SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 80 PERSIAPAN MEDUSA HITAM



Setelah keberangkatan pasukan Perguruan Pedang Surga menuju Banyu Kuning Suro kembali melanjutkan latihannya seperti semula.


Sudah empat hari sejak keberangkatan pasukan Perguruan Pedang Surga menuju Kadipaten Banyu Kuning, Suro masih tenggelam dalam meditasinya. Dia bermeditasi sampai tahap Bhavana Samadhi Maitricitta. Meditasi ini adalah bentuk samadhi batin maitrikaruna(suatu cara bermeditasi yang bisa menjaga batin selalu penuh cinta, sehingga akan mampu membersihkan segala kotoran di hati).


Setelah itu Suro merubah mudra yang dia bentuk pada awal meditasinya diletakan hampir sejajar dengan pusarnya, menjadi bentuk isyarat tangan yang lain, yaitu membentuk padma mudra(isyarat tangan yang berbentuk seperti bunga lotus yang sedang mekar). Mudra itu diletakkan di depan ulu hatinya. Kedua kakinya bersila dengan tubuh duduk tegak lurus.


Dia sedang mencoba menarik energi dari titik chakra anahata yang berada di jantung naik menuju titik chakra ajna. Setelah energi chakra dapat ditarik ke titik ajna, dia akan mempergunakan energi itu untuk memutar arus energi di chakra ajna.


Perputaran energi dititik itu akan menjadi bagian tahap awal sebelum menuju tahap berikutnya yaitu membuka granthi(simpul kekuatan).Setelah itu dia akan membuka chakra sahasrara atau chakra mahkota setelah melepas granthi dititik ajna.


Seperti yang telah dikatakan Dewa Pedang pada tahap terakhir tidak akan semudah pada tahap-tahap sebelumnya. Pada tahap ini bahkan Suro merasakan kesulitannya dua kali lipat lebih sulit dari pada tahap awal, saat dirinya mencoba membuka granthi di chakra muladara.


Saat dia harus membuka seluruh sembilan anasir alam dalam kandanya. Sesuatu yang tidak mudah dia lakukan. Bahkan dia hampir putus asa, beruntung Dewa Pedang terus memotivasinya untuk tidak berhenti berusaha.


Walaupun sebelumnya dia sudah membuka jalur nadinya lebih dari tahap nadi sushumna tetapi granthi di chakra muladhara belum terbuka maksimal.


Untuk menembus tahap pamungkas, seperti yang dikatakan Dewa Pedang mengenai granthi(simpul kekuatan) terakhir yang harus dibuka adalah paling sulit untuk dilakukan. Tetapi dia mewanti-wanti kepada Suro untuk terus berusaha jangan sampai menyerah walaupun tingkat kesulitannya sangat tinggi. Dia menyarankan agar keinginannya untuk menyelamatkan Eyang Gurunya, dijadikan motivasi untuk mempercepat proses dirinya melalui tahap terakhir ini.


Karena pada tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit, pada tahap terakhir selain membuka nadi mahkota dan chakra ajna ada jalur lain yang dibuka yaitu kekuatan spiritual. Rahasia Dewa Pedang bisa mencapai tahap pedang Dewa salah satunya adalah karena tehnik sembilan putaran langit ini.


Selain memiliki energi yang lebih kuat, setara dengan sembilan kali orang normal pada tingkatan yang sama. Ada keutamaan lain dalam tehnik ini, yaitu terbukanya kekuatan spiritual. Dengan terbukanya kekuatan spiritul akan membuat seseorang mampu meningkatkan tahap pedangnya lebih cepat daripada orang pada umumnya. Dan kecepatan melalui setiap tahap pedang dengan mengunakan tehnik ini sudah dibuktikan oleh Dewa Pedang. Dia melaluinya lebih mudah daripada orang pada umumnya.


Untuk membuka kekuatan spiritual Suro harus menyatukan kesadaran tunggalnya dalam kejernihan hati, sehingga mencapai pada kondisi samadhi. Karena itulah diawal meditasinya dia harus mencapai tahap meditasi Bhavana Samadhi Maitricitta. Karena untuk membuka kekuatan spiritual dituntut pembersihan hati terlebih dahulu.


Setelah itu dia akan menarik energi chakra sampai arus energi yang digunakan itu dapat memutar roda chakra pada titik nadi ajna, sehingga mampu berputar dan bersirkulasi dengan lancar. Semakin lancarnya perputaran energi maka akan semakin memperbesar peluang untuk membuka granthi di titik tersebut.


Dia sudah melakukan hal tersebut selama empat hari berturut-turut tanpa beristirahat. Tetapi dengan usaha sekeras itu perputaran energi di chakra tersebut masih bergerak dengan begitu lambat.


Dewa Rencong dan Eyang Udan Asrep secara bergantian menunggu dan mengawasi kondisi Suro. Mereka begitu kagum dengan tekad Suro yang begitu kuat. Karena mereka juga memahami bagaimana sulitnya membuka kekuatan spiritual.


Tetapi kesulitan yang dialami Suro tiga kali lipat daripada apa yang pernah dialami para tetua saat membuka penuh kekuatan spiritualnya. Karena mereka melakukan itu sesudah tujuh chakra didalam tubuhnya telah dibuka. Sedangkan apa yang dialami Suro dia dituntut untuk mampu membuka dua chakra terakhir dan juga granthi, sekaligus membuka kekuatan spiritual.


***


Di tempat lain di sebuah ruangan luas yang berada didalam Perguruan Ular Hitam, terlihat lima tetua sedang mencecar Medusa dengan berbagai pertanyaan.


"Lihat apa yang telah kau lakukan Medusa? Seluruh kekuatan Kerajaan Kalingga telah bersiap melakukan penyerangan ke Banyu Kuning."


"Belum lagi seluruh perguruan yang menjadi bagian Perguruan Pedang Surga, kabarnya mereka telah bergerak dari padepokan pusat di Kademangan Cangkring."


"Tetua Ular Putih jangan terlalu panik. Ingsun hanya menjalankan salah satu perintah dari Kanjeng Junjungan Sang Hyang Batara Karang. Apakah ingsun bersalah jika mematuhi perintah dari Gusti junjungan?"


"Selain itu Para Raja dan Ratu siluman yang sejak dahulu telah bersekutu dengan Kanjeng Junjungan telah diperintahkan untuk membantu kita. Kekuatan mereka ternyata terbukti begitu kuat."


Ratu Ular Medusa melayani setiap pertanyaan dari para tetua Perguruan Ular Hitam dengan santai sembari duduk disinggasananya yang terbuat dari emas dan berukir motif ular. Dia tersenyum mendengar keberatan dari para tetua, karena dirinya telah memimpin pasukan menguasai Perguruan Pedang Halilintar, kemudian dilanjutkan menyerang Kadipaten Banyu kuning.


Lima tetua yang berada dihadapannya sejak tadi telah mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai bentuk protes, karena tindakannya itu dianggab sebagai sebuah tindakan sembrono. Mereka para tetua itu antara lain, Tetua Ular Putih, Tetua Ular Hijau, Tetua Ular Weling, Tetua Ular Kobra dan yang terakhir adalah seorang kakek dengan berjuluk Tetua Puspokajang. Selain kakek itu para tetua lain adalah para perempuan yang rata-rata sudah tua.


Mereka para tetua itu terlihat begitu gusar, setelah mendengar pergerakan secara besar-besaran dari pasukan Kerajaan Kalingga dan Perguruan Pedang Surga. Mereka semua akan melakukan serangan balasan akibat yang telah dilakukan Medusa beberapa hari yang lalu.


"Perintah Kanjeng junjungan sudah jelas! Bahwa setelah kekuatan kita telah cukup kuat kita diperintahkan untuk memulai penyerangan? Ini adalah perintah kedua kalinya untuk menguasai tanah Javadwipa, setelah misi pertama mengalami kegagalan dikarenakan kecerobahan Banteng iblis dalam menjalankan perintah Kanjeng junjungan."


"Kegagalan itu disebabkan muridnya yang hanya mengandalkan okol(otot) tanpa mengunakan akalnya. Memang Dasar sapi dungu, dia tidak melihat siapa yang sedang dihadapinya. Gara-gara kecerobohan dirinya membuat rencana ingsun untuk jumeneng(dinobatkan) sebagai seorang ratu akhirnya tertunda!"


"Tetapi jujur ingsun tidak menyangka jika Lelananging Jagat itu masih hidup dan kembali muncul lagi didunia persilatan."


"Sabda Kanjeng junjungan untuk mewaspadai Pendekar Tapak Dewa Matahari itu memang memiliki alasan kuat. Kekuatan yang dia miliki begitu mengerikan, pantas saja jika dulu Perguruan Awan Merah, sebuah perguruan aliran hitam terkuat ditanah Javadwipa itu bisa musnah hanya dalam satu serangan saja."


"Mungkin alasan Gusti junjungan kembali memerintahkan untuk memulai menguasai seluruh tanah Javadwipa ini, salah satunya adalah karena Lelananging jagat yang dianggab satu-satunya batu sandungan telah hilang terjebak di alam lain."


"Tetapi ingsun mendengar warta lain, bahwa perintah ini berkaitan dengan Dewa Kegelapan yang telah bangkit. Entah warta yang ingsun dengar itu kebenarannya bisa dipertanggung jawab kan atau tidak?"


"Tetapi ingsun tidak peduli lagi mengenai hal itu. Karena berkat perintah dari junjungan, ingsun sangat yakin kali ini rencana untuk jumeneng sebagai seorang ratu pasti bisa ingsun wujudkan!"


Ssssshhhhhh....! Sssssssssshhhhhhhh!


Para tetua itu tidak menjawab perkataan Ratu Ular Medusa. Justru dari mulut mereka hanya keluar suara desisan dan juga juluran lidahnya yang bercabang menyerupai lidah seekor ular.


"Ingsun sejak awal memang dikirim ke tanah Javadwipa ini untuk menjadi telik sandi bagi Kanjeng Junjungan. Sekaligus membangun kembali kekuatan aliran hitam di tanah Javadwipa. Tetapi ingsun juga punya misi sendiri, yaitu menjadi seorang ratu."


"Aku tidak peduli dengan ambisimu menjadi gembel atau menjadi ratu, Medusa? Aku juga mengetahui tentang rencana junjungan untuk memulai menguasai seluruh marcapada ini, tetapi itu, bukan sekarang waktunya!" Tetua yang memakai jubah warna hijau dia memiliki sebutan Tetua Ular Hijau terlihat mulai kesal yang melihat Medusa tetap santai, meskipun dua kekuatan besar sedang menuju ke Banyu Kuning.


"Kamu tidak usah bersilat lidah Medusa! Sudah aku katakan sebelumnya, tindakanmu ini terlalu cepat dari yang telah direncanakan. Kamu tidak bersabar sedikit sampai semua sudah siap. Karena menurut penerawanganku akibat dari yang kamu lakukan bisa mengakibatkan kehancuran bagi perguruan yang telah lama kita bangun ini." Tetua lain menyahut perkataan Tetua Hijau, dia adalah ahli nujum Perguruan Ular Hitam yang berjuluk tetua Ular Putih.


"Hahahahaha.....! Tetua Ular Putih apakah tetua masih takut menghadapi jurus dari Dewa Pedang yang mampu memotong sebuah gunung itu?"


Tetua Ular Putih mendengus keras mendengar jawaban Ratu Medusa yang terasa melecehkan itu, tetapi dia tidak meneruskan perkataannya memilih diam.


"Semua sudah ingsun rencanakan dengan matang tetua. Ingsun tidak akan bertindak kecuali semua sudah diukur dan diperhitungkan dengan matang."


"Itulah mengapa untuk mengukur seberapa kuat pasukan yang telah kita himpun, ingsun memerintahkan menguasai perguruan aliran putih terdekat. Ingsun juga percaya jika perguruan itu tidak kita habisi dari sekarang nanti juga hanya menjadi batu sandungan. Cepat atau lambat kita pasti akan bertempur dengan aliran putih dan seluruh penguasa di Javadwipa ini."


"Sekedar mengingatkan para tetua, apakah para tetua tidak melihat pasukan siluman yang berasal dari Kerajaan Laut Selatan itu. Dengan bantuan mereka, kita mampu menaklukkan Perguruan Pedang Halilintar yang merupakan sekutu Dewa Pedang itu dengan mudah. Kemampuan unik dan kedahsyatan ilmu racun yang mereka miliki terbukti ampuh mengalahkan mereka semua."


"Para punggawa-punggawa kerajaan siluman itu kekuatannya benar-benar mengejutkan. Apalagi saat kita menaklukkan Kadipaten Banyu Kuning, pasukan Banaspati yang berupa siluman api mampu melontarkan api-api besar layaknya para naga."


"Apakah tetua tidak menyaksikan saat itu? Saat pasukan kita dibantu para siluman dengan mudah menguasai Kadipaten Banyu Kuning? Sekarang ini tidak akan ada yang mampu mengalahkan pasukan kita, tetua!"


"Raja Siluman Trengiling Wesi beserta seluruh pasukannya, sudah siap membantu kita. Raja Genderuwo yang berasal dari Kerajaan siluman yang berada di Alas Purwo Gung Lewang Lewung, juga telah mendengar perintah junjungan untuk segera bergabung dengan pasukan kita. Apalagi lagi yang perlu kita takutkan, tetua?"


"Selain itu ingsun adalah seorang ratu dan ini adalah kesempatan bagi ingsun untuk mewujudkan impian ingsun sejak lama, yaitu menjadi seorang ratu yang sebenarnya."


"Kesempatan bagi ingsun di Benua Barat menjadi seorang ratu tidak memungkinkan terwujud. Maka setelah Kanjeng Junjungan Sang Hyang Batara Karang memerintahkan ingsun untuk datang ke tanah Javadwipa ini, harapan untuk mewujudkan impian itu kembali terbuka lebar."


"Sebagai seorang ratu, apa kah salah jika ingsun akan jumeneng dan menjadi penguasa di seantero nuswantoro ini?"


"Sssssssshhhhhhhhh! Ssssssshhhhh!" Ular-ular kecil dikepala Medusa mendesis semua secara serempak, seakan berebutan memberi dukungan kepada tuannya.


"Percuma ingsun sudah jauh-jauh datang dari Benua Barat kalau cuma menjadi pecundang ditanah Javadwipa."


"Apa ini tidak terlalu dini? Bagaimana kita akan menghadapi Kerajaan Kalingga. Pasukan kita tak lebih dari angka tiga puluh lima ribu pasukan. Apa tidak salah dengan pasukan hanya sebanyak itu bisa melawan lebih dari seratus ribu pasukan milik Kerajaan Kalingga? Belum pasukan dari Perguruan Pedang Surga, dengan apa kita bisa menang? Yang ada kita akan ditumpas habis." Kembali tetua Hijau menyahut perkataan Ratu Medusa dengan nada kesal. Lidahnya yang bercabang mendesis keluar pertanda tidak menyukai kepercayaan Medusa yang terlalu tinggi itu.


"Jangan khawatir Tetua Ular Hijau! Kalau perlu akan ingsun jadikan mereka semua menjadi arca batu."


"Selain itu, tentu saja ingsun sudah melakukan semua ini dengan perhitungan dan rencana matang. Selama lebih dari dua belas purnama ini ingsun telah memerintahkan para bawahan ingsun untuk merekrut pasukan sebanyak mungkin."


"Perguruan Mamba Hitam adalah salah satu perguruan dibawah kendali kita yang telah melakukan perekrutan anggotanya secara besar-besaran. Bahkan perguruan lain yang juga menjadi bagian dari perguruan ini telah ingsun perintahkan sejak dua belas purnama lalu untuk ikut melakukan perekrutan besar-besaran. Mereka semua sudah dalam perjalanan ke sini."


"Selain itu Raja siluman dari Gunung Gede, Raja Siluman dari Gunung Merapi juga Raja siluman dari Alas Purwo yang akan datang, mereka bukanlah para pasukan siluman yang bisa dianggab enteng."


"Selain itu beberapa kadipaten telah berjanji bersatu padu untuk melakukan kraman(pemberontakan). Salah satunya adalah yang ada di Daha dan di Kadipaten Gelang-gelang mereka telah mengirimkan pasukan dalam perjalanan kemari."


"Dari Daha Perguruan Racun Neraka yang dipimpin seorang tokoh dari golongan hitam yang terkenal, yaitu yang memiliki julukan Dukun Sesat dari Daha ikut mendukung kita. Dia adalah tokoh yang bahkan Dewa Pedang pun memilih menghindarinya. Karena dialah yang dulu hampir membuat tokoh golongan putih itu menemui ajalnya."


"Tapak Selaksa Dewa Racun yang terkenal itu tentu akan diingat seluruh pasukan dari Kalingga maupun dari Perguruan Pedang Surga. Ribuan jarum yang dibentuk dari kabut racun miliknya adalah sebuah ancaman yang tidak bisa disepelekan."


"Kita akan bangunkan para siluman dan menjadi penguasa satu-satunya ditlatah Javadwipa ini!"


Para tetua yang mendengar penjelasan Medusa hitam walaupun tidak sepenuhnya setuju dengan tindakannya, tetapi dari bibir mereka tersunging sebuah senyuman.


"Kita tunggu saja para pasukan yang sedang menghantarkan nyawanya menemui ajalnya disini. Akan kita jadikan tanah ini banjir darah milik musuh-musuh kita! Hahahahahahahahahaah...........!"


***


Jangan Lupa Ya Dukung Novel Ini Dengan Poin, Koin dan likenya Terima Kasih Sudah Mau Membaca Novel Ini.