
"Formasi 3000 petir!"
Sekelompok orang yang baru datang itu serentak langsung melesatkan serangan petir.
Hantaman petir itu mirip serangan yang menghajar mereka berdua sesaat ketika baru memasuki lembah itu. Karena memang formasi serangan itu adalah jurus yang sama.
Eyang Sindurogo yang sedang bergerak cepat dengan jurus pedang cahaya menjadi salah satu sasaran formasi serangan petir itu, sasaran lainnya adalah Geho sama.
Serangan petir dengan jumlah yang tak terkira banyaknya itu menerjang bukan hanya kepada mereka. Sebagian pasukan musuh yang sedang melawan mereka berdua juga terhantam dengan telak.
Tetapi mereka sudah memperhitungkan dengan matang. Sebab meskipun mereka terhantam, dalam beberapa saat mereka dapat pulih kembali.
Dua hantaman kilat petir sempat mengenai tubuh eyang Sindurogo. Tetapi serangan seperti itu tentu tidak akan membuat dia langsung tumbang. Sebelum serangan susulan menerjang ke arah dirinya, Geho sama telah membawa mereka berdua ketempat yang cukup jauh dari para musuh. Sekali lagi Langkah Maya milik Geho sama menjadi kunci keberhasilan menghindari serangan yang begitu dahsyat.
"Mengapa kau malah membawaku meninggalkan pesta yang baru saja dimulai?" Eyang Sindurogo menatap ke arah Geho sama yang baru saja menyelamatkan dirinya.
Mendapatkan reaksi yang tidak terduga membuat raksasa Geho sama menggerung kesal.
"Manusia sialan tidak punya rasa terima kasih!"
"Pesta apanya? Mereka akan membuat tubuhmu menjadi daging bakar! Memang kau kira tubuhmu yang abadi ini dapat pulih kembali seperti para makhluk sialan itu?"
"Murid dan guru sama-sama gemblung!" Geho sama mendengus kesal merasa pertolongannya tidak dianggap.
Eyang Sindurogo beberapa saat tertegun mendengar ucapan Geho sama. Reaksi pertama yang dia lakukan adalah menggaruk-garuk kepala, kemudian mulai tertawa.
"Hahahaha...! Tentu saja aku berterima kasih atas pertolonganmu berkali-kali. Tetapi untuk membuat tubuhku menjadi daging bakar, tentu tidak akan semudah itu."
"Ngomong-ngomong ada beberapa masukan yang ingin aku katakan padamu, sebaiknya dirimu harus banyak bercanda. Aku merasa dirimu terlalu kaku menghadapi kehidupanmu sekarang yang setengah manusia."
"Apa maksudmu?"
"Dirimu harus mendapatkan banyak pencerahan dariku."
"Untuk apa pencerahan darimu? Aku sudah mendapatkan pencerahan dari Sang Hyang Ismaya."
"Jiwa silumanmu masih memenuhi sisi manusiamu, sehingga terlihat kaku dan tidak bisa menikmati hidup. Kalau kau bisa memahami ucapanku kau akan dapat mencerna penjelasan dari pak tua."
"Pencerahan apa yang akan aku dapatkan dari tuan guru yang gemblung?"
Mendengar jawaban Geho sama, sekali lagi Eyang Sindurogo tertawa cukup lama.
"Mengapa tuan guru justru tertawa, setelah aku sebut gemblung?"
"Tentu saja setelah menjalani hidup sebagai pertapa selama ratusan tahun, kini aku harus kembali dalam dunia persilatan. Perasaan ini membuat satu sisi hidupku menjadi berwarna. Salah satunya adalah dengan mendengar perkataanmu barusan."
"Ucapanmu barusan mengingatkanku saat aku masih belajar bersama pak tua. Saat sebelum bertemu dengannya, aku rasanya tidak ingin melanjutkan hidupku, karena suatu peristiwa yang membuat keluargaku terbunuh semua."
"Setelah pertemuanku dengan pak tua, aku mampu menatap kehidupan dengan cara berbeda. Kini aku mampu berdamai dengan takdirku, dan bagi sebagian orang hidupku ini disebut bahagia. Sebaiknya kau juga harus belajar memahami sisi manusia yang sekarang kau miliki. Agar dapat hidup bahagia seperti diriku, meski seburuk apapun jalan yang harus kau tempuh. Itu kunci memahami penjelasan dari pak tua."
Kali ini Geho sama menggaruk-garuk kepalanya mendengar perkataan eyang Sindurogo. Dia sebenarnya tidak memahami ucapan dari eyang Sindurogo. Tetapi dia merasa dari ucapan itu ada harapan bagi dirinya untuk bisa mendapatkan pencerahan yang hakiki.
Reaksi berikutnya yang dia lakukan adalah berlutut didepan eyang Sindurogo.
"Jadikan hamba sebagai muridmu agar mencapai pencerahan seperti yang dikatakan Sang Hyang Ismaya."
Eyang Sindurogo tersenyum lebar sambil membuat tanda pada jempol dan jari kelingkingnya ditempelkan.
**
Musuh yang mereka tinggalkan kebingungan mencari keberadaan mereka berdua. Karena memang mereka berpindah ditimur jauh yang tidak mereka sangka sama sekali.
Seorang yang memberi perintah serangan petir yang menghajar eyang Sindurogo dan Geho sama terkejut bukan kepalang. Sebab selama ini tidak akan ada yang lolos dari formasi serangan miliknya.
Kini dia menghadapi kenyataan yang tidak dapat dimasuk akal, sebab kedua sasaran serangannya telah lenyap dari pandangan mereka. Mereka tidak menyangka lawan dapat menghindari serangan itu dengan begitu mudahnya.
Melihat hal itu dia kemudian bergerak mendekat ke arah Tetua Arkados. Selain itu dia hendak menanyakan kebenaran kabar yang baru saja dia terima.
"Bagaimana mungkin dia dapat menghindari formasi serangan 3000 petir milikku?"
"Tentu saja senior Yagmur dialah yang memiliki julukan Sindurogo sang monster dari Javadwipa!" Tetua Arkados membalas pertanyaan tokoh yang baru saja memberi perintah serangan petir barusan.
"Beruntung dia tidak memberi serangan balasan. Lihatlah hutan Lembah petir sebelah barat yang sedang terbakar dan mengepulkan asap hitam itu adalah akibat jurus yang baru saja dia kerahkan. Lembah petir sebelah barat milik perguruan senior kini telah hancur lebur, bahkan kini hanya berupa kawah besar."
Lelaki yang baru saja muncul dari arah timur itu menatap ke arah yang ditunjukan.
"Jadi benar kabar yang aku terima barusan, jika pertahanan Lembah petir sisi barat telah dibumi hanguskan? Sebegitu mengerikan kah kekuatan Monster dari Javadwipa itu?"
Setelah beberapa saat mereka mencari, akhirnya mereka segera menyadari jika musuh sudah berpindah tempat ke arah timur, cukup jauh dari mereka sekarang berada. Mereka cukup terkejut bukan hanya karena jarak yang dapat mereka capai saat berpindah tempat, tetapi musuh yang mereka hadapi sepertinya justru tetap menunggu kedatangan mereka.
Mereka berkesimpulan seperti itu, karena mereka melihat musuhnya tetap berdiri melayang ditempat tersebut, tanpa berniat untuk meninggalkan secepatnya dari tempat tersebut. Bahkan mereka justru terlihat sibuk dalam suatu pembicaraan serius, meski musuh mulai kembali berdatangan hendak mengepung mereka.
Kini musuh kembali mengepung kedua monster yang justru tetap begitu tenang, meski telah dikepung dari segala penjuru. Namun tidak ada satupun dari mereka yang mengepung bergerak memulai serangan.
"Untuk menghadapi mereka berdua sebaiknya kita lakukan serangan gabungan. Jangan meremehkan mereka meski hanya berdua. Apalagi lawan yang kita hadapi ini, bahkan oleh ketua Batara Karang diakui kekuatannya." Tetua Arkados mulai menjelaskan rencana serangan kali ini sesingkat mungkin.
Lelaki yang sedang berbicara dengan Tetua Arkados adalah ketua Perguruan Lembah Petir. Mereka yang sedang mengepung eyang Sindurogo dan Geho sama memiliki persamaan, yaitu memiliki tanduk di kepalanya.
Lelaki yang sebelumnya disuruh oleh tetua Arkados, ternyata memilih meminta bantuan kepada Perguruan Lembah Petir yang memang berada paling dekat dari Medan pertempuran. Walaupun memang perguruan itu merupakan bagian dari sekutu Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan.
Tentu saja tidak semudah itu membuat sekutu mereka segera datang memberikan bantuan. Ketua Lembah petir ikut turun langsung, setelah kejadian Lembah petir sisi barat dikabarkan oleh utusan yang disuruh oleh tetua Arkados.
Sebenarnya mereka telah mendengar suara menggelegar, namun mereka tidak menyangka jika itu adalah serangan yang menghancurkan formasi penjagaan disisi barat. Sisi barat memang sengaja digunakan untuk berkumpulnya pasukan kegelapan.
Tetapi mereka tidak menyangka jika pasukan yang sebegitu banyaknya dapat dihancurkan. Padahal penjagaan daerah sebelah barat sudah diperkuat oleh formasi 3000 petir.
Letak perguruan Lembah Petir sendiri berada disisi timur dari kawasan lembah petir yang membentang sangat luas. Itulah alasan mengapa ketua Perguruan Lembah Petir tidak mengetahui kabar tentang kehancuran sisi barat dengan cepat. Salah satunya karena luasnya kawasan daerah tersebut. Apalagi tempat perguruan berada ditempat yang sedikit tertutup, yaitu dikelilingi pegunungan.
**
"Jadi begitu ilmu sihir ruang dan waktu milikmu! Tadi apa nama jurus yang baru saja selesai aku pelajari ini?"
"Langkah semu tuan guru."
"Nama yang bagus, aku suka jurusmu ini." Tatapan Eyang Sindurogo beralih ke arah musuh yang telah mengepung dalam jumlah yang dua kali lipat dari sebelumnya.
"Formasi Serangan Agni-Prasana!"
"Formasi serangan 3000 petir!"
Mendengar aba-aba serangan gabungan seluruh musuh yang mengelilinginya dia justru tersenyum ke arah Geho sama.
"Seperti yang sudah aku katakan ini adalah waktunya berpesta!"