
"Camar menyambar menembus ombak!"
Serangan Mahesa kali ini lebih cepat dan lebih bertenaga. Tujuh bilah pedangnya seakan burung Camar yang bergerak dengan sangat lincah. Sambaran pedangnya menghunjam ke arah Eyang Sinar Gading berkali-kali dengan kencang.
Trang! Trang!
Entah mengapa saat menghadapi perubahan jurus Mahesa yang begitu cepat dan keras bukan mengunakan jurus bertahan. Dalam Kitab Dewa Pedang jurus bertahan ada pada jurus kedua, yaitu Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari. Tetapi Eyang Sinar Gading justru menahan serangan itu, tetap dengan jurus pertama Pedang Bersatu Bersama Angin.
Luncuran pedang terlihat begitu cepat, gerakan tercepat yang mampu dikerahkan Mahesa. Pengerahan jurus dengan kekuatan maksimal membuat chakra Mahesa terkuras cepat. Kali ini Eyang Sinar Gading tidak segera bisa mematahkan serangan Mahesa. Meskipun begitu dia tetap dengan tenang menangkis seluruh serangan tujuh bilah pedang terbang yang menyambar silih berganti.
Terlihat jelas keringat mulai bercucuran diwajah Mahesa, tangannya menari dengan cepat berusaha mengendalikan bilah pedangnya sehebat mungkin.
"Pusaran Pedang Dewa!"
Merasa serangannya masih saja tidak mampu menembus pertahanan lawan, Mahesa memilih merubah strategi serangan dengan mengubah jurusnya. Kini tujuh bilah pedang menerjang dengan gerakan berputar mengelilingi lawannya seakan putaran tornado. Bahkan angin disekitar tubuh Eyang Sinar Gading mulai ikut berputar membawa debu berterbangan.
Tetapi apa yang dilakukan Tetua Eyang Sinar Gading sungguh membuat setiap orang berdecak kagum. Disaat debu-debu itu terangkat dan berterbangan disekeliling tubuhnya, justru dia dengan tetap tenang melayani serangan Mahesa. Dan masih tetap mengunakan jurus pertama dalam kitab Dewa Pedang. Bahkan disaat debu sudah sangat mengganggu pandangan dan membuat mata sakit, maka apa yang dilakukannya justru lebih tidak disangka.
Demi melindungi matanya dari debu-debu yang semakin banyak memasuki mata dan membuatnya terasa perih, maka dia memilih memejamkan kedua matanya. Sesuatu tindakan yang bisa disebut gila. Bagaimana tidak, disaat serangan begitu mematikan justru dia melayaninya dengan mata terpejam.
Hal yang dia lakukan tentu bagi sebagian orang sebagai suatu tidakan yang gila dan muskil. Karena setiap serangan yang datang justru dia tangkis dengan gerakan yang lebih cepat dan tepat, sehingga setiap serangan yang datang mampu dipatahkan semua.
Sepertinya kondisi kekuatan jiwa dan tingkatan pedang yang telah dicapai tetua ini sudah pada tingkat yang tinggi. Yang jelas kekuatan jiwanya sampai pada tahap dimana telah mampu membuka trinetra atau mata batinnya.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa tingkat kekuatan jiwa yang dimiliki tokoh satu ini hanya dua tingkat dibawah Dewa Rencong. Sebab dia adalah adik seperguruan dari Dewa Rencong maka tidak aneh jika dia mampu melakukan apa yang muskil itu.
Kembali satu serangan balik dari tetua telah membuat bilah-bilah pedang Mahesa terlepar menjauh dan terputus dari pengendalian tuannya. Wajah Mahesa yang bercucuran keringat terlihat kelelahan. Ditambah beban mental setelah mengetahui semua serangannya mampu dipatahkan kembali. Membuat kedua kakinya terasa lemas seakan tidak ada harapan untuk menang. Dia begitu frustasi dengan kekuatan lawan yang begitu tangguh.
"Nakmas kesempatan keduamu kembali gagal. Apakah nakmas sudah menyerah? Atau justru tetap melanjutkan kesempatan terakhir yang nakmas punya?"
"Masih tetua!"
"Baiklah kalau begitu ingat ini kesempatan terakhir. Gunakan sebaik mungkin."
"Silahkan ambil kembali bilah pedang nakmas."
Mahesa hanya mengangguk dan mulai memunguti bilah pedang miliknya yang berpencar kemana-mana, terhantam dengan keras pedang milik Eyang Sinar Gading.
"Apakah nakmas sudah siap?"
"Nuwun injjih tetua!"
"Baik, ingat ini kesempatan terakhir jika tetap tidak mampu menerobos pertahananku berarti nakmas kalah. Silahkan nakmas mulai menyerang!"
Kali ini Mahesa tidak menerbangkan tujuh bilah pedangnya tetapi langsung menggengam dua bilah pedang dikedua tangannya, dan mulai menerjang ke arah tetua yang menjadi lawannya.
Dua bilah pedang Mahesa bergerak cepat mencoba menjebol pertahanan tetua yang menjadi lawannya itu. Tetapi setiap sabetan pedang Mahesa dapat dihindari maupun ditangkis dengan mudah. Silih berganti sabetan Mahesa menerjang seakan kesetanan. Tetapi hanya cukup dengan jurus pertama dari kitab Dewa Pedang, semua serangan Mahesa tak mampu menembus pertahanan Eyang Sinar Gading.
Merasa serangannya tak mempan Mahesa meningkatkan serangannya. Bilah pedang yang masih bertengger di punggungnya meluncur cepat. Kali ini bukan hanya serangan dari dua bilah pedang yang ada ditangan Mahesa, lima bilah pedang yang lain ikut menerjang. Penguasaan Mahesa dalam mengendalikan bilah pedangnya sangat mengagumkan, dalam kondisi dua tangannya menyerang lawan masih sempat mengatur pergerakan kelima bilah pedang yang berseliweran menyerang Eyang Sinar Gading. Kemungkinan serangan kali ini benar-benar serangan pamungkas Mahesa.
Jangan ditanya seberapa deras keringat yang bercucuran dari dahinya. Serangan yang sebelumnya bahkan sampai membuat debu-debu berterbangan memiliki kecepatan yang mengerikan seakan sebuah putaran tornado. Kini serangan yang dia lakukan lebih ganas daripada sebelumnya.
Tetapi setiap langkah dan serangan dari Mahesa seakan telah dibaca oleh lawannya. Sehingga setiap serangan yang menerjang mampu dengan mudah dipatahkan maupun dihindari.
Kali ini pertarungan berlangsung lebih lama daripada sebelumnya. Gerakan Eyang Sinar Gading bergerak cepat menghalau pedang Mahesa yang menerjang dari berbagai arah.
Pertahanan tetua memang benar-benar mengagumkan. Semua penonton dibuat berdecak kagum seakan dia bergerak tanpa melihat bilah pedang yang datang.
Serangan Mahesa bukan serangan yang membabibuta tetapi serangan yang sangat terarah ritme dan ketepatannya. Bahkan setiap peluang kecil dari pertahanan tetua yang terbuka segera menyusup bilah pedangnya.
Mahesa semakin bertambah frustasi gempuran serangannya yang begitu dahsyat dilayani satu bilah pedang tetua dengan wajah tetap menebarkan senyumnya. Seolah serangan murid utama yang menjadi lawannya itu hal yang mudah untuk ditangani.
Buuk! Buuk!
Trang! Trang!
Tendangan beruntun dan sabetan pedang tetua akhirnya melemparkan Mahesa berikut bilah-bilah pedangnya. Satu tendangan didada disusul tendangan memutar mengenai pelipis dengan keras telah menghentikan gerakan Mahesa beberapa waktu. Tendangan Eyang Sinar Gading yang mengenai pelipis membuat kepalanya pening. Terlihat dia bangkit agak terhuyung.
"Maaf nakmas kesempatanmu sudah habis." Eyang Sinar Gading tersenyum ke arah Mahesa yang berdiri sambil memegangi kepalanya.
"Terima kasih atas petunjuk berharga yang tetua telah berikan kepada murid." Mahesa kemudian menjura ke arah Tetua Eyang Sinar Gading dan ke arah Dewa Rencong, sebelum berjalan kembali ke tempat duduk khusus para peserta dengan lesu.
Mereka para peserta yang melihat pertarungan Mahesa hanya bisa tersenyum kecut. Kebanyakan dari mereka sudah memiliki gambaran dan memahami seberapa kuat lawan yang akan mereka hadapi. Sepertinya istilah benteng yang akan dihadapi benar-benar mewakili maksud dari istilah tersebut.
Sebelumnya mereka mengira sebagai guru dari Arimbi, pasti tetua itu akan mengeluarkan jurus yang mirip dengan apa yang diperlihatkan Arimbi. Tetapi mereka tidak mengira ternyata tetua itu hanya mengunakan jurus pertama dari kitab Dewa Pedang dari awal sampai akhir pertarungan.
"Bagaimana mungkin tetua itu tidak merubah jurus yang digunakannya? Seolah dia ingin memperlihatkan potensi dari jurus Dewa Pedang. Hanya dengan satu jurus, tetapi mampu menahan serangan apapun yang dilakukan lawan. Meski serangan lawan yang menghajar dirinya begitu mengerikan. Kini pemahamanku bertambah kakang, bukan jurus yang begitu hebat tetapi seberapa dalam kita bisa menguasai jurus tersebut."
"Kakang!"
Teriakan Mahadewi membuyarkan lamunanya.
"Kakang mendengar tidak perkataanku tadi? Aku sudah panjang lebar berbicara kakang malah senyam senyum sendiri. Huuuh!"
Suro hanya menyengir sambil mengaruk-garuk kepalanya. Dia ingin menjawab, tetapi lebih baik jurus pamungkas mengaruk-garuk kepalanya dia lakukan terlebih dahulu. Sebab jika langsung dijawab dia yakin, pasti tambah disemprot bidadari cantik didepannya. Biasanya pada saat menghadapi situasi seperti ini, jurus pamungkas mengaruk-garuk kepala dan tatapan tak bersalahnya ampuh mencairkan suasana.
"Awas kalau kakang berpikiran macam-macam pada adinda!"
"Bukan.. bukan...adinda jangan salah paham. Justru kakang sedang mencoba mencerna semua perkataan adinda." Suro glagapan mendapat tuduhan yang tidak disangka itu. Buru-buru dia meyakinkan putri kedaton didepannya mumpung belum berubah menjadi makhluk buas lagi.
"Kekuatan jiwa dan tahap pedang dari tetua ini sudah mencapai tahap yang tinggi. Ini adalah kekuatan jiwa dan tahap pedang yang pernah aku jelaskan sebelumnya. Tetapi memang seperti yang adinda katakan. Bukan seberapa hebat jurus yang kita pelajari, tetapi seberapa dalam kita bisa menguasainya. Pemahaman pedang tetua ini sudah pada tahap yang sangat mengagumkan."
"Apakah kakang sudah mempelajari sampai pada tahap kekuatan jiwa dan tahap pedang seperti yang dikuasai tetua itu?"
"Tentu saja belum! Justru kakang baru mempelajari tahap pedang yang sempat dijelaskan Dewa Pedang padaku. Mengenai kekuatan jiwa justru aku sedang mencari guru yang tepat, sehingga aku bisa belajar padanya. Tetapi entah dengan siapa?"
Setelah pertarungan Mahesa dan Eyang Sinar Gading selesai, kini diundi lagi baik tetua yang jadi lawan maupun peserta yang lolos sampai babak ini.
Tetua La Patiganna terlihat sedang berjalan ke arah arena pertandingan. Postur tubuhnya yang tinggi besar tetap masih terlihat meski diantara banyaknya kerumunan penonton yang membludak. Banyak dari mereka akhirnya terpaksa harus berdiri karena sudah tidak mendapatkan tempat duduk.
"Bagaimana kabar tetua dari Kerajaan Luwu ini, sudah lama kita tidak bersua?" Dewa Rencong terlihat langsung merangkul tubuh Tetua La Patiganna. Dua pangeran Kerajaan yang satu ditimur jauh di pulau besi atau sula wesi, satu lagi diujung barat daya Svarnadwipa atau Svarnabhumi. Dalam bahasa sansekerta dua kata itu bermakna hampir sama Swarnadwipa (“pulau emas”) atau Swarnabhumi (“tanah emas”).
"Hahaha....! Benar sekali kita sudah lama tidak bersua. Sepertinya pangeran Kerajaan Lamuri ini sibuk dengan urusan kerajaan." Tetua La Patiganna mencoba bercanda dengan sahabat lamanya. Dia mengetahui persis pribadi Dewa Rencong yang tak menyukai kehidupan dan urusan kerajaan. Jalan hidupnya justru banyak dihabiskan untuk hidup berpetualang.
Mereka berdua adalah sahabat karib yang terpisahkan jarak ribuan lie.
Seorang tetua kemudian menyodorkan sebuah bumbung berisi gulungan-gulungan nama peserta.
"Azura silahkan turun ke arena pertarungan Tetua La Patiganna telah menunggu!"
Azura yang mendengar namanya dipanggil segera berjalan turun ke arah arena pertarungan.
"Nakmas sesuai dengan aturan pada tahap ini, nakmas akan saya beri tiga kesempatan untuk menjebol pertahananku. Jika nakmas mampu maka nakmas dianggap lolos. Tetapi mengenai hasil akhir apakah nakmas mendapat jabatan tetua muda atau tidak, itu diputuskan setelah mendapatkan hasil pertandingan semua peserta. Nanti Dewa Rencong dan ke empat juri lain yang berada disekeliling arena akan menentukan hasil akhirnya. Tetapi dalam pertarungan ini adalah aku yang menentukan apakah nakmas mampu menjebol pertahananku atau tidak. Buktikan bahwa kemampuan nakmas mampu menjebol pertahanan seorang tetua sepertiku agar peluang mendapatkan jabatan tetua muda lebih besar."
"Apakah nakmas sudah siap?"
"Nuwun injih tetua!"
Azura sebelum mulai mencabut kedua bilah pedangnya dia terlebih dahulu menjura kepada tetua yang terlihat masih gagah meski rambut ubannya lebih banyak terlihat daripada rambut hitamnya. Di kepalanya ditutupi semacam tutup kepala dari bahan kulit kayu yang biasa disebut passapu.
"Baik, silahkan menyerang nakmas!"
Belum menutup kedua bibir tetua La Patiganna, Azura telah menjelma menjadi enam kelebatan bayangan hitam yang menerjang ke arah tetua didepannya. Agaknya Azura telah banyak belajar dari pertempuran yang dilakukan Mahesa pada sesi pertarungan sebelumnya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan tetua.
Enam bayangan itu dalam satu tarikan nafas melesat menyerang dari arah samping kanan, samping kiri, dari arah belakang, dari atas dan yang terakhir dua bayangan sekaligus menerjang dari arah depan. Seluruh serangan itu begitu sulit dibedakan, karena keenam bayangan itu bergerak dengan begitu cepatnya. Sehingga semua terlihat hanya seperti kilasan bayangan saja.
Beruntung sasaran ke enam bayangan adalah seorang tetua La Patiganna.
"Tehnik satu tebas angin!"
Trang!
Tehnik satu tebasan adalah gerakan dasar dalam ilmu pedang. Bedanya dengan apa yang dilakukan tetua La Patiganna adalah dia mengabungkan tehnik itu dengan tehnik perubahan unsur angin yang dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Sehingga hanya dalam satu gerakan memutar yang tak terputus itu, dia telah menebas keseluruh kilasan bayangan. Satu kilasan bayangan yang menyerang dari arah atas sempat bergerak menghindar dan memapak hempasan angin dari bilah pedang tetua La Patiganna. Hempasan angin itu sama tajamnya dengan bilah pedang yang dipegang. Tehnik pedang itu masuk dalam tahap alam pedang.
Tahap dimana telah mampu menyatukan perubahan unsur alam dalam chakra muladhara menjadi wujud pedang. Tehnik ini berbeda dengan apa yang dilakukan Rithisak maupun Bayu Aji yang melambari tenaga dalamnya dalam setiap serangannya. Karena pada tahap ini hampir mirip dengan tehnik pamungkas dalam kitab Dewa Pedang, tetapi dalam skala yang lebih kecil.
Azura terkesima dengan yang dilakukan Tetua La Patiganna, sebab hanya dalam satu gerakan tebasan yang begitu sederhana, semua serangannya mampu dipatahkan. Setelah mampu menepis serangan balik dari tetua, Azura segera berputar dan bergerak menjauh. Dia tidak menyangka semudah itu Tetua La Patigana mematahkan serangannya.
"Mohon maaf tetua Apakah barusan kekuatan tingkat alam pedang?"
"Benar nakmas! Apakah nakmas ingin mencapai tahap ini?"
"Tentu saja tetua!" Azura yang kini tak memakai topeng iblisnya terlihat tersenyum sumringah.
"Buktikan padaku bahwa nakmas pantas menjadi muridku!"
"Sendiko dawuh tetua!"
Selesai berbicara kembali tubuhnya melesat menjadi bayangan yang bergerak dengan cepat.