SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 294 Perubahan Arah Pencarian



Tanpa menunggu jawaban dari Geho sama, Suro langsung melesat turun ke bawah. Si Gagak setan itu akhirnya ikut menyusul dibelakangnya.


Mereka berdua turun didekat sekelompok manusia bersama tunggangannya para hewan raksasa. Salah satu bentuk makhluk yang hendak ditanyai Suro adalah yang memimpin kelompok itu. Memiliki bentuk sekilas seperti manusia normal.


Baru saja dia sampai didekat mereka belum juga bertanya apapun, namun reaksi yang dilakukan para manusia itu membuat Geho sama langsung bersikap penuh waspada.


"Ada manusia datang, cepat kepung jangan biarkan mereka lolos!"


Suara itu adalah milik pemimpin kelompok makhluk tersebut. Lelaki itu menaiki binatang besar yang menyerupai badak besar. Kelompok manusia itu terlihat begitu beringas, seperti harimau kelaparan.


Makhluk yang berteriak itu masih seperti manusia hanya saja taringnya mencuat keluar dari mulutnya. Setelah teriakan itu dari berbagai sisi para makhluk itu mengepung Suro.


Para manusia yang mengepung, kekuatannya rata-rata setara dengan pendekar tingkat shakti, kecuali makhluk yang baru saja berteriak memberi perintah. Pemimpin kelompok itu kekuatannya telah berada pada tingkat langit.


Mendengar suara barusan Geho sama langsung bersiap, "Sudah aku katakan tidak ada gunanya berbicara dengan mereka!"


Melihat kondisi terkepung itu, Geho sama langsung bereaksi hendak menyerang lebih dahulu ke arah para makhluk itu. Namun Suro berhasil mencegah tindakan Geho sama.


"Sebentar Geho sama biarkan aku berbicara dengan mereka."


"Apa yang perlu tuan tanyakan kepada makhluk seperti mereka?" Geho sama menatap ke seluruh lawan yang telah mengepungnya. Terlihat kebuasan tergambar diwajah mereka semua, tidak ada sedikitpun sikap bersahabat.


"Lihatlah mereka seperti kawanan serigala kelaparan!" Geho sama melanjutkan ucapannya.


Taring-taring panjang menghiasi mulut mereka yang terbuka lebar. Para makhluk raksasa yang menjadi tunggangan para manusia itu juga ikut berebut untuk memangsa mereka berdua.


"Tenangkan dirimu Geho sama, apakah kau sudah begitu ketakutan, hanya karena telah dikepung musuh sebanyak ini?"


"Tciiih...! Apa yang aku takutkan dengan makhluk seperti mereka?"


Para makhluk itu tidak segera menyerang karena saat itu Suro mengerahkan tekanan kekuatan miliknya yang sudah ditingkat Surga lapis keempat. Setelah beberapa kali menyerap jurus semesta hitam milik Dewa Kegelapan telah membuat peningkatan kekuatan miliknya.


Dengan berbekal tekanan kekuatan miliknya memang ampuh menghentikan serangan para makhluk tersebut.


"Jenis makhluk apa sebenarnya kalian ini? Mengapa kalian mampu berbicara dengan bahasa manusia?"


"Tentu saja kami dapat berbicara dengan bahasa manusia, sebab kami memang asalnya adalah manusia, " dengan gigi bergemeletuk menahan murka, salah satu makhluk menjawab pertanyaan Suro. Dialah yang terkuat diantara yang lain, sebab dia merupakan pemimpin kelompok tersebut.


Meski mendapatkan tekanan kekuatan oleh Suro, namun lelaki itu terus berusaha maju ke arah Suro dengan sorot matanya seperti seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya.


"Sudah aku katakan bukan, jika kita masih punya kesempatan untuk mengetahui asal usul mereka. Dengan bertanya baik-baik," Suro menoleh ke arah Geho sama dengan senyum lebar.


Dia sepertinya cukup puas karena telah berhasil berbicara dengan makhluk yang menyerupai manusia tersebut. Kemampuan berbicara makhluk tersebut terdengar begitu lancar. Ucapan yang terdengar begitu fasih itulah yang membuat Suro tertarik untuk mengajak mereka berbicara.


"Lihatlah tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Suro berbicara sambil menunjuk lelaki yang baru saja diajak bicara.


Namun belum selesai mulutnya menutup terjadi sesuatu.


Graauuuk! Kletak! Kletak!


"Bisa diajak berbicara apanya?!"


Geho sama mendengus kesal sambil bergerak cepat menyerang para makhluk yang hendak mencabik-cabik tubuh Suro.


Para makhluk itu cukup sial, sebab Kavacha tidak membiarkan mereka menggigit tubuh Suro. Al hasil setelah berusaha menggigit sekuat-kuatnya, gigi mereka justru rontok.


Belum selesai merasakan sakit akibat Gigi yang hancur, Geho sama lalu memenggal kepala mereka dan melenyapkan tubuh musuhnya itu dengan tehnik empat Sage.


"Mereka bisa berbicara manusia, tetapi mereka sudah bukan manusia lagi!" Geho sama terus menyerang mereka semua tanpa melihat reaksi dari Suro.


"Padahal aku baru saja hendak bertanya mereka berasal dari mana? Dan juga menanyakan keberadaan Dewa Kegelapan yang sedang kita cari. Ah sudahlah...mungkin aku akan bertanya lain waktu, semoga saja hal ini, jika bertemu makhluk lainnya lagi." Suro hanya bisa menggaruk-garukkan kepala melihat Geho sama menghabisi makhluk yang mirip manusia namun sifatnya melebihi si Maung, karena terlihat begitu buas.


Setelah beberapa saat, akhirnya Geho sama berhasil mengalahkan semua. Tidak ada yang tersisa dari makhluk yang sebelumnya telah mengepung dari segala penjuru itu.


Semuanya musnah tidak ada yang tersisa dari tubuh mereka. Sebab mereka yang hendak memulihkan tubuhnya langsung dituntaskan oleh Geho sama menggunakan jurus andalannya, yaitu tehnik empat Sage.


"Jika caranya seperti ini kita akan terlihat seperti orang hilang. Sebaiknya kita fokus kepada tujuan utama, yaitu mencari keberadaan Dewa Kegelapan. Pasti tempat mereka berada tidak dapat disembunyikan. Karena untuk menampung pasukan Perguruan Sembilan Selaksa Racun saja memerlukan satu lembah ini."


Suro menggaruk-garuk kepalanya mendengar ceramah Geho sama yang bersungut-sungut begitu kesal. Karena sedari tadi dia hanya melesat terbang tanpa memiliki tujuan.


"Benar memang Geho sama, masalahnya bumi di alam ini tidak selebar daun kelor. Seperti yang telah aku katakan di awal, setelah kita di pisahkan oleh Batara Karang melalui sihir ruabg dan waktunya, kita telah kehilangan jejak mereka.


Kita memang tidak akan mudah menemukan keberadaan Dewa Kegelapan. Kemungkinan akan butuh waktu yang panjang."


"Sebelumnya ada makhluk yang dapat berbicara dengan bahasa manusia, justru kamu habisi tanpa sisa. Padahal aku ingin mengorek informasi dari mereka. Mungkin saja mereka mengetahui keberadaan makhluk yang kita buru."


"Memangnya mereka para makhluk buas itu akan mau berbicara, lihatlah saat tuan Suro sedang lengah sedikit saja mereka hendak ******* seluruh tubuh tuan menjadi hidangan makan malam mereka!"


"Huuuft...tidak mudah mengikuti bocah sinting sepertimu," Geho sama berbicara sambil mendengus kesal.


"Nanti jika bertemu dengan para manusia yang dapat berbicara, biarkan aku mengorek dari mereka. Kamu cukup melihat dari jauh."


"Enak saja, memang kalau kau dihabisi oleh mereka aku tidak kena imbasnya? Aku juga akan berakhir riwayatnya, jika kau dihabisi."


"Baiklah kalau begitu, lain waktu jika memang tidak terlalu membahayakan nyawaku. Biarkan aku mengorek dari


Meski menganggukkan kepala sebagai tanda setuju Geho sama masih terlihat kesal. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka sangka sama sekali.


"Gawat, ternyata kondisi alam ini mirip bumi di alam kita Geho sama. Ternyata alam ini juga memiliki samudera luas."


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Mereka berdua berpandangan tidak mengerti harus apa sebab mereka kini telah sampai diujung benua. Di hadapan mereka terbentang luas samudera yang tidak terlihat tepinya.


Mereka kemudian turun ke pantai.


"Sebentar Geho sama, apakah kamu tidak ingat, sebelumnya kamu mengatakan jika Batara Antaga dan Batara Karang yang menghancurkan dunia ini. Sehingga semua makhluk hidup mati semua.


Hal itu dikarenakan kekuatan Dewa Kegelapan yang tersegel didasar bumi ini dibuatkan sebuah jalan sehingga mampu meresap keluar. Kemudian memenuhi alam ini," ujar Suro dengan mimik begitu serius.


"Benar memang seperti itu kejadiannya, mengapa kemudian seluruh alam ini waktu itu penuh dengan hawa kegelapan.


Mereka berdua sengaja melakukan itu, sebagai upaya mereka untuk membebaskan junjungannya yang tersegel bersama diriku. Mereka berharap dengan membiarkan hawa kegelapan memenuhi alam ini, maka junjungannya dapat terbebaskan.


Memang pemikiran mereka ada benarnya. Sebab setelah alam ini dipenuhi dengan hawa kegelapan, maka jiwa dewa kegelapan sendiri, bahkan tidak membutuhkan tubuhku.


Namun untuk terbebas dari segel yang membelenggu diriku dan jiwanya, makhluk itu memerlukan wadah lain. Kemudian dirancanglah sebuah sekenario untuk menjadikan gurumu sebagai wadah yang baru. Dan sekali lagi rencana mereka berhasil. Bahkan kini mereka justru sudah berhasil membebaskan raga sejatinya."


Suro mendengarkan dengan cermat penjelasan Geho sama sampai selesai.


"Aku akan mencari tau melalui tehnik Perubahan tanahku, jika memang kita tidak menemukan Dewa Kegelapan lebih baik kita mencari inti kekuatannya saja. Dengan cara itu maka kita akan dapat mengurangi kekuatannya dengan cara menyerap sebanyak mungkin."


Suro tersenyum ceria setelah sebuah pemikiran terlintas dipikirannya. Ucapan Suro barusan terasa masuk akal, Geho sama terlihat mengangguk-anggukkan kepala mengaminin perkataan tuannya.


"Baiklah, sekarang juga kita lakukan kalau itu memang bisa kamu lakukan bocah gemblung. Dari pada kita terbang kesana kemari seperti capung mencari nyamuk."


"Hahaha...tenang saja Geho sama, kamu tidak akan rugi mengikuti perjalanan menyenangkan ini. Karena dengan mengikuti perjalananku dirimu akan semakin bertambah kuat."