
"Apakah itu tidak terdengar seperti rencana besar Dewa Kegelapan untuk menguasai Khayangan Jongringsalaka," Suro menggumam pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya setelah mendengar penjelasan Subutai.
"Pusaka terkutuk yang hendak direndam darah bayi yang diculik itu, apakah bernama pusaka Kunci Langit?" Eyang Sindurogo bertanya ke arah Subutai.
Mendengar pertanyaan Eyang Sindurogo, Subutai kembali memincingkan matanya "kalian semua sepertinya memiliki urusan dengan rencana besar yang diungkapkan Karuru. Sebab apa yang pendekar tanyakan adalah benar.
Pusaka terkutuk yang aku maksud memang bernama Kunci Langit."
"Apakah Karuru memiliki pusaka itu?" Dewa Rencong yang ada disamping Eyang Sindurogo ikut penasaran setelah mendengar Jawaban Subutai.
"Mengenai hal itu aku kurang mengetahuinya, sebab Karuru tidak pernah memperlihatkan pusaka yang hendak direndam. Selain itu dia juga jarang terlihat.
Bahkan selama aku bergabung dengan pasukan Elang Langit selama enam purnama ini, hanya sekali aku pernah melihatnya. Dia banyak menghabiskan waktunya di tempat yang kami tidak ketahui.
Sebab jika ada sesuatu hal yang dia harus datang, maka panglima perang pasukan Elang Langit, yaitu Temma atau Kurama Tengu akan memanggil dirinya."
"Berarti untuk menemukan Kunci Langit salah satunya adalah menemukan Karuru itu, selain bertanya kepada Dewa segala tau." Suro berbicara sambil menatap ke arah gurunya.
"Benar angger. Apalagi untuk menemukan lelaki itu sama susahnya, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami."
"Sekarang kisanak bisa ceritakan tempat dimana suku Elang Langit itu berada. Aku tau kalian berasal dari negeri Wajin yang berada di timur diseberang lautan." Eyang Sindurogo menatap Subutai yang duduk didepannya.
Kediaman Yang Taizu memiliki aula yang cukup besar tempat dimana mereka semua berkumpul. Sebagai tuan rumah Yang Taizu hanya mendengar apa yang mereka bicarakan. Sebab dia buta tentang dunia persilatan.
Sebagai walikota dia dipilih karena keluarganya cukup dekat dengan Kaisar Yang. Segala hal yang berhubungan dengan keamanan dia mempercayakan semua kepada kepala pasukan penjaga kota, Jendral Zhou.
Lelaki itu sedikit banyak mengerti apa yang sedang dibicarakan, walaupun dia juga tidak mengerti beberapa istilah yang dikatakan Suro maupun eyang Sindurogo. Tetapi Jendral Zhou sempat memicingkan mata saat eyang Sindurogo menyebut nama Dewa segala tau.
"Apakah para pendekar hendak mencari lelaki yang disebut juga dengan nama Dewa Obat? Pendekar misterius yang sangat susah ditemukan, karena pintar menyamar dan juga seorang pengelana yang selalu berpindah tempat itu?"
"Benar Jendral Zhou, sebenarnya awal kedatangan kami di kota Shanxi ini adalah hendak bertemu dengan Dewa obat."
"Sebenarnya sejak lama diriku juga mencari lelaki itu," ucap Jendral Zhou.
"Semua itu, karena satu hal, yaitu terkait dengan kondisi anakku yang memiliki suatu penyakit yang aneh. Sudah tidak terhitung tabib yang menolongnya. Namun hasilnya tidak membuat anakku sembuh.
Menurut salah satu tabib istana, hanya Dewa obat yang sanggup menyembuhkannya." Jendral Zhou menghela nafas seperti beban berat menggelayuti pikirannya.
"Memang apa yang terjadi dengan anak paman?" Suro menjadi penasaran mendengar cerita Jendral Zhou.
Jendral Zhou lalu bercerita panjang lebar tentang anaknya. Setelah selesai mereka bukan memahami apa yang dia ceritakan, tetapi justru mengerutkan kening mereka.
Walikota Yang Taizu kemudian menambahkan penjelasan yang justru semakin membuat Suro penasaran.
"Mungkin saja aku bisa menolong kondisi anak paman, karena itu terdengar seperti bukan karena keracunan atau suatu penyakit. " ujar Suro sambil mengusap-usap pipinya.
"Benar itu bukan ilmu pengobatan yang mampu menyembuhkannya. Kemungkinan itu adalah semacam ilmu sihir atau semacam ilmu sesat," sahut eyang Sindurogo.
Aku rasa raja siluman sekalipun dapat kau atasi dengan mudah." Dewa Rencong ikut berbicara. Lelaki itu tidak berniat bangun dari tempat duduknya. Dia hanya memberi saran kepada Suro.
"Jangan khawatir, muridku mampu melakukannya." Eyang Sindurogo kembali berbicara untuk meyakinkan Jendral Zhou.
Lelaki itu menjadi salah tingkah, setelah gestur yang dia lakukan diketahui pendekar didepannya ", maafkan jika diriku terlihat kurang mempercayai ucapan pendekar.
Sebab hampir seluruh tabib dipenjuru negeri ini aku mintai tolong, namun tidak satupun yang sanggup menyembuhkannya. Memang seperti yang pendekar katakan itu berhubungan dengan sesuatu yang merasukinya.
Tetapi iblis dalam tubuh anakku itu begitu kuat, sehingga beberapa tabib yang hendak mengganggunya justru mati."
"Kau meragukan kemampuan pendekar Suro, kau tidak memahami seberapa kuat dirinya."
Subutai yang melihat dan berhadapan langsung dengan Suro justru sedikit tersulut emosinya melihat Jendral Zhou meragukan kemampuan Suro.
"Maafkan, bukan saya meragukan kemampuan pendekar, hanya saja aku sudah seperti hilang harapan dengan kondisi anakku satu-satunya."
"Paman Subutai, silahkan jelaskan tempat dimana pasukan Elang Langit berada. Seperti yang sebelumnya paman jelaskan padaku." Suro menyudahi ucapan rasa bersalah jendral Zhou dengan membicarakan masalah utama yang sejak awal mereka bahas.
"Tetapi ingat, aku tidak akan ikut dalam penyerangan itu. Aku hanya membukakan jalan kepada kalian."
"Sesuai kesepakatan awal paman, aku akan memegang janjiku, sebagai bukti ucapannku ini adalah setengah dari koin emas yang telah aku janjikan."Suro kemudian memberikan Subutai sekantung koin emas kepadanya.
"Eyang, Suro akan mengikuti apa yang akan guru rencanakan." Pemuda itu menjura kepada gurunya sebelum pergi bersama Jendral Zhou untuk menolong anaknya.
**
Setelah beberapa lama Suro berkuda dibelakang Jendral Zhou, akhirnya mereka sampai dikediaman kepala pasukan penjaga kota Shanxi itu.
Belum berselang setelah mereka menambatkan kuda mereka, Suro begitu kaget saat suara teriakan seorang wanita yang melengking mirip ringkikan kuda.
Suara itu seakan bukan berasal dari manusia.
"Suara siapa itu paman?" Suro yang terkejut segera bertanya kepada lelaki didepannya.
Sebab suara itu seperti mengandung aura sesat yang cukup kental. Bahkan di saat mereka memasuki gapura kediaman Jendral Zhou, bulu kuduk Suro langsung berdiri.
"Itu adalah suara anakku pendekar. Setiap menjelang fajar dan juga Sore hari menjelang malam, maka dia akan mengamuk dan berteriak-teriak seperti kesetanan."
"Maksud paman anak paman adalah seorang perempuan?" Suro tidak mengira jika anak dari Jendral Zhou adalah permpuan. Saat lelaki itu bercerita sampai selesai hal Ikhwal kondisi anaknya memang tidak mengatakan jika anaknya adalah perempuan.
"Benar, memang anakku satu-satunya ini adalah perempuan. Maaf jika sebelumnya tidak menyebutkan anakku adalah seorang perempuan. Apakah itu mengganggu tuan pendekar?"
"Tidak paman, hanya saja aku mengira anak paman adalah seorang lelaki. Aku ingin melihat kondisi anak paman, bisakah paman mengantarkannya, sebab saat kedatanganku barusan, bersamaan dengan teriakan anak paman sebersit ada aura sesat yang sempat Suro rasakan."