
"Paman apa yang terjadi sebenarnya, mengapa adinda Mahadewi mengamuk?" Setelah bertanya berkali-kali kepada Mahadewi tidak ditanggapi, justru serangan pedang yang semakin menjadi, membuat Suro memilih bertanya kepada Kolo weling.
Tetapi ketika Kolo weling yang hendak menjawab pertanyaan Suro, sebuah tatapan mengerikan mengarah kepadanya. Tatapan itu justru semakin membuat Kolo weling tertawa semakin keras.
"Nimas Mahadewi hanya ingin menunjukan hasil latihannya selama ini dalam penguasan jurus sepuluh pedang terbang kepada nakmas Suro!"
'Mununjukkan apanya? Ini bukan hendak menunjukkan hasil latihannya, tetapi memang hendak memcicangku.' Suro membatin sambil terus menghindari serangan Mahadewi.
Mendengar ucapan dalam hati Suro barusan, membuat Geho sama tertawa semakin puas.
"Siluman kampret, senang sekali dia melihat diriku kesusahan!" Suro mendengus kesal melihat Geho sama sejak awal justru mentertawakan dirinya yang terus diburu oleh bilah pedang Mahadewi.
Geho sama memahami, meskipun serangan Mahadewi terlihat begitu cepat dan rapat, tetapi itu tidak akan mampu mencelakakan tuannya. Karena itulah dia membiarkannya dan tidak berusaha menolongnya.
Dia cukup yakin dengan pengamatannya Apalagi keberadaan Sang Hyang Kavacha yang telah bersatu dalam tubuh Suro, tentu tidak akan membiarkan pedang milik Mahadewi akan melukai tubuh tuannya.
Geho sama justru duduk manis sambil melihat pertunjukkan didepan matanya. Dia semakin keras suara tawanya setiap kali melihat Suro lari pontang-panting menghindari sepuluh pedang terbang yang tidak mau melepaskan dirinya.
Semua diantara mereka bertiga tidak ada yang berniat menghentikan atau berusaha meredakan kemarahan Mahadewi. Kolo weling terlalu sibuk menahan tawanya yang susah dia tahan, sampai tertawa cekikikan. Begitu juga Geho sama dia justru semakin menikmati setiap kali Suro harus berjumpalitan, lari tunggang langgang kesana kemari mencoba lepas dari serangan Mahadewi. Sedangkan Made Pasek mulutnya sudah dia kunci takut salah berbicara lagi.
Setelah sekian jurus Suro dikejar-kejar bilah pedang milik Mahadewi, mendadak dua sosok muncul di kediaman Kolo weling yang akhirnya menghentikan gerakan Mahadewi seketika itu juga. Suara dari salah satu sosok itu bahkan langsung membuat Mahadewi menundukkan kepalanya tanpa membantah.
"Mahadewi! Apa yang kamu lakukan? Jangan kurang ajar kepada nakmas Suro! Dia telah meningkatkan kemampuan dan juga mengajarimu ilmu pedangmu, artinya dia juga adalah gurumu. Apakah seperti ini caramu memperlakukan salah satu gurumu?"
"Apakah gurumu ini pernah mengajarimu cara memperlakukan seseorang yang telah menyelamatkan nyawamu? Jangan membuat diriku malu didepan kakang Sindu!"
Suro akhirnya dapat bernafas lega melihat tetua Dewi Anggini akhirnya muncul tanpa dinyana.
"Sukurrr...sukur, akhirnya pawangnya telah datang." Suro mengelus-elus dadanya yang megap-megap setelah dikejar sepuluh pedang terbang milik Mahadewi.
Kedatangan tetua Dewi Anggini membuat amukan Mahadewi berhenti seketika. Dia hanya bisa menundukkan kepala mendengar ceramah panjang gurunya yang tidak kunjung berhenti.
Kedatangan tetua Dewi Anggini yang bersama ocehannya juga menghentikan tawa Kolo weling. Dia sebelumnya tertawa keras bersaingan dengan suara Geho sama yang kini masih mentertawakan Suro. Manusia setengah siluman itu tidak peduli dengan suara ocehan tetua Dewi Anggini. Karena dia belum puas mentertawakan Suro yang masih ngos-ngosan.
Eyang Sindurogo yang berada dibelakang tetua Dewi Anggini mengenali Kolo weling yang dulu merupakan mantan perampok yang kemudian menjadi anak buah dari Suro. Dia tidak menyangka mantan perampok itu tetap setia menjadi bawahan muridnya.
Melihat tetua Dewi Anggini tidak juga menghentikan ocehannya, Suro kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena dia juga tidak berniat memperpanjang kejadian barusan. Walaupun dia juga belum mengetahui alasan mengapa Mahadewi mengamuk dan menyerangnya.
"Jangan salah paham tetua. Adinda Mahadewi tidak sedang melakukan hal yang kurang ajar, tetua. Adinda hanya ingin memperlihatkan kepada saya hasil latihannya selama ini, bukan begitu adinda Mahadewi?"
Suro menatap ke arah Mahadewi yang tetap tertunduk. Dara cantik itu hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Suro dan kembali menundukkan kepala.
Mendengar ucapan Suro barusan tetua Dewi Anggini baru mau menghentikan wejangannya kepada Mahadewi.
"Eyang guru, dibelakang rumah ini ada sesosok yang ingin bertemu denganmu."
"Sesosok?" Eyang Sindurogo mendengar ucapan Suro mengerutkan dahinya.
"Iya eyang." Suro menganggukan kepala sambil tersenyum.
"Mari Suro tunjukan sesosok yang ingin bertemu dengan eyang."
Tanpa menunggu lama Suro mengajak gurunya menuju bukit yang berada dibelakang kediaman didampingi Kolo weling. Tetua Dewi Anggini menyuruh Mahadewi kembali ke kediamannya yang ada di perguruan pusat.
Begitu juga Geho sama dia langsung masuk ke rumah Koko weling untuk tidur, dia sepertinya cukup kecapaian, setelah melewati pertarungan panjang. Made Pasek sendiri memilih kembali ke perguruan Pedang Surga.
Gooooaaarrrgg!
Sebelum mereka berempat sampai di dekat bukit telah terdengar suara gerungan harimau terdengar begitu keras. Sepertinya makhluk itu telah mencium bau tubuh tuannya yang masih berada cukup jauh.
Eyang Sindurogo begitu kaget mendengar suara gerungan itu. Dia segera mengenali suara yang terdengar begitu keras dikejauhan itu.
Eyang Sindurogo menoleh ke arah Suro yang tertawa kepada gurunya sambil menganggukkan kepalanya.
"Benar eyang itu adalah suara si Maung. Aku membawanya kesini."
Suro kemudian menjelaskan alasan dirinya membawa harimau itu. Dia juga menceritakan kepada gurunya tentang keputusannya menyembunyikan ruang rahasia yang dijadikan tempat menyimpan kitab ilmu tingkat tinggi dunia persilatan. Eyang Sindurogo mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Suro sambil berjalan ke arah bukit.
"Itu tindakan yang tepat ngger. Eyang tidak mempermasalahkannya."
Gooooaaaarr...!
"Hahahaha... Maung, agaknya dirimu sudah begitu merindukanku. Hahahaha...! Aku tidak menyangka ternyata banyak yang merindukanku selama ini!" Eyang Sindurogo mengusap-usap leher Maung sambil tersenyum ke arah Dewi anggini. Wanita itu kemudian membalas dengan senyuman termanis miliknya.
"Ahh... ternyata menyenangkan, jika banyak yang merindukan itu." Eyang Sinurogo mengumam pelan sambil mengusap-usap punggung Maung.
Setelah melepaskan kerinduannya kepada eyang Sindurogo, harimau itu berjalan disamping tuannya menuju rumah yang ada diatas bukit.
Eyang Sindurogo segera menyadari jika seluruh bukit besar itu dikelilingi dengan sebuah dinding besar yang cukup tinggi. Dia segera memahami jika dinding itu dibentuk dengan tehnik khusus perubahan tanah milik Suro.
Melihat dinding itu berupa batu utuh, dia cukup terkesima cara muridnya itu membuat dinding yang cukup mengah itu. Sebab dia mengetahui jika setelah dinding tanah itu terbentuk, lalu Suro menyelesaikannya dengan pengerahan perubahan api yang sangat dahsyat.
Dia cukup menyadari jika pengerahan perubahan api yang dikerahkan muridnya juga bukan sembarangan, karena api yang dia kerahkan hanya ada dalam legenda. Karena itulah saat muridnya mampu mengerahkan tehnik perubahan api hitam, dia begitu terkesima. Dia tidak mempercayai muridnya memiliki kemampuan seperti itu tanpa bantuan darinya. Begitu juga mengenai kemampuan-kemampuan dan peningkatan kekuatannya yang sekarang dia capai. Dia seakan mimpi muridnya menjadi sebegitu kuat, karena pencapaian itu sesuatu hal yang sangat tidak mungkin terjadi.
Sejak dia menemukan jabang bayi itu, dia memang telah diperlihatkan begitu banyak keajaiban. Namun apa yang telah dicapai muridnya kini adalah sesuatu yang tidak bisa diwakili dengan kata ajaib saja.
"Suro juga akan menunjukkan tempat Suro meramu dan membuat penawar racun. Racun yang aku pelajari ini Suro ambil dari kitab dewa racun milik Perguruan Racun Neraka, eyang!"
"Apa?"
"Bagaimana kamu mendapatkan kitab itu? Bukankah itu milik Dukun sesat dari Daha?"
"Benar aku mendatangi perguruan itu, lalu membumi hanguskannya."
"Apa? Apa kupingku tidak salah mendengarnya? Naga yang menjadi penjaga perguruan itu, apakah telah kamu habisi juga?"
"Benar eyang."
"Lalu bagaimana dengan nasib Dukun sesat dari Daha?"
"Aku telah berhasil menghabisinya, sewaktu di alam kegelapan."
Eyang Sindurogo tidak mempercayai dengan yang diceritakan muridnya. Beberapa kali dia menggaruk-garuk kepalanya.
"Ternyata banyak kejadian yang terlewatkan olehku selama diriku dalam kekuasaan kekuatan kegelapan."
Setelah melihat tempat Suro meramu obat-obatan bersama Kolo weling, naluri dirinya yang seorang tabib membuat dia begitu tertarik dengan apa yang dilakukan muridnya.
Dia mulai melihat-lihat tanaman dan juga bahan-bahan yang dimiliki Suro. Dia tidak menyangka bukan hanya ilmu olah kanuragannya yang meningkat pesat, namun ilmu pengobatan Suro juga ikut melesat jauh.
"Tunggu dulu, apa mataku tidak salah bukankah ini pil tujuh bidadari?" Eyang Sindurogo menunjuk botol yang berisi pil yang berwarna biru.
"Benar paman, seluruh pil yang dimiliki Perguruan Pedang Surga berasal dari sini eyang. Aku masih menghafal apa yang pernah eyang ajarkan kepada Suro."
"Mengagumkan, sungguh mengagumkan. Dirimu selalu membuat eyang terkagum-kagum le."
"Sebenarnya eyang hendak berbicara kepadamu, karena eyang menemukan sebuah kitab yang eyang sita dari Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan di daerah Turk sana."
"Sepertinya eyang menemukan jawaban mengapa beberapa kali kita menyerang Batara Antaga maupun Batara Karang dengan serangan yang kuat, namun mereka dapat tetap selamat dan kembali muncul."
"Apa jawabannya eyang?"
"Mereka menguasai ilmu hitam yang bernama "Ajian Nyalin Cangkang.""
"Ilmu semacam apa itu eyang? Baru kali ini Suro mendengar namanya eyang."
"Dengan ilmu hitam itulah, mengapa kita tidak akan mampu menghabisi mereka, meskipun kita berhasil memusnahkan tubuh mereka."
"Lalu bagaimana mereka dapat memulihkan tubuh mereka yang telah berhasil kita hancurkan, eyang?"
"Entah bagaimana, tetapi yang tertulis disebutkan, jika pengamal ilmu ini memiliki tubuh salinan. Jadi setiap kita berhasil membunuhnya, maka jiwa mereka akan masuk dalam raganya yang baru. Seperti itu yang tertulis, entah bagaimana eyang juga kurang memahaminya."
"Bagaimana ada ilmu semacam itu?" Suro kemudian mengingat-ingat jika beberapa kali serangan dirinya dan juga gurunya dipastikan telah menghabisi dua makhluk itu. Namun mereka dapat muncul kembali tanpa ada luka sama sekali.
"Ternyata lawan yang kita hadapi begitu susah kita habisi. Sepertinya jalan kita untuk menggagalkan bangkitnya Dewa Kegelapan tidak mudah."
"Sebaiknya kita memberi tahukan hal ini kepada paman guru Dewa pedang, eyang."
"Benar, kita semua harus mencari cara agar mampu membunuh mereka dengan sempurna."
Suro bersama eyang Sindurogo, tetua Dewi Anggini dan juga Maung yang tidak ingin ditinggal tuannya ikut pergi menuju Perguruan Pusat Pedang Surga.