
Kobaran api hitam yang dikerahkan Liong Heise dari kedua telapak tangannya menyembur seperti lesatan meteor. Lalu membentuk dua ekor makhluk yang sepintas mirip kadal yang memiliki sayap.
Suro terkesima dengan bentuk kobaran api hitam yang dikerahkan lawannya. Apalagi mampu bergerak beriringan mencoba mengepung dan membakar tubuh Suro.
Suro sebenarnya ingin kembali menyerang menggunakan tehnik perubahan api hitam yang baru saja dapat dia kuasai atau justru memilih kembali menghindar dari serangan itu. Tetapi dia sudah tidak tahan mendengar teriakan Lodra dalam kepalanya.
Kepalanya terasa nyut-nyutan mendengar suara Lodra yang berteriak-teriak dalam kesadarannya menyuruh dirinya untuk segera menggunakan bilah Pedang Kristal Dewa.
Tetapi sesaat setelah dia mencabut bilah pedang itu, Suro segera merasakan jika bilah pedang itu mulai menghisap tenaga dalamnya cukup kuat.
'Apa yang kau lakukan Lodra?'
'Sudah diam saja, kau ingin aku memperlihatkan kehebatan diriku, bukan? Ini juga salah satu caranya. Memang kau kira setiap kali aku mengerahkan jurus api hitam kekuatan itu berasal dari kentutmu? Seperti baru pertama kali saja aku menyerap kekuatanmu?'
Suro yang hendak menyuruh Lodra berhenti menyerap tenaga dalamnya, akhirnya memilih membiarkan jiwa pedang itu menyerap sepuas yang dia mau. Sebab dia akan bertambah pusing jika harus terus mendengar makian Lodra.
Setelah Lodra selesai menghisap kekuatan Suro, maka pemuda itu berusaha menyerang balik ke arah jurus lawan. Pedang Kristal Dewa dia tebaskan ke arah naga api yang mengejar dirinya. Dalam sekali tebas kobaran api hitam yang berbentuk naga itu mendadak terhisap masuk kedalam bilah pedang yang tergengam ditangan Suro.
"Bagaimana mungkin jurusku dapat dilenyapkan hanya dengan tebasan pedang saja? Jurus pedang macam apa ini?" Naga Hitam tidak mempercayai jurus andalannya dapat dipatahkan dengan begitu mudahnya.
Sebenarnya Suro tidak setuju dengan apa yang barusan dia lakukan. Sebab belum berselang lama jiwa pedang itu telah menyerap tenaga dalam miliknya. Tetapi alih-alih menerjangkan jurus yang mampu menandingi lawan, justru Lodra meminta Suro membiarkan dirinya melahap habis api hitam milik lawan yang menerjang ke arahnya.
'Bukankah barusan kau sudah menyerap kekuatanku Lodra, mengapa kau masih merasa perlu menyerap api hitam itu?"
'Jurus itu belum pantas berhadapan dengan api hitamku. Selain itu mendingan aku memanfaatkan kekuatan lawan yang terkandung didalam api hitam itu.'
Setelah berpikir sekilas Suro membenarkan ucapan Lodra yang terdengar jumawa itu. Satu kobaran api yang masih mengejar Suro akhirnya kembali lenyap, setelah berhasil diserap oleh bilah pedang ditangannya.
Naga Hitam tidak habis pikir bagaimana caranya Suro dapat menyerap api hitam yang memiliki panas yang mengerikan itu. Pada serangan awal dia mengira api hitam miliknya menghilang karena berbenturan dengan jurus api milik Suro.
Tetapi setelah melihat kejadian barusan, dia merasa yakin memang jurus api hitam miliknya dihisap hingga lenyap oleh Suro. Karena itulah dia kembali berdecak kesal sambil meruntuk mengetahui kemampuan lain milik lawannya yang tidak biasa itu.
Naga Hitam semakin bertambah murka dengan kejadian itu. Dia lalu melesat mengejar tubuh Suro. Dengan kejadian barusan Naga Hitam memutuskan untuk menyerang dari jarak dekat.
Naga Hitam kembali menyerang dengan menggunakan jurus pedang miliknya. Tetapi dalam serangan kali ini jurus pedang yang digunakan berbeda dari sebelumnya.
Setiap tebasannya bergerak seakan kilat, sepuluh kali lipat lebih cepat dibandingkan serangan sebelumnya. Tetapi Suro sudah terbiasa menghadapi jurus pedang milik kedua gurunya, yaitu Dewa Pedang dan eyang Sindurogo.
Kedua pendekar itu memiliki pemahaman dan kecepatan dalam jurus pedang jauh lebih kuat dibandingkan Naga Hitam. Karena itulah semua serangan itu bukan sebuah masalah besar baginya. Sebab pemahaman kedua gurunya itu telah sampai pada tahap pedang dewa.
Bahkan Pedang iblis yang sudah mencapai tahap tertinggi dari jalur iblis sekalipun dapat dia kalahkan. Meskipun pada saat mengalahkan itu kondisi Pedang iblis sudahi kehilangan satu tangannya.
Naga Hitam dalam segi pemahaman pedang telah mencapai tahap puncak Pedang Neraka satu tingkat dibawah pemahaman pedang milik Pedang iblis. Namun kekuatan Naga Hitam yang sudah mencapai tingkat surga lapis ke enam jauh lebih kuat dibandingkan kekuatan tenaga dalam milik Pedang iblis.
"Kurang ajar manusia macam apa sebenarnya kau bocah? Bagaimana mungkin setiap jurusku tidak ada yang berhasil melukaimu?"
"Tetapi jangan Senang dulu, rasakan lah jurus andalanku ini."
"Jurus Naga Delapan Penjuru!"
Kali ini Naga Hitam bergerak dengan sangat cepat, sehingga sekilas tubuhnya telah memecah menjadi delapan sosok dirinya. Semua bayangan tubuhnya itu menyerang Suro dari delapan penjuru arah mata angin secara serentak.
Melihat serangan yang tingkatannya lebih kuat dibandingkan sebelumnya, Suro segera menyambut serangan lawan dengan menggunakan jurus yang berasal dari kitab dewa pedang.
"Pusaran Dewa Pedang!"
Naga Hitam kembali berdecak kesal, setelah serangannya barusan dapat dipatahkan kembali. Padahal dia menyebut jika jurus yang dia gunakan barusan adalah salah satu jurus andalannya.
"Sebenarnya seberapa banyak kemampuanmu bocah?"
" Ratusan!" Suro tertawa terkekeh mendengar decak kesal Naga Hitam, setelah serangannya berhasil dipatahkan olehnya.
'Sialan, siapa yang sebaiknya aku korek untuk mengetahui keberadaan guru, tetua Dewi Anggini dan Dewa Rencong? Lelaki ini agaknya dia tidak mengetahui, setelah sebelumnya dia menyebut baru bangun dari latihan tertutup,' Suro menggumam dalam hati sambil melayani jurus pedang yang dikerahkan Naga Hitam.
"Jurus Pedang Pembalik Bumi!"
Blar! Blar! Blar!
'Gawat, jika dibiarkan akan membahayakan Mahadewi.'
Melihat kondisi gua tempat mereka bertarung yang bergetar hebat, membuat Suro khawatir tempat itu dapat runtuh. Karena itu kali ini dia hendak menghentikan serangan musuh yang mengamuk itu. Dia langsung menyerang balik ke arah Naga Hitam.
"Jurus Pedang Tanpa Wujud!"
Trang! Trang!
"Apa? Kau mampu menggunakan jurus Dewa Pedang yang ini?"
Nama Dewa Pedang dalam dunia persilatan memang sudah melintasi benua, karena itu tidak asing bagi Naga Hitam yang pernah berseteru dengan pendekar pedang itu. Salah satu jurus dalam kitab dewa pedang yang paling sulit dipahami adalah jurus pedang tanpa wujud. Naga Hitam tidak menyangka jika pemuda belia didepannya itu mampu menggunakan jurus tersebut.
Craaash...
"Aaaarrrggghhh!"
Satu tusukan pedang Suro menembus tubuh Naga Hitam didekat tulang belikatnya. Lelaki itu segera mundur dengan cepat, agar nyawanya dapat dia selamatkan. Sebab jika dia tidak segera bergerak mundur, niscaya tubuhnya akan terbelah menjadi dua bagian.
"Kalian hanya diam saja sedari tadi, apa kalian menginginkan aku mati, baru bergerak?!" Teriakan Naga Hitam segera menyadarkan para tetua kelompok Mawar Merah. Mereka segera serentak menyerang ke arah Suro.
Suro sendiri tidak berusaha mengejar melihat Naga Hitam yang mencoba menyelamatkan diri setelah terkena tusukan pedang miliknya.
Para tetua yang melihat bagaimana cepatnya Suro bermain jurus pedang, membuat mereka sangat terkesima dengan kemampuan itu. Mereka tidak menyangka, jika seorang pemuda yang masih begitu muda mampu menguasai jurus pedang sehebat itu.
Kini mereka segera menyadari seberapa kuat lawannya kali ini. Sebab seorang pendekar tingkat surga sekuat Naga Hitam saja dapat dipecundangi dengan begitu memalukan.
Naga Hitam segera menghentikan pendarahan dari luka yang baru saja didapat. Dia menyadari jika luka itu tidak segera ditutup, maka itu akan membahayakan nyawanya.
Walaupun luka itu tidak mengenai organ dalamnya, tetapi luka itu cukup lebar. Karena itulah saat yang lain bergerak menyerbu, dia lebih memilih untuk mengobati lukanya.
Para jagoan Mawar Merah segera menyadari kekuatan maupun pemahaman pedang yang dicapai Suro minimal telah mencapai tingkat surga. Karena itu mereka tidak lagi berusaha melawan satu lawan satu.
"Kepung pemuda itu dari empat penjuru mata angin!"
"Serang juga wanita yang bersamanya!" Salah satu tetua kelompok Mawar Merah segera memberikan titah kepada semua untuk bergerak serentak.
"Lodra kendalikan naga bumi untuk menjaga Mahadewi. Aku akan menghadapi mereka." Suro cukup menghawatirkan keselamatan Mahadewi setelah seluruh pasukan itu bergerak serentak.
Sebab sekitar seratus orang lebih yang dipimpin Setan Seribu Wajah dan Hantu Muka Badak menyerbu ke arah dara tersebut. Melihat hal itu maka Mahadewi segera mengerahkan jurus sepuluh pedang terbang miliknya.
Bersama tebasan pedang yang ada ditangan Suro, maka sesosok Maha Naga Taksaka dalam kobaran api hitam melesat ke arah Mahadewi untuk melindunginya. Api hitam yang melesat itu dalam kendali Lodra seperti yang telah diperintahkan tuannya.
"Kain ini mengganggu saja."
Setelah memerintahkan Lodra, Suro segera melepaskan kain yang sedari awal dibebatkan menutupi kedua matanya. Dia melepaskan bebatan kain itu, karena merasa matanya sudah membaik dan tidak lagi perih.
Musuh yang telah mengepung Suro, empat diantaranya adalah pendekar yang telah mencapai tingkat surga. Walaupun kekuatan mereka kebanyakan masih dilapisan awal.
Selain empat yang telah mencapai tingkat surga ada enam jagoan lain yang telah mencapai tingkat langit. Mereka hendak menyerang Suro dengan menggunakan jurus pedang yang terkenal kekuatannya.
Setelah membuka bebatan kain yang menutupi matanya, dia harus mengerjapkan matanya beberapa kali, agar terbiasa dengan kondisi cahaya yang ada ditempat tersebut.
Wuss...
Slassh...slassh..slassh
Trang! Trang! Trang!
Disaat Suro sedang menyesuaikan penglihatannya, maka musuh memanfaatkan kondisi itu untuk menyerang dirinya. Tetapi kondisi itu bukanlah halangan bagi Suro, dia segera menghadapi serangan musuh, meski matanya dia sipitkan sedemikian rupa agar tidak silau, setelah dibebat dalam waktu yang cukup lama.
Jurus yang digunakan para tetua untuk mengurung Suro memiliki nama formasi pedang bunga kematian. Formasi pedang yang digunakan musuh lebih dikenal didalam dunia persilatan sebagai formasi pedang kematian.
Satu alasan yang membuat formasi itu begitu ditakuti, yaitu tidak akan ada yang pernah selamat darinya. Bahkan demi menghadapi formasi pedang musuh Suro harus kembali menggunakan puluhan pedang yang menggantung dibelakang pundaknya.