SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 21 Rampok Kolo Weling



Selang beberapa hari kemudian Eyang Sindurogo turun gunung menuju kota raja bersama Suro. Saat Suro mulai turun gunung ini dia sudah berumur sepuluh tahun hanya saja dia terlihat cukup dewasa dari segi postur tubuh juga penampilan. Apalagi dalam bersikap dan daya pikirnya terlihat begitu dewasa. Jika tidak mengetahui tentang riwayat hidupnya orang akan mengira dia telah berumur enam belasan tahun.


"Dalam perjalanan kali ini sepertinya kita akan mengobati banyak korban luka karena itu Eyang menyiapkan pil dan obat-obatan sebanyak ini."


Eyang Sindurogo menjelaskan kepada Suro sambil menunjukan sekarung besar obat-obatan.


"Jika kita harus mencari dan mengumpulkan tumbuhan obat terlebih dahulu hanya akan membuang-buang waktu."


"Hadiah prabu Wasumurti satu peti besar ini akan lebih bermanfaat jika kita bawa untuk bekal kita dan juga untuk kita bagi-bagikan kepada masyarakat yang membutuhkan."


"Apakah kamu sanggup membawa semua Suro?"


"Tentu saja Eyang, aku sudah terbiasa membawa batu yang berkali lipat lebih berat daripada ini. Tidak ada salahnya ini justru akan Suro jadikan sarana latihan sepanjang perjalanan."


"Bagus! Kalau begitu kita berangkat sekarang si Maung tak perlu ikut. Nanti para penduduk melihat Maung bisa mati berdiri."


Eyang Sindurogo tidak secepatnya menuju kota raja karena tidak ada gunanya buru-buru kesana belum tentu menemukan Naga raksasa yang dicari.


Justru dia merasa jengah jika harus berurusan dengan para petinggi kerajaan. Mereka selalu berbicara manis-manis tetapi penuh tipu muslihat. Mereka selalu berbicara atas nama rakyat tetapi dia yakin mereka hanya berbicara atas nama kepentingan dirinya atau golongannya sendiri.


Dari dulu dia selalu memilih seminim mungkin bersinggungan dengan para pejabat keraton dan yang sejenis dengannya.


Selain itu dia yakin jika kehadirannya disana hanya akan menjadi kartu sakti keselamatan mereka dari ancaman Naga raksasa itu.


Eyang Sindurogo justru lebih suka berbicara dengan para rakyat biasa walau apa yang mereka bicarakan tentang hal-hal yang remeh tetapi mereka berbicara apa adanya.


Selain itu tentu dia akan lebih bermanfaat kepada para masyarakat yang menjadi korban jika bisa menemui langsung dan memberi pengobatan gratis kepada mereka semua.


Kemampuan Suro untuk mengimbangi kecepatan Eyang Sindurogo berlari sedikit keteteran mengingat beban berat yang ada di pundaknya. Seperti sebuah peti besar bahkan tingginya melebihi tinggi badannya sendiri.


Suro menjadikan itu sebagai bentuk latihan fisik. Dia sepertinya ingin mencoba batas maksimal kemampuan fisiknya setelah kemampuan membuka saluran nadi mengalami jalan buntu pentok di nadi sushumna saja.


Dengan berlatih lebih keras dia berharap saluran kundalininya yang pentok hanya sampai tahap sushumna bisa dia terobos menuju tahap berikutnya.


Beban yang dia bawa bukanlah hal yang ringan bahkan jika dibawa orang biasa diperlukan enam orang atau lebih untuk mengangkat satu peti besar tersebut.


Kemampuan Suro selama hampir setahun ini setelah pertemuannya dengan Hyang Anantaboga menunjukan kemajuan lebih pesat daripada sebelumnya.


Kemampuannya memahami ilmu Naga Bumi


Membelah Benua juga menajubkan. Ilmu ini mempelajari penguasaan unsur bumi secara mendalam. Dengan ilmu itu seseorang mampu membelah tanah dan mengubur seseorang hanya cukup dengan mengerakkan ujung jarinya saja.


Kemampuan terhebat tentu saja yang telah dikuasai Hyang Anantaboga mampu mengangkat gunung dan konon mampu mengerakan sebuah daratan benua sekalipun. Sesuatu hal yang sangat mengerikan tentunya. Bahkan konon goa-goa yang ada didalam tanah merupakan bekas tapak perjalanan para naga bumi yang tak sempat ditutup kembali.


Setelah perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampai disebuah kota kademangan didaerah Keling. Tidak seperti seharusnya kota kademangan hampir tidak banyak dijumpai penduduk yang berlalu-lalang.


Justru pemandangan yang menyedihkan terpampang dihampir seluruh kademangan. Banyak sisa-sisa rumah bekas terbakar lebih dari ratusan. Banyak yang hancur porak-poranda, bahkan sebagian sudah amblas ke dalam tanah seperti terhantam sesuatu yang sangat besar.


"Mohon maaf pak kenapa kota kademangan jadi hancur lebur seperti ini bagaimana ceritanya?" Tanya Eyang Sindurogo kepada penduduk yang kebetulan lewat didepannya.


"Kejadiannya sudah seminggu yang lalu Resi. Diserang Naga raksasa sebesar gunung hancur lebur tidak ada yang bisa melawannya. Ini Resi mau kemana?


"Ini mau kekota raja kebetulan lewat kademangan ini."


"Hati-hati Resi serangan Naga bisa dimana saja banyak tempat yang sudah dihancurkan contohnya salah satunya dikademangan ini. Bahkan kediaman demang beserta hampir seluruh penguninya jadi korban."


Setelah berbasa-basi mereka melanjutkan langkahnya. Mereka mulai berkeliling hampir keseluruh kademangan untuk melakukan pengobatan dan juga bantuan material kepada yang membutuhkannya.


Disela kesibukannya Eyang Sindurogo masih menyempatkan membelikan pakaian yang lebih layak kepada Suro juga mengajak makan ditempat yang lumayan bagus, dirumah makan yang selamat dari amukan Naga raksasa.


"Waduh nikmat banget makanannya. Belum pernah Suro merasakan makanan selezat ini."


"Hahaha tentu saja makanlah sepuasmu sampai kenyang."


Eyang Suro merasa bahagia melihat Suro makan begitu lahapnya. Dia memesan makanan paling mahal di rumah makan tersebut.


Walau sebelumnya pelayan mengacuhkannya dan tidak mengijinkan masuk sebelum akhirnya Eyang Sindurogo memberikan satu keping koin emas kepadanya, membuatnya histeris satu koin yang ia dapatkan seperti pendapatannya hampir satu tahun.


Dia kemudian memberikan pelayanan terbaiknya. Hal itu membuat Eyang Sindurogo mengeleng-gelengkan kepala tidak menyangka pengaruh koin yang ia berikan bisa merubah orang menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda.


Sepertinya perjalanan kali ini Eyang Sindurogo sengaja memanjakan Suro tidak seperti perjalanan sebelum-sebelumnya. Mungkin Karena kali ini mereka begitu banyak memiliki koin emas.


Setelah dirasa cukup membantu penduduk kademangan mereka segera melanjutkan perjalanan ke kademangan berikutnya karena tersiar kabar belum lama telah terjadi serangan Naga raksasa dikademangan terdekat.


Sudah hampir tiga hari dua malam tanpa henti mereka berlari secepat mungkin agar bisa melakukan pertolongan kepada para penduduk yang menjadi korban.


"Eyang didepan kita lima puluh tombak dari sini sepertinya tiga puluh orang sudah menunggu kita. Tiga tombak kanan-kiri kita dari tadi sekitar empat puluh orang sudah mengikuti kita sejak kita telah melewati tengah hutan. Tetapi kemampuan mereka sepertinya rendah sehingga tak mampu mengimbangi kecepatan kita, sudah tertinggal cukup jauh dibelakang."


"Yang memberi kode suitan panjang berada didepan yang gempal dibalik pohon besar, sepertinya dia pemimpin dari kawanan ini."


"Bagaimana kamu mengetahui bisa sedetail ini?" Tentu saja Eyang Sindurogo sudah tau banyak orang mengikuti perjalanannya dari awal sengaja dia membiarkan karena belum menggangu. Tetapi dia tidak menyangka Suro bisa mengetahui sebegitu detailnya sampai bisa mengetahui seberapa besar orang yang menghadangnya.


"Sejak berlatih dengan ilmu yang Hyang Antaboga ajarkan kemampuan Suro mendeteksi dengan merasakan getaran ditanah semakin lama semakin tajam. Tanpa melihatpun Suro bisa merasakan setiap apapun yang diatas tanah."


"Kalian keluarlah tidak perlu malu-malu."


"Hahaha sepertinya kalian sudah tau? Baguslah kalau begitu secepatnya serahkan barang berharga kalian!"


Seorang yang gempal keluar dari balik pohon wajahnya yang brewokkan dan kulitnya hitam semakin menambah seram tampangnya, ditangannya sebuah golok telah terhunus. Sepertinya dia yang disebut Suro pemimpin kawanan itu.


"Kalian siapa kisanak berani menggangu perjalanan kami."


"Kami rampok Kolo Weling."


"Tentu kalian sudah mendengar nama kami yang mengerikan ini."


"Hahahahahaha."


"Suro waktunya kamu latihan hadapi mereka semua. Eyang ingin melihat kemajuanmu dalam berlatih ilmu dari Hyang Antaboga."


"Baik Eyang." Segera Suro menurunkan bawaanya dan menjemput musuh yang telah berkumpul didepannya.


"Kurang ajar kamu telah meremehkan kami akan aku habisi bocah ini biar kamu menyesal seumur hidup."


"Cincang bocah ini!"


Secara serentak mereka menyerang ke arah Suro tiga puluh orang didepan dan empat puluh orang dari arah belakang ikut menyerang, setelah mereka mampu menyusul. Sebelum tiga langkah yang terjadi kemudian diluar perkiraan mereka.


"Duuuum! Duuuum! Duuuum! Duuuum!"


Semua perampok yang mendekat kearahnya terlempar ke udara hampir setinggi dua tombak. Tanah yang mereka injak tiba-tiba naik secara vertikal mengangkat tubuh mereka dan kembali turun seperti semula.


"Bagus Suro aku suka ini hahaha!" Eyang Sindurogo tertawa lepas melihat pertunjukan yang ada dihadapannya. Dengan santainya dia duduk diatas peti yang dibawa Suro sebelumnya.


"Setan alas serang dia dengan senjata rahasia kalian!"


"Duuum! Duuum! Duuuum!"


Kembali saat puluhan senjata rahasia berupa pisau terbang menerjang kearahnya dari segala penjuru tanah yang ada disekeliling Suro naik turun membentuk tembok penghalang yang tebal. Seluruh pisu terbang mereka telah dipendam kedalam tanah.


Semua kawanan rampok menghajar ke arah Suro tak memperdulikan Eyang Sindurogo yang tertawa kegirangan melihat kemampuan yang diperlihatkan muridnya.


"Duuuum! Duuuum! Duuuum!"


Kembali saat para perampok mencoba merangsek ke arah Suro kali ini hantaman tanah seakan godam menghantam mereka membuat mereka terlempar hampir tiga tombak kebelakang membuat kebanyakan dari mereka pingsan.


Beberapa kali serangan mereka dapat dihentikan dengan hantaman dinding tanah yang menghantam dengan keras.


" Bocah kamu telah membuat murka diriku. Orang-orang meyebutku sebagai raja racun, akan aku perlihatkan keahlianku mengolah racun kalajengking dan racun ular weling."


Pemimpin perampok itu kemudian memberikan kode ke anak buahnya beberapa dari mereka segera meloncat ke atas pohon.


"Hati-hati Suro sepertinya mereka merencanakan sesuatu!" Eyang Sindurogo memberikan peringatan dengan sedikit rasa khawatir.


Dimulai dengan serbuan ratusan jarum beracun menerjang ke arah Suro.


"Baaam!"


Dinding tanah menjulang menghentikan terjangannya.


"Baam! Baam!


Kembali serangan para perampok dihentikan dengan melemparkan tubuh mereka keatas setinggi tiga tombak membuat mereka pingsan setelah mendarat dengan keras.


Para perampok yang tersisa segera berloncatan ke atas cabang-cabang pohon setelah mendapat kode perintah dari pimpinannya. Sepertinya mereka menghindari serangan element tanah yang menghantam mereka berkali-kali.


Disusul dengan serangan dari atas pohon berloncatan dari satu pohon kepohon lain sambil melemparkan jarum-jarum yang tak ada habisnya. Tetapi semua dapat ditangkis Suro dengan mengangkat sebuah bongkahan tanah besar dan dijadikan perisai


Suro segera menelan beberapa pil kedalam mulutnya entah pil apa yang dia telan.


Serangan susulan tidak berhenti kali ini mereka berseliweran diatas Suro melompat dari pohon kepohon sambil menebarkan kabut beracun menutupi posisi Suro berdiri. Ditambah sebagian dari mereka tanpa henti menyerang dengan jarum beracun berterbangan ratusan lebih menghajar kearah Suro.


Satu lontaran tanah vertikal keatas setinggi tiga tombak menghantam salah satu perampok.


"Awas Suro itu kabut beracun!"


Teriakan dari arah Eyang Sindurogo dibarengi dengan beberapa lesatan sinar yang menghantam para penyerangnya.


Segera dia melesat kearah Suro untuk melindungi muridnya. Dia berdiri persis diatas Suro, diatas tanah yang menjulang setinggi tiga tombak mengawasi pergerakan para perampok yang seketika itu juga berjumpalitan mundur menjauh ketakutan setelah melihat lesatan sinar yang menghantam beberapa rekan mereka yang langsung merenggang nyawa. Sepertinya mereka mengetahui sesuatu tentang serangan barusan.


Satu sapuan angin saat Eyang melesat kearah Suro telah menyingkirkan semua kabut beracun yang menutupinya.


Setelah kabut hilang terlihat jelas muridnya telah tertelungkup tak bergerak.


Roman muka Eyang Sindurogo langsung berubah drastis menampakkan kemurkaan yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya.


"Kalian akan aku cincang semua karena telah mencelakai muridku. Aku Sindurogo tak akan melepaskan kalian semua hidup-hidup."