SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 290 Pertaruhan Nyawa



Pasukan Sembilan Selaksa Racun memutuskan mengikuti perintah ketuanya yang memimpin pasukannya masuk ke dalam gerbang gaib.


Meskipun sebagian besar mereka tidak mengetahui apa yang ada dibalik gerbang gaib, tetapi mereka memilih menyelamatkan diri sejauh mungkin dari musuh yang menyerang perguruan mereka.


Dewi kematian sendiri sebenarnya juga tidak mengetahui maksud perintah dari Batara Antaga. Tetapi dia tidak berani membantah perintah makhluk itu.


Apalagi dia dijanjikan kekuatan miliknya dan seluruh perguruannya akan meningkat secara cepat, membuat dia semakin tidak dapat membantah perintahnya.


Walaupun sebenarnya dia cukup keberatan meninggalkan perguruan miliknya yang telah dia pimpin selama ratusan tahun. Dia tidak menyangka sama sekali perguruannya harus ditinggalkan akibat serangan oleh beberapa orang saja.


Namun kekuatan lawan sulit ditandingi. Bahkan dirinya bersama tetua dan juga para siluman yang merupakan guru juga pelindung perguruannya dibuat kerepotan, meski yang dihadapi hanya satu orang saja.


Sudah tidak terhitung tetua, maupun anggota yang harus tewas ditangan lawan. Bahkan makhluk pelindung perguruan yang begitu kuat sekalipun sebagian besar telah berhasil dibunuh.


"Jangan risaukan dengan perguruanmu yang telah kau bangun ini. Kau dapat membangun seratus kali lebih megah daripada sekarang."


"Kamu sudah merasakan sendiri bukan, ucapan kami bukanlah isapan jempol belaka. Bahwa Kanjeng junjungan dapat meningkatkan kekuatan kalian dengan cepat. Kalian juga nanti akan menjadi penguasa seluruh daratan di negeri champa ini." Batara Antaga memulai menebarkan janji melihat Dewi Kematian sempat terlihat ragu mengikuti perintah dirinya.


Mendengar janji dari Batara Antaga semakin membuat Dewi Kematian tidak dapat menolak rayuan dari seseorang yang telah membuat dirinya dan beberapa tetua akhirnya memiliki kekuatan tingkat langit seperti sekarang ini.


Dia bersama seluruh pasukannya segera masuk semua ke dalam gerbang gaib yang dibuka dengan begitu lebar oleh Batara Karang.


**


Setelah semua pasukan mundur, tiga penjaga gaib milik Suro yang tersisa langsung kembali ke sisinya. Mereka datang secara berurutan Warudijaya, Sinotobrata dan yang terakhir adalah Purbangkara.


"Kalian semua bersiaplah. Ikuti instruksi serangan yang akan aku mulai...!"


"Kalian sudah paham, bukan? Sekarang juga kita berangkat, sebelum mereka meninggalkan tempat ini!"


Setelah semua penjaga gaibnya kembali, Suro kemudian melesat bersama mereka berempat. Tujuannya tentu saja adalah untuk menghabisi Dewa Kegelapan.


Sebab dia telah melihat Batara Karang membuka gerbang gaib cukup lebar. Itu artinya mereka hendak meninggalkan medan pertempuran. Kali ini Suro tidak ingin membiarkan musuhnya kabur.


"Siapa yang telah mengijinkan kalian pergi? Aku tidak akan membiarkan kalian kabur begitu saja!"


Dia merasa mampu menghabisi Dewa Kegelapan, terbukti jurusnya barusan mampu menghancurkan pertahanan musuhnya. Dia masih penasaran dan sekali lagi ingin mencoba menghantamkan jurusnya.


Dia tidak lagi melihat yang lain, sebab eyang Sindurogo, Dewa Rencong, Geho sama justru membiarkan lawannya meninggalkan gelanggang pertarungan.


"Bocah sinting kau mau kemana!" Dewa Rencong berteriak keras melihat Suro melesat ke arah Gerbang gaib yang telah dibuka oleh Batara Karang.


"Gawat murid sintingmu justru hendak mengejar mereka!"


Eyang Sindurogo menepuk jidatnya melihat muridnya tidak menggubris teriakan Dewa Rencong.


"Angger munduur!"


"Sebentar eyang, aku mau menghabisi si julung-julung sialan itu!"


Mereka saling pandang mendengar teriakan Suro. Tentu saja mereka tidak mengerti julung-julung yang dimaksud.


Belum selesai mereka mencoba memahami ucapannya barusan, tubuhnya dan keempat penjaga gaibnya telah lenyap. Dia telah menghilang dari pandangan semua orang.


"Mati aku." Geho sama kali ini yang menepuk jidatnya. Dia yang memiliki kesadaran yang terbagi dengan Suro segera memahami maksud dari tuannya itu.


"Kita harus membantunya. Jika tidak bisa gawat." Geho sama kemudian memberikan garis besar rencana serangan Suro kali ini.


**


"Kalian berdua bersiap, ternyata utusan para dewa itu sedikit tidak waras. Dia tidak mampu mengukur kemampuannya. Dia pikir aku takut dengan dirinya."


Tatapan mereka menjadi penuh kekhawatiran sebab Suro bersama keempat kembarannya telah menghilang dan tidak segera muncul.


"Kemana pemuda itu menghilang?" Batara Antaga mencoba mencari keberadaan Suro yang tidak juga muncul. Kekhawatiran mereka cukup beralasan. Sebab dari pengalaman yang sudah, musuhnya dapat muncul secara mendadak dan dari sudut yang tidak mereka sangka sama sekali.


Braak!


Sebelum pertanyaan Batara Antaga selesai diucapkan, mendadak bumi melipat dengan cepat.


"Setan alas!" Batara Antaga dan Batara Karang segera menghantamkan pukulan tangan kosongnya ke arah dua sisi yang berlainan.


Duuum! Duuum! Duuum! Duuum!


Serempak muncul empat sosok yang berlainan dari dua sisi bumi yang hendak menghimpit mereka. Empat sosok itu adalah penjaga gaib kembaran Suro.


Duuuum!


Belum selesai akan serangan para penjaga gaib milik Suro, kembali mereka dikejutkan oleh serangan susulan yang menghajar dari arah bawah. Kali ini yang menyerang adalah Suro sendiri.


"Kau manusia kurang ajar, tidak mengerti nyawamu aku biarkan, agar dapat hidup lebih lama!" Teriakan kemarahan Dewa Kegelapan dibarengi dengan ledakan kekuatan miliknya. Bersama ledakan itu kembali muncul jurus semesta hitam.


Ledakan kekuatan itu begitu kuat sehingga pengerahan tehnik perubahan tanah yang baru saja dikerahkan oleh Suro langsung hancur. Namun Suro segera menghilang sesaat setelah berhasil memberikan serangan. Keempat penjaga gaibnya lebih dahulu menghilang, sebab Suro mengakhiri jurus sedulur papat miliknya.


"Sialan mereka menghilang lagi. Apakah mereka sebenarnya sejenis memedi mampu menghilang begitu cepat?" Batara Antaga berdecak kesal.


Batara Antaga dan Batara Karang berjaga disisi luar dari jurus semesta hitam yang dikerahkan junjungannya.


Mereka berdua bersiap menjaga kemungkinan junjungannya diserang musuh dari dua sisi yang berlawanan. Batara Antaga sendiri mulai mengerahkan rantai pemasung jiwa miliknya untuk menjerat tubuh lawannya yang akan muncul tiba-tiba.


Penjagaan yang dilakukan dua batara itu sia-sia, sebab Suro telah muncul tanpa mereka sadari. Dia sudah berada disamping Dewa Kegelapan. Dia justru masuk kepusat jurus semesta hitam dan langsung memberikan serangan seperti sebelumnya kepada Dewa Kegelapan. Padahal saat itu tubuh lawannya telah diselimuti hawa kegelapan yang sangat pekat.


Duuuum!


Tubuh Dewa Kegelapan langsung terlempar masuk kedalam gerbang gaib. Batara Antaga dan Batara Karang melihat kejadian itu bergerak hendak menyusul junjungannya.


Namun mendadak tanpa mereka berdua sangka musuh lain telah muncul. Mereka adalah Eyang Sindurogo bersama Geho sama dan Dewa Rencong.


Zraaat! Zraaat!


Sinar mata dari eyang Sindurogo yang mampu merubah manusia menjadi batu menerjang ke arah Batara Antaga dan Batara Karang.


Suro sebelum kembali menyerang dia lebih dahulu menyerap hawa kegelapan yang masih tersebar disekitar tempat dia berdiri. Tehnik empat Sage miliknya secara cepat berhasil menyerap semua kekuatan milik Dewa Kegelapan itu.


"Mengagumkan kekuatanku semakin bertambah setiap hawa kegelapan ini berhasil aku serap."


'Aku jadi penasaran dengan dunia kegelapan tempat dimana segala kekuatan milik Julung-julung itu disegel. Tapi resiko atas rasa penasaranku ini pertaruhannya nyawa. Namun ini patut aku lakukan. Melihat resiko yang cukup besar, kali ini aku tidak akan melibatkan eyang guru.' Pandangan Suro tidak lepas dari Dewa kegelapan yang tidak sengaja justru terlempar masuk ke dalam gerbang gaib, akibat hantaman serangan miliknya barusan.


Batara Antaga dan Batara Karang yang diserang oleh eyang Sindurogo dengan sinar kutukan dapat menghindar, mereka berdua kemudian melesat melanjutkan niatnya kembali untuk menyusul junjungannya.


Suro yang melihat kejadian itu segera bertindak cepat. Dia kali ini tidak ingin melepaskan musuhnya. Bahkan dia juga tidak meminta persetujuan dari gurunya.


"Geho sama ikut denganku! Eyang mohon maaf aku harus memastikan sesuatu! Tidak usah menghawatirkanku atau mencoba menyusulku, lanjutkan saja rencana awal mencari bahan pill untuk meningkatkan kekuatan para tetua!"


Suro berteriak sambil melesat menuju gerbang gaib. Geho sama langsung melesat mengikuti perintah tuannya. Mereka berdua kemudian mengerahkan jurus Langkah Maya. Sebab setelah Batara Antaga dan Batara Karang masuk, maka gerbang gaib itu mulai bergerak menutup dengan cepat.