar dari Swarnabhumi itu bertanya.
"Pada setiap serangan yang terjadi biasanya hanya satu siluman yang menyerang. Tetapi entah mengapa kali ini mereka datang tiga siluman sekaligus yang datang. Seakan mereka ingin menghapus kademangan ini."
"Tentang bagaimana cara kami mengatasi serangan siluman, sebelumnya kami mendapatkan pertolongan dari pasukan Medang."
"Tetapi itu sebelum mereka mendapat perintah baru untuk segera bergerak menuju Kadipaten Banyu Kuning. Setelah mereka pergi sejak lima hari yang lalu, kami melawannya hanya dengan kemampuan kami yang seadanya. Kemudian karena banyaknya bawahanku yang tewas, membuat diriku harus membuat keputusan berat, yaitu memutuskan menarik semua pasukan dan memusatkan penjagaan disekitar kediaman ini saja."
Dewa Rencong hanya terdiam mendengar penjelasan Demang Sariyoso. Dia mencoba menganalisa seluruh kejadian yang dijelaskan Demang Sariyoso mengenai situasi yang akan mereka hadapi di Kadipaten Banyu Kuning.
Meskipun koalisi Medusa Hitam telah diserang pasukan dari Kerajaan Kalingga dan juga dari Perguruan Pedang Surga, tetapi mereka justru membuat sesuatu hal yang sangat mengejutkan, yaitu mereka berhasil memukul mundur pasukan dari Kerajaan Kalingga.
Bahkan kabar pasukan Perguruan Pedang Surga juga tidak lebih baik. Walaupun mereka mampu mengusir pasukan Medusa Hitam dari Perguruan Pedang Halilintar, tetapi mereka tidak mampu bertindak lebih jauh. Sebab kini mereka justru seperti masuk dalam jebakan Medusa. Bisa masuk tetapi sulit keluar dan seandainya tetap keluar kemungkinan tidak akan ada lagi Perguruan Pedang Halilintar.
Walaupun mereka sudah mendapatkan bala bantuan dari berbagai perguruan cabang yang mulai banyak berdatangan ke Banyu Kuning, tetapi itu juga tidak banyak membantu melawan serangan para siluman. Justru semakin menambah banyak daftar korban yang telah dibunuh para siluman.
Dari perkataan Ki Demang Sariyoso kini dia baru mengetahui ternyata bukan saja di Kademangan Gelagah Wangi tetapi juga sepanjang Selat Juwana dan seluruh daerah yang berdekatan dengan Kadipaten Banyu Kuning telah diobrak-abrik dari para siluman.
"Pagebluk besar(becana besar) kini akan dihadapi seluruh negeri di nuswantoro ini." Dewa Rencong menghela nafas panjang.
"Selain para siluman, hampir seluruh kekuatan aliran hitam sudah bergabung dalam pasukan dibawah bendera Medusa Hitam. Beberapa adipati dari beberapa kadipaten kini ikut kraman (pemberontakan) melawan Kerajaan Kalingga. Entah mengapa mereka bisa ikut melakukan kraman. Setahu saya mereka adalah adipati yang sangat setia dengan Mahaprabu Sri Baginda Wasumurti."
"Entah benar atau tidak, ada kabar bahwa semua itu berkat peran dari seorang dukun yang disebut-sebut kekuatannya mencapai tingkat yang sebanding dengan Mahagurunya yang dulunya mempunyai gelar Dukun Sesat dari Daha. Saya tidak mengetahui persis dengan peran apa yang dimaksudkan?"
"Baru saya ingat sekarang, kekuatan Dukun sesat dari Daha yang terkenal bukan hanya ilmu racunnya. Tetapi tingkat ilmu sihirnya yang juga menakutkan. Ilmu sihirnya itu bisa mempengaruhi seseorang tanpa dia sadari, sehingga seseorang itu mengikuti kemauan si Dukun Sesat tersebut seperti kebo di cucuk hidungnya."( artinya seseorang yang menurut saja kehendak orang lain tanpa membantah karena bodoh atau karena tidak berdaya melawannya)
"Kami ingin menyelesaikan kekacauan ini dari akar permasalahannya langsung. Semoga Ki Demang bisa memaklumi keputusan kami. Karena jika kami berhasil mengatasi akar permasalahan disana tentu para siluman itu tidak lagi menyerang daerah ini." Dewa Rencong akhirnya memberi penjelasan kepada Ki Demang yang tidak rela ditinggal para pendekar itu. Tentu saja karena tidak ada lagi yang melindungi Kademangan Gelagah Wangi.
"Saya memahami dengan keputusan pendekar. Tetapi saya hanya menghawatirkan keselamatan dari para penduduk yang kemungkinan diserang para siluman lagi."
Dewa Rencong ingin meyakinkan Ki Demang Sariyoso tetapi dia membatalkan niatnya itu karena setelah dipikir-pikir hal itu tidak ada gunanya.
"Tenang paman Demang akan aku kejar kemanapun para siluman itu pergi. Kalau perlu akan aku obrak-abrik kerajaan silumannya." Suro akhirnya yang membalas perkataan Ki Demang Sariyoso.
"Memang kamu tau dimana kerajaan siluman itu berada, bocah gemblung?"
"Hehehe....pamankan selalu dipanggil dengan sebutan Dewa, sebagai seorang Dewa tentu tau dimana kerajaan siluman itu berada? Jadi Suro tinggal bertanya kepada paman. Hehehehe....!"
Mahadewi dan Made Pasek berusaha sekuat mungkin menahan tawanya didepan Dewa Rencong yang mukanya menjadi merah padam mendengar perkataan Suro. Tetapi Suro justru tertawa lepas tidak peduli dengan perubahan raut muka pendekar dari Bukit Lamreh itu.
Akhirnya Dewa Rencong hanya mendengus dengan perkataan Suro yang menjadikan gelar pendekarnya sebagai lelucon.
"Kenapa ada bocah gemblung sepertimu bisa memiliki kemampuan yang begitu mengesankan?" Seingat Dewa Rencong tidak ada generasi muda yang berani bercanda dengan dirinya seperti yang dilakukan Suro.
"Hehehehehe....! Suro tertawa sambil mengaruk-garuk kepala mendengar perkataan Dewa Rencong.
'Agaknya tidak mudah memiliki calon murid gemblung seperti dirinya.' Dewa Rencong hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala dengan sikap Suro, tetapi entah kenapa dia justru malah menyukai sikap Suro yang apa adanya itu. Walau kadang sikap polosnya agak keterlaluan.
Setelah berpamitan kepada Ki Demang mereka semua segera memacu kudanya menuju Selat Juwana untuk menyebrang menuju ke Ujung Para.
Setelah beberapa kali merayu pemilik kapal untuk mau menyeberangkan, mereka akhirnya mendapatkan satu kapal yang bersedia menyebrangkan mereka. Sebuah kapal jung ukuran sedang yang kondisinya tidak terlalu bagus. Tetapi hanya kapal itu yang mau menyebrangkan mereka.
Entah mengapa mereka sangat sulit diminta mengantarkan padahal hari sedang cerah tidak ada badai, tetapi dengan kondisi seperti itu mereka justru enggan menjalankan kapalnya. Mereka tidak menjelaskan alasannya secara jelas. Tetapi sejak pagi tadi sudah dua kapal telah tenggelam. Tidak ada yang selamat dari peristiwa yang belum lama terjadi itu. Sehingga tidak ada yang mengetahui penyebabnya. Hanya saja kapal yang tenggelam itu bukan hanya tenggelam tetapi juga dihancurkan dengan kerusakan yang menyisahkan puing-puing kapalnya saja.
Setelah kapal itu mulai berada di tengah lautan tiba-tiba gelombang besar datang. Kapal Jong yang tidak terlalu besar itu bergoyang keras.
"Ada yang aneh dengan gelombang ini?"
"Ada apa paman?" Suro yang melihat nahkoda kapal begitu resah segera mendekatinya untuk bertanya lebih lanjut.
"Lihatlah tidak ada angin besar tetapi kenapa gelombang besar berduyun-duyun datang menghantam kapal ini?"
Sejak dari semalam Suro hampir tidak tidur, karena ikut berjaga dari kemungkinan akan datangnya serangan susulan dari para siluman. Matanya yang baru saja menutup untuk tidur barang sebentar, akhirnya memilih membuka mata dan berjalan keluar untuk memeriksa penyebab goncangan keras yang mendadak terjadi pada kapal yang sedang dinaikinya.
"Apa yang terjadi nakmas Suro?" Dewa Rencong juga segera bergegas keluar dari kamarnya mencoba mencari tau penyebab kapal yang berguncang keras secara mendadak. Dia menghampiri Suro yang sedang berbicara dengan nahkoda kapal.
Nahkoda segera menjelaskan keganjilan yang dia rasakan.
"Sepertinya ada sesuatu di bawah permukaan air yang telah menggerakkan gelombang besar ini." Dewa Rencong segera menyadari apa yang terjadi.
"Lihat ada bayangan hitam yang bergerak dibawah permukaan air!" Made Pasek yang ikut memandang permukaan air laut sekilas melihat sesuatu yang bergerak.
Setelah Dewa Pedang keluar, Made Pasek dan Mahadewi juga menyusul dibelakangnya. Mereka juga merasakan goncangan kapal yang tidak sewajarnya. Penumpang kapal hanya mereka berempat, karena setelah kejadian tenggelamnya dua kapal secara misterius banyak yang memilih menunda perjalananya ke Ujung Para.
Blaaar!
Diluar dugaan Dewa Rencong segera terjun ke atas air. Tebasan energi bilah rencongnya menghantam dengan kuat membelah permukaan air.
Begitu tersibak begitu lebar, dari dalam air menerjang dua ekor ular raksasa yang lebih besar dari sebuah pohon kelapa. Melihat serangan dua ekor ular yang begitu ganas Dewa Rencong tetap tenang. Dia langsung menyambut datangnya serangan dengan terjangan energi tebasan dengan lebih kuat. Serangan Dewa Pedang begitu mengagumkan, energi tebasan itu membuat tubuh dua ekor ular raksasa itu terlempar dan melambung ke atas.
Saat dua ekor ular itu masih terbang diudara, setelah terhantam energi tebasan dari Dewa Rencong, dua larik sinar segera menyusul dan menghantam dua kepala ular itu. Kemudian menghancurkan dua kepala ular itu menjadi wujud yang sudah tidak berbentuk lagi.
Dewa Rencong meletakkan ke dua kakinya diatas permukaan air seperti mengambang diatas air. Segera dia menoleh ke belakang ke arah datangnya sinar yang menghantam dua ekor ular itu.
"Maaf paman pendekar Dewa Rencong, murid gemblung ini tangannya sedang gatal! Nilai sementara empat kosong paman Dewa! Hehehehe....!" Suro tertawa puas setelah melihat sasaran dari jurusnya langsung mati seketika.
Mahadewi, Made Pasek begitu juga nahkoda kapal terkejut dan terkesima dengan serangan yang dilancarkan Suro.
Mahadewi dan Made Pasek segera menyadari serangan yang dilakukan Suro adalah salah satu jurus dari Tapak Dewa Matahari yang sangat legendaris itu.
Mereka tidak menyangka Suro telah menguasai jurus yang terkenal mengerikan kekuatannya itu. Sebab pada seleksi tetua muda Suro tidak memperlihatkan sama sekali tehnik tersebut.
**
Mohon maaf saudara-saudara sebangsa dan setanah air rencana mo upload tadi malam ditunda karena naskah harus direvisi ulang lagi karena naskah yang diketikbelum memuaskan. Semoga hasil akhir ini memuaskan pembaca.
silahkan kirim komentar untuk memberi masukan. Dan jangan lupa tetap mendukung novel ini dengan menyertakan mengirim like, koin dan point anda sekalian. terima kasih untuk semua yang telah mendukung saya doakan panjang umur dan sehat selalu. Bagi yang belum saya doakan segera menyusul mengirim semua koin dan pointnya.
suwun.
up tetap dua hari sekali walau kadang setiap hari atau justru malah tiga hari. waktu tergantung selesainya penulisan naskah**.