
"Ini sudah hari kesembilan belas sejak dia memulai tapa brata pati geni, apakah ini tidak membahayakan dirinya kakang Udan Asrep? Sejak saat itu, tidak ada makanan atau minuman yang masuk kedalam tubuhnya."
"Entahlah, tetapi aku sudah memeriksa tidak terjadi apapun dalam tubuhnya. Kecuali semua dalam kondisi baik-baik saja."
"Dia sudah menggunakan bhoochari mudra sejak hari ke tujuh. Berarti sampai hari ini sudah genap dua belas hari dia tetap dalam kondisi posisi seperti itu. Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk dirinya, sampai bisa membuka granthi dan juga membuka nadi chitrininya?" Dewa Rencong kembali bertanya ke arah Eyang Udan Asrep.
"Entahlah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan? Seharusnya sudah tidak lama lagi. Tetapi dalam tehnik ini memang sedikit berbeda dengan yang pernah kita lakukan adimas Dewa Rencong. Karena pada tehnik ini nadi chitrini dibuka langsung secara penuh sebelum atau berbarengan dengan dibukanya granthi di chakra ajna. Tentu adimas bisa membayangkan seberapa susahnya apa yang dilakukan nakmas Suro."
Pada umumnya untuk membuka nadi chatrini bisa dimulai sejak awal sebelum membuka seluruh chakra atau setelah selesai membuka semua chakra. Walaupun tidak bisa sekaligus pada saat itu dibuka secara penuh, tetapi dapat dilakukan secara berulang-ulang. Hingga nadi chitrini itu bisa terbuka secara maksimal.
Seperti yang dilakukan Mahadewi sebelum melawan Arimbi dalam pertarungannya diajang seleksi tetua muda. Pada saat itu Suro menemukan solusi untuk meningkatkan tehnik pedangnya secara cepat. Karena dengan mulai terbukanya nadi chitrini ikut meningkatkan energi dan niat pedangnya. Selain itu dengan terbukanya nadi chitrini yang berhubungan dengan mata ketiga, ikut membantu dirinya meningkatkan pemahamannya mengenai ilmu pedang.
"Dengan cara dipisahkan saja kesulitan untuk membuka nadi chatrini secara penuh bukan sesuatu pekerjaan yang mudah. Bahkan aku baru bisa membuka nadi itu setelah beberapa tahun sejak semua chakra sampai chakra sahasrara mampu aku buka."
"Keberhasilanku terbantu karena tenaga dalam milikku sudah ditingkat shakti tahap pertama."
"Berapa lama adimas membuka nadi chatrini sampai terbuka secara penuh?" Eyang Udan Asrep bertanya balik ke arah Dewa Rencong yang sibuk mengusap-usap pusaka Rencong miliknya.
"Entahlah saya lupa, yang jelas setelah berkali-kali aku melakukannya, hingga benar-benar terbuka sepenuhnya bukan waktu yang sebentar. Tetapi setelah terbuka kemampuanku menguasai rencong langsung melesat jauh. Itulah mengapa aku juga akhirnya menyandang nama besar dari Mahaguru. Karena hanya diriku satu-satunya yang bisa menguasai jurus itu sampai tahap tertinggi."
"Karena itulah mengapa aku menyebut kemampuan nakmas Suro ini aku sebut sebagai sebuah keajaiban. Baru kali ini aku melihat, ada orang yang bisa melalui setiap tahap secepat nakmas. Karena aku masih mengingat saat diriku mencoba memutar energi di chakra ajna butuh waktu sekitar satu purnama. Sedangkan anak ini hanya butuh waktu tiga hari untuk membuat sirkulasi di chakra ajna dapat bergerak lancar, ditandai dengan perubahan penggunaan mahashirsha mudra menjadi bhoochari mudra."
"Dengan perubahan mudra yang dia gunakan menjadi bhoochari mudra maka dapat dipastikan arus energi yang berputar pada chakra ajna telah bersirkulasi dengan lancar. Dengan melihatnya aku tau, saat ini dia sedang berusaha membuka granthi dan nadi Chitrini atau nadi spiritual yang nantinya akan berhubungan dengan kekuatan spiritual."
"Benar sekali kakang Udan Asrep aku juga kagum dengan kecepatan dia melalui setiap tahapnya. Justru aku butuh waktu lebih dari satu purnama untuk membuat energi di chakra ajna bersirkulasi hingga lancar, tepatnya satu purnama lebih sebelas hari."
"Itulah mengapa aku sebut bocah ini melakukan sebuah keajaiban. Dibandingkan diriku dan adimas dia melakukannya sesuatu yang bisa dikatakan sangat tidak masuk akal."
"Apalagi adimas Dewa Rencong sebelumnya mengatakan untuk mencapai titik Nirvana saja butuh waktu hampir dua purama dia melakukannya hanya dalam waktu empat hari. Walaupun dia memang kondisi jiwa dan gurunya yang seorang Maharesi ikut berpengaruh. Tetapi dengan hanya waktu empat hari sesuatu yang susah diterima dengan akal, jika tidak melihat sendiri."
"Benar sekali, mungkin dia melakukan ini karena terpacu keinginannya untuk segera dapat menolong gurunya?" Dewa Rencong berbicara sambil membersihkan sarung dari bilah rencongnya. Sarung itu seluruhnya dilapisi dengan emas dengan ukiran yang rumit sehingga terlihat sangat indah.
"Mungkin saja, tetapi apapun itu, dia melakukan sesuatu yang luar biasa."
"Ini adalah masa paling kritis bagi dirinya sewaktu-waktu ledakan energi bisa terjadi. Segala barang-barang beruntung sudah aku perintahkan untuk dipindahkan dari rumah ini sebelum dia mulai bermeditasi." Eyang Udan Asrep sudah mengantisipasi sejak awal jika terjadi ledakan energi. Sehingga jika itu terjadi tidak ikut merusak barang-barang yang penting, salah satunya adalah koleksi kitab-kitab milik Dewa Pedang yang sebelumnya ditaruh didalam rumah itu. karena memang sebelumnya akibat ledakan energi saat Suro berhasil membuka granthi satu rumah tempatnya bersamadhi hancur total.
"Setelah dia mampu membuka granthi di chakra ajna dia akan menyempurnakan latihannya dengan membuka chakra sahasrara. Pada tahap itu aku yakin dia akan melakukannya lebih mudah."
"Benar kita hanya perlu menunggu dan mewaspadai efek ledakan yang ditimbulkan setelah terbukanya granthi milik nakmas Suro." Dewa Rencong berbicara sambil beringsut sedikit kebelakang.
"Apakah pendekar dari Bukit Lamreh ini takut tertimpa tiang rumah?" Eyang Udan Asrep segera menyidir Dewa Rencong sambil tertawa setelah melihatnya beringsut kebelakang. Dewa Rencong hanya menyengir kuda mendengar sindiran itu.
Mengawasi Suro yang sedang bersamadhi membuat dirinya dan tetua Udan Asrep menjadi sedikit jenuh. Mereka saling melontarkan lelucon sambil berdiskusi tentang banyak hal untuk mengurangi kejenuhan itu.
"Bagaimana dengan kabar pertempuran di Banyu Kuning apakah sudah ada berita dari Dewa Pedang?" Dewa Rencong bertanya ke arah Eyang Udan Asrep yang terlihat begitu serius menatap Suro.
"Mereka telah berhasil menguasai kembali Perguruan Pedang Halilintar." Eyang Udan Asrep menoleh ke arah Dewa Rencong dengan menarik nafas panjang.
"Melihat kakang menarik nafas seperti itu agaknya ada kabar lain, selain keberhasilan Dewa Pedang merebut kembali Perguruan cabang yang sempat dikuasai Medusa?"
"Benar sekali. Setelah mereka berhasil merebut kembali ada masalah lain yang mereka hadapi. Kabar yang aku dengar kekuatan para siluman itu ternyata begitu menyulitkan dan mengerikan. Makhluk yang telah berumur puluhan ribu tahun memang tidak bisa dianggab remeh."
"Bukankah mereka telah memiliki jurus andalan ciptaan nakmas Suro? Apakah jurus itu tidak mampu mengalahkan mereka?" Dewa Rencong menjadi antusias mendengar cerita Eyang Udan Asrep yang berasal dari laporan yang sudah dia dapatkan.
"Benar, beruntung dengan jurus itu telah mampu memukul mundur mereka sehingga Perguruan Pedang Halilintar mampu direbut kembali. Pasukan Medusa seluruhnya telah mundur."
"Tetapi bukan berarti sudah mengalahkan mereka."
"Setelah Pergurun Pedang Halilintar mampu
dikuasai kembali, kini mereka justru diteror dengan serangan para siluman."
"Dari warta yang dikirim siluman yang menyerang bukan hanya satu jenis siluman. Ada beberapa jenis siluman yang diketahui ikut bergabung dalam barisan pasukan Medusa."
"Mereka para siluman menyerang para anggota perguruan pada malam hari. Walau beberapa kali mereka juga menyerang pada saat siang hari."
"Apakah mereka tidak bisa dibunuh saat menyerang?"
"Tentu saja bisa. Hanya saja mereka datang dan pergi dengan begitu cepat menghilang. Dengan kondisi itu, membuat pasukan yang sedang bertahan harus waspada selama sehari semalam penuh."
"Apakah tidak ada cara lain untuk menghancurkan mereka sekaligus, agar tidak bisa kembali menyerang?"
"Mereka tidak menemukan jejak para siluman itu setelah selesai menyerang. Mereka para siluman dapat menghilang dengan cepat. Karena itulah mengapa mereka belum menemukan jalan keluar untuk mengatasi serangan para siluman itu."
"Hanya saja Dewa Pedang memberi perintah kepadaku jika nakmas Suro telah menyelesaikan latihannya dengan sempurna untuk segera menyusul ke Banyu kuning."
"Dewa Pedang juga tidak lupa menitipkan salam kepada adimas pendekar tentang permintaan maafnya. Sebab siluman yang mereka hadapi benar-benar merepotkan."
"Alasan dari permintaan Dewa Pedang meminta mengirim nakmas secepatnya menyusul ke Banyu Kuning adalah, karena cerita dari Dewi Anggini mengenai cara terbaik melawan para siluman itu."
"Cara terbaik? Maksudnya apa itu kakang?"
"Jika mengikuti cerita dalam legenda siluman Geho Sama, siluman itu bisa menjadi begitu kuat sehingga bukan saja ditakuti para manusia, dia juga begitu ditakuti para siluman lainnya. Karena satu hal, yaitu karena dia memiliki ilmu tehnik empat sage."
"Berkat ilmu itu dia mampu menghisap seluruh kekuatan siluman lain berikut nyawa dan tubuhnya musnah tak berbekas. Karena kemampuan ilmunya itu para siluman pun tak berani melawannya. Apalagi setelah dia berhasil menghisap beribu-ribu Raja dan Ratu para siluman yang telah berumur lebih dari sepuluh ribu tahun, membuat kekuatannya bak samudera luas."
"Dengan cerita itu Dewa Pedang mencoba peruntungan dengan menyuruh nakmas Suro menghisap seluruh siluman yang mereka hadapi!"
"Sebentar kakang, jika memang cerita itu benar adanya, bukankah dalam cerita itu yang melakukan itu adalah seeorang siluman dan yang dihisap kekuatannya juga seorang siluman?"
"Ini akan berbeda jika yang melakukan tehnik itu adalah nakmas Suro karena dia bukan siluman. Apakah Dewa Pedang tidak memikirkan efek yang akan terjadi pada nakmas Suro jika dia menghisap kekuatan siluman kedalam tubuhnya? Apakah ini sudah dipikirkan terlebih dahulu, mengenai resiko besar yang kemungkinan akan dialami nakmas Suro?"
"Benar Dewa Pedang sudah memikirkannya. Jika memang terjadi sesuatu yang membahayakan jiwanya atau kondisi dalam kejiwaan nakmas, ketua pusat memohon dengan amat sangat Dewa Rencong ikut membantu mengawasinya, karena tidak ada yang lebih memahami tentang kekuatan jiwa kecuali adimas Pendekar Dewa Rencong."
Dewa Rencong mendengar perkataan Eyang Udan Asrep menjadi serba salah sendiri. Akhirnya yang bisa dia lakukan hanya mengaruk-garuk kepalanya sambil sedikit manyun.
"Apakah adimas Dewa Rencong bersedia membantu kesusahan yang sedang kami hadapi ini?"
Agak lama Dewa Rencong tidak menjawab. Dia sedang memikirkan resiko yang akan dihadapi Suro jika dia tidak ikut membantu mengawasinya.
"Baiklah aku akan ikut ke Banyu Kuning untuk membantu mengawasi nakmas Suro jika rencana itu jadi dijalankan."
"Terima kasih adimas!"
Dewa Rencong mengangguk pelan.
"Dengan syarat aku akan melatihnya dengan kekuatan jiwa sebisa mungkin, agar dia tidak terpengaruh dengan kekuatan milik para siluman."
"Tentu saja aku jamin itu."
"Baiklah jika memang itu yang harus dilakukan untuk mengalahkan para siluman."
"Lalu bagaimana mengenai Kerajaan Kalingga apakah mereka mendiamkan saja tindakan Medusa yang telah menguasai kadipaten Banyu Kuning?"
"Mereka langsung menyerang Perguruan pusat Ular Hitam!"
"Nah, itu berita bagus. Apakah mereka akhirnya mampu membumi hanguskan perguruan aliran hitam itu?"
"Benar, mereka hampir saja menguasai seluruh Perguruan Ular Hitam. Tetapi itu sebelum bala bantuan datang dan memukul mundur seluruh pasukan Kalingga."
"Bala bantuan dari mana?"
"Bala bantuan pasukan yang berasal dari Kadipaten Daha, Kadipaten Gelang-gelang dan juga dari Lamajang!"(nama lamajang adalah nama kuno dari Lumajang)
"Selain itu dia mendapatkan bantuan dari para siluman lain yang bentuknya begitu besar seperti kera raksasa yang biasa disebut siluman Genderuwo. Ada juga para siluman yang memiliki wujud raksasa yang diselimuti api. Kekuatan dari siluman api ini begitu mengerikan mampu membakar apapun yang dia lewatinya. Menurut warta yang aku terima, jenis siluman itu disebut Siluman Banaspati. Selain itu, ada jenis siluman lain yang memiliki bentuk menyerupai seekor hewan Trenggiling."
Panjang lebar Eyang Udan Asrep menceritakan kondisi peperangan di Banyu Kuning sesuai dengan warta yang telah dia terima. Dewa Rencong terlihat bergetar mendengar perkataan Eyang Udan Asrep mengenai peperangan yang sudah berlangsung di Banyu Kuning. Dia tidak menyangka Medusa Hitam mampu mengumpulkan seluruh kekuatan yang begitu banyaknya.
"Bagaimana iblis betina itu mampu mengumpulkan para siluman dan mempengaruhi beberapa kadipaten untuk ikut kraman (memberontak)?''
"Entahlah aku juga tidak mampu menemukan jawaban. Telik sandi yang dimiliki perguruan ini belum menemukan jawaban. Tetapi dari kabar yang kami dapat Dukun Sesat dari Daha ikut dalam barisan Medusa."
Dewa Rencong terkejut mendengar cerita dari Eyang Udan Asrep.
"Dukun Sesat dari Daha? Bukankah dia yang dulu hampir saja membunuh Dewa Pedang sewaktu masih remaja?"
"Benar dialah Dewanya para ahli racun. Tokoh aliran hitam yang sebaiknya dihindari karena ilmu racunnya begitu susah dihadapi."
"Benar sekali kemampuan dia dalam ahli racun yang sangat tinggi didukung dengan penguasaan kitab air, membuat tehnik perubahan unsur air dan es miliknya mampu merubah kabut racun menjadi jarum-jarum kristal es yang mengandung racun sangat mematikan."
"Tehnik ini mirip seperti yang dilakukan perguruan cabang dari Kerajaan Malaka yang mampu merubah kabut menjadi jarum-jarum es. Perbedaannya selain kandungan racun yang mematikan, jarum yang dia bentuk juga lebih kecil sehingga sangat susah ditangkap dengan mata telanjang, kecuali yang telah mampu membuka mata ketiga. Kemungkinan bisa melihat dan mengantisipasi datangnya serangan jarum beracun itu."
Duuuuuuaaaaaaaaarrrrrrrr!!
Belum selesai perkataan Eyang Udan Asrep sebuah ledakan yang tidak disangka telah melemparkan dua orang itu, beserta rumah yang menaungi mereka. Rumah itu hancur berantakan sudah tak tersisa lagi kecuali pasak-pasak yang ikut terlempar.
Sumber ledakan itu berasal dari tubuh Suro yang berhasil membuka granthi terakhir ditubuhnya.