
"Apakah diantara para tetua mempunyai saran mengenai cara menyelamatkan Eyang Sindurogo?"
"Mohon maaf ketua bukankah Eyang Sindurogo bukan bagian dari sekte kita?" Seorang tetua dari negeri champa berdiri dan menyela perkataan Dewa Pedang.
Dewa Pedang menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan tetua itu. Dia sudah mengira pasti pertanyaan semacam ini akan datang kepadanya.
"Benar, tetapi Eyang Sindurogo adalah tokoh aliran putih yang banyak menolong sekte kita. Bahkan pendiri sekte ini pun pernah mempunyai hutang budi kepada Eyang Sindurogo. Selain itu nakmas Suro yang telah menjadi tetua muda adalah murid dari Eyang Sindurogo!"
"Tentu kita sebagai keluarga besar memiliki rasa empati ke sesama anggota sekte. Sebab apa yang dirasakan nakmas Suro atas kehilangan gurunya, seperti kehilangan seluruh anggota keluarganya. Sebab bagi nakmas Suro, Eyang Sindurogo bukan saja guru. Tetapi satu-satunya keluarga yang dia miliki. Oleh karena itu jika kalian merasa masih anggota Sekte Pedang Surga jangan bertanya lagi siapa Eyang Sindurogo? Karena secara tidak langsung beliau sudah menjadi bagian keluarga besar sekte kita!"
"Dan jangan lupa bahwa sekte pusat ini mampu berdiri kembali sampai semegah ini, secara tidak langsung berkat pertolongan Eyang Sindurogo. Kita adalah golongan putih yang selalu memegang prinsip kebenaran. Jika sudah ditolong sedemikian besar apakah masih mempertanyakan kembali dia bagian dari sekte ini atau bukan?"
"Mohon dicamkan sekali lagi jika kalian mengaku dari aliran putih. Dimana prinsip kebenaran yang telah kalian pegang saat sesama aliranmu membutuhkan pertolongan. Masih pantaskah kalian bertanya tentang asal usulnya? Apakah saat ada yang membutuhkan pertolongan kita, masih perlukah kita bertanya terlebih dahulu? Dari golongan manakah berasal? Masih satu sekte kah, atau bukan? Termasuk saudara kah, atau tidak?"
Panjang lebar Dewa Pedang berbicara tentang prinsip-prinsip yang dipegang aliran putih.
"Ketua bisa jelaskan lebih terperinci tentang kondisi alam, dimana Eyang Sindurogo terjebak? Selain itu jika kita akan menyelamatkan Eyang Sindurogo bagaimana caranya kita akan kesana? Sebab secara jujur saja, saya atau mungkin tetua lain baru mendengar istilah dimensi alam lain. Sesuatu hal yang baru bagi kami. " Tetua Eyang kaliki berdiri untuk bertanya kepada Dewa Pedang. Setelah dia melihat ketua sekte sudah selesai berbicara tentang prinsip kebenaran aliran putih kepada seluruh tetua yang hadir.
"Anak mas Suro yang akan menjelaskan lebih terperinci tentang dimensi alam dimana Eyang Sindurogo terjebak. Sebab pada waktu itu aku terlalu sibuk membuat energi perisai untuk melindungi kami berdua! Selain itu juga, hanya nakmas Suro yang mengetahui cara membuka gerbang menuju alam, dimana Eyang Sindurogo berada."
"Bocah ini, bagaimana dia bisa memiliki ilmu yang seseorang pun tidak tau? Sebenarnya berapa banyak ilmu yang telah dia kuasai?" Eyang Kaliki berbicara lirih sambil mengaruk-garuk kepalanya mendengar jawaban Dewa Pedang. Dia tidak menyangka begitu banyak ilmu yang dikuasai Suro.
"'Aku juga masih tidak menyangka begitu banyak ilmu tingkat tinggi yang telah dimiliki bocah ini. Sebenarnya berapa banyak ilmu yang sudah dikuasainya? Bahkan hanya dengan salah satu ilmu yang sebelumnya telah dia perlihatkan aku yakin akan menjadikannya pendekar terkuat." Eyang Tunggak Semi menyahut perkataan tetua Kaliki yang kembali duduk.
"Benar sekali itu tetua Tunggak Semi. Apalagi saat melihat dia mengerahan tehnik bhumi dengan begitu mengerikan. Aku yakin belum pernah ada orang yang mampu melakukan seperti yang dia lakukan sepanjang pengetahuanku!"
"Belum ilmu pedangnya yang begitu menakutkan. Ditambah tehnik Tapak Dewa Matahari, sepertinya sangat jarang menemukan seseorang yang masih semuda dirinya sudah mencapai kemampuan setinggi itu?"
Tetua Kaliki hanya bisa membenarkan perkataan tetua Tunggak Semi dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
Suro yang masih duduk tidak segera berdiri justru terlihat sibuk membetulkan pakaiannya yang sudah lusuh. Dia menyadari pakaiannya terlihat kumal dibandingkan para tetua lain yang rapi dan terlihat masih seperti baru.
"Benar tetua, kebetulan saya telah membaca sekaligus mempelajari kitab formasi gerbang dimensi, yaitu ilmu yang digunakan untuk membuka gerbang ke alam lain . Kemungkinan hanya saya sendiri yang sudah membaca dan mempelajari kitab tersebut. Eyang gurupun belum sempat membacanya, mungkin karena kitab itu tertulis dalam bahasa negeri Wajin. Beruntung ada kitab lain yang dapat aku gunakan untuk mempelajari bahasa negeri itu. Menurut Eyang Sindurogo kitab itu memang dia dapatkan dari negeri Wajin, saat dia sedang melakukan petulangannya dinegeri tersebut. Kitab tersebut diperoleh dari pemberian seseorang pendekar yang telah dia tolong." Suro menjawab pertanyan Eyang Kaliki setelah dia merasa pakaiannya lebih rapi dari sebelumnya.
"Negeri Wajin? Tunggu sebentar nakmas itu negeri yang berdekatan dengan negeri dimana aku berasal!" Dewi Anggini bangkit dari duduknya setelah mendengar negeri Wajin sempat disebut Suro beberapa kali. Dia yang berasal dari negeri tartar tentu pernah mendengar negeri Wajin. Walaupun terhalang lautan tetapi beberapa kali dia pernah ke negeri tersebut.
"Benarkah tetua? Jika demikian mungkin tetua bisa mengetahui sesuatu tentang kisah yang diceritakan Eyang Guru. Sebab menurut Eyang Guru Kitab tersebut memiliki hubungan dengan sebuah makhluk yang bernama Geho Sama! Mungkin tetua pernah mendengarnya?"
"Geho Sama? Tentu saja aku pernah mendengarnya. Itu makhluk di dalam cerita dongeng dari negeri Wajin yang artinya tuan penyihir."
"Bisa Tetua ceritakan? Mungkin dari situ kita bisa menelusuri makhluk apa sebenarnya yang akan kita hadapi nanti?" Dewa Pedang menimpali perkataan Dewi Anggini.
"Menurut cerita, dalam dongeng negeri Wajin, makhluk itu adalah sebangsa siluman yang dirasuki Iblis Kegelapan yang ingin menghancurkan dunia. Walaupun Iblis Kegelapan itu bukan dalam wujud aslinya. Karena wadak kasarnya sudah disegel para Dewa. Walaupun begitu kekuatan yang dimiliki sangat menakutkan. Bahkan mampu mengancam keberlangsungan seluruh kehidupan di marchapada."
"Dalam cerita tersebut wujud kekuatan yang dimiliki Geho sama hanya berasal dari satu hembusan nafas milik Iblis Kegelapan, yang kemudian dalam perjalanannya justru mengambil alih seluruh kendali tubuh Geho Sama."
''Kemudian para Dewa dari langit menurunkan seorang utusannya ke marcapada untuk mencari empat manusia yang mampu mewarisi ilmu empat Dewa yang menguasai Catur Maha Bhuta atau empat unsur utama pembentuk alam semesta."
"Untuk mempermudah memahami tentang Siluman Geho Sama ditlatah Javadwipa ada kisah yang menurutku memiliki hubungan dari kisah itu. Kisah yang aku maksud adalah mengenai cerita saat Sang Hyang Batara Brahma menurunkan Panca Maha Bhuta atau lima unsur utama penyusun bhuana agung atau alam semesta. Unsur pertama yang diciptakan pertama kali disebut aksa, dari aksa muncul bayu atau angin. Kemudian dari bayu lahirlah teja yang berupa sinar atau cahaya. Dari teja kemudian terciptalah apah atau berupa segala hal yang berwujud cairan. Lalu dari apah muncul perthiwi dari situlah kemudian muncul segala tumbuhan, hewan dan seluruh makhluk yang ada dimarcapada ini."
"Wujud ciptaan Sang Hyang Batara Brahma pada tahap pertama yang disebut aksa masih berupa ruang kosong yang masih hampa, sunyi, tidak berwujud dan tidak tampak. Atau hanya disebut sebagai sebuah ruang kehampaan atau ketiadaan atau kegelapan."
"Untuk mencegah kehancuran diseluruh alam semesta maka keempat Dewa penguasa cahaya, air, udara dan tanah. Di tlatah tanah Javadwipa perwujudan keempat Dewa tersebut lebih dikenal sebagai Sang Hyang Batara Surya, Sang Hyang Batara Baruna, Sang Hyang Batara Bayu dan yang terakhir penguasa unsur bhumi adalah Sang Hyang Anantabhoga atau Sang Hyang Nagasesa. Keempat Dewa penguasa unsur utama pada akhirnya mampu menyegel Iblis kegelapan itu."
"Tetapi saat segel Para Dewa itu belum sepenuhnya mampu mengurung kekuatan dan wujud Iblis kegelapan, maka dalam kondisi itu dimanfaatkan oleh Iblis kegelapan untuk melepaskan wujud kekuatannya melalui hembusan nafasnya. Jika diartikan, sebutan wujud kekuatannya yang sempat terlepas itu memiliki arti yang tidak jauh berbeda dari kata sukmo ngalemboro."
"Kekuatan yang paling menakutkan dari Sukmo ngalemboro seperti kekuatan yang dimiliki Iblis Kegelapan sendiri, yaitu mampu menyerap semua unsur utama. Karena pada tahap penciptaan semua panca Maha bhuta berasal dari pecahan aksa atau dari ruang ketiadaan. Dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, dia mampu menyerap semua kekuatan alam dan energi kehidupan semua makhluk."
"Dikemudian hari dikisahkan, Sukmo ngalemboro mampu mendapatkan wadak kasar dan merasuki Siluman Geho Sama yang memang sepakat untuk dirasuki. Karena dia begitu menginginkan sebuah kekuatan yang tak terkalahkan."
"Untuk mencegah kehancuran di marcapada utusan khayangan turun ke marcapada dan menurunkan ilmu terkuat dari keempat Dewa Penguasa unsur alam yang pernah menyegel wujud aslinya."
"Setelah menemukan keempat orang yang sesuai maka mereka dianugrahi kekuatan milik Keempat Dewa tersebut."
"Keempat orang itu pada kemudian hari disebut sebagai empat ksatria langit atau di negeri Wajin disebut empat sage."
Suro yang mendengar cerita panjang Dewi Anggini mulai mengantuk tetapi setelah Dewi Anggini menyebut Empat Sage dia mulai tertarik dengan cerita tersebut.
"Mengapa cerita Geho sama yang jauh dinegeri Wajin bisa memiliki keterkaitan dengan cerita penciptaan alam semesta yang ada di Javadwipa, tetua?" Suro yang mendengarkan kisah itu merasa aneh sebab jarak antara negeri Wajin dan Javadwipa sungguh berjarak sangat jauh. Bagaimana mungkin dari negeri yang berjauhan ada kisah yang saling berkaitan. Dia merasakan suatu keanehan. Tidak mungkin keterikatan dua kisah itu hanya berdasarkan karena faktor kebetulan saja.
"Apakah mungkin cerita dongeng tersebut memang benar-benar terjadi tetua?"
"Entahlah nakmas Suro, aku tidak mengetahuinya. Tetapi setelah lama tinggal di tanah Javadwipa ini, aku mempelajari ada beberapa kisah-kisah yang ada disini memiliki hubungan dengan dongeng yang ada dinegeri Wajin itu!"
'Jangan-jangan tehnik empat sage milikku sebenarnya milik keempat ksatria langit itu?' Dia membatin setelah mendengar kata empat sage membuat dia teringat tehnik empat sage miliknya.
"Mohon maaf tetua, apakah kemampuan empat sage itu memiliki kekuatan yang mampu menghimpun tenaga dalam dari menyerap kekuatan alam?"
"Bukan empat Sage yang menjadi pemilik asli tehnik itu, tetapi justru pemilik aslinya adalah Iblis Kegelapan. Sebenarnya tehnik itu berhasil dimiliki oleh keempat Sage setelah menyamar menjadi murid sekaligus kepercayaan Geho Sama."
"Walaupun sudah dibekali ilmu dari keempat Dewa penguasa unsur utama alam, tetapi mereka belum mampu melakukannya dengan mudah."
"Menurut utusan langit yang menurunkan ilmu para Dewa itu kepada mereka empat sage, atau jika di Javadwipa utusan langit itu lebih dikenal sebagai Sang Hyang Batara Narada, memerintahkan untuk menunggu saat sang Surya(Matahari), Buda(Merkurius), Kejora (Venus), jagad(Bumi), Candra(Bulan), Anggara(Mars), Respati(Jupiter), Sani(Saturnus) berada dalam posisi satu garis edar, maka saat itulah waktu yang paling tepat untuk menyegel Geho Sama. Karena pada waktu itu Sukmo Ngalemboro sedang dalam posisi terlemah. Hanya saja kekuatan Sukmo ngalemboro atau nafas Iblis Kegelapan sudah dalam kondisi yang begitu kuat."
"Sehingga sesuai petunjuk dari Sang Hyang Batara Narada mereka diperintahkan menyamar menjadi murid terlebih dahulu, sekaligus bawahan Geho Sama. Keberuntungan berpihak kepada mereka. Setelah berpuluh-puluh tahun, akhirnya Geho Sama begitu mempercayai bawahannya. Kemudian dengan kerelaan sendiri dia menurunkan ilmu yang mampu menyerap kekuatan kehidupan itu."
"Setelah mendapatkan ilmu tersebut, maka nanti saat mereka mulai menyegel Geho Sama, sudah tidak rasa kekhawatiran lagi. Sebab kini mereka telah memiliki cara untuk mengatasi pengerahan ilmu Geho sama yang mampu menyerap energi kehidupan itu!"
"Pada akhir cerita Geho Sama akhirnya berhasil disegel dan ditempatkan disebuah alam yang mampu mengurung seluruh kekuatannya. Sebab kekuatan Iblis kegelapan itu masih mampu merembes keluar dari segel yang mengekang wadak atau raga Geho Sama. Hanya saja walaupun mampu merembes keluar tetapi Sukma Ngalemboro tetap tidak terpisahkan dari raga Geho Sama. Kekuatan Sukma Ngalemboro tetap berada didalam raga Geho Sama, selama tidak ada wadak atau raga lain yang bisa dirasuki. Walaupun dengan kekuatan besar milik Sukma Ngalemboro segel itu tidak akan bisa dibuka."
"Garis besarnya seperti itu ketua, cerita yang aku tau mengenai Geho sama. Apakah Dewa Pedang mendapatkan sesuatu petunjuk mengenai cerita barusan?"
"Tidak satupun tetua!" Dewa Pedang menjawab pertanyaan tetua Dewi Anggini mengakhirinya dengan menghembuskan nafas panjang mencoba melepaskan beban yang ada didalam pikirannya.
"Agaknya aku mendapatkan sedikit petunjuk tetua!" Suro menjawab sambil mengelus-elus dagunya.
"Satu petunjuk bahwa kemungkinan cerita Geho Sama itu benar adanya. Sebab dari Eyang Guru aku memiliki ilmu yang mampu menyerap segala energi alam dan kehidupan. Sangat mirip dengan yang dimiliki Iblis kegelapan itu."
"Ditambah lagi nama dari ilmu itu adalah Tehnik Empat Sage!"